Breaking News

06 February, 2012

about 1 september


 
ukhti….
Kau tau, kenapa mata sipitku selalu bengkak setiap tanggal 1 September  menjelang???aku sudah mencoba untuk mempersiapkan senyum agar tangis tak terus mendominasi hati di tanggal itu,,
Aku telah belajar ikhlas untuk hari dimana ALLAH menulis takdir terakhir kalinya aku bisa menatap  umatnya yang teramat baik dalam hidupku…jujur, aku tak bisa melupakan kisah di hari itu..
ukhti…
Ijinkan ku bagi cerita ini lagi padamu , meski waktu telah menutup kisah ini nyaris enam tahun silam. tepat di tanggal  1 September 2005, jam 16.00 WIB  berita berita televisi  di Indonesia menayangkan sebuah kisah kecelakaan helicopter POLDA SUMBAR  yang terjatuh di hutan perawan di kota Padang.
Ukhti,,,
Papaku ,,pahlawan terhebatku ada di dalam helicopter itu, beliau yang tadi pagi ku lihat membentangkan sajadah dan sholat dengan khusyuknya, beliau yang tadi pagi bercanda dan mengodaku yang masih saja bermalas malasan di atas ranjang, beliau yang tadi pagi bertanya dengan senyuman “apakah papa terlihat ganteng dan baju papa sudah rapi??”
Ukhti,,,
Mulutku terkunci, ketika ku temukan sebuah firasat, jika aku takkan pernah ketemu beliau lagi, tanganku terasa berat ketika kurasakan aku harus menahannya pergi , beliau tetap pergi dengan cuaca cerah secerah senyuman yang beliau tinggalkan pagi itu,,
Ukhti,,
Sore itu,,bak petir menyambar hati dengan tegangan tinggi, ketika berita yang datang mengabarkan helicopter itu tak bisa ditemukan karena prediksi ahlinya menyatakan telah terbakar. Hujan tak jua berhenti membanjiri bumi minang, seperti airmataku yang tak jua kunjung berhenti …
Ukhti,,
2 september 2005, hari jumat yang bertepatan dengan isra’ mijrat..dalam penantian yang tak tentu, seseorang memberi kabar, papaku di temukan sudah tidak bernyawa lagi, jasadnya masih terasa hangat, meski hujan menguyur semalaman, aku tau itu ukhti,,,,aku dapat rasakan, ketika azan sholat jumat berkumandang, dan aku kehilangan saat ku menatap serpihan awan, ku bisa temukan sebuah bayangan malaikat tampanku melambaikan tangan bertanda selamat tinggal…
Ukhti,,,
Sesak yang kurasakan saat itu, seperti terhimpit puluhan ribu batu, duniaku terbalik, berguncang serasa gempa berskala tinggi, aku putrinya yang belum sempat membahagiakannya, aku putrinya yang belum bisa berbakti padanya, aku putrinya yang masih membutuhkan kasih sayangnya,..
Ukhti,,,
Lelaki yang ku panggil papa itu sangat baik, meskipun beliau tidak meninggalkan banyak harta benda tapi mewariskan banyak hal untuk hidupku yang bergaransi seumur hidupku, yaitu kebaikannya, dengan kebaikannya banyak kemudahan dalam hidup yang ku temui, dengan kebaikannya semasa hidup, aku tak pernah merasa kesulitan.
Ukhti,,,
Sempat ku bertanya pada tuhanku, kenapa DIA mengambilnya dari ku secepat itu?? Marahkah DIA padaku??? Aku masih ingin bersamanya, aku masih butuh dia..ukhti ,,,saat itu aku kehilangan semua akal sehatku, aku seperti tak punya iman dengan meragukan ketentuannya, sampai ku mengerti  bahwa kisah ini bagiku bukanlah musibah yang merupakan azab ALLAH,bukan pula keluhan penghapus dosa, karena keluhan adalah antara aku dan tuhanku...tapi aku harus mengambil peringatan kasih sayang ALLAH  dari semua ini agar aku kembali pada NYA,pada jalan yang telah ditunjukanNYA lewat para rasul dan wali waliNYA....
Ukhti,,apa saat ini aku sudah bisa di sebut ikhlas,saat airmata belum juga berhenti mengenangnya??



0 komentar:

Post a Comment