Breaking News

16 February, 2012

Aku Yang Memilih Duniaku


   “Hah? Endometriosis dokter??
“ Iya posisinya di belakang rahim, disini” sambil melingkari hasil scan USG ku. Berasa tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan dokterku barusan, semua pikiran negatif langsung bermunculan jelas bagai auto silde di otakku, semuanya berujung pada kata yang sangat mengerikan, infertile. Dengan langkah sedikit linglung aku pelan-pelan menapaki setiap tegel rumah sakit. “Bagaimana caranya aku cerita penyakitku ini kesemuanya” pikirku dalam hati.

Memang pernikahan kami baru seumur jagung, tapi suara sana sini membuatku ikut-ikutan khawatir karena aku belum hamil juga. Baiklah, tarik nafas panjang untuk sejenak menenangkan pikiran karena aku harus naik motor, bahaya kalo ngelamun pikirku.

Tapi tetap saja, perkataan dokter tadi terus terngiang di telingaku. Setelah menikah aku masih harus mengurus proses resign dari tempatku bekerja, karenanyalah aku dan suamiku tinggal di kota yang berbeda. “Bagaimana memulainya? Bagaimana caranya aku kasih tahu suamiku, apa dia ga kecewa?” lagi-lagi pikiran ragu itu seolah menahanku untuk terus menyembunyikan berita ini, well  baikalah, aku mencoba ke Rumah Sakit yang berbeda untuk mendapatkan second opinion, dan ternyata dokter kandungannya pun memberikan jawaban yang sama plek dengan dokter pertama, seketika itupun tangisku meleleh. Tidak percaya, seandainya ini mimpi, maka aku akan bangun dan lari sekenacng-kencangnya, tapi ini realita yang harus kujalani.

“Kita ga usah terapi apapun dulu, hormonal lah, laparoscopi lah, yang penting kamu kumpul aja dulu sama suamimu, ngapain jauh-jauhan, klo dalam 9 bulan kamu ga hamil, baru kita ngobrol lagi”  penjelasan dokter tadi cukup menenangkan, intinya kenapa berpikiran sempit nikah aja loh baru 4 bln, tetap saja air mataku meleleh.

Stelah proses resign selesai aku ikut suamiku tinggal di Yogya, pelan-pelan aku beritahu tentang apa yang kualami, dan diluar dugaanku, walau awalnya terlihat kaget namun akhirnya kudapati senyuman tipis di bibirnya sembari mengenggam jemariku, kekuatan besar perlahan mengalir disana, “Gak apa-apa, kita sempurnakan ikhtiar dan tutup dengan tawakal” hmmm suamiku, caranya yang selalu menenangkanku selalu membuatku jatuh cinta padanya.

4 bulan berlalu dan tak kunjung juga hadir janin dalam kandunganku, pelan aku berjanji dalam hati jika Tuhan hadirkan janin dalam rahimku akan kudedikasikan hidupku untuk keluarga, akan kutanggalkan mimpiku untuk menjadi wanita kantoran.

Aku Sarjana Pendidikan dengan IPK yang cukup membanggakan, ditambah embel-embel predikat lulusan terbaik jurusan membuatku harus bekerja, harus, harga mati! Itu kata keluargaku. Oleh karena itu sebisa mungkin aku urus surat rekomendasiku untuk bisa kembali mengajar jika aku sampai di Yogya.  Alhamdulillah hanya menganggur sebulan aku pun kembali mengajar di salah satu lembaga Bahasa Inggris. Pertanyaan itu muncul kembali, wajar pikirku, jika ada pasangan rumah tangga baru pasti pertanyaan “dah ngisi blum mba?” kerap dilontarkan oleh orang-orang disekeliling kita . Hadeeeehhh seolah pertanyaan itu mengingatkanku bahwa ada endometriosis subur yang sedang melekat dibelakang rahimku dan siap menjerat sel telurku kapan saja, “belum” jawabku dengan senyum,


Selang sembilan bulan pernikahan kami, yang juga batas maksimal waktu dokter untuk membicarakan terapi, ternyata aku hamil, alhamdulillah, puji syukur yang luar biasa tak henti-hentinya ku ucapkan. Saat itu pun aku yakin bahwa Tuhan itu akan memberikan hadiah indah tepat pada waktunya. Hari-hariku sumringah dan penuh bunga, hingga suatu siang aku dipanggil ke ruang branch manager, diruang itu hanya ada staff direksi dari pusat, yang kebetulan sedang observasi di daerahku, “kenapa aku dipanggil, apa yang salah? tanyaku mengiringi langkahku memasuki ruangan
”Mba, kami sudah mendengar kinerja mba dari tahun 2003 sampai sekarang (2008), dan berdasarkan pembicaran Direksi Pusat, nama mba kami promosikan untuk memimpin cabang Yogya”
“Hah???” Cuma kata itu yang muncul di otakku, apa ga salah, sekedar lelucon, atau apa ini, lawong aku baru saja 4 bulan mengajar di Yogya dan orang yang lebih senior dan capable pun masih banyak, mana mungkin!
“Ga harus jawab sekarang, mba boleh pikir-pikir dan konsultasi dengan suami dulu, besok saya minta jawaban mba ya karena saya harus kembali ke Jakarta”

