Breaking News

06 February, 2012

Bersyukurlah, Dan Tuhan takkan Marah.


  Ayee kembali ibu-ibu cantik;)) lagi ada waktu lowong buat sharing. Moga bermanfaat yach;-))
Yesterday was terrible!
Saat azan subuh memanggil, aku masih tergolek diatas tempat tidur. Hatiku penuh beban  membayangkan padatnya aktifitas yang akan kujalani sepanjang hari.

Diawali dengan  pagi  yang menyebalkan!

Mulai dari Alisha yang lebih rewel. Atau Alfasya yang lupa menyiapkan peralatan sekolah sehingga dia harus grabak-grubuk  mengaduk-aduk isi lemari  baju sampai ke ayahnya yang agak sensitive karena sarapannya rada telat. Broken morning !
Sesampai dikantor, bad mood langsung melanda melihat sisa barang-barang sponsor hasil event EF NOBAR 2011 belum didistribusikan kepada guru-guru sebagai apresiasi bagi mereka yang telah berpartisipasi  membantu suksesnya event tersebut. Jadilah pekerjaan selanjutnya me-list barang. Yang agak menghibur hati adalah souvenir khusus untuk stage manager yang mengatur keseluruhan acara, yaitu aku sendiri. Paket  ok ditambah bantal cantik berwarna hijau yang memang aku idam-idamkan sedari lama ditawarkan secara gratis sebagai ungkapan terimakasih. Wuih senangnya!

Tapi tak berlangsung lama, karena list yang baru setengah jadi harus kutinggalkan untuk melanjutkan perintah mendadak dari sang Boss guna membuat powerpoint presentasi acara Soft Opening EF English First yang bertajuk ‘EF New Brand and Look’ besok hari.
Berlanjutlah ke pekerjaan selanjutnya. Otak-atik berkutat dengan laptop selama dua jam, akhirnya siaplah bahan presentasiku. Baru saja keluar ruangan untuk menyerahkan data kepada mas Arnes yang sudah menunggu di Smart Board room –sebuah ruangan  berinding keramik warna-warni dengan LCD touch screen  60 inch yang biasa dipakai untuk press conference EF all around the world- salah seorang Front Desk tergopoh-gopoh menemuiku dengan muka pucat!  Salah seorang customer EF pemilik beberapa perusahaan besar dikotaku tengah marah besar karena kesalahan penjadwalan.

Maka menjelmalah aku sebagai  tameng besi semprotan emosi sang customer penting itu.

“ Lembaga ini kan lembaga professional! Masak penjadwalan saja enggak becus!”

Wow! Kalimatnya menyakitkan. Aku berusaha tersenyum manis. Walaupun rasa kesal  sebetulnya menderaku mendengar kalimat-kalimat tajamnya, kubiarkan lelaki dengan Chinese look itu menumpahkan segala kekesalan hatinya.

“ Saya kan sudah jauh-jauh datang! Menyempatkan diri terbang dari Jakarta kemarin malam hanya untuk menghadiri meeting pertama ini!  Proyek saya saja terpaksa dipending! Ternyata kelas nya kok salah jadwal!”

Aduh, beberapa customer yang lain tampak berbisik-bisik. Aku berusaha untuk tetap tersenyum. Saat dia selesai berargumen dengan segala komplain pedasnya, maka giliranku yang bicara dengan suara merdu nan syahdu dan senyum kepalsuan yang terkembang lebar.

“ Pak Erwin betul sekali. Ini semua memang kesalahan kami pada saat penjadwalan kelas. Untuk itu, saya sebagai Director of Studies, memohon maaf sebesar-besarnya kepada Bapak. Semoga lain kali kami bisa lebih berhati-hati. Terima kasih untuk semua saran yang Bapak berikan.”

Thanks God!

Entah karena kesyahduan suaraku atau senyum palsuku, kemarahan sang customer luluh seketika. Selesaikah urusanku? Not yet!

USB  berisi data bahan presentasi besok yang ku koneksikan pada internet  berubah menjadi shortcut semua. Virus! Oh my God! Sialnya, bahan itu lupa ku back up ke dalam harddisc. NOOO..!!

Kutunda pengerjaan  ulang powerpointku. Mataku masih terasa  cenat-cenut menatap huruf-huruf pada layar laptop. Aku memutuskan kembali ke pekerjaan pertama. Me-list barang! Pemicunya adalah bantal besar nan cantik yang sudah kubayangkan akan jadi teman tidurku.
Memasuki ruang guru, aku terkaget-kaget melihat barang-barang sponsor itu sudah tersusun rapi ditiap meja guru. Lho? Ternyata Kids Director of Studies yang membagikan karena aku tak ditempat, sementara barang-barang menumpuk dan harus segera dibagikan. That’s fine. Asalkan si bantal besar tetap jadi milikku. Jadi stage manager  untuk sebuah event sangat melelahkan lho.

