Breaking News

22 February, 2012

Anugerahmu Luar Biasa


            Keinginan untuk memiliki anak umumnya menjadi dambaan bagi sepasang kekasih yang telah menikah. Hadirnya buah hati menjadi bukti dari tautan cinta yang telah mereka semaikan di hati pasangannya. Begitu juga dengan kami. Sebagai pengantin baru, meskipun tak diungkapkan lewat kata-kata, diam-diam kami mendambakan kehadiran seorang anak dalam kehidupan baru.
            Pagi itu, aku mulai curiga dengan keterlambatan haidku. Aku tak pernah menunggu putaran waktu itu terlalu lama. Paling telat, siklusnya hanya terlewat satu hingga tiga hari. Tapi, waktu sudah sepuluh hari terlewati. Aku mulai curiga. Setelah suamiku berangkat ke kantor, aku segera menuju apotik terdekat dengan rumah kontrakan kami. Dengan malu-malu, aku terpaksa menanyakan test pack kehamilan kepada penjual obat-obatan di apotik itu. Setelah mendapatkannya, aku buru-buru kembali ke rumah dan langsung menuju kamar mandi. Sesaat kemudian aku begitu girang dan mengucap kata syukur. 
            “Alhamdulillah…ya Allah…benarkah ini?” seruku. Tanda positif pada urine test pack ku membuat jantungku berdebar kencang. Aku hamil, setelah itu melahirkan, seterusnya punya bayi, lalu merawatnya, kemudian membesarkannya. Tiba-tiba aku disadarkan pada sebuah kenyataan yang harus kujalani setelah tanda positif di test pack itu semakin memunculkan warna merah yang nyata.
            ”Tunggu dulu, ini belum pasti. Aku harus melakukan cek ulang ke dokter kandungan,” kata hatiku seperti ingin melakukan penolakan. Padahal, sebelumnya aku sangat menginginkan hasil tes kehamilan ini menunjukkan tanda positif.
            Aku merasa kalau kehamilan ini akan mempertebal kasih sayang suami padaku. Tapi, mengapa ketika tanda-tanda kehamilan itu muncul, aku seperti ketakutan menghadapinya? Aku kabari suamiku yang masih berada di kantor. Kurasakan kegirangan nada suaranya di telepon.
            ”Alhamdulillah, kabari Ibu di Medan!” katanya tergesa-gesa waku itu.
            ”Iya. Sudah ya..aku tunggu sore nanti,” kataku menutup pembicaraan di telepon.
            Esok harinya, aku masih saja belum yakin dengan hasil tes itu. Bisa saja terjadi kesalahan dan aku tidak hamil. Untuk membuktikan kebenaran itu, aku mengajak suami ke rumah sakit bersalin. Awalnya dia menolak.
            ”Sudah di tes, positif kan? Kenapa harus ke dokter lagi?” tanyanya bingung.
            ”Aku belum yakin kalau bukan dokter yang bilang,” kilahku agar dia mau menemaniku. Akhirnya dia mengalah dan menuruti ajakanku.
            ”Ya sudah. Siap-siaplah, kita langsung ke sana hari ini,” ujarnya.
            Kami sama-sama diam dalam taksi yang membawa kami menuju salah satu rumah sakit bersalin di Jakarta Pusat. Aku tak ingin menebak-nebak apa yang dilamunkannya, karena aku juga sedang hanyut dilumat lamunan yang panjang. Kubayangkan janin yang ada di rahimku tumbuh sehingga permukaan perutku akan semakin membuncit. Pakaianku tak akan ada yang muat lagi. Aku teringat kata-kata seorang teman, ”Perempuan hamil itu akan terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya.” Benarkah seperti itu? Aku kembali membayangkan bentuk tubuhku yang membesar, tak berpinggang. Seperti itukah yang disebut semakin cantik dari sebelumnya? Kulirik suamiku yang sejak tadi masih diam memandang ke luar dari balik kaca jendela taksi.
            ”Sudah sampai, ayo turun,” ujarnya membuyarkan lamunanku.
            ”Oh, cepat banget ya,” komentarku asal-asalan, karena sebenarnya aku merasa perjalanan dari Cipulir menuju Jalan Gereja Theresia begitu lambat membosankan.
            Suamiku pun menuju loket pendaftaran. Setelah menerima nomor antrian, kami mengambil tempat duduk di depan ruang salah satu dokter kandungan. Aku sedikit berdebar menunggu giliran, sementara suamiku masih santai membaca koran.
