Breaking News

21 February, 2012

Abidah Belahan Jiwa


 By Ella Sofa  
          Anakku bernama Alifia Najwa Abidah. Saat sedang meregang nyawa menghadapi persalinannya, aku langsung memberinya nama Abidah. Sebuah nama yang pernah kubaca di buku yang berisi daftar nama indah islami. Abidah adalah anakku yang pertama. Ia terlahir ke dunia dalam kondisi hampir tak bernyawa. Masih terekam jelas di ingatanku ketika ia pertama kali merasakan atmosfer bumi, tak ada tangis yang keras layaknya tangisan bayi baru lahir lainnya. Aku hanya mendengar suara “Oeek...” pelan dan berat dari mulutnya,  hanya sesekali saja. Bukan tangisan yang keras dan lama, tapi hanya “Oeek” sekali , dan baru disambung dengan “Oeek” berikutnya di sepuluh detik kemudian. Dia sangat lemah, dia asfiksia berat, dia juga telah ketuaan di dalam perut ibunya, sehingga ia harus menginap selama lima hari sedangkan aku sudah boleh pulang meninggalkannya. Dan aku harus sangat bersyukur pada-Nya karena ia akhirnya selamat hingga tahun ke enam hidupnya di dunia.
          Aku sangat mencintainya. Inilah yang mungkin ingin diujikan Tuhan padaku, dengan berbagai masalah yang dialami oleh Abidah. Tak hanya proses dan kondisi kelahirannya yang tidak biasa, tapi ia juga terdeteksi terkena TB paru saat usianya baru enam bulan. Mengharu- biru rasa hatiku mendengar vonis itu setelah dilakukan cek radiologi dan tes darah. Hanya kepasrahan dan doa yang mengiringi setiap usahaku untuk segera mengusahakan kesembuhannya.
             Dan ternyata tak hanya itu, BABnya juga tak luput dari masalah. Ia selalu mengalami kesulitan saat mau e’ek. Padahal segala sayur dan buah-buahan yang berserat tinggi telah kucobakan, tapi tetap saja aku harus menangis saat mendampinginya e’ek. Dan hampir setiap hari ia harus mengalaminya. Tinja yang keras, hitam, dan kadang disertai darah, seringkali harus dibantu dengan obat pencahar karena berhari-hari tidak BAB. Jadi, selain setiap hari harus mencekokinya dengan obat TB, setiap hari pula aku selalu berdoa semoga hari ini ia BAB. Jika tidak hari ini, esok hari kunanti, begitu seterusnya hingga obat pencahar itu terpaksa kugunakan saat ia tak juga BAB pada hari ke lima. Empat belas bulan harus berkutat dengan pengobatan TB, yang setiap bangun pagi harus meminumkan obatnya dan tak boleh absen sehari saja. Sedangkan susah BAB ia alami hingga hampir tahun ke tiga hidupnya. Oh...Abidah anakku sayang, Ibu selalu berlinang air mata mengenang itu Nak....
              Karena sakit Tb itu, pertumbuhan fisik dan motoriknya agak ketinggalan dari teman sebayanya. Tubuhnya kurus, berat badannya selalu saja tidak memenuhi standar alias di bawah garis merah saat ditimbang di posyandu. Dan saat teman mainnya yang seumuran sudah mulai bisa jalan, ia masih merangkak saja. Namun dibalik sakit dan deritanya, ia memiliki kecerdasan dan kelincahan yang luar biasa. Belum genap berumur dua tahun aku telah mendengar ia lancar melafalkan hitungan satu sampai sepuluh dalam tiga bahasa. Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Jawa. Ia pun sangat suka menyanyi. Setiap yang ia dengar cepat sekali dihafalnya.
