Breaking News

27 January, 2012

YANG TAK HENTI MENGALIR....




by Sofia S. Wardani

Bismillaahirrohmaanirrohiim....

     Mulai menulis postingan ini, terlalu banyak memori yang ingin kubanjirkan ke halaman dokumen ini.  Ibu Rumah-Tangga = Manajer Rumah-Tangga (Selanjutnya kusebut MRT saja, ya..) adalah profesiku yang paling heboh dan paling banyak menghabiskan waktuku, disamping profesiku yang lain sebagai "Pengacara" (Pengangguran Banyak Acara).
Dua bulan setelah pernikahan dan mabuk-mabukku ditengarai sebagai kehamilan adalah yang pertama membuatku tersadar bahwa aku adalah MRT (selama dua bulan itu cuma merasa sebagai "MRT" = Ratu...).  Bahagia, tentu saja, diteruskan ingatan akan sebuah konsekuensi bahwa salah satu tugas sebagai MRT adalah menjamin ketersediaan makanan segar terhidang di rumah.  Sebagai "perempuan aneh" yang tak tertarik kegiatan memasak, mulailah aku gedebak-gedebuk di dapur dengan buku resep selalu terbuka.  Pokoknya, target selama hamil adlah menguasai ilmu memasak dasar.  Nggak terbayang bagaimana nasib bayiku nanti punya emak yang tak bisa masak.  Tantangan besarnya, yang pertama adalah selama  lima bulan pertama aku sangat anti dengan bau bawang.  Terpaksalah suami mengalah mengupas bawang-bawang sebelum ia berangkat ke kantor.  Tantangan kedua adalah bertarung dengan fobia terhadap ayam.  Sampai detik itu, aku paling nggak bisa melihat ayam, terutama kepalanya.  Menatap ayam berlama-lama bisa membuatku muntah, apakah itu ayam hidup atau "jenazah" ayam mentah.  Bahkan melihat olahan ayam yang masih menampakkan unsur ceker, sayap, apalagi kepala! Hoeekkss.... bisa dipastikan membuat aku muntah (Tapi anehnya makan ayam yang sudah diambil tulangnya kok doyan sekali? curang kan...).  Aku berusaha keras menghilangkan fobia ini secara bertahap.  Kasihan kan anakku besok kalau tidak pernah kumasakkan daging ayam?
Karena suamiku bertugas di Ambon (Maluku), aku juga harus bertarung dengan ikan-ikan yang banyak sekali.  Ini bukan lebay, asli! Seminggu setelah kedatangan kami di Ambon (1995), aku berdua teman ke pasar dan membeli ikan.  Di sana, ikan dijual tidak kiloan tapi pertumpuk.  Aku membeli ikan Kawalinya (mirip ikan kembung di sini).
"Yang itu berapa?"tanyaku.
"Dua -setengah...."jawab penjualnya.
Aku pun mengulurkan uang sepuluh ribuan.
"Seng (tidak) ada kembali."katanya.  Aku kembali mengulurkan lima ribuan.
Si penjual masih menggeleng. Ih, nggak modal kembalian amat sih, gerutuku dalam hati.
Temanku mengulurkan selembar ribuan dan si penjual memberikan kembaliannya, tujuh ratus lima puluh rupiah!
"Dua ratus lima puluh Rupiah? ikan setumpuk itu?"pekikku kaget.  Temanku tersenyum-senyum.
Maka ketika suatu saat kupesan pada suamiku untuk membeli ikan seribu perak, aku pun hampir "gubrak" melihatnya pulang membawa dua kresek ikan!
"Katanya suruh beli seribu...ini lagi musimnya, jadi murah, dapat banyak banget! Selamat memasak...."suamiku nyengir kuda.  Tega banget!
Tak mungkin ku kirimke tetangga! Semua orang di sini surplus ikan!
Dan aku pun terbongkok-bongkok menyisiki kulit ikan yang sejumlah tiga puluhan ekor itu dengan mesra....Bayangkanlah saudaraku, aku melakukannya dengan perutku yang gendut, hamil delapan bulan! Akhirnya suami pun tak tega dan turun tangan membantuku.
Kalau diceritakan satu-persatu perjuanganku dalam masalah masak-memasak ini, banyak sekali kejadian aneh bin seru yang harus kuinventarisir.  Alhamdulillah, meski tidak ahli, aku pun bisa menghidangkan berbagai menu favorit keluargaku sendiri.  Aku pun bersyukur suamiku sangat paham bahwa aku tidak terlalu hobi masak.  Di saat-saat darurat ia akan menyuruhku beli atau ikut katering saja.  Yang penting, sebagai MRT aku bertanggung-jawab membuat makanan itu tersedia di meja.