Setelah pikir panjang dan sampailah pada satu keputusan, menolaknya! Bukan karena aku tidak mampu, atau tidak mau belajar, tapi karena janin yang baru saja berumur sebulan dalam rahimku, yg sangat aku tunggu dan harus benar-benar kujaga.

Menjadi full time house-wife sangat tidak mudah, kulakoni peranku dengan total dan ketika anakku berumur satu tahun aku melihat peluang indah di dunia online dan akupun mulai membuka online shop dengan bantuan suamiku sebagai supporting programmer, mulai dari mendesign web berikut aplikasi rate ekspedisi, rekapitulasi pembukan dan supplier survey  jika kutemui via dunia maya. Alhamdulillah dengan dukungan suami akupun handle semuanya sendiri, dan fantastis dalam 3 bulan pertama sirkulasi uang masuk dan keluarnya telah mencapai 3x dari modal awal. Satu yang kuyakini semuanya butuh proses, dan sungguh tak mudah untuk memulainya. Tapi dengan kekuatan doa dan keyakinan hati, benteng penghalang apapun di depan kita pasti kan roboh juga

Saatnya menoleh realita! ada sosok mungil dalam hidupku, kuyakin berjuta inginnya agar aku slalu dijadikannya tempat tertawa dan menangis, juga orang pertama yang memahamkannya banyak hal, putraku adalah aset terbesarku, yg harus terus digali dan dikembangkan.


Tapi mengapa banyak orang yang beranggapan semua yang telah kujalani dulu hanyalah sia-sia, Itulah janjiku pada-Nya, walau mungkin tidak bijaksana bagi sebagian orang yang terlalu berhasrat melihatku menjinjing handbag dengan balutan blazer yang rapi, tapi inilah aku, inilah janjiku pada Allah, Tuhan Semesta Alam, saat endometriosis itu tubuh subur dalam rahimku, janji untuk selalu menemani putraku tumbuh dan mengenal dunia,
Satu yang kuyakini, Tuhan selau membiarkan kita melukis mimpi kita, masih dengan kanvas yang sama, pensil yang sama walau harus merubah sketsanya. Karena bagiku manusia digolongkan menjadi 3 karakter:
1. Selalu terbuai dengan kejayaan masa lalu
2. Terpesona dengan mimpi indahnya di masa depan tanpa mlakukan apa-apa
3. Berani merangkai mimpi baru walau harus keluar dari zona amannya

Maka aku akan jadi orang yang ke-3, demi cinta ibu untuk Haikal Alanza putra ibu yang tersayang, demi rasa hormat ibu yang luar biasa untuk suami ibu yang tercinta. Mari kita sempurnakan ikhtiar dan berjuang bersama-sama karena inilah dunia yang telah ibu pilih. Bismillah...

Temmi Nilasari

NUR

BISMILAHIROHMANIRROHIM

CAHAYA ITU NUN JAUH DISANA..BERKERLIP LEMAH
KU INGIN MENGGAPAIMU.. SEIRING RESAH YANG MEMBUNCAH
TERSEOK - SEOK KU MERAIHMU..TAPI KAU SEMAKIN MENJAUH
KU TELUSURI JALAN NAN PENUH DURI DAN KERIKIL..

MAKIN KU KEJAR MAKIN KAU JAUH..TERMENUNGKU DALAM BISU
AKANKAH KAU KU GENGGAM..AKANKAH KAU KU RAIH..
BERDARAH - DARAH NURANIKU MENBIRU JIWA RAGAKU..
HANYA DOA YANG TERUCAP DALAM PEKAT MALAM GELAP

KINI SEDIKIT DEMI SEDIKIT CAHAYA ITU MULAI TERLIHAT..
MEMBIAS MERONA INDAH PANCARKAN PELANGI..
KEMBALI KU CERIA INGIN MENGGAPAIMU..
BIAR KU GENGGAM DAN TAK AKAN KULEPASKAN

KAU CAHAYA KALBUKU PENERANG KEGELAPANKU
KAU CAHAYA NURANIKU YANG TAK INGIN KU NODAI LAGI
KAU CAHAYA ILLAHI PANUTAN UMAT SEJATI
SINARILAH AKU DAN JIWAKU SAMPAI AJAL MENJEMPUTKU


WASSALLAM

0 komentar:

Post a Comment