              Usia tiga tahun adalah usia kebebasannya dari kesulitan BAB serta penyakit TB-nya. Aku pun lumayan bisa bernafas dengan lega. Akhirnya ia seperti anak-anak lain yang ceria, yang tidak perlu minum obat setiap paginya, dan BAB-nya pun lancar-lancar saja Aku langsung  terbelalak, sujud syukur, seakan tak percaya ketika saat itu dokter mengatakan bahwa hari ini adalah hari kontrol untuk yang terakhir kalinya. Abidah telah sampai pada kesembuhannya. Dan...pada umur ketiga itu pula akhirnya kutemukan susu formula yang kupikir cocok, karena BAB-nya menjadi lancar. Alhamdulillah....
             Aku sempat meninggalkannya di usia ketiga tahun tersebut. Padahal itu adalah saat-saat emasnya. Saat dia akan terikat secara emosi dengan orang yang ada di dekatnya. Aku meninggalkannya di rumah bersama seorang pembantu. Saat itu aku mencoba kuliah lagi, dan disambung dengan bekerja sebagai seorang guru. Kupikir aku masih bisa memberi waktu yang tersisa setelah kegiatanku di luar rumah dengan bermain, menyuapinya makan, atau menidurkannya.  Tetapi ternyata tak sesederhana itu. Waktu dimana aku tidak bersamanya, ternyata membuat hatinya tercuri oleh pembantuku. Waktuku bersama Abidah tak lebih banyak dari waktu pembantuku bersamanya. Dan....tentu saja keterikatan emosi antara mereka semakin hari semakin kuat saja. Dan...bisa dibayangkan jika aku sedang libur di rumah, aku tak bisa menyentuhnya karena ia lebih memilih bersama pembantu. Aku seperti ibu yang nganggur, tak ada kerjaan. Urusan rumah sudah ada yang beresin, dan anakku tak mau bersamaku. Kupikir ini tak baik untuk perkembangan selanjutnya. Akhirnya, aku memilih meninggalkan aktifitas luarku, dan meleburkan diri mendidik anakku bersama segala tugas-tugas rumah tanggaku. Aku menjadi ibu rumah tangga sejati, untuk anak dan suami, serta tanpa pembantu. Abidah, Ibu tak rela jika kau lebih memilihnya. Kau adalah anakku, bukan anak pembantu.
            Hatiku kembali dirundung rasa was-was saat tiba-tiba ia sakit. Badannya panas, panas tak berhenti-berhenti hingga lebih dari tiga hari. Dan lambungnya sudah tak bisa menerima makanan ataupun minuman lagi. Setiap kali ada yang masuk ke perutnya, maka ia akan muntah beberapa saat kemudian. Walaupun hanya air putih yang masuk, tetap dimuntahkannya. Aku dan suamiku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Dan dari hasil tes darah, ternyata ia terserang typhus. Dengan kondisinya yang sudah tidak bisa makan maupun minum, terpaksa ia harus dirawat inap di rumah sakit. Satu pukulan lagi bagiku. Kupikir cobaan berupa sakit pada Abidah sudah reda, ternyata sekarang berganti dengan jenis penyakit yang lain. Mungkin Allah masih ingin memberikan salam cintanya pada kami melalui ujian ini. Tapi typhus ini membuat Abidah yang memang sudah kurus menjadi kian kurus saja. Sedih sekali melihat anak perempuan kecil kesayanganku itu terbaring tak berdaya.
             Dengan perawatan intensif di rumah sakit, Abidah bisa sembuh dan boleh pulang ke rumah. Tetapi dalam perjalanan waktu di kemudian harinya, kami harus benar-benar menjaga kondisinya. Karena ternyata setahun kemudian sakit tipes itu kembali kambuh. Saat itu kondisi badannya sedang tidak fit. Jadi, apabila ia suatu saat terkena sakit flu atau batuk, maka aku harus waspada supaya typhus itu tidak kambuh lagi. Hingga usia ke lima, sudah tiga kali typhus itu menyerangnya.