     Sebagai MRT yang tidak terlalu betah di rumah, aku juga ingin mengekspresikan diri.  Suami memberikan exit-permit untuk mengajar di TK.  Sebenarnya aku tidak mempunyai pendidikan formal untuk mengajar di TK.  Semua hanya bermula dari hobiku menggambar, menyanyi, dan menari.  Hobiku itu mengantarku menjadi volunteer mentor Taman Qur'an semasa aku kuliah.  Kebetulan masjid kampusku punya kelas-kelas untuk anak-anak belajar iqro' dan yang menjadi mento-mentornya adalah para mahasiswinya.  Padahal basis pendidikanku adalah akuntansi, namun justru pengalamanku sebagai mentor Taman Qur'an inilah yang menjadi ladang garapku selama tiga belas tahun.
Memang aku tidak selalu mengajar.  Biasanya aku akan mengajar jika kebetulan ada teman yang mengetahui aku pernah jadi mentor Taman Qur'an merekrutku.  Kebetulan sekali, tawaran itu selalu datang saat ketiga anakku berusia pra-sekolah (kecuali untuk anak pertama, aku mulai mengajar sejak usia kehamilan tujuh bulan).  Jadi kegiatanku sebagai guru TK sekalian dengan mengajak anak-anakku sekolah.  Klop sekali.
Saat  di Ambon, jarak rumahku dengan sekolah lumayan jauh.  Aku harus menyebrangi Teluk Amboina dengan perut gendutku sepekan tiga kali (kelas play-group).  Untuk perjalanan dengan perahu, tidak ada dermaga khusus.  Kita harus meniti papan yang menghubungkan pantai dengan perahu.  Untung suamiku mau mengantarku ke perahu dulu sebelum ngantor.  Dengan perut buncit itu, aku tak mungkin sekedar berpegangan tangan pada operator perahu untuk bisa meniti papan.  Aku harus memeluk lehernya? ah, ogah doong....
Jika laut sedang tenang, perjalanan ke pantai Wailela di seberang terasa sangat indah dan romantis....tetapi jika langit mendung atau angin bertiup agak kencang, perahu akan bergoyang-goyang di tengah lautan.  Aku pun hanya bisa berdo'a dan berharap perahu itu tidak akan terbalik.  Aku kan tidak bisa berenang....huaaa!  Jika hujan, wassalam deh, aku belum seberani Cristina Martha Tyahahu....
Mengajar dengan membawa anak-anakku, juga cukup menguras tenaga jika sedang tidak ada asisten di rumah.  Aku sering meninggalkan rumah dalam kondisi rumah masih semrawut.  Kadang-kadang aku masih menyuapi anak-anak di sekolah.  Kebetulan semua anakku kalau makan lama (di"emut") sehingga kegiatan makan tidak bisa diselesaikan di rumah.  Ada orang-tua siswa yang sampai protes,"Gurunya tidak profesional.  Masak nyuapin anak di sekolah...." he...he...pisss deh.   Sepulang sekolah, setelah anak-anak tidur siang, barulah kuteruskan pekerjaan rumahku kembali.

     Saat aku memutuskan untuk menikah dulu, aku berjanji pada mama untuk berusaha meneruskan kuliah.  Maklumlah di Indonesia ini, jika belum berhiaskan gelar, (sebagian) orang-tua belum lega.  Okelah, aku kursus dulu.  Aku mengambil kursus bahasa Inggris di malam hari.  Teman-teman kursusku banyak yang masih SMU atau sebayanya.   Mereka menggodaku,
"Jadi, kita manggil tante atau bude, nih?"
Kalau instruktur kami tidak datang, mereka akan ribut ingin langsung pulang, sedangkan aku ngeloyor ke kantor administrasi untu meminta instruktur pengganti.
"Yaahh....mBak Sofi nggak seru amat, sih? kita pengen kabur, nih...."rengek mereka.
"Enak aja.  Tahu nggak, untuk sampe ke sini, perjuangan persiapan saya sehari semalam, tahu?"
Mereka tertawa.
Tetapi mereka teman-teman yang sangat baik dan perhatian.  Kalau aku tidak masuk kursus, mereka sudah siap dengan pinjaman catatan plus penjelasannya.  Mereka ikut merayu instruktur untuk memajukan jadual ujianku, keburu janin di perutku mbrojol.  Ketika aku melahirkan, mereka ramai-ramai menjengukku.  Lucu 'kali, ya...membayangkan saat mereka (=anak-anak SMU itu) pamitan sama orang-tuanya,
"Mau ke mana kamu?"
"Mau nengok teman yang melahirkan...."

