Breaking News

06 February, 2012

ANGAN YANG TERHEMPAS


 
By Pradita Fia 
Mbak, Bunda IDDN tersayang mohon koreksinya......


ANGAN YANG TERHEMPAS
by Fia Pradita
Peristiwa ini terjadi dua puluh tahun yang lalu saat itu sangat jarang orang-orang yang mempunyai Handphone sebagai alat komunikasi.
Hari yang telah lama kami tunggu akan segera tiba . Dua tahun sudah kami menjalin hubungan asmara banyak lika-liku yang kami lewati. Bahkan putus nyambung seperti lagu, juga sering kami lewati. Akhirnya  atas restu orang tua kami berniat melangsungkan pernikahan.  Mas Hendra bersama keluarga besarnya bertandang kerumah orang tuaku untuk melakukan acara pinangan.  Acara penyambutan dilakukan dengan cara sederhana. Orang tuakupun tidak menuntut yang berlebihan untuk jujurannya.  Yang penting acara sakral bisa dilaksanakan . Berbagai persiapan kami susun bersama dari daftar undangan,menu masakan, pakaian pengantin yang dikenakan.  Sungguh tiada terkira rasa bahagia yang kurasakan.
“ Dila, jangan terlalu capek, ya, nanti begitu hari H nya kamu sakit”, mas Hendra berkata sambil menggemgam tanganku.
“ Iya, mas, Dila cuman bantu-bantu yang Dila bisa aja. Soalnya ibu sudah tua sejak ayah meninggal hanya ibu yang jadi tulang punggung jadi Dila kasihan kalau semua urusan ibu yang menangani, “sahutku pelan.
Hari- hari terus berjalan tidak terasa tinggal dua hari lagi pelangsungan pernikahan kami.  Siang itu mas Hendra menelpon dari kantornya.
“Halo, Dila, mas Hendra  nggak bisa ngantar Dila sore ini ya ? karena harus menyelesaikan tugas kantor dulu, karena kalau sudah cuti nanti pekerjaan banyak yang terbengkalai” .
“Iya, Mas Hendra nanti Dila jalan sendiri aja, bisa kok naik angkot, lagian Dila cuman mau ngantar undangan ke rumah Mbak Asti dan Mbak Ayu aja kok, kayaknya kalau bukan Dila sendiri yang ngantar nggak enak dech karena mereka sudah seperti saudara sendiri.”
“Iya, hati-hati ya Dila jangan terlalu larut kalau jalan ya”.
“ Iya, mas.
Siang itu berjalan dengan cepat sepertinya ada saja yang belum selesai dikerjakan. Akhirnya  sore pukul 05.00 wita baru saya bisa keluar pergi untuk ngantar undangan.  Dengan naik angkot saya pergi kerumah Mbak Asti dan Mbak Ayu. Rumah keduanya lumayan jauh jadi memerlukan  turun naik angkot. Sebenarnya jam 06.00 saya sudah naik angkot untuk pulang tapi karena hari itu hujan sangat lebat jadi banjir dimana-mana . Kurang lebih 2 jam angkot yang saya naiki terjebak banjir   akhirnya setengah jam kemudian saya sudah turun dari angkot. Malam itu suasana sunyi sekali . Jalan menuju kerumah Dila lumayan jauh. Dimuka gang menuju rumah Dila ada beberapa anak yang suka mabuk-mabukan. Dila sedikit takut ketika melewati mereka. Karena hanya itu jalan satu-satunya jalan menuju rumah apa boleh buat Dila terpaksa harus melewatinya. Ketika hampir dekat dengan kelompok anak-anak itu salah seorang dari mereka mengeluarkan kata-kata kotor.
