Breaking News

21 February, 2012

Belajar Yuk Nak..

Senin siang, ta'lim mingguan baru saja selesai. Seorang ibu mendekatiku.
"Mbak Rani, aku mau konsultasi dong.."
Aku terhenyak, ingat pesan ibu ustadzah tentang bahaya sombong karena banyak hal, salahsatunya ilmu.
"Aduh mbak, apa yang bisa dikonsultasikan dari aku?" timpalku dengan nada canda.
Sang ibu hanya tersenyum, dan mulailah ia bercerita.

Ibu ini, temanku ini, punya seorang putri, yang menurutnya sangat menyukai belajar bahasa inggris. Setiap hari, sang putri berceloteh dalam bahasa inggris, kata-kata apapun yang dia tahu. Si Ayah yang ingin mendukung minat putrinya, meminta istrinya mencarikan rekomendasi tempat les bahasa inggris yang bagus. Maka, bertanyalah beliau padaku.

Mendapat pertanyaan seperti ini, tentu saja aku -secara refleks- menunjuk diriku sendiri. Karena aku suka mengajar, dan siapapun akan suka mengajari anak yang suka belajar. Suka, antusias, bersemangat, menurutku adalah faktor terbesar efektifnya proses belajar. Maka selama waktuku memungkinkan, tak pernah kutolak permintaan belajar privat dari teman-teman kecil di sekitar rumah.
Masalahnya adalah, temanku yang satu ini mencari tempat les yang umum dan berkelompok, dan yang lebih penting lagi, anaknya masih berusia 4 tahun, masih TK A!

Jadi aku katakan padanya, aku tidak punya rekomendasi tempat les seperti yang dia minta, karena anakku juga tidak pernah ikut les bahasa dimanapun. Lalu bagaimana caranya kita sebagai orangtua mendukung minat anak-anak balita seperti ini? Aku lalu memberikan gambaran ide-ide pada temanku ini, berdasarkan pengalamanku sendiri, yang poin-poinnya akan aku bagi berikut ini :

1. Dukungan sepenuhnya
Ini berarti, pujian dan senyum tulus ketika anak berani berekspresi dalam bahasa asing, tanpa peduli benar atau salah tata bahasa yang digunakannya. Daripada berkata, "Ih, adek ngomong apa sih?", lebih baik kita berkata, "Oo mungkin maksud adek ini ya?" sambil menyebutkan kata-kata yang ejaannya benar. Tidak masalah ketika dia 'ngotot' menggunakan kata-kata versinya sendiri.

2. Pancing untuk terus berekspresi
Ketika anakku bertanya tentang kata-kata bahasa inggris, yang lafalnya seringkali masih belum jelas, aku biasanya menggunakan kalimat, "Dapat darimana? Tulisannya seperti apa?" Kalau sumbernya dari film atau buku, aku akan berkata, "Coba bukunya yang mana?", "Kalau ada film-nya lagi, kasih tahu bunda ya,". Jangan lupa pujian dan senyum, ketika dia berhasil menunjukkannya.

3. Fasilitasi dengan media yang tepat
Hampir semua anak balita yang pernah aku temui, sangat suka ketika aku menyodorkan buku-buku cerita bergambar. Jangan gunakan alasan "Aduh, dia belum bisa membaca," ketika kita tidak mau membelikannya buku. Berikan dia buku yang gambarnya besar-besar, tulisannya besar, kata-katanya sedikit, warna-warni, lalu bacalah bersama-sama (ini yang paling penting). Putarlah lagu anak-anak (nursery rhymes) lewat CD, MP3, atau VCD. Khusus untuk VCD, pilihlah yang gambarnya menunjukkan anak-anak bernyanyi bersama, videoklipnya sederhana, bukan videoklip artis cilik yang dandanannya berlebihan. Salah satu lagu yang paling berpengaruh selama aku mengajarkan bahasa inggris ke anak-anak adalah "ABC song", karena lagu ini mengajarkan cara melafalkan abjad bahasa inggris yang benar.

4. Agar anak menikmati, orangtua harus menikmati
Tidak ada gunanya membelikan segala macam buku, edugames, edufilm kepada anak-anak, kalau kita tidak menikmatinya bersama mereka. Tunjukkan dengan tulus (tidak dibuat-buat hingga berkesan memaksa) bahwa media-media itu menarik. Baca buku-bukunya bersama, tonton filmnya bersama, bermain games bersama, dan bernyanyilah bersama mereka.

5. Waktu, waktu, dan waktu
Beruntunglah ibu-ibu yang mendedikasikan seluruh waktunya untuk rumah dan keluarga, karena kesempatan dan waktu untuk mendampingi anak-anak belajar sangat banyak. Buat yang harus bekerja, juga beruntung, karena itu berarti Allah menganugerahi kesempatan lebih untuk mengatur waktunya (karena putar otak terus, biasanya working mom lebih cerdas).

Karena keterbatasan ilmu yang aku punya, hanya sebatas inilah yang bisa aku bagi. Aku berjanji, pada teman-teman, pada keluargaku, pada diriku sendiri, untuk terus belajar, menuntut ilmu dan berbagi ilmu. Buatku, ibu bukan hanya 'guru yang pertama', tetapi juga 'guru yang utama', lalu apa jadinya jika seorang ibu menolak untuk memperbanyak ilmu?

Semoga berguna..

� * o t p `1 Tahoma","sans-serif";color:#333333'>aku punya rumah indah dikaki bukit,ada kebun bunga...kolam ikan,kolam renang...ada 'hall luas beratap joglo untuk menjamu sahabat-sahabatku..dapur modern,dapur tradisional,halaman luas berpagar pinus dan bambu jepang.,ada jalan setapak menuju bukit...
aku janji,setiap pagi akan kubuatkan sarapan pagi dengan...''omelet with mushroom onion sauce..'beef teriyaki with potato basked roasted ''...atau ''semur jawa a la Klaten..!!)

Fred....(suaranya,mengejutkanku...)....Fred....di desa..??wajahnya tak suka....kuanggukan cepat kepalaku...kupasang wajah memohon,putus asa....

Tak sanggup aku menghela nafasku......,Ia...membisikkan janjinya....

''out of the blue....'',......sedetik kemudian.

0 komentar:

Post a Comment