    Untuk  meneruskan kuliah, aku memutuskan memilih Universitas Terbuka.  Sepertinya pas banget dengan kondisiku yang "pengacara" (pengangguran banyak acara).  Selain mengajar, kadang aku mengikuti berbagai pelatihan untuk guru.  Aku juga sesekali ke luar kota untuk mengisi pelatihan bagi guru TK.  Anak-anak pun sering kubawa-bawa kalau yayasan tempatku berorganisasi melakukan berbagai acara.  Dalam pada itu aku juga mulai belajar berdagang kecil-kecilan.  Dagangan itu sering kubawa kemana-mana sehingga aku dijuluki "Sofi Gembolan".  Keberadaanku di beberapa organisasi membuat pelangganku lumayan.  Aku pun mulai berani membuka warung kecil-kecilan di rumah.  Isinya berbagai sembako kering sampai obat-obatan herbal.  Ada juga pakaian mulai dari baju dalam sampai kemeja batik.  Sedikit-sedikit yang penting pelanggan terlayanilah.  Sebuah pertanyaan sering menari-nari: bisnis apa yang cocok buatku, ya?
Sebagai PNS fungsional, suamiku sering mutasi.  Kami sudah nomaden ke lima kota.  Praktis, empat orang anak kami tidak ada yang lahir di kota yang sama.  Kalau sedang berpikir kira-kira bisnis apa yang cocok untuk kujalani, aku sempat berpikir ke bisnis pengepakan barang untuk pindahan rumah.  Seringnya berpindah rumah membuatku cukup trampil mengepak.
Tetapi karena padatnya kegiatan, keinginan mengembangkan bisnis itu jadi hilang.
Berbagai kegiatan membuatku jarang menyentuh modul-modul perkuliahan.  Agak sulit mencari waktu luang.  Jika ada waktu, biasanya kugunakan untuk bermain dengan anak-anak di rumah atau tidur sepuasnya.  Apabila musim ujian semester tiba, aku akan belajar dengan sistem SKS (Sistem Kebut Seminggu).  Modul-modul UT yang tebal-tebal dan membosankan (hai, Mukti Amini Farid....maaf, ya?!) karena tidak ada gambarnya lebih sering membuatku tersungkur tidur.  Kadang suamiku mengomel karena dengan nekad aku membaca modul-modul itu dengan tengkurap.  Yang dia khawatirkan tentulah anaknya yang ada di dalam perutku! :)
Aku berharap sekali bisa menyelesaikan kuliahku sebelum anak ke empatku ini lahir.  Kalau dia lahir sementara aku belum lulus, alamat ambil cuti panjang.  Aku khawatir akan komitmenku melanjutkan kuliah.  Syukurlah kekhawatiranku ini tidak terjadi.   Alhamdulillah harapanku dikabulkanNya....

     Ada satu hal yang diam-diam kurenungkan.  Kehebohanku sebagai MRT, istri, dan ibu, ternyata tidak kulakoni sendirian.  Ada supporting-system yang begitu kuat dan sangat berpengaruh dalam keberhasilanku melalui proses panjang ini.  Suamiku, orang-tuaku, mertuaku.  Mereka selalu ada di sampingku dan di hatiku.  Sebagai bungsu yang dimanjakan, suamiku tidak pandai membantu  pekerjaan rumah-tangga .  Tetapi dia tidak pernah menuntut kesempurnaan dalam pengelolaan tugas MRT-ku.  Dia juga selalu ada sebagi motivator yang mendukung sepenuhnya setiap kegiatan yang ingin aku lakukan.  Orang-tua dan mertuaku sering hadir di rumah untuk menemani cucu-cucu mereka.  Mereka begitu sabar menghadapi berbagai karakter kami dan anak-anak.  Mereka juga selalu mendo'akan kami dalam sholat-sholat mereka.  Kami tidak pernah lupa untuk menelepon mereka untuk meminta do'a setiap ada hal penting yang kami hadapi.  Kami meyakini bahwa do'a mereka adalah bagian terbesar dari setiap karunia yang Allah berikan.
Karena orang-tua kami jugalah, kami, khususnya aku dalam hal ini mempunyai sebuah keyakinan.  Apapun yang kami lakukan untuk keluarga adlah sebuah ibadah yang luar biasa.  Kami tidak perlu untuk merasa takut dalam menghadapi berbagai tantangannya.  Dalam setiap tantangan itulah, dengan izinNya, kebaikan demi kebaikan akan mengalir tanpa pernah ada hentinya....


Walhamdulillahirobbil'alamiin...
Depok, 13 Juni 2011













0 komentar:

Post a Comment