Breaking News

01 February, 2012

That Girl With Music In Her Self

 
Pernah mengalami hal ini?

Naik angkot siang hari, panas dan gerah, di jalan raya yang ramai dan macet, wajar jika kita gelisah dan tak nyaman. Jangankan anak-anak, orang dewasapun akan mengeluh di udara sepanas dan sekotor itu.
Tapi di sudut angkot, seorang anak perempuan duduk dengan tenang, kakinya mengetuk-ngetuk pelan, bibirnya bersenandung, "..sol sol la sol mi.. do do re do la..". Lagu Satu Nusa Satu Bangsa.

Atau ketika naik ojek, anak perempuan itu masih bersenandung, ".. mi fa mi do re.. mi fa mi do re.. mi fa sol mi la.. sol fa mi do re...". Lagu Anak Gembala.

Bahkan ketika sedang dalam antrian yang panjang dan membosankan, masih terdengar dari bibirnya, senandung pelan, "... mi mi fa sol sol fa mi re do do re mi mi re re..." (Hayoo, lagu apa?)

Saat kau mendengar senandungnya, kau merasakan hari yang panas menjadi sejuk, antrian membosankan jadi menyenangkan, dan keluhan berubah menjadi senyuman.

Anak perempuan itu anakku.

---
Hani lahir dengan tangisan keras memecah tengah malam, yang kemudian berubah menjadi senyum. Senyum khas itu terus menjadi identitasnya hingga kini. Dia tumbuh menjadi anak yang ramah, periang, tidak rewel. Selalu ada saat sulit yang kami alami, tapi dengan senyum dan tawanya, saat-saat sulit itu menjadi terasa mudah.

Kami sekeluarga menyukai musik. Aku suka bernyanyi untuknya ketika dia masih bayi. Dia suka mendengarkan lagu-lagu anak yang aku putar untuknya. Lagu-lagu anak jaman dulu, bukan lagu anak-anak jaman sekarang yang seringkali 'rancu' dengan lagu dewasa. Dia belajar membaca pertama kali, lewat lagu ABC dalam dua versi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dia belajar berhitung dengan lagu Satu Satu Aku Sayang Ibu dan Five Little Indian. Dia belajar huruf Hijaiyah pertama kali dengan lagu ABaTa terbitan negeri tetangga. Semuanya sebelum ia bisa bicara jelas.

Hingga akhirnya dia bisa membedakan berbagai genre musik, dengan memyebut musik rock sebagai 'lagu ayah', pop jazz dan klasik sebagai 'lagu bunda', dan lagu-lagu anak sebagai 'lagu hani'. Hingga kini, dia tidak mengenal banyak lagu-lagu pop indonesia terbaru --yang menurut aku kurang bermutu, sementara lagu yang berkualitas seringkali tidak populer--, jadi ketika teman-temannya bernyanyi ala grup band Wali, Smash, dan entah siapa lagi, bahkan termasuk juga Justin Bieber, dia tidak mengerti.

Ketika dia mulai bicara sebelum usia 2 tahun, bibirnya tidak pernah berhenti mengoceh. Sebelum dia masuk playgroup, aku sering mengajaknya jalan-jalan ke Bogor, naik angkot tentunya. Di dalam angkot, dia juga tak pernah diam. Seringkali angkot berubah menjadi Taman Kanak-Kanak, karena kami berdua bernyanyi bermacam-macam lagu anak-anak, dari Burung Kakak Tua hingga Pelangi Pelangi, sementara