Breaking News

31 January, 2012

UNTUK MAMA


Hujan rintik-rintik masih membasahi bumi Tangerang. Suasana yang sangat menenangkan setelah sekian hari bergelut dengan panasnya mentari dan sibuk membuat nyaman diri dengan mengkonsumsi aneka minuman sambil melindungi kulit dari sengatan mentari.
                Kedua bocahku sedang asyik bermain gasing modern atau yang populer dengan sebutan beyblade, sesuai dengan nama film animasi yang lagi ngetop di kalangan bocah cilik saat ini. Gasing yang terbuat dari plastik dan logam dengan aneka warna dan ukuran, mengoperasikannya sangat mudah sehingga anak usia 3 tahun pun bisa memainkannya.
            Sesekali kudengar suara tertawa ceria, teriakan kemenangan jika gasing salah satu anakku menang. Suara tangis dan aduan juga mengiringi permainan unik ini. Maklumlah, ketika anak usia 5 dan 8 tahun bermain, pasti ada tawa dan tangis. Sebagai seorang ibu, aku berusaha memakluminya, meskipun kadang kesel juga. Toh, ketika kecil aku juga seperti itu.
            Tek.. tek.. tek.. suara gerbang rumahku, peraduan antara gembok dan pintu besi menimbulkan bunyi seperti itu. Kulongokkan kepala ke arah gerbang, rupanya Cik Elen, tetangga blok B berkunjung ke rumahku.
            “Mari masuk Cik, “ sambutku ramah.
            Cik Elen mitra bisnisku selama ini. Dia memiliki toko kelom tasik dan aku dipercayanya menjadi tenaga pemasarannya. Suka duka dalam bisnis ini telah mengeratkan hubunganku dengannya.
            Setelah basa basi ngalor-ngidul, Cik Elen masuk ke topik utama. Dia menawarkan beberapa buah tas berbahan jeans. Bagus sekali, kuat, multi fungsi dan dalam hati aku berkata, aku memang mencari tas seperti ini.
            “Bagus sekali Cik, aku suka tapi harganya kok segitu sih?” ucapku sambil membolak-balik tas jeans tersebut, memeriksa kualitasnya.
            “Ah, Jeng, itu kan harga reseller. Tidak mahal kok,” rayuan mautnya keluar deh.
            Aku bimbang. Kupandangi tas ini dengan wajah seperti anak kecil yang kepingin permen. Sementara itu anak-anakku masih asyik bermain di dekatku.
            “Ma, aku beliin deh,” tiba-tiba si sulung menyambung pembicaraan kami.
            Aku terperangah, anak sekecil itu punya niat untuk berbagi dengan mamanya. Padahal dia tahu kalau nilai tas itu sangat mahal untuk ukuran kantong anak-anak.
            Memang sih, anak-anak aku biasakan menabung. Tabungan mereka aku tulis dalam buku tabungan kecil, aku catat semua pemasukan dan pengeluaran. Aku taruh di laci meja kerja di rumahku sehingga sewaktu-waktu mereka bisa melihat saldo tabungan mereka.
            “Mas Rijal sayang mama ya? Mas Rijal punya uang sebanyak ini?” Tanya Cik Elen heran.
            “Punya dong, aku kan dapat beasiswa setiap bulan dari kantor Bapak. Tiap hari aku juga nabung uang saku ke mama. Iya kan , Ma?” tanyanya kepadaku, sementara aku masih memangku tas jeans itu.
            “Eh, iya. Tabungan Mas Rijal sudah banyak sekarang,” jawabku sambil sekuat tenaga menahan tangis haru.
            Anakku, tidak kusangka kau peduli dan sayang kepada mama. Tapi adakah mama yang tega untuk mengambil tabungan anaknya meskipun kau memberikannya? Tangisku dalam hati. Tapi jika aku tolak, celoteh tulusnya itu tidak akan memberi makna di kemudian hari, karena aku memang menginginkan anakku tumbuh menjadi anak yang mau berbagi.
            Kuputuskan aku membeli tas itu, meskipun dalam hati dan ini kurahasiakan dari Mas Rijal, aku membayar 90% dan Mas Rijal 10% dari harga tas tersebut. Aku ingin dia bangga telah membelikan sesuatu untuk mamanya.
            “Ma kasih ya Mas, Mama tambah sayang sama kamu,” kukecup pipinya. Tapi air mata ini tidak mau kompromi. Meleleh pelan-pelan. Ah, jadi malu ama Cik Elen nih, nangis di depan orang.











0 komentar:

Post a Comment