Breaking News

22 February, 2012

Bekerja

Tulisan yang kalah dalam sebuah lomba artikel bertema  meneladani Rasulullah. Oleh Juri, ada point yang dinilai 100 tetapi, rivalku jauh lebih hebat. Tak mengapa, tidak mengabaikan kesempatan dan berani mencoba itu yang penting meskipun (sebenarnya) menang juga sangat penting sekali wkwkwk...

Satu kali dalam perjalanan pulang menjemput keponakan saya dari les, saya melihat seorang pedagang di pinggir jembatan. Sejenak kukira seorang pedagang kerak telur maka saya berniat menghentikan motor saya di dekat pedagang tersebut karena keponakan saya menyukai kerak telur dan hari itu ia berlaku baik jadi kerak telur tersebut sebagai hadiah untuknya. Tetapi ketika sudah berada di dekat pedagang tersebut, tersadarlah saya bahwa ia bukan pedagang kerak telur. Saya menyalakan mesin motor, hendak pulang tapi demi melihat usia pedagang tersebut saya matikan mesin lalu turun dari motor untuk menghampirinya. Ya Allah, benar-benar manusia lanjut usia dengan sepasang mata yang tidak sempurna. Sepikul kacang goreng teronggok dihadapannya dan hanya diterangi 2 batang lilin. Gusti, mengharukan sekali.  Kuatkah ia memikul kacang ini? Lalu sayapun bertanya, “Pak, masih kuat memikul kacang sebanyak ini?” ia terkekeh. Saya terus bertanya, rumahnya dimana , dan sebagainya. Meskipun saya tidak menyukai kacang goreng, saya membeli beberapa bungkus. Hari-hari selanjutnya jika melewati kawasan tersebut, saya sempatkan mampir ke 'lapak' bapak tua tersebut bersama suami saya.

Di sebuah perempatan jalan, seingatku bernama Jalan Raden Saleh, tepatnya di dekat bekas sekolah STOVIA (sekarang bernama Museum Kebangkitan Nasional) ada seorang bapak tua yang sudah cacat, ia menggunakan kursi roda. Hampir setiap hari ia 'ngetem' di perempatan tersebut. Jika melewati jalan tersebut (kadang malah saya ingin melintas di jalan tersebut) saya selalu mencari sosok tua yang mengenakan rompi hijau muda, rompi bertuliskan nama sebuah media cetak. Ia bukan peminta-minta seperti banyak orangtua yang berkeliaran di perempatan jalan di Jakarta. Ia berjualan koran. Saat lampu lalu lintas menyala merah ia menggerakkan kursi rodanya di sela-sela mobil dan motor yang berhenti untuk menawarkan koran. Gusti, hati siapa yang tidak tersentuh melihat perjuangan hidup seorang bapak tua renta yang cacat? Kalau kalian ke sanapun, Insya Allah ia masih ada.

Di sebuah pasar dekat rumah kontrakkan saya dulu, saya sering melihat seorang bapak-bapak tua. Meskipun tergolong tua tetapi secara fisik ia masih kuat untuk menjadi tukang sampah, pemulung, ataupun tukang suruh di pasar mengingat ia tidak cacat sama sekali dan tukang sampah langganan ibu sayapun lebih tua dari bapak tersebut. Namun, ia tidak menjadi salah satu dari 'profesi' yang saya sebutkan itu. Ia seorang peminta-minta. Dengan tampilan yang 'islami' yaitu bersarung, berbaju koko, dan berpeci hitam, ia selalu menengadahkan tangan ke pengunjung pasar demi beberapa rupiah, termasuk kepada saya. Namun, sedikitpun saya tidak merasa iba dan itu artinya serupiahpun tidak akan saya berikan kepadanya. Saya muak dengan manusia seperti itu. Terlalu sering saya melihat manusia seperti itu sehingga ada kegeraman tersendiri terhadap para 'pengemis gadungan' tersebut. Entahlah, tidak ada 'feel' mengharukan dan menyentuh lubuk hati dalam diri bapak yang pernah memaki saya dengan kata setan tersebut tetapi malah sebaliknya, yaitu memuakkan. Sampah sosial.

