Breaking News

02 February, 2012

BERKAH DARI KEBISAAN MENULIS : HADIAH-HADIAH TAK TERDUGA

 
      Sepulang sekolah, Fina anak perempuanku yang masih duduk dikelas 5 SD bercerita,
"Bu, tadi saya bertemu dengan ibu guru kelas 6 dijalan, Ia memuji sepeda yang kupakai, katanya sepedaku bagus dan pilihan warnanya luar biasa. sudah kubilang kalau sepeda ini bukan dibeli tapi dapat hadiah, tapi Ibu guru itu tidak mendengar, sambil menepuk pundakku Ia berkata, pinter kamu nak memilih warna sepeda.."
Kutanggapi dengan senyum, karena Ibu guru itu adalah salah satu dari puluhan orang yang mengagumi sepeda anakku. Bahkan ada anak kecil dijalan menangis kepingin sepeda seperti itu kepada ibunya, kata Ibunya:"Ya, nanti kubelikan yang mirip itu,.."Aku menahan geli, bukan apa-apa mencari sepeda yang model seperti anakku sampai pelosok kotapun hampir dikata tak ada, karena sepeda itu hanya ada seribu buah di Indonesia, pesanan dari perusahaan Es krim ternama, dan dibagikan sebagai hadiah, buat para orangtua yang bisa mengungkapkan melalui tulisan tentang kebisaan anaknya yang istimewa.

      Karena bisaku hanya menulis, tentu dengan semangat 45 kusambut hangat pengumuman di TV itu. seribu hadiah sepeda keren, bercorak sapi, yang tak ada duanya ditoko sepeda dikota Saya, akhirnya kudapatkan, salah satunya, dan menjadi kebanggan anak saya, karena setiap menggunakannya selalu ada saja orang yang mengagumi sepeda itu, dan tentu saja kebanggaan anakku; "sepeda  ini didapat dari hadiah, karena ibuku yang pintar menulis",.. wah aku juga jadi kebawa-bawa..

     Bila melihat empat roda mobilku, aku jadi teringat sesuatu, sesuatu yang istimewa. Empat roda mobil itu hanya sekedar simbol dari hadiah yang kurasa sangat besar yang pernah kuperoleh: tiga juta rupiah, tanpa dipotong pajak. Kusumbangkan semua pada suami tuk menambahi membeli mobil idaman keluarga kami, kata suami uang segitu diumpamakan mendapat rodanya saja. Tak apa aku ikhlas, bukankah mobil tanpa roda tak bisa jalan? Ya uang itu didapat dari kompetisi menulis sebuah produk teh yang cukup bergengsi. Aku terpilih diantara seratus orang dan tersaring dari 3700 yang menuliskan kisahnya!, hebatnya lagi dibukukan dengan editor pesohor dibidang penulisan, tak lupa Ibu menteri ikut memberikan pengantarnya; huwa..mimpi apa aku semalam, tahu-tahu aku bisa punya sebuah buku eksklusif dan hadiah uang pula!

     Dan sebenarnyalah aku juga harus berterimakasih pada seorang Bapak Tua yang menyebarkan brosur cat yang cukup favorit dinegeri ini. Karena dialah yang mengantarkanku pada pemenang kedua, dalam periode bulan Juli dua tahun lalu. Ya, tentu pemenang dalam menuliskan kisah berkenaan dengan penggunaan cat yang mewarnai rumahku, yang kubeli tiga tahun yang lalu. Meski dipotong pajak, hadiah itu lumayan besar, dan bisa pula ikut menyumbang tuk beli sepeda motor baru Suami. Alhamdulillah ya, sesuatu banget deh..

       Teringat pula hadiah kainku yang bermeter-meter dari toko kain di Kotaku, hadiah lima kali memberi opini dan terpilih di Radio Wanita, dan diberi voucer membeli kain. Wuah saat itu, pengin rasanya jadi bakul kain,..nyaingi pasar klewer Solo laiknya.

       Terakhir, ini cukup bikin heboh, bukannya Aku mendapatkan hadiah besar, namun proses keseluruhan dari kontes menulis inilah yang paling mengharu-biru libatkan seluruh keluarga. Berawal dari tulisanku yang kukirim pada produk kecap, yang menceritakan kepandaian atau jagonya Ayah dalam masak, yang sebenarnya Aku sudah minta izin kepada suami atas keisenganku ini. Lhadalah lha kok ditelpon dari sana suruh membuat video. Karena kami tak mahir membuat video suami sedang masak, maka diputuskan untuk meminta bantuan Adik di Yogya. Semua bahan sudah kusiapkan dari rumah, tepat hari "h", mobil Kami dipinjam orang belum kembali. Huaaah,...dah banjir air mata Aku hari itu, dongkol setengah mati, Suami yang ku pesan untuk mengosongkan Mobil agar tak dipakai orangpun, ternyata orang yang pinjem ingkar hari datangnya. Berhari-hari sampai perang dingin dengan suami karena ndongkol masih tersisa. Akhirnya setelah nalar sudah berjalan kuputuskan membuat Video sendiri dari rumah, melibatkan suami dan anak-anak, lucu benar proses pembuatannya, gelak tawapun tak terelakkan. Hingga akhirnya Suami dipanggil untuk masuk semi final, hadiahnya : 10 juta dan jalan-jalan sekeluarga ke negeri Singa! saking semangatnya Suami sampai mengundang guru Tata Boga dirumah, untuk mengajari seluk beluk memasak. Belakangan baru kami tahu ternyata Guru Tata Boga itu bila dirunut adalah saudara kami! Kok bisa ya, sebuah kebetulan yang indah yang diawali dari m-e-n-u-l-i-s. Meski tak berhasil, kami cukup puas, ada hadiah uang yang kalau dihitung-hitung impas dengan usaha yang kami lakukan, juga pengalaman yang tak terhingga, ikut kompetisi memasak bergengsi di Kota ini, dipandu Chef terkenal, bertemu Artis papan atas lagi...

     Memang, tak selamanya Aku beruntung mengikuti beberapa kompetisi menulis ini, tapi hampir selalu tak pernah putus asa untuk menuliskan apa yang mau kutulis, bagiku, hadiah adalah sebuah bonus dari kebisaanku yg sangat sederhana ini yakni menulis. Aku bisa mendapat sahabat banyak dari kebisaanku ini, inilah yang kusebut bonus terindah yang kuterima. Meski bukan penulis hebat yang mengeluarkan banyak buku, tapi dengan menulis aku belajar banyak hal, legawa bila kalah atau tak berhasil, selalu bersyukur karena ada apresiasi terhadap apa yang kulakukan, dan belajar untuk selalu rendah hati, (karena memang tak ada yang dibanggakanya pada diriku..he.he..) dan tentu meluapkan isi hati dan kepala, agar kehidupan ini nampak seimbang..tetap semangat menulis teman,..


0 komentar:

Post a Comment