            ”Ibu Wylvera!” suara itu mengejutkanku. Tak begitu lama pemeriksaan dilakukan. Aku pun diminta menunggu sebentar, lalu dipanggil kembali.
            ”Ibu positif hamil. Usia kehamilan ini sudah hampir 3 minggu,” kata dokter yang memeriksa kandunganku. Suamiku melirik sambil menahan senyumnya.
            ”Terimakasih dokter,” jawabku singkat. Suamiku tersenyum puas.
            ”Saya kasi vitamin saja, tapi setelah ini harus rajin kontrol ya,” ujar dokter kandunganku lagi.
            ”Iya dokter,” kembali aku menjawab singkat.
            Keterangan dari dokter kandungan semakin meyakinku. Aku sudah hamil. Ada calon bayi yang sedang tumbuh di rahimku. Luar biasa rasanya setelah menyadari sepenuhnya tentang kehamilanku. Aku mencintainya, ingin agar dia tumbuh dengan sempurna dan sehat. Kelak dia lahir, aku bisa menatap matanya yang bening, sebening cinta kami berdua. Tapi, tunggu dulu! Bisakah aku melahirkan dengan normal? Kuatkah aku menjalani masa kehamilan selama sembilan bulan ke depan? Bagaimana kalau terjadi keguguran?
Ya, keguguran! Ingatanku tiba-tiba mundur pada apa yang pernah dialami mamaku. Mamaku sempat hamil lima kali, tapi yang berhasil tumbuh dan lahir ke dunia ini hanya aku dan adik semata wayangku. Dua janin dalam kandungannya tak sempat membesar karena keguguran. Sementara, Almarhumah adikku hanya sempat bertahan seminggu menghirup aroma dunia ini.
”Ada yang bilang, lemah rahim itu bisa saja genetik,” ujar salah satu keluargaku waktu itu. Benarkah seperti itu? Tanyaku dalam hati. Aku mulai khawatir dengan kenyataan yang sempat dialami mamaku. Namun, aku tak pernah membagi rasa khawatir itu ke suami. Kubiarkan kecemasan itu berlarut-larut dalam pikiranku. Hingga kehamilanku mencapai tiga bulan, ketakutanku mulai terbukti. Aku mengalami pendarahan kecil. Ada vlek di pakaian dalamku. Dengan gemetar, terpaksa aku mengatakannya kepada suami.
              ”Jangan tunggu lama-lama lagi, ayo kita ke dokter!” ajaknya mulai resah.
              ”Aku takut,” bisikku lirih padanya.
              ”Kamu yang kuat ya. Aku telepon taksi dulu,” katanya menenangkanku. Akhirnya kami tiba kembali di rumah sakit bersalin. Dokter mengatakan kalau aku terlalu banyak berjalan. Harus istirahat dan tidak boleh memikirkan hal-hal yang bisa memancing stress pada pertumbuhan janin.
              Begitulah, kehamilanku masih bisa diselamatkan hingga mencapai enam bulan. Sedikit demi sedikit, aku mulai menguatkan hati. Pengalaman pahit mamaku justru kujadikan pelajaran berharga agar aku bisa lebih kuat menjaga calon bayi dalam rahimku. Aku tidak boleh berburuk sangka pada Allah. Aku begitu mendambakan kehadiran bayiku. Jika Dia mengatakan bayiku harus lahir, maka tak ada yang bisa menghalanginya. Aku kembali beraktivitas seperti biasa. Mundar-mandir ke pasar dan mal yang tak begitu jauh dari rumah pun aku lakoni. Hanya dengan berjalan kaki dan aku bisa berlama-lama memilih perlengkapan bayi di situ. Di saat aku sibuk memilih baju-baju bayi, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang basah di pakaian dalamku. Buru-buru aku pulang dan langsung memerikasanya di kamar mandi.
             ”Ya Allah! Berdarah!” teriakku panik luar biasa. Aku setengah merambat menuju tempat tidur. Kutelepon suami di kantornya.
             ”Aku pendarahan lagi. Agak banyak kali ini!” kataku tergesa-gesa dengan rasa takut yang tak bisa kutahan lagi.
             ”Cepat telepon taksi! Aku langsung ke rumah sakit sekarang!” jawabnya dari seberang sana. Aku pun tergesa-gesa memesan taksi.
            Sudah hampir setengah jam aku menunggu, namun taksi yang kupesan belum datang juga. Akhirnya kubatalkan menungu lebih lama lagi dan aku mencoba berjalan pelan-pelan menuju ujung jalan rumah kontrakanku. Alhamdulillah, begitu aku sampai di ujung jalan, taksi pun melintas.
        Perjalanan mendebarkan di dalam taksi membuatku tak bisa lagi berfikir sehat. Kubayangkan janin dalam kandunganku harus dikuret dan aku takkan bisa menunggunya lahir sampai waktunya nanti. Air mataku sudah sempuran membasahi pipi.