“ Eh, cantik sekali cewek ini boleh dong temenin kita disini”.kata salah seorang diantara mereka.
Dila  hanya diam tanpa mengeluarkan kata-kata dan terus berjalan dengan cepat. Sementara itu kata – kata kotor  semakin lama semakin memekakan telinga. Pengaruh minuman keras yang mereka minum semakin membutakan pikiran mereka. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengiringi langkah Dila dan menarik tangan Dila dengan kasar.
“ Ayo,manis mau kemana, sini temenin akang yang lagi kesepian”.
“ Jangan,” pekik Dila dengan ketakutan.
Terdengar suara ketawa  dari anak-anak yang lain karena mereka melihat temannya berhasil menarik tangan Dila. Sementara itu tiga orang yang lain juga berlari menghampiri saya. Dila semakin ketakutan melihat muka-muka mereka yang beringas.
“Tolong, jangan ngganggu saya, jangan sakiti saya” Dila semakin panick dan ketakutan.
Tapi jeritan Dila tidak mereka hiraukan.Mereka terus menarik Dila ketempat  yang lebih gelap. Dan melemparkan Dila ketanah. Dila terus meronta ketakutan. Tapi tidak ada suara yang keluar karena mulut Dila dibekap dengan paksa. Kaki dan tangan Dila dipengangi mereka. Lalu yang lainnya mulai membuka pakaian Dila dengan paksa. Dila terus berontak berusaha melepaskan diri akhirnya karena jengkel melihat Dila tidak mau diam salah seorang dari mereka memukul Dila hingga pingsan. Lalu mereka menggahi Dila dengan beringas. Hilang sudah kehormatan yang selama ini dijaga. Satu persatu mereka bergiliran menggarap tubuh Dila yang sudah pingsan. Setan telah bernyanyi diantara mereka tidak ada rasa kasihan terhadap penderitaan Dila. Akhirnya setelah mereka puas menggahi Dila. Tubuh Dila dibiarkan disemak-semak dengan pakaian yang tidak karuan bentuknya.
Dari kejauhan terdengar suara lolongan anjing bersahut-sahutan. Mala m ini adalah malam neraka bagi Dila. Tubuhnya masih terbaring dalam keadaan pingsan. Dua jam kemudian, Dila sadarkan diri,dengan rasa sakit dia berusaha untuk bangun. Melihat keadaan tubuhnya yang sudah tidak karuan Dila hanya menjerit  dan menangis histeris.  Akhirnya dengan susah payah akhirnya Dila sampai juga didepan rumahnya. Karena kelehan Dila akhirnya pingsan lagi didepan rumahnya.
Sementara itu ibu Dila yang sudah tua sangat cemas menu nggu kedatangan putrinya. Dari tadi sambungan telepon dirumahnya mengalami gangguan jadi tidak ada yang bisa dihubungi . Hanya doa yang bisa dilakukan. Dila dan ibunya hanya tinggal berdua dengan ibunya. Dua orang saudara Dila meninggal sewaktu masih kecil. Ayah Dila juga sudah meninggal.
Dengan langkah pelan ibu Dila melihat keluar rumah. Betapa kagetnya ibu Dila melihat tubuh anaknya terbaring didepan rumah dengan pakaian tidak karuan.
“Dila,  kenapa kamu nak”. Ibu Dila menjerit sambil mengguncang tubuh anaknya. Tapi Dila tidak bangun juga. Akhirnya ibu Dila berlari kerumah tetangga sebelah.  Dan mengetok pintu tetangganya.

