Breaking News

10 February, 2012

Berkualitaskah Kebersamaan Itu?


 
Tadi pagi,ketika aku sedang sarapan,samar-samar kudengar syair lagu anak-anak dari TV. Kurang lebih begini bunyinya :

……Ayah dan ibu tak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan………
……Mereka memberiku mainan yang banyak……..…
…. .Juga baju-baju yang bagus…….…
…...Tapi bukan itu sebenarnya yang kuinginkan…..…
…...Aku ingin mereka bermain bersamaku………
…...Hingga aku tidak merasa kesepian…….

Sejenak, kuhentikan makan pagiku. Mencoba mencerna kalimat-kalimat yang barusan kudengar. Ouw…aku merasa tersentil. Karena selama ini aku selalu berusaha memenuhi kebutuhan fisik anak-anakku. Selengkap mungkin. Mainan beraneka macam. Baju-baju bagus. Buku-buku pengetahuan. Plus vitamin serta obat-obatan komplit saat mereka sakit. Semua untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka semata.

Coba kutelusuri lagi. Apa yang telah kuberikan untuk memenuhi kebutuhan psikis mereka.Waktu bersama?Hmm…pulang kerja,aku memang bersama anak-anakku. Tapi berkualitaskah kebersamaan itu?Aku kadang asyik membaca, sementara mereka pun asyik memelototi acara TV. Kali lain,aku sibuk membereskan rumah ketika mereka pun riuh bermain game computer. Atau aku ngobrol kesana kemari dengan tetangga,sedang anak-anakku kebut-kebutan dengan sepeda kecilnya.

Tidak ada komunikasi dua arah antara aku dan anak-anakku. Kami memang bersama secara fisik, tapi aktivitas kami berlainan. Olala….sungguh selama ini aku keliru memaknai arti kebersamaan itu. Seharusnya aku mengajak mereka bicara atau berdiskusi tentang kegiatan mereka seharian tadi. Atau membacakan cerita-cerita berhikmah. Atau bermain bersama mereka. Atau apalah….yang pasti ada interaksi antara aku dan anak-anakku.

Pantas saja, anak-anakku kadang protes saat kami ‘asyik’ sendiri-sendiri.
“Bunda, sini dooong temani Zaidan main, dari tadi kok masak terus sih?!” Zaidan, anak ketigaku akan menarik-narik ujung bajuku saat aku sibuk meracik sayuran sambil mengawasinya bermain dari dapur. Diangsurkannya sekeranjang mainan di depanku, berharap aku menghentikan kegiatanku dan menemaninya bermain. Kakaknya pun tak mau kalah melancarkan aksi protesnya saat aku masih sibuk setrika baju di saat jam belajarnya.
“Udah ah, aku nggak mau belajar kalau Bunda nggak mau menemani aku!”
Atau si bungsu yang memegangi kakiku sambil menarik-narik kabel laptop saat aku sibuk online atau mengetik artikelku. Sesekali  ia berteriak-teriak dengan bahasanya yang masih cedal, meminta perhatianku, walau seabreg mainan sudah kusandingkan di sebelahnya. Sepertinya main bersama Bunda lebih asyik, mungkin begitu pikirnya.

Pernah suatu ketika sulungku menanyaiku saat aku bersiap di hari Minggu untuk pergi kondangan ,”Bunda nggak libur ya?”
“Libur, sayang...tapi hari ini ada undangan pernikahan teman kantornya Bunda,” jawabku sambil meratakan bedak di wajahku. Sekilas kutangkap ada ekspresi kecewa di wajahnya.
“Lalu kapan dong waktu untuk aku?”
“Kemarin-kemarin Bunda kerjaaaa terus, sampai di rumah juga kerja lagi, ngetik, masak, setrika, nyapu, gitu terus sampai malam. Ntar kalau sudah malam Bunda mengeluh capek, nggak mau membacakan buku cerita untukku...”

Aku menghentikan kegiatanku. Kuacak rambutnya yang ikal. Wajahnya yang manyun nampak lucu. Dalam hati aku membenarkan ucapan anakku, kutelaah akhir-akhir ini aku jarang sekali membersamai mereka. Sibuk dengan rutinitasku bekerja dan membereskan rumah. Bahkan membacakan buku cerita yang dulu rutin kulakukan menjelang anak-anakku tidur, kini jarang sekali kulakukan. Pekerjaan kantor dan rutinitas rumah tangga telah menyedot seluruh tenagaku, hingga aku sudah kecapekan bila senja mulai menjelang.
“OK deh, bagaimana kalau nanti pulang kondangan kita jalan-jalan?” aku akhirnya mencari alternatif  solusi agar ia tak keterusan ngambeg.
Kulihat wajahnya mulai sumringah, tapi sebentar kemudian  ia kembali cemberut.
“Lho, gimana sih, kok masih manyun gitu?” aku menjawil pipinya yang gembil.
“Tapi aku ragu...” waduh, si sulung ini kalau bicara sok dewasa gitu, mungkin pengaruh kesukaannya melahap semua jenis buku apa ya? Walau usianya baru sembilan tahun, ia suka ikut-ikutan membaca koleksi bukuku yang lumayan tebal seperti tetralogi Laskar Pelangi dan Chicken Soup.
“Bunda menepati janji nggak? Dulu Bunda juga pernah janji kayak gitu tapi saat kutagih Bunda bilang ‘besok saja ya, bunda capek nih habis bepergian’...”
Aku tertawa melihat mimiknya yang menirukan aku bicara. Wah, kena skak lagi nih, baru sadar ternyata selain tak menyediakan waktu untuk anakku aku juga mulai ingkar janji.

