Breaking News

27 January, 2012

ULAT BULU YANG BERMETAMORFOSIS


ULAT BULU YANG BERMETAMORFOSIS
(Catatan kecil dari si “kepompong ulat bulu” yang berharap segera menjadi kupu-kupu)

Kemarin, aku  membaca kutipan di salah satu facebook temanku yang menyatakan
Aku minta pada Allah setangkai bunga. Dia memberiku kaktus berduri.
Aku minta pada Allah hewan mungil nan cantik.Dia beri aku ulat berbulu
Aku sempat kecewa protes. Namun kemudian kaktus itu berbunga sangat indah sekali.
Ulatpun tumbuh berubah mnjadi kupu2 yg teramat cantik
Itulah jalan Allah, indah pd waktuNYA
Dan aku yakin itu terjadi pada diri kita semua, karena ini terjadi pada diriku, seorang  wanita yang hanya meminta  rasa “ narsisnya” terpenuhi namun Keluarga dan Orangtua juga  senang.“ If Every Body Happy, hope  Allah Loves me !”

Sejak memilih kuliah S1 di jurusan yang ditentang orang tua , aku sangat “ ngotot” untuk memilih jalan hidupku, seperti ulat bulu kecil yang selalu tidak mau diam dan sering bikin gatal . Padahal sumpah, aku tidak mau menjadi ulat bulu. Biasalah, dulu, waktu masih ABG, rasanya ingin selalu aspirasi didengar, tapi nasihat orangtua terdengar bagai lagu sumbang.

Jurusan itu ditentang karena menurut orang tua akan mendapatkan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Aku dengan bersemangat menunjukkan bahwa justru itu tantangannya. Sedikit orang yang bisa, tentu akan lebih dihargai. Dan meski aku sibuk menjadi asisten  mahasiswa sejak semester 7 membantu dosen senior yang bertugas, akhirnya aku lulus dengan nilai Tugas Akhir terbaik A+. Karena kegiatanku yang padat, sampai aku dapat julukan “Ambitious Girl”.
Namun semangat itu,ternyata tidak menghilangkan kekhawatiran Orangtuaku untuk segera mendapat pekerjaan sesuai bidang yang diambil.  Saat itu aku sering menggerutu, kenapa mereka terlalu “ lebay”, karena seharusnya mereka tidak perlu merasa cemas. Namun  sekarang  sebagai  ibu dari dua anakku, aku mulai mengerti dan  tidak menyalahkan sikap mereka dulu, yang selalu cemas akan pengambilan keputusan anak-anaknya. Itulah bukti kasih orangtua kepada anak-anaknya. I love u Mom and Dad.

Ketakutan itu terbukti (hukum alam seperti dalam “ secret” ) memang sering terjadi karena kita sendiri yang menariknya. Namun dengan semangat pantang menyerah, aku yang saat itu belum menikah, berusaha menghapus ion negative itu dengan mengambil penawaran menjadi seorang “marketing supervisor” di perusahaan ternama.  Sebenarnya aku tahu, itupun belum bisa memuaskan keinginan orang tuaku, namun saat itu baru langkah itu yang bisa aku ambil. Maaf Pa dan Mama ,aku belum bisa memberikanmu hal yang Indah.

Sebelum bisa menyenangkan hati orang tua,  seperti ulat kecil  yang tidak mau diam,  aku  mulai menjelajah kembali. Menikah menjadi impian semua orang, menjadi Istri Sholehah dan Ibu yang bijaksana serta menyenangkan  selalu menjadi tujuan hidup seorang wanita yang sudah menikah.  Tujuan  hidupku bertambah lagi. Jika sebelum menikah ingin membahagiakan orangtua terkasih, kini bertambah dengan tujuan hidup membahagiakan keluarga kecilku, dengan menjadi Istri dan Ibu yang sholehah. Sejak menikah dan memiliki anak,  aku selalu berpindah pekerjaan 4 tahun sekali, laksana Kutu loncat (wah tidak jadi ulat bulu lagi ya?), aku menjadi orang yang bingung akan dirinya untuk beraktualisasi namun juga ingin menyenangkan hati keluargaku.  Pekerjaanku seringkali menuntut  adanya rapat dadakan, over time ,  survey dan tugas luar kota , sedangkan suami meminta pulang tepat waktu untuk anal-anaknya. “ Oh My God, it’s really complicated”.
Sesudah berdiskusi dengan keluarga dan orangtua dan juga meminta informasi dari dosen senior kenalan kami, akhirnya 4tahun lalu aku berpikir untuk kuliah lagi. Niatku kuliah lagi  yaitu hanya  untuk menjadi seorang dosen di sebuah lembaga pendidikan sesuai saran orangtua.  Pikirku jika menjadi dosen,mungkin tidak sesibuk menjadi manajer atau tenaga executive di perusahaan. Jadi “ rasa narsisku” tetap tersalurkan dan keluarga terawat dengan baik . Sebenarnya kuliah lagi sambil bekerja, bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi usia tidak lagi muda. Berat rasanya, apalagi menjelang ujian dan tesis. Tekadku sudah bulat, aku harus tetap semangat demi cita-cita mulia. Waduh, saat itu aku sangat bersemangat, padahal umur sudah 33 tahun dengan dua anak.

