Breaking News

16 February, 2012

Antara Aku, Suamiku, dan Santi


 

Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore, ketika hp ku berbunyi. Tergopoh Santi, asistenku, mengambilkannya untukku.Sebuah sms, dari suamiku.

"Kayaknya kelapa muda enak nih", begitu bunyinya.

"Iya, enak. Apalagi ditambah nggak ada air minum di rumah. aku udah nyampe rumah, tadi hp ketinggalan , jadi baru bales", balasku. Sedikit ingin mengingatkan (sebetulnya lebih ke arah menyindir) tentang air minum yang habis. Semenjak semalam diriku sudah ngomel-ngomel tapi ternyata ditanggapi dingin dan nggak ada respon positif.

Tak berapa lama, sms balasan kuterim.

"Santi suruh beli", begitu bunyi sms suamiku.
Santi adalah asisten rumah tanggaku, masih muda, belum genap 17 tahun usianya. Segera saja aku memanggilnya, mengingat waktu berbuka memang hampir tiba, dan suamiku sedang dalam perjalanan pulang.

"Mbak, kamu tahu tempat beli kelapa muda dekat sini?", tanyak.

"wah, aku nggak tahu..", jawabnya.

Karena Santi tidak tahu (dan begitu pula denganku), lalu ku sms lagi suamiku.

"Yah, katanya Santi nggak tahu tempatnya".

Tak butuh waktu lama ketika sms balasan kuterima.

"Di sebelah tukang mie ayam".

Segera saja kuteruskan instruksi suamiku itu ke Santi.

"Mbak, katanya di sebelah mie ayam. Kamu beli ya, dibungkus aja, tiga. Uangnya ambil di atas lemari es".

Sepuluh menit lamanya Santi pergi. Lalu kembali. Melapor padaku kalau tidak menemukan tukang es kelapa muda. Bahkan sudah berkeliling kompleks satu kali, dan sedikit bertanya sana sini. Nihil.
Ya sudah, aku pasrah. Toh, ikhtiar sudah dilakukan. Kalau memang suamiku tak berkenan, ya mau bagaimana lagi.

Lima menit kemudian suamiku tiba di rumah. Aku langsung menghambur menyambutnya. Tak lupa kusampaikan laporan kalau Santi tak berhasil menemukan tukang es kelapa muda. Tak dinyana, ternyata dia mengomel.

"Lho, emang aku bilang  gimana?", katanya.

"Lho, kan katanya Santi disuruh beli es kelapa muda di sebelah tukang mie ayam. Di sebelah tukang mie ayam itu nggak ada tukang es, adanya warung kecil ", kataku.

"Lho, kamu ini gimana sih?  Maksudku itu beli airnya di situ. Bukan kelapa mudanya. Emang tadi kita ngomongin apa siyh?", suamiku sedikit jengkel.

Oooo..aku manggut-manggut mulai mengerti. Ternyata bahasan di sms tadi sudah bergeser, dari es kelapa muda, menjadi air yang habis. Aku sama sekali tidak terpikir bahwa suamiku itu meminta Santi membeli air, karena untuk gadis 17 tahun , membawa 2 galon berisi air tentunya bukan pekerjaan yang mudah.Makanya aku tak terpikir sama sekali ke air yang habis itu.

"Jadi nggak ada air untuk berbuka niy?",tanya suamiku.

"Air aqua gelas Yah,", jawabku.

Belum lagi habis pikirku (aku masih sedikit bingung, sebenarnya yang dodol itu aku apa suamiku siyh dalam membaca bahasa sms), mataku menangkap bungkusan plastik di atas meja makan.

"Lho, Mbak, ini apa??", tanyaku sambil mengintip isi bungkusan.

Tergopoh Santi mendatangiku.

"Itu mie ayam Bu. Beli tiga, dibungkus kan?", ujarnya tak berdosa.

Lhaaaaa..!!!


Nb : sampai cerita ini ditulis sore ini, aku masih saja berhahahihi sendirian mengingat kejadian itu...

0 komentar:

Post a Comment