       ”Ibu tidak apa-apa?” tanya supir taksi yang sejak tadi melirikku dari kaca spionnya.
       ”Enggak Pak. Sudah mau sampai ya?” kataku mengalihkan perhatiannya.
      ”Iya Bu. Itu rumah sakitnya,” jawabnya.
       Akhirnya aku tiba juga di rumah sakit bersalin itu. Suamiku sudah menunggu di depan pintu rumah sakit. Dua orang suster langsung memberikan kursi roda dan mendorongku ke salah satu ruang yang mirip kamar persalinan.
       ”Kita pindahkan dulu Ibu ke tempat tidur ya,” kata suster itu membantu memindahkanku. Tak berapa lama dokter spesialis kandunganku pun datang. Dia langsung memeriksa kandunganku dengan Ultrasonography (USG).
Aku kembali membayangkan hal-hal yang mengerikan. Salah satu yang mencemaskanku adalah kecacatan. Mengingat darah yang keluar sudah lumayan banyak, aku mengira kalau darah itu adalah bagian dari tubuh bayiku.
       ”Alhamdulillah..bayi Ibu enggak apa-apa,” kata dokter melegakanku dan suami.
      ”Alhamdulillah...,” balasku dan suami serempak.
      ”Tapi, Ibu harus bedrest total ya. Saya pantau selama tiga hari di sini. Nanti kalau masih pendarahan lagi, kita kasih suntik penguat,” tambah dokter itu lagi memberi anjuran. Aku pasrah saja pada tindakan yang harus kujalani. Selama tiga hari aku benar-benar istirahat di kamar perawatan rumah sakit.
        Kandunganku akhirnya bisa diselamatkan hingga mencapai usia kehamilan sembilan bulan. Saatnya menunggu kelahiran bayiku. Mamaku sudah tiba di Jakarta, ikut menantikan kelahiran calon cucunya. Waktu yang dinantikan pun tiba.
       ”Tarik nafas dalam..ya tarik nafasnya ya Bu,” pandu perawat itu untuk mengatasi rasa sakit yang luar biasa dari tekanan kontraksi di perutku. Sudah hampir lima jam aku menahan sakit yang hebat di perutku, namun bayiku belum bisa lahir juga.
       ”Susteeeer! Saya sudah enggak kuat, boleh di operasi saja ya,” mohonku pada perawat yang bulak-balik melihat bukaan pada rahimku.
        ”Kita tanya dokter dulu ya Bu,” bujuknya menenangkanku. Akhirnya dokter kandunganku pun sudah siap membantu proses kelahiran anakku.
       ”Ibu masih bisa melahirkan normal. Ayo kita sama-sama berdoa. Saya bantu ya. Bismillahirrahmanirrahim...tarik nafasnya ya Bu, keluarkan pelan-pelan. Yaa..terus..teruus,” kata dokter itu kembali membantuku.
       ”Aaaaaa...” teriakku menekan sekuat tenaga.
       ”Suster! Cepat bawa tabung ke sini!” seru dokter terdengar terburu-buru. Aku tak bisa melihat apa yang terjadi. Suara tabung yang didorong ke ruang persalinanku kini bercampur dengan rasa sakit dan takut yang melemahkan keyakinanku. Aku seperti ingin terbang. Kukuatkan hati. Aku tak boleh kalah dengan rasa sakit ini. Tiba-tiba, ada selang kecil yang dimasukkan ke hidungku. Ada apa ini?! Kecemasanku bercampur dengan rasa ingin tetap hidup dan melihat bayiku lahir. Aku tak melihat suamiku lagi berdiri di sebelahku. Ternyata dokter memberi isyarat untuk mendekat dan melihat keadaan bayiku. Rasa takutku semakin memuncak. Ya Allah, selamatkan aku dan anakku, pintaku lirih dalam hati.
       ”Alhamdulillaaaah...akhirnya si cantik keluar juga!” komentar dokter samar-samar kudengar.
       ”Lehernya terlilit plasenta, itu sebabnya kamu kehabisan tenaga untuk membantunya keluar. Tapi, Alhamdulillah..anak kita selamat,” bisik suamiku sambil mengusap keningku yang basah oleh keringat.
      ”Alhamdulillah,” sambutku dengan air mata bahagia.
Suster meletakkan bayiku di atas dadaku. Anakku perempuan, sehat. Beratnya, 3,7 kilogram. Kucium pipinya yang merah.
     ”AnugerahMu sungguh luar biasa ya Allah..puji syukur atas nikmatMu,” bisikku dalam hati. Suara azan dan komat suamiku pun memasuki ruang dengar anakku. Ketakutanku sirna seketika. Semua berganti bahagia yang tak terkira. Sejak itu aku dan suami resmi menjadi seorang ibu dan ayah.

