Breaking News

02 February, 2012

BELAJAR DARI SUJARWO..

 
     Sujarwo, sebut saja begitu, seorang mantan atlet angkat berat Propinsi Jawatimur. Apa kabarnya sekarang? setelah bertahun-tahun yang lalu menggenggam medali Emas ditangan, mengharumkan negeri ini dan dielu-elukan sebagai "pahlawan olahraga", Si "perkasa" ini, diusia-nya yang masih juga relatif muda, Saya taksir sekitar 38 tahunan, terlihat memanggul dua lonjor bambu petung yang tertengger dengan gagah dipundaknya. Bambu petung adalah bambu yang berukuran super besar yang digunakan untuk bahan kerajinan terbuat dari bambu seperti Tirai bambu, lampu lampion, dan lainnya.
      Jangan ditanya berapa beratnya bambu petung itu, untuk buruh normal satu bambu yang beratnya 50 Kg, bisa diangkut 2 orang, hingga total harus 4 orang yang memanggul 2 bambu raksasa tadi. Tapi untuk mantan atlit angkat berat, 2 Bambu itu dengan mudahnya diangkat dan dipindahkan dari satu tempat ketempat lain, keperkasaan yang belum memudar.
       Saya pandangi sosok Sujarwo dengan peraan berkecamuk. Dimanakah letak penghargaan Pemerintah, Dinas Olahraga, atau Persatuan Olahraga Angkat Berat yang menaunginya?. Semua orang tahu, tak hanya dalam sekejab mata, Sosok Sujarwo yang perkasa terbentuk begitu saja. Latihan bertahun-tahun, rasakan pahit getirnya dalam berlomba, waktu, dana yang terkuras tuk bentuk tubuh dan latihan tentu tak gratis. Berjuta bulir keringat, juga airmata yang mengalir mengiringi perjalanan ke-atlitan-nya seolah-olah sia-sia sudah. Katanya, kejayaannya hanya cerita masa lalu, cerita yang hanya bisa dituturkan pada bayinya yang hanya bisa ditengoknya sebulan sekali, dirumah mertuanya di Malang.
       Ya, Ia sekarang hanya seorang Buruh Pabrik olahan Bambu, yang upah perhari Ia dapatkan hanya 30 ribu rupiah, dalam 6 hari kerja dalam seminggu. Olokan teman, tetangganya Ia hadapi dengan ketabahan luarbiasa. Ia sembunyikan berjuta rasa malu, Ia lipat kejayaannya dengan rapi disudut hatinya. Katanya, kalau hanya berkeluh kesah menanti 'belas kasihan' dari pemerintah, Provinsi, Dinas Olahraga tak selesaikan masalahnya. Mulut keluarganya butuh makan. Yang masih bisa dilakukan pada sampai detik ini adalah mengeluarkan kemampuannya untuk bekerja. Otot besarnya hanya untuk panggul bambu. Dalam pikiran bersihnya hanya ingin dapatkan kerja yang halal, untuk beberapa kotak susu untuk anak bayinya dan sedikit uang yang cukup-atau tidak untuk keperluan Istrinya.
      "Bagaimana lagi, hidup ini harus tetap berjalan, dan yang namanya kehidupan pastilah mencari jalan keluar,.." Katanya seolah pasrah, disambut anggukan teman buruhnya, yang sebenarnya sebelimnya tak pernah tahu bahwa teman "raksasanya" adalah mantan atlet yang berprestasi, karena Sujarwo ini sangat rendah hati.
        Sambil menghela nafas, kuucapkan syukur yang teramat dalam, Allah masih tetap memberikan kehidupan setingkat lebih baik secara materi dibanding Sujarwo ini. Namun ketabahan. keuletan yang luarbiasa dari seorang Sujarwo untuk tak malu melakukan apapun untuk keluarganya, adalah  termasuk Jihad dalam  agama. Ia anti mengemis pada pemerintah yang kurang memperdulikannya. Ia memang tak banyak cakap, karena itu bukan keahliannya, namun bukan berarti Ia pantas untuk dinafikan. Seyogyanya Pemerintah lebih memperhatikan mantan Atlet yang berprestasi untuk kehidupan yang lebih baik. Semoga "Sujarwo-sujarwo " lain tak ada lagi yang menderita, atau paling tidak masih menyisakan ketabahan untuk jalani kehidupannya,..

sukoharjo, 15 November 2011

0 komentar:

Post a Comment