Breaking News

15 February, 2012

Bersyukur dan cerita 'jorok'


 
Kenapa menulis tentang bersyukur? Karena aku sering kali merasa belum menemukan kunci yang pas untuk bisa dijadikan pembuka pintu bersyukur yang selebar-lebarnya. Ups, Allah jangan marah dulu ya. Tapi inilah prosesku...rada ngelés neh.

Karena adanya peristiwa kecil dan rada ‘jorok’ tapi berdampak besar. Hari ini aku ‘pup’ 2x!!!

Bingung kenapa jadi big news gitu? Masalahnya, sudah 2 hari belakangan aku tak menyambangi bilik dabel yu si untuk urusan yang satu ini. Gak usah ditilik secara aspek kesehatan-yang me’wajib’kan BAB tiap hari-deh. Tapi bisa bantu bayangin kan, gimana gak nyamannya nih perut. Lha wong proses input tetap berlangsung, tapi gak ada outputnya. Ya overload dong.

Perut rasanya jadi njedul kemana-mana, padat merayap. Belum lagi feeling so strong yang dihasilkannya. Minum bergalon-galon air putih, juga belum menghasilkan yang diinginkan. Makan buah, juga dak berhasil. Soale yang dimakan buah salak. Jadinya yang ada, perut makin sesak dan sarat :).

Dan akhirnya, tadi pagi tanpa aba-aba apapun, ‘beban’ itupun minta keluar. Tahu apa yang kurasakan? Lega banget, kurang sesaknya. Dan puncak kebahagiaanku, ketika baru saja sekitar ½ jam yang lalu, aku pup lagi!!
Perutku terasa makin nyaman, begitu juga hatiku. Dan akhirnya membawa aku pada satu kata ALHAMDULILLAH.

Untung Allah kasih siklus pembuanganku lancar lagi. Coba kalo gak?!
Lha 2 hari aja gak pup aku udah mabok. Gimana kalo Allah ‘iseng’, terus bikin aku gak pup ampe seminggu. Huaaaaaa, gak cuma perutku yang akan jadi kaya orang hamil  tapi juga bakalan bisa bikin aku nglakuin hal-hal yang aneh deh kaya’e.

Jadi, ada banyak alasan untuk bersyukur. Bisa pup tiap hari, bisa mandi dengan air yang gak terbatas, abis begadang bisa tidur ampe jam 11 siang (hehehe, tidur malam plus tidur siang tuh namanya), pokokè buanyak deh.

Jadi, bersyukurlah selagi masih dikasih kesempatan ama Allah untuk menjalani hidup. Gak usah yang muluk-muluk dulu pengen seperti Khadijah ato Fatimah Azzahra. Tapi dari yang aku banget aja dulu, yaitu jadi aku yang gak emosional apalagi untuk hal-hal yang gak jelas dan gak penting :).































 rjadi, muaranya tetap pada sebuah proses membuat ibu-ibu dan perempuan mencintai menulis.

Saya sering menganalogikan diri saya sebagai penulis yang masih bayi.  Jangankan berlari seperti orang yang lahir lebih dulu, bahkan untuk bisa berdiri tegak pun masih perlu bantuan dan usaha yang sangat besar.  Ketika bayi ini telah berhasil berdiri tegak, maka segala pujian dari orang-orang yang disayangi, akan membuatnya bertahan dan berani melangkah. Bila tiba-tiba ia jatuh, kata-kata motivasi, bahkan genggaman tangan yang menguatkan amat dibutuhkan si Bayi untuk membuatnya berani mencoba lagi.  Itulah analogi ngasal yang saya terapkan pada diri sendiri.

Sebagai seorang Ibu Rumah Tangga dengan seorang balita dan dua anak ABG, sungguh bukan hal mudah menghasilkan tulisan yang layak kirim. Semua harus dilakukan dalam waktu-waktu sisa. Ketika saya mulai meniatkan diri mendalami dunia kepenulisan, mencerap ilmu dari berbagai sumber wajib dilakukan.  Berbagai pelatihan menulis online saya ikuti.  Kemudian, memupuk keberanian, dan disiplin untuk tetap menulis.  Semua itu atas dasar keinginan yang besar untuk membagikan berbagai hikmah, sekaligus sarana saya meredam kegundahan.

Saat pada akhirnya saya menerima ajakan untuk menerbitkan kumcer secara indie, itu pun karena alasan tersebut, bukan yang lain. Setengah mati saya berusaha menyelesaikan cerpen pertama saya, di sela waktu mengerjakan tugas domestik.  Setelah selesai, tentu saja saya mengkonsultasikan cerpen itu pada orang yang saya anggap kompeten dalam menulis. Tidak satu orang, bahkan beberapa orang saya kirimi, dengan resiko cerpen saya dikritik dan diobrak-abrik.  Alhamdulillah, selesai juga cerpen itu, dan diterbitkan indie bersama 24 penulis pemula yang lain. Harapan saya tetap sama, membuat orang yang membaca cerpen itu terinspirasi, dan lebih berani menghadapi hidup.

Proses yang sama saya lakukan ketika mengirim cerpen untuk majalah Pot

ret. Saya tidak tahu apakah cerpen saya dimuat karena saya kenal redakturnya? Atau memang karena cerpen saya layak dibaca.  Niat saya dalam hati tetap sama, ingin membuat orang terinspirasi, dan memetik manfaatnya. Berhasil atau tidak?  Wallahu'alam bissawwab, semua saya serahkan pada Sang Pemilik Hati. 

Saat ini saya tetaplah si Penulis Bayi, masih belajar merangkak, berdiri, dan mencoba melangkahkan kaki satu demi satu.  Walau pun masih takut jatuh. Tak yakin apakah akan bisa melangkah lebih jauh.  Tak pernah tahu apa yang terjadi di langkah selanjutnya.  Saya hanya akan berusaha terus, terus, dan terus.  Tentunya si Bayi masih memerlukan tepukan gembira ketika berhasil, atau uluran tangan ketika jatuh.  Untuk itulah ia mencari orang-orang yang mau dengan penuh kasih sayang membantunya.

Di IIDN ini saya temukan semua itu.  Kawan senasib yang sama-sama berjuang untuk saling menguatkan. Saudari yang lebih dulu mampu berlari sebagai teladan. Dan yang terpenting dari semuanya adalah hati yang saling mengasihi, saling menghargai, dan memotivasi setiap proses yang dijalani untuk melangkah lebih jauh lagi.  IIDN adalah sebuah harapan bagi ibu-ibu seperti saya, yang memulai menulis di waktu yang terlalu lama.  Walau pun tidak ada kata terlambat untuk memulai, namun faktanya tetap saja telah banyak yang mendahului kami berlari. Maju bersama meraih impian dengan IIDN, menjadi sebuah keindahan tersendiri bagi saya. Sang Penulis yang masih sangat Bayi.


Banda Aceh, 13 November 2011
-Inge-


0 komentar:

Post a Comment