Bekasi, April 2011.

Note :
Mohon masukannya ya...tulisan ini tadinya mau saya ikutkan di lomba menulis tentang kehamilan, tapi karena gak pe-de..jadi batal deh...:)

2 komentar:

Junda Xu said...

20160324 junda
louboutin outlet
canada goose jacket
timberland boots
cheap jordan shoes
prada outlet
lululemon outlet
salvatore ferragamo
gucci outlet
ray ban sunglasses
bottega veneta outlet
fitflops outlet
michael kors outlet online
valentino shoes
babyliss flat iron
michael kors outlet online
michael kors outlet online
basketball shoes
adidas gazelle
nike trainers
coach outlet online
rolex submariner
skechers shoes
polo outlet
michael kors
air jordans
coach outlet store online
michael kors handbags
ed hardy uk
cartier watches
christian louboutin uk
prada
cheap ugg boots
converse trainers
ray ban sunglasses
coach factory outlet
ed hardy outlet
louboutin pas cher
nike store
kate spade outlet
levis 501

Zheng junxai5 said...

zhengjx20160402
ralph lauren
hermes outlet
cheap ray ban sunglasses
chi flat iron
calvin klein outlet stores
coach outlet store online
burberry outlet
michael kors handbags
longchamp uk
kate spade outlet
reebok
michael kors outlet canada
lululemon outlet store
rolex submariner
asics gel kayano
coach outlet store
coach purses on sale
ray ban outlet
vans store
ray bans
true religion jeans
bottega veneta shoes
jimmy choo outlet store
omega speedmaster
ralph lauren outlet
discount oakley sunglasses
ugg outlet
michael kors outlet online
coach outlet online
burberry sale
toms outlet
kate spade outlet
armani exchange
nike air max 95
prada outlet
michael kors canada
ghd hair dryer
coach factory outlet
true religion jeans
lululemon athletica

Post a Comment