Aku bersiap membereskan tumpukan hadiah milikku saat seorang guru senior dengan gaya sok asyiknya  menyatakan lupa system pelevelan untuk kelas Real English, wilayah teritorialku.

“ Ooh, jadi kalau level 1-4 dapet sertifikat? Mulai level 5 sertifikatnya dua periode ya?”

Pertanyaan itu tidak ditujukan kearahku. Tapi kearah para FrontDesk. Aku yang duduk dibelakangnya hanya dianggap angin lalu. Padahal kalau terjadi kesalahan, maka wajahku lah yang pertama kali ditunjuk oleh Center Manager.

“ Masak lupa, Sen? Kan kita baru training ulang kemaren?” Aku berkata pelan, berusaha sabar.
Dengan gaya songongnya dia berkata ala-ala anak gaul sekarang dengan kepala dan bahu yang bergerak-gerak kekanan dan kekiri.

“ Yaaa, namanya  gue lupa! Gemane dooong..!!!”

Ugh! Kalau tak memikirkan keprofesionalan bekerja, ingin rasanya kucabik-cabik mulut nyinyir itu. Tapi yang terjadi adalah aku berusaha sabar dan memberikan panduan manual system pelevelan terbaru walaupun hatiku penuh sumpah serapah.

Dan malam menjelang. Saatnya aku pulang membawa sang bantal cantik. Kubereskan barang-barang dan mataku sibuk mencari keberadaan  calon teman tidurku yang baru. Kucari keruang guru, tak ada. Kucari keruang administrasi, tak ada. Kucari keruang Center Manager, juga tak ada! Kemanakah benda itu? Kulongokkan tubuhku  sampai kekolong meja, tetap tak ada!
Dengan penasaran, aku menelpon Ibu Tissa, Center Managerku.

“ Bu, bantalku kok enggak ada ya?”

“ Bantal?”

“ Iya, kan Ibu kasih ke aku yang warna hijau?”

“ Gosh, Tadi dibawa Yulis deh. Duh, kok aku jadi linglung ya. Pas dia minta bantal itu, aku lagi ngurusin slip gaji, Miss Dee. Jadi enggak konsentrasi. Jadi itu bantalmu, ya?”

My goodness!!

Lengkaplah deritaku.

Broken morning yang mengawali hariku, bahan presentasi yang harus dibuat ulang, Komplain customer yang menyakitkan hati, perdebatan dengan co-worker bermulut nyinyir dan yang terakhir, bantal pujaanku harus kurelakan menjadi milik orang lain. Duh Tuhan!
Aku ingin menangis! Aku kesal! Aku kecewa! Aku marah! Kenapa semuanya jadi menyebalkan?!
Bad Day!

Sesampai dirumah, aku duduk termenung. Berusaha memahami  apa yang sedang terjadi . Lama aku terpekur mencari jawabnya. Hingga kuputuskan untuk membasuh wajahku dengan air wudhu dan sholat Isya. Kuadukan segalanya pada Allah. Kusampaikan segala gundahku kepadaNYA. Sebait doa penentram jiwa kubaca,

‘ Cukuplah Allah yang menerangi hatiku. Cukuplah Allah penghapus dukaku. Cukuplah Allah pemberi cahaya bagi kehidupanku.’

Juga nasihat seorang sahabat lewat pesan SMS malam itu yang berkata,

“ Miss Dee. Kita ambil positifnya aja yuk. Dengan kejadian ini, dirimu malah mendapatkan pelajaran untuk naik kelas dalam mata kuliah ‘sabar’. Semoga ada rezeki lebih dari sekedar bantal empuk. Take it a learning process for your sophisticated life ya. Aku selalu bersedia untuk menjadi ‘tempat sampah ‘ bagi potongan luka hatimu. Luv. Arel”

Hatiku terasa sejuk. Damai.

Ternyata aku yang salah.

Aku mengawali pagiku dengan bayangan kesulitan yang akan kuhadapi sepanjang hari.  Akulah yang  mengundang kesulitan untuk datang menyapaku.  Akulah yang merencanakan keburukan untuk bertandang.

 Aku lupa ritual yang biasa kulakukan saat mataku baru terjaga dari tidur dipagi hari. Aku lupa untuk tersenyum dan menyambut pagi sebagai berkah terindah dari sang pencipta. Aku lupa bersyukur atas segala nikmat yang telah kudapat dan akan kuraih kemudian. Aku lupa merencanakan kebaikan apa saja yang akan kunikmati hari itu.

Teringat sebuah buku ‘The Secret’ karya Rondha Byrne yang berkata, bahwa pikiran adalah magnet. Ada daya tarik menarik antara apa yang kita pikirkan dan apa yang akan kita dapatkan. Dan pagi itu, aku dan pikiranku telah  menarik hal-hal buruk dan menyebalkan untuk terjadi dan menyertaiku sepanjang hari.

Bersyukurlah sahabat, dan Tuhan takkan marah.

0 komentar:

Post a Comment