Breaking News

09 February, 2012

Belajar Dari Semangat Kaizen


  (Sebuah tulisan yang terinsipirasi dari Pelatihan Menulis Online kemarin)

Disiplin!  Sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan tetapi untuk sebagian orang mungkin sulit untuk dilakukan.  Membutuhkan sebuah effort yang luar biasa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  Tetapi disiplin memang harus dilakukan bila kita ingin sukses menjalani kehidupan ini.  Kesuksesan baru bisa kita raih ketika disiplin kita tegakkan.
Orang-orang sukses  yang kita lihat sekarang ini, tidak instant atau serta merta mereka meraih semua itu, tengok saja seorang superstar, Michael Jackson membutuhkan sebuah perjuangan yang luar biasa dan disiplin tinggi untuk meraih kesuksesan yang ia miliki, hatta setelah menjadi raja pop dunia, seorang mega bintang, latihan masih ia lakukan tiap hari demikian juga Charlie Caplin meskipun telah mencapai puncak karir dimasa keemasannya , ia tidak melupakan latihan dan ia lakukan itu dalam kesehariannya.
Mari kita tengok juga negara Jepang yang dikenal mempunyai etos kerja dan disiplin tinggi, semua itu yang menghantarkannya menjadi negara economic super power nomor  dua dunia , padahal kita ketahui bersama pada tahun 1945 ketika perang dunia kedua berlangsung, negaranya luluh lantak akibat pemboman Hirosima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat atas perintah presiden AS saat itu Harry S Truman.
Negara Jepang dapat cepat segera  bangkit dari keterpurukan, ini dikarenakan di masyarakat  Jepang  mempunyai sebuah tradisi atau semangat  yang biasa disebut kaizen yang artinya penyempurnaan terus menerus (continuous improvement), sebuah  tradisi yang baru bisa terealisir ketika disiplin tinggi ada didalamnya.  Tradisi ini lahir dan dicanangkan oleh Kaisar Meiji yang terkenal dengan istilah Restorasi Meiji.  Dengan semangat kaizen ini mulai tahun 1980 an, produk-produk Jepang sudah bisa mensejajarkan diri dengan produk Amerika Serikat, padahal  pada tahun 1639, Jepang dibawah pemerintahan Shogun Tokugawa masih disibukkan oleh pengusiran warga asing dan pengisolasian negara selama 240 tahun ke depan, sementara Amerika Serikat pada saat yang sama telah mengenal kata “pelanggan”.  Kontradiktif!  Sebuah keadaan yang sangat jauh berbeda.
Ketika menerapkan sebuah kedisiplinan, disana kita sedang menerapkan pengelolaan waktu yang seefektif mungkin.  Seorang yang berdisiplin tinggi, berarti dia telah menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya.  Tak heran, waktu yang dipunyai setiap manusia sama-sama 24 jam, tetapi dengan modal waktu yang sama, ternyata raihan-raihan yang diperoleh setiap manusia berbeda-beda.  Ada yang bisa melesat, ada yang biasa-biasa saja dan ada yang jalan ditempat bahkan ada yang mengalami kemuduran.  Semua itu tergantung bagaimana ia bisa mengelola waktu dalam kehidupannya.
Di dalam Islam terdapat sebuah hadist yang isinya kurang lebih “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, ia adalah orang yang beruntung, barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin dia termasuk orang yang merugi, dan barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin dia adalah orang yang celaka.   Betapa hadist itu menyiratkan keharusan mengelola waktu yang kita miliki, agar menjadi orang yang selalu lebih baik sehingga termasuk kedalam orang- orang yang beruntung.  Dalam Al Quran banyak sekali ayat yang mengingatkan kita akan waktu, seperti Demi masa, demi waktu dhuha, demi malam hari dan sebagainya.
Kedisiplinan sesungguhnya telah diajarkan dalam ajaran Islam, Ibadah sholat mengharuskan kita untuk berdisiplin waktu, kebersihan dan ketaatan.  Demikian juga dalam ibadah shaum, shaum kita menjadi batal hanya gara-gara kita mencuri start buka satu menit sebelum waktunya.  Sesungguhnya dalam ibadah-ibadah ritual umat Islam ternyata membutuhkan dan mengajarkan kepada kita sebuah kedisiplinan.
Disiplin, memang harus ditegakkan bila kita menginginkan mejadi orang yang beruntung dan sukses dalam kehidupan, baik di dunia dan di akhirat nanti.  Terlebih bagi seorang ibu, yang mempunyai anak-anak yang akan selalu mencontohnya.  Jangan berharap mempunyai anak yang disiplin, bila kita sebagai ibu tidak memberi contoh yang baik tentang kedisiplinan.
Untuk yang belum bisa berdisiplin (termasuk saya) marilah kita mulai semua itu, dari diri sendiri,  dari hal-hal yang kecil,  dan saat ini juga.

0 komentar:

Post a Comment