            Ketika ia tidak sedang sakit, ia adalah anak yang sangat lincah, ceria, banyak ngomongnya, sampai-sampai mamanya kalah dalam hal kepandaian berbicara. Banyak yang mengatakan demikian. Apalagi neneknya, yaitu mertuaku, selalu memuji cucunya yang mewarisi sifat beliau yaitu pandai bicara, tak seperti mamanya yang ehem...agak pendiam.
            Dalam bergaul dengan temannya, Subhanallah....luwes sekali ia. Ternyata ia sangat suka bergaul. Di usianya yang ke empat, temannya lumayan banyak. Tak hanya teman yang seumuran saja, anak-anak yang sudah SD kelas satu pun akrab dengannya. Ia mulai tidak betah untuk tinggal di rumah saja. Jiwa bertemannya yang tinggi selalu membuat ia tak kerasan ketika di rumah tanpa teman. Jadi, ketika ia sudah selesai mandi dan rapi, yang ada di benaknya adalah keluar rumah mencari teman. Sering ia pulang membawa segerombol temannya kemudian diajaknya main bersama di rumah. Tapi sering pula ia tidak pulang-pulang dan terpaksa aku harus mencarinya ke beberapa rumah tetangga. Dan memang ketidakpulangannya itu adalah karena masih ingin main bersama teman walau waktunya sudah menunjukkan jadwal pulang. Aku bukannya tidak mengawasinya sama sekali ketika ia bermain di luar rumah. Tapi aku memantaunya dari rumah. Sesekali aku keluar mencarinya bila tidak tampak batang hidungnya di depan mata. Kupikir untuk usianya sudah bisa mulai diberi kepercayaan, dilatih untuk mengerti waktu-waktu tertentu untuk kegiatan tertentu. Dengan diberi kepercayaan maka anak akan tumbuh percaya diri dan tanggung jawabnya. Sekali lagi tentu kita harus tetap mengawasinya walau tidak dari dekat.
               Karena mulai mempunyai banyak teman, mulai banyak pula perbendaharaan katanya. Kata-kata yang kurasa tak pernah kuajarkan, tiba-tiba saja sudah fasih dilafalkannya. Entah dari mana saja ia mengadopsi kata-kata itu. Aku bersyukur bila kata-kata barunya itu enak didengar dan sopan. Tetapi seringkali ia melontarkan kata-kata yang kasar atau istilah jawanya “misuh”. Kalau sudah begitu, sedih....rasanya hati ini. Apalagi kata-kata itu di dapat dari teman-teman di lingkungan kami. Agak-agak susah menghilangkannya karena terdengar oleh telinganya hampir setiap hari. Yah...yang penting aku dan ayahnya tak henti-henti menasehati supaya kata-kata yang kasar itu tidak diucapkannya lagi.
             Tak hanya kata-kata yang kurang sopan yang mulai ia ucapkan. Abidah mulai suka melakukan perlawanan saat diberi tahu tentang sesuatu. Apalagi jika ia sedang menginginkan sesuatu dan tidak segera dituruti, aduh....pasti ia langsung emosi lalu menangis tidak terkendali. Ia akan menjerit-jerit keras sekali sampai aku malu pada tetangga kanan kiri. Mereka pasti mengira aku mengapa-apakan Abidah. Padahal hanya karena keinginannya yang tertunda atau tidak kupenuhi karena alasan tertentu. Pokoknya di mulai usia empat tahun ini ia sangat sering sekali “mengajak bertengkar” ibunya. Aku jadi ingat petuah ibuku di desa.
            “Sabaar menghadapi anak kecil....apalagi mulai seusia anakmu. Itu namanya lagi masa kamaratu-ratuo.” Kata ibuku di telfon.