Ah, kenapa selama ini aku tak peka dengan aksi protes anak-anakku ya? Kupikir mereka sudah merasa puas dengan semua fasilitas yang kuberikan. Sepeda, aneka mainan, game-game seru yang kuunduh dari internet, juga buku-buku cerita anak yang tak terhitung jumlahnya.  Padahal selama ini aku banyak membaca dan mengoleksi buku-buku parenting dengan tujuan supaya aku bisa membesarkan anak-anakku dengan bijak dan bahagia. Juga aneka seminar tentang tumbuh kembang anak sering kuikuti dengan harapan bisa menambah bekalku dalam mendidik kelima anakku. Wah, ternyata praktek tak semudah teori ya? Aku bahkan harus belajar banyak dari celoteh anak-anakku yang merupakan umpan balik dari segala tindakanku selama ini.

Sebagai ibu bekerja, keterbatasan waktu bersama anak harus kusiasati agar kualitas kebersamaan itu maksimal. Jam kerjaku biasanya  dari jam 07.30 sampai jam 14.30. Terkadang aku bisa pulang lebih larut jika sedang ada kegiatan/acara di kantor. Sementara itu, anak-anak tidur sekitar jam 8 malam, praktis waktuku  bersama mereka hanya beberapa jam saja. Itupun masih dikurangi kegiatan mandi serta tetek bengek urusan rumahtangga. Lalu bagaimana cara memaksimalkan waktu tersebut?

Pertama, aku harus membuat program atau jadwal harian untuk ‘berdiskusi’ dengan anak-anak.Kalau selama ini aku lebih sering  ‘berbicara’ satu arah : menyuruh,menasehati,mengingatkan,dan yang paling sering memarahi,maka mulai saat ini aku harus siap mendengar mereka bicara. Minimal saat-saat menjelang mereka tidur agar apa yang kusampaikan bisa mengena di hati mereka.

Selanjutnya,aku juga harus membuat pertemuan yang sangat singkat dengan anak-anak itu menjadi bermakna. Dalam arti,aku menyediakan tubuh dan pikiranku untuk melayani  mereka,tidak sambil melakukan aktivitas lainnya.Aku akan serius mendengarkan celoteh dan cerita mereka.Aku akan berusaha memberi solusi bila mereka membutuhkannya. Dan aku pun siap mendengarkan ‘kritikan’ mereka bila selama ini aku belum mampu menjalankan peranku sebagai ibu dengan baik.
Kemudian, bila memang waktu tak memungkinkan bagiku menemani mereka karena banyaknya tugas rumah tangga yang harus diselesaikan, aku akan mengikutsertakan mereka dalam kegiatan yang sedang kulakukan. Misalnya saat anakku merecokiku saat aku sedang asyik memasak di dapur, aku akan memberinya sayuran dan pisau roti yang tumpul agar ia bisa ikut asyik bersamaku meracik sayur-sayuran. Atau memberikannya baju-baju kecil dan setrika mainan saat ia menggangguku ketika aku sedang setrika. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih saat mereka usai ‘membantuku’ agar mereka merasa dihargai.

Aku tak mau menyesal di saat mereka sudah beranjak dewasa tak mempunyai kedekatan emosional denganku hanya karena aku sibuk sendiri dan lalai memberikan waktuku untuk mereka. Padahal Allah menitipkan mereka padaku agar aku bertanggung jawab untuk membesarkan dan mendidiknya, bukan menyerahkan mereka pada asisten rumah tanggaku. Aku juga tak mau kesibukanku bekerja dan mengejar impian akan menurunkan kualitas kebersamaanku pada anak-anak, sehingga mereka tak mampu menyerap nilai-nilai kebaikan yang ingin kutanamkan yang akan membentuk karakter mereka saat dewasa kelak sehingga mereka tak mudah terpengaruh pada lingkungan yang buruk.

Aku yakin,interaksi emosional antara aku dan anak-anak yang kubangun saat ini akan berpengaruh besar pada  kehidupan mereka saat beranjak dewasa. Sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh Dr Benjamin B Lahey dari Universitas Chicago,AS.Dalam studinya,Benjamin mengamati perilaku 1.900 orang anak sejak balita hingga berusia 13 tahun.Ternyata,anak-anak yang sejak balita selalu diberi stimulasi dan perhatian yang cukup dari ibunya,seperti dibacakan dongeng,diajak berbicara,bermain bersama,serta  bepergian,akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermasalah.Orang tua yang punya cukup perhatian dan kedekatan emosi  dengan anaknya,akan membuat anak-anak tumbuh bahagia.Selain itu,komunikasi efektif yang dilakukan orang tua secara intens dengan buah hatinya akan membuat anak lebih mudah bersosialisasi dan kemampuan bahasanya lebih berkembang,serta membuatnya percaya diri.

Jadi,bila si kecil kerap rewel,tak menurut,dan kerap mengganggu temannya,jangan buru-buru menyalahkannya.Bisa jadi  interaksi emosional kita dengannya belum berkualitas sehingga ia tumbuh menjadi anak yang bermasalah...

0 komentar:

Post a Comment