Breaking News

06 February, 2012

ADA LENTERA DIHATI TUNANETRA


  "Mereka memang buta mata,..tapi tidak dengan hatinya.."

     Bila anda naik kendaraan umum, dan melihat tunanetra didalamnya,..apa yang ada dibenak anda? mungkin standar seperti aku, paling tunanetra itu akan banyak tanya pada kernet,..nyampe dimana nih,..masih jauh tidak, jangan sampai terlewat ya..atau bilang seperti ini; bila dah nyampe beritahu aku ya..
     Ternyata, untuk sebagian tunanetra yang dah terlatih, kalimat-kalimat yang muncul dibenakku itu ndak terbukti. Seperti pengalamanku saat aku masih kuliah dan mau pulang kerumah dengan naik angkot. Duduk dihadapanku adalah mahasiswa juga, yang kebetulan dianugrahi Allah, (bila  ia tidak menganggapnya ini sebagai cobaan baginya) mata yang buta, dengan tongkat dari besi yang bisa ditekuk pendek. Teman disebelahnya juga tunanetra. Mereka juga tidak saling berdiam diri, kadang juga saling berbincang. Tapi mereka sangat tenang, tidak nanya-nanya terus sama kernet, seperti yang ada dibenakku tadi.
     Dan.....hap, mereka serempak bilang "kiri.." suatu aba-aba yang sering dipakai didaerah Yogya, sebagai tanda berhenti, mau turun, ketika sedang naik kendaraan umum. Aku menengok ke jendela luar; wuah ternyata tepat, hampir tak meleset sejengkalpun, tempat yang mereka tuju, tanpa ada sedikitpun instruksi dari kernet sampai dimana angkot itu posisinya.
     Kenapa aku tahu mereka turun situ? soalnya mereka turun tepat didepan Masjid Danunegaran Yogya, yang dibelakangnya adalah tempat tinggal mereka di YAKETUNIS, yakni yayasan kesejahteraan tunanetra Islam, kebetulan kampungku hanya bersebrangan dg kampung mereka, dibelah oleh jalan parangtritis Yogya.
     Subnanallah, kagumku tetap tiada habis, walau mereka berbincang, ternyata mereka menghitung, berapa belokan yang harus dilalui sepanjang jalan menuju kampus UIN Sunan kalijaga Yogya, juga berapa lampu Traffic light yang harus dihitung, padahal jarak nya setengah sampai satu jam perjalananpun, mereka masih konsentrasi, mengasah pendengaran dan ingatan mereka. Hebat! kuteringat kadang akupun sering melewatkan tempat yg seharusnya aku turun; karena keasyikan ngobrol dengan teman,,,
     Karena kampungku dekat dengan mereka, aku juga sering mengantar atau sekedar menyebrangkan mereka yang masih "baru" disitu. melonggok kehidupan mereka dirumah YAKETUNIS sungguh menarik. Tahukah bahwa tempat tinggal mereka selalu bersih dari sampah?
 Juga fenomena memakai kerudung dengan tepat dan tak terbalik atau menceng, bisa mereka lakukan dengan benar, padahal saat itu seluruh kerudung mereka berpeniti, tentu tanpa kaca.Ah,..teringat saat itu, aku memakai kerudung yang berpeniti sangat lama sekali dengan bantuan kaca, dengan hasil,..kadang tak simetris!  
     Dan suatu yang" luar biasa" kembali terjadi saat ada pengajian Akbar dimasjid kami. Kebetulan, selalu muda-mudi jadi panitianya.Pengunjung pengajiannya tentu dari beberapa kampung, tak ketinggalan muda-mudi tunanetra YAKETUNIS kampung tetangga. Mereka berpuluh orang jalan beriringan dengan tongkat komando, laki dan perempuan. Masuk masjid, melepas sandal dan duduk manis dengarkan ceramah. Dibenakku, bagaimana dengan nasib sandal mereka yang bertumpuk dengan ratusan sandal jamaah lain. Menghabiskan berapa lama untuk menemukan sandal mereka kembali seusai pengajian?..Eit..jangan salah,..mereka bisa menemukan sandal mereka dengan  cepat dan tepat, tanpa tertukar dengan jamaah lain, atau "ndomblong" diam saja karena bingung dengan sandal yang untel-untelan..MasyaAllah.
     Terbayang pada diriku sendiri, berapa kali aku harus bingung dengan sandal jamaah yang hampir mirip, aku pulang dengan tanpa alas kaki alias "nyeker", karena sandalku tak ketahuan juntrungnya, atau terbawa jamaah lain yang lagi-lagi, walau melek matanya tapi tak "awas", atau butuh waktu mencarinya karena lupa meletakkan dimana...
     Kembali aku tenggelam dalam pikirku, ternyata Allah selalu memberi kelebihan pada hambanya yang terkurangi dalam segi apapun. Mungkin pendengarannya, penglihatannya, atau akal budinya. Bagaimana seorang yang tunanetra bisa hafidz, fasih menghafal Qur"an, dengan keterbatasan, tak melihat huruf itu dalam pena, hanya meraba pada Al Qurr'an braille, tapi sungguh mereka menghafalkan dengan sepenuh hati,..sedang aku? Apa yang aku bisa dengan meleknya mataku ini, Ya Rabb-ku. Masih adakah waktu untuk perbaiki diri dalam hal apapun atas semua karuniaMu yang terkadang kami lupa, dan sering berkeluh kesah, sedang kasih sayangMu pada diri ini tak berbatas. Moga Puasa ini jadi momentum yang terindah bagiku, bagi Kami untuk lebih memperbaiki diri..semoga masih bayak waktu..

Solo, 2 Ramadhan 1432. Makasih pada teman "kyai"Izzat Abiddiy, dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya atas inspirasinya.


0 komentar:

Post a Comment