Maksud dari istilah kamaratu-ratuo kalau tidak salah adalah saat dimana seorang anak merasa bahwa dia harus menguasai semuanya, bagaikan seorang raja atau ratu. Memang tidak mudah menjadi orang tua. Di sekolah atau kuliah dulu aku tidak pernah mendapatkan materi tentang ini, karena aku bukan jurusan psikologi. Tetapi aku harus menghadapinya setiap hari. Mau tidak mau jika ingin menjadi orang tua yang baik, maka kita harus belajar lagi. Kita harus mau menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang cara mendidik anak di rumah. Contohnya cara mendidik dan menghadapi anak dalam berbagai tahapan usia, psikologi anak, menanamkan moral pada anak, dan lain-lain yang menyangkut perkembangan anak.
             Saat ini, aku sedang menghadapi gadis kecil berusia enam tahun yang kadang manis bagaikan putri, tapi lebih sering juga keras kepala dan menakutkan bagaikan monster. Ya, kadang aku bertanya pada diri sendiri dan melihat ke belakang, adakah yang salah pada cara kami mendidikmu, sayang? Ibumu ini seringkali kehabisan cara untuk membuatmu mengerti akan berbagai hal yang harus kami tanamkan kepadamu. Kau sering mengucapkan, “Op’o sih?”, (Kenapa sih?) dengan mimik memusuhi. Kau juga sering berkata, “Nyapo sih melok-melok?” (Kenapa sih ikut-ikut?) sambil memelototkan mata pada ibumu tiap kali ibumu ini menanyakan sesuatu tentang kegiatanmu. Jika Ibu menyarankan hal-hal yang baik padamu, Kau akan bilang,”Sak karepku lho….!” (Terserah aku lho…). Ibu jadi sedih, Nak…..
              Abidah juga sering berteriak-teriak bila menyuruhku mengambilkan sesuatu, dimana saat itu aku sedang memegang pekerjaan lain, sehingga tidak bisa langsung memenuhi keinginannya. Dan dia akan berteriak, ”Ma! Mama ini, mesti lama, mesti lama!” Ingin rasanya aku melakukan hal yang lebih keras agar kau sedikit menghormati orang tuamu. Bukan karena keegoisan ibu yang tidak mau diperlakukan seperti itu, Nak….Tapi, ibu khawatir kebiasaan itu akan berlanjut hingga kau besar. Bukankah hukumnya dosa bila selalu berani dengan orang tua? Bagaimana jika Allah marah, Nak?
              Maafkan ibumu, Sayang. Semua itu tak pernah mengurangi rasa cinta ibu padamu. Justru kadang ibu marah karena ibu mencintaimu. Ibu tak mau Abidah  berlaku tidak sopan yang tidak baik di mata orang lain, juga di mata Tuhan. Maafkan ibumu, Nak. Diam ibu ,adalah diam karena mendoakanmu, semoga bisa menjadi anak yang baik, Qurrota A’yun, sehingga Allah mencintaimu dan tercipta suasana damai antara Kau, ayah, dan ibumu.
            “Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yuuniwwaj’alna lilmuttaqiina imaama”
              Kini, dalam situasi yang sering membuat kami berselisih, aku selalu berusaha mengevaluasi diri, berdo’a, semoga ketika Abidah dewasa nanti tidak ada lagi kebencian di antara kami. Dengan segala keterbatasanku sebagai seorang ibu, kekuranganku, serta kesalahan-kesalahanku dalam mendidiknya aku berharap ia hanya akan mewarisi dan menyerap hal-hal yang baik dariku, dan sesuatu yang buruk dariku tidak sedikitpun tertinggal pada pribadi dan pembawaannya.
              Dalam perjalan hidupnya, semoga kesehatan dan kebaikan selalu dilimpahkan Allah padanya. Dalam keadaan suka ataupun duka, semoga ia selalu berada di jalan yang lurus, pada koridor islam yang telah ditunjuki-Nya. Semoga ia selalu bisa mengambil khikmah dari segala peristiwa yang dilaluinya. Semoga nama Allah selalu dalam setiap langkahnya, dan memilih jalan dakwah sebagai misi hidupnya.
             Kabulkanlah harapanku, Ya….Allah….. Amiin……



Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara
25 Desember 2010, By: Elasofa

0 komentar:

Post a Comment