Assalamualaikum, bu Sardi tolong saya” ibu Dila mengetok pintu dengan panic.
Bu, Sardi lalu membuka pintu rumahnya dan kaget melihat ibu Dila yang panic dengan airmata berlinang dimatanya.
“ Ada apa, bu Dila, kenapa ibu kebingungan malam-malam seperti ini.” Bu Sardi lalu membimbing tangan ibu Dila dan menyuruh ibu Dila untuk duduk sambil menenangkan diri.
“Dila bu pingsan didepan rumah dengan pakaian tidak karuan” isak bu Dila kemudian.
Bu Sardi lalu memanggil suaminya dan mengajak untukmelihat apa yang terjadi di rumah Dila. Sebagai ketua RT  Pak  Sardi langsung tanggap dengan apa yang terjadi. Mereka lalu mengangkat tubuh Dila kedalam dan membaringkannya dikamar tidurnya.
“ Bu, Dila ditutupi saja badan Dila jangan diganti dulu pakaiannya, saya akan menghubungi pihak kepolisian dan tenaga medis sepertinya telah terjadi kekerasan terhadap Dila. Biar kasus ini ditangani pihak berwajib”, kata pak Sardi.
Ibunya Dila hanya menggangguk mengiyakan.  Dia sudah tidak bisa berpikir lagi melihat keadaan anaknya.
“ Pak Sardi saya minta tolong dihubungi Hendra calonnya Dila Pak, telepon saya dari tadi rusak jadi tidak bi sa nyambung”.
Tidak lama kemudian petugas kepolisian dan petugas kesehatan datang kerumah Dila . Mereka lalu melakukan pemeriksaan terhadap Dila. Tidak lama kemudian Dila sadarkan diri namun dia kembali berteriak histeris dan meronta – ronta ketakutan. Akhirnya petugas kesehatan menyuntikkan obat penenang  agar Dila bisa ditenangkan. Tidak lama kemudian Hendra dan orang tuanya datang kerumah Dila. Hendra sangat sok melihat keadaan calon istrinya Dila. Calon pengantinnya telah diperkosa orang sehabis mengantarkan undangan pernikahan mereka.  Empat hari lagi mereka melangsungkan pernikahan yang sakral namun malam ini tiba-tiba terhempas semua impian . Penyesalan yang mendalam akhirnya yang didapat.
Atas saran petugas kesehatan akhirnya Dila dibawa kerumah sakit. Trauma yang dialami Dila begitu dalam hingga dia tidak mengenal lagi siapa dirinya. Setiap dia bangun dari sadarnya Dila pasti menjerit histeris dan meronta ketakutan. Selama tiga hari kejadian itu terus berlangsung. Hari-hari suram terus berjalan hari pernikahan yang didambakan Hendra dan Dila tidak jadi terwujud.  Seminggu telah berlalu kondisi Dila semakin parah, setiap dia siuman jeritan dan tangisan terdengar dari kamarnya. Bahkan pernah suatu malam  saat Dila tengah sendirian dia berusaha untuk membenturkan kepalanya ditembok untung ada perawat yang sedang lewat jadi Dila dapat segera ditenangkan. Hendra tetap setia menemani Dila. Cintanya yang begitu besar pada Dila tidak menyurutkan niat Hendra untuk tetap memperistri  Dila. Hari-hari telah berlalu kesehatan Dila tidak ada perubahan semakin hari semakin parah bahkan menurut diagnose terakhir dari dokter penyakit yang dialami Dila sudah dikatagorikan gangguan kejiwaan, karena dari depresi  sudah mengarah ke schizophrenia . Jadi mesti dirujuk kerumah
sakit jiwa. Serasa pecah kepala Hendra mendengar penjelasan dari dokter, musnah sudah harapannya, lenyap sudah impian indahnya.
Sementara itu pihak kepolisian belum menemukan petunjuk yang jelas tentang peristiwa  kekerasaan yang dialami oleh Dila. Bahkan dari informasi terakhir yang didapat pihak keluarga Dila orang-orang  yang melakukan perkosaan tersebut sudah tidak ada didaerah Samarinda,  mereka adalah pendatang  setelah melakukan tindak kejahatan tersebut karena merasa ketakutan mereka langsung meninggalkan Samarinda.
Satu bulan telah berlalu sejak kejadian mengerikan yang dialami oleh Dila, ternyata masih belum cukup membuat penderitaan Dila menjadi ringan. Hari  ini ada berita yang lebih mengejutkan yang diterima oleh keluarga. Ternyata tindak pemerkosaan yang dialami  Dila membuahkan kehamilan. Betapa hancur hati sang ibu mendengar penjelasan dari dokter. Peristiwa pemerkosaan  terhadap Dila saja sudah merupakan pukulan yang besar bagi ibu Dila. Apalagi mendengar bahwa Dila hamil akibat perkosaan tersebut. Terbayang sudah dibenak sang ibu bagaimana susahnya kehidupan Dila, dengan kondisi kejiwaan yang sudah mengarah ke gila ditambah lagi dengan janin yang dikandungnya. Dua hari dua malam sang ibu tidak bisa tidur. Akhirnya karena kelelahan dan kondisi jantung sang bunda yang sudah tidak normal sang bunda akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan penderitaan yang dalam.
Sementara itu Hendra juga mengalami goncangan yang luar biasa mendengar  berita kehamilan Dila.
Tanpa sepengetahuan siapapun akhirnya  Hendra pergi meninggalkan kota Samarinda.
“ Maapkan, aku Dila , tidak mungkin aku bertahan dengan kondisi seperti ini, biarkan aku pergi membawa mimpi indah ini”. Hendra berkata sebelum dia pergi meninggalkan Dila.
Hari-hari terus berlalu kondisi Dila semakin hari semakin parah.
Suatu hari karena Dila lebih banyak diam daripada histeris seperti biasanya maka perawat membuka ikatan ditangan dan kakinya. Hari itu cuaca cukup cerah karena kakinya terasa kaku Dila pelan-pelan belajar berjalan, tidak ada kecurigaan sedikitpun dihati perawat melihat sikap Dila yang cenderung normal. Ketika Dila berjalan menuju wc perawat mengiyakan saja.
“Hati-hati , ya Dila, wc nya jangan ditutup ya….” Ujar perawat mengingatkan.
Dila hanya menggangguk sambil  terus berjalan menuju wc.
Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan dari ruangan Dila.
Ternyata sewaktu ke wc Dila kaget melihat bayangan dirinya yang sudah semakin membesar perutnya dengan panik  dipukulnya perutnya dengan pispot yang ada di wc karena keseimbangan tubuhnya masih belum stabil Dila akhirnya jatuh dan kepalanya membentur ujung keramik dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Perawat  lalu memanggil rekannya untuk mengangkat tubuh Dila. Tindakan yang dilakukan pihak rumah sakit ternyata tidak banyak menolong. Umur memang tidak bisa diduga akhirnya Dila menghembuskan nafas terakhirnya dirumah sakit jiwa.





0 komentar:

Post a Comment