Breaking News

16 February, 2012

BILA MASA TUA ITU MENJELANG


  By Widyarini Noviati  

Lahir, besar dan menjadi tua suatu hal yang tidak terhindarkan dan memang akan datang dengan sendirinya dalam kehidupan ini. Menjadi tua di daerah Issy Les Moulineaux sebuah wilayah yang berada di barat daya Paris ini menjadi fenomena yang menarik untuk diamati. Menjadi tua dan hidup sendiri suatu hal yang sebenarnya ingin dihindari dalam kehidupan ini namun hal ini menjadi suatu hal yang amat wajar di sini.

Issy Les Moulineaux yang sepertiga wilayah Issy dianeksasi ke Paris menjadi bagian arondisemen Paris 15 memiliki fasilitas kemudahan bagi warga yagn tinggal di wilayah ini, salah satunya adalah bus TUVIM (trans urban ville issy les moulineaux) yang memang disiapkan untuk warganya yang ingin bepergian dari satu tempat ke tempat lain di wilayah ini, tentunya dengan gratis.

Di suatu siang menjelang musim semi di bulan maret sekitar pukul 14.30, di suatu bus TUVIM ada satu pemandangan yang menarik karena memang hal ini memang belum pernah aku alami tentunya.

Bayangkan..satu bus berisikan orang-orang lanjut usia..seluruh isi bus ini..mereka tidak datang berkelompok tentunya.. suatu pemandangan menarik bagaimana mungkin begitu banyaknya penduduk di wilayah ini namun saat yang bersamaan hanya para opa dan oma yang duduk di dalam bus ini. Tentu pikiranku melayang kepada ibuku yang berusia lebih kurang dengan usia para opa dan oma itu, oh betapa rinduku pada ibu begitu mengejolak di dadaku. Ibu, semoga engkau terjaga dalam lindungan Tuhan.

Seorang nenek berusia lebih dari 70 tahun berambut putih namun tidak tertata rapi dengan jaket yang juga sedikit lusuh dengan menggendong anjing kecilnya yang juga tidak terlihat terpelihara dengan rapi, duduk tidak jauh dengan supir bus. Dari nada suara sang nenek terdengar pelo mungkin beliau pernah terserang stroke, dia terus berbicara banyak hal yang tidak terdengar jelas, namun dengan ramah supir bus terus menjawab obrolan yang dilemparkan oleh sang nenek.

Di belakang sang nenek dengan kursi menghadap ke belakang, seorang opa yang memegang struk belanjaan dalam kantung plastik, terlihat di hanya membeli daging dalam kemasan kecil, roti dan pisang. Tapi berulang kali ia melihat struk belanjaannya dan berulang kali melihat kantung plastiknya sambil berbicara sendiri dan marah-marah sendiri pula..seolah-olah ia menyesali apa yang ia beli siang itu dan terus menerus ia melakukan hal yang serupa sampai-sampai aku begitu kasihan kepadanya dan ingin sekali bertanya apa sesungguhnya yang terjadi.

Setelah tempat duduk opa tadi maka ada dua tempat duduk yang berhadapan kebetulan tempat dudukku setelah keempat tempat duduk yang saling berhadapan itu.

Di dua tempat duduk sebelah kanan terlihat dua orang nenek yang sedang asyik mengobrol masing-masing membawa tongkat di tangan mereka, keduanya tertawa begitu lepas, kutebak mungkin mereka berdua adalah sahabat karib atau tetangga yang tinggal saling berdekatan. Seperti siang itu waktu bagi mereka untuk menghabiskan waktu bersama, indahnya persahabatan itu.

Di hadapan mereka duduk lagi dua orang oma, oma yang satunya kau taksir baru berusia di atas 65 tahun sedang asyik membaca namun sekali mengeluh sendiri dan melihat ke arah sekelilingnya, rupanya suara bapak dan ibu lansia yang ada di dalam bus cukup menganggu konsentrasi membacanya.
Di sebelahnya duduk seorang oma yang lain, yang memiliki mata begitu teduh dan mata itu terus memandang dengan penuh sayang kepada opa yang berdiri di dekatnya, aku tebak usia mereka diatas 70 tahun. "Voulez vous s'asseoir Monsieur?" "Non..merci madame' jawab sang opa dengan suara lembut, ketika aku tawarkan apakah ingin duduk di tempat dudukku. Padahal tubuh opa tadi sudah tidak stabil, namun menjadi gentleman tentu lebih menarik di hadapan kekasih tercintanya sekalipun kaki dan tangannya sudah gementaran.

Berdiri di antara keempat tempat duduk tadi adalah seorang nenek yang begitu charming berusia di atas 70 tahu pula, tapi kesehatannya terlihat prima walaupun keriput di wajahnya namun dengan riasan tipis dan dilengkapi aksesori giwang dan kalung, ia begitu anggun. Apalagi pakaiannya sangat serasi warna krem muda dengan ikat pinggang dan sepatu berhak 3 cm dengan warna senada pula. Bisa dibilang sang nenek itu menjadi obyek perhatian utamaku, begitu charming sekalipun memegang tongkat di tangan kiri dan memegang besi yang ada di dalam bus di tangan kanannya. Dan ternyata nenek itu pun sebenarnya tidak stabil saat berdiri. Supir buspun telah memintanya untuk duduk namun ditolaknya dengan alasan akan turun di beberapa halte bus yang berikutnya. Olala.. menjadi pusat perhatian di dalam bus ini rupanya lebih menarik baginya.

Sampai di halte bus berikutnya, sepasang kakek dan nenek naik lagi ke dalam bus ini. Kali ini memang aku ditakdirkan untuk melihat dari dekat bagaimana hidup kala tua menjelang. Perkiraanku usia merekapun sekitar 70 tahun ke atas. Sang kakek dengan lemah lembut mengajak sang nenek untuk menuju bagian belakang bus ini. Sang nenek yang bertubuh jauh lebih besar dari sang kakek dengan senyum dan bola mata berbinar menerima tawaran suaminya untuk duduk di bagian belakang bus ini. Sekalipun mereka kelihatan sangat bersusah payah untuk dapat sampai di tempat yang sang kakek inginkan..namun sang kakek menyakinkan sang nenek bahwa tempat duduk itu adalah tempat yang terbaik untuk mereka berdua.

Tuhan, begitu baik Engkau memberikan aku kesempatan untuk dapat bersama-sama dengan opa dan oma yang lanjut usia pada waktu bersamaan dengan berbagai sikap mereka.

Satu hal yang bisa kucatat dari perjalanan siang ini, rupanya persahabatan yang hangat disertai dengan cinta kasih dari kekasih hati menguatkan kesehatan dan jiwa mereka yang beranjak tua.

Tentu dengan pengharapan kelak bila tua kita menjelang,..kita akan bersama-sama dengan orang-orang yang mencintai kita di sekeliling kita.
Kelak bila tua menghampiri kita..sahabat-sahabat yang penuh ketulusan hati masih dapat bersama dengan kita.
Bila waktu tua kita datang kelak, sehat yang diberikan Tuhan masih terjaga dengan baik sehingga kaki inipun masih bisa menopang tubuh kita dan rezeki dari Tuhan yang penuh keberkahan terus tercurah untuk kita.

Tuhan, izinkan kasih sayang dari Engkau selalu memenuhi kehidupan ini saat ini, esok dan saat tua menjelang.

0 komentar:

Post a Comment