Masih di pasar tersebut, seorang pemuda dengan tanpa malu mengharap belas kasihan seorang nenek bongkok pedagang sayur. Pemuda tersebut hanya 'menjual' suara yang mirip kaleng rombeng yang ditendang anak-anak di gang sempit sebuah perkampungan kumuh di Jakarta. Tidak layak disebut seniman bahkan seniman jalanan pun. Huh, pemuda pemalas! Tidak hanya seorang atau dua orang pemuda malas yang sering kutemui tetapi banyak sekali. Tidak ada aura yang menggambarkan orientasi kemasadepanan dalam diri mereka, tidak ada aura menantang yang mematangkan jiwa.


Bapak tua pedagang kacang dan bapak tua cacat penjual koran tersebut adalah gambaran manusia yang dalam hidupnya selalu menjaga harga diri dan martabat kemanusiaan mereka karena mereka tetap bekerja dan menahan diri untuk tidak meminta-minta walaupun andaikan mereka menjadi peminta-minta, penghasilan mereka akan lebih banyak. Penampilan fisik mereka 'layak jual' jika memang mereka mau menjadi peminta-minta. Etos kerja kedua bapak tua renta tersebut memberikan semangat tersendiri kepada saya dan harusnya kepada semua yang menyaksikan 'aksi' kedua bapak tersebut. Semangat untuk terus bekerja. Bekerja tidak selalu harus diorientasikan dengan urusan makan minum atau kebutuhan dunia lainnya tapi lebih ditujukan kepada bagaimana menjaga harga diri dan martabat kemanusiaan kita sebagai manusia yang memang sudah digariskan lebih tinggi dari makhluk lain . Bukankah Rasulullah SAW sendiri sangat memuliakan manusia-manusia yang bekerja sehingga disejajarkan dengan orang yang jihad fi sabilillah? Dalam satu kisah ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya, "Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya." Mendengar itu Rasul pun menjawab, "Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah." (HR Ath-Thabrani). Bahkan Rasulullah SAW mencium telapak tangan Sa'ad bin Muadz yang melepuh karena mencangkul dan mengatakan kepada Sa'ad, inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka. Sangatlah jelas bahwa Rasulullah begitu memuliakan orang yang bekerja, apapun pekerjaannya asalkan bukan yang dilarang Allah. “Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW sebagai suri teladan yang baik, jadi ketika beliau memerintahkan umatnya agar bekerja dan tidak meminta-minta dengan segala keuntungan dan keutamaannya maka sesungguhnya beliau sudah terlebih dahulu melakukannya. Bukankah beliau dikenal sebagai pedagang yang sukses? Sejak usia belia sudah bersentuhan dengan aktifitas bekerja, dalam hal ini berdagang. Bahkan sejak sepeninggal kakeknya, beliau sudah mencari nafkah dengan menjadi penggembala. Sang Paman, Abu Thaliblah yang sudah melibatkannya dalam urusan berdagang. Selanjutnya dengan etos kerja yang tinggi, kecerdasan, ketekunan, kejujuran, dan keprofesionalan dalam berdagang beliau menjadi pebisnis yang sukses sehingga di usia 25 tahun beliau sanggup memberikan mahar 100 ekor unta kepada Khadijah. Padahal kalau kita tilik ke latar belakang beliau bisa dibilang tidak mendukung untuk menjadi pebisnis sukses. Ya karena beliau seorang yatim piatu, kaya dan berpendidikan tinggipun tidak maka menakjubkan sekali ketika di usia beliau sudah menjadi pebisnis sukses yang mempunyai relasi para saudagar Quraisy.

Maka sebenarnya bisa dibilang mengada-ada jika seseorang rela menjadi peminta-minta dengan alasan karena minimnya lapangan pekerjaan yang ada, karena tingkat pendidikan rendah. Saya rasa mereka hanya manusia yang kurang memaksimalkan kemampuan dan sumber daya yang ada, singkatnya malas. Minim etos kerja. Rela merendahkan harkat dan martabat kemanusiaannya sendiri. Seperti bapak peminta-minta dan pemuda pengamen gadungan tersebut. Padahal meminta-minta akan membuat wajah kita cacat di hari kiamat kelak. Naudzubillah min dzalik.

0 komentar:

Post a Comment