Dan ternyata sekali lagi aku salah strategi. Sesudah lulus S2 dengan nilai sangat memuaskan, “Mohon Maaf, kalau jurusan S2 ini tidak memenuhi syarat untuk menjadi dosen, seharusnya ibu mengambil magister teknik”. Byaaar..gubraak, rasanya kesal juga rencana berantakan. Terbayang umur yang makin tua, sudah 35 tahun, mana mugkin terkejar waktu untuk kuliah lagi,  padahal aku menghabiskan waktu kuliah dan berniat  menjadi  dosen untuk mencari jalan terbaik dan menyenangkan hati suami,  anak dan orangtuaku. Rasanya saat itu Allah tidak adil kepada hambanya yang sudah berkorban waktu untuk mau  repot kuliah kembali.Impianku pudar, malas rasanya mengejar impian lagi. Lelah mendengar teman yang mencibir “buat apa kamu ambil S2, kalo akhirnya dirumah… atau gajinya segitu aja,..atau bla..bla“, terlalu banyak ion negative yang masuk kediriku. Banyak rasa kecewa dalam hatiku. Rasanya aku selalu salah memiliki ambisi.  

Alhamdulillah, saat hatiku merasa sulit,  suami dan keluargaku selalu mendukung. Bersyukur memiliki keluarga yang harmonis dan mendukung penuh. Aku harus bebas dan optimis  serta  yakin “ akan indah saatnya” . Saat itulah aku percaya apa yang sudah aku jalani dan kesalahan yang dibuat adalah sebuah proses dari Allah agar aku lebih mandiri dan dewasa. Aku harus lebih bersabar dan memahami proses. Aku harus segera bermetamorfosis.

Itu adalah masa lalu, 2 tahun yang lalu,laksana  perjalanan seekor ulat bulu kecil. Ada proses yang harus dijalani. Tidak boleh menyerah, walau nasi sudah menjadi bubur, karena buburpun dikasih ayam dan lada ternyata enak sekali.  Akhirnya  ulat bulu kecil yang nakal dan suka membuat gatal itu mulai bermetamorfosis menjadi kepompong, dengan dukungan dari gadis cilikku yang selalu menginginkan, “ mama punya kantor didepan rumah saja deh”, dengan dukungan anak lelakiku” Ma, kakak kalau sudah besar ingin menjadi arsitek dengan kantor sendiri”, dengan dukungan suami “ Ma, tidak perlu stress mencari uang yang penting hobimu tersalurkan. Mencari uang adalah tanggung jawabku” dan dengan dukungan orangtua “  kenapa harus kerja dengan orang lain, kalo kamu sendiripun bisa kasih pekerjaan kepada orang lain, jadilah seorang wirausaha“.
Alhamdulillah ya Allah, akhirnya ulat bulu kecilpun bisa mulai bermetamorfosis,. Sejak 2 tahun Yang lalu, usaha kecil dengan nama Rumah Alida interior exterior” bisa menjadi ajang “curahan ambisiku” sekaligus dekat dengan keluarga tersayangku.  Banyak orang yang sudah memberi kepercayaan sebagai klien ataupun sebagai rekan kerja kami.  Senyum puas mereka seperti bintang  dilangit dan senyuman puas dari dua anakku , suami dan orangtuaku bagai rembulan  di hati kecilku, dihati” ulat kecil” yang sekarang masih  kepompong dan insya Allah akan segera menjadi kupu-kupu cantik. Terimakasih Ya Allah, Engkau  Maha tahu kapan yang terbaik akan terjadi. Semoga semua ini berjalan lancar, amien YRA. 

0 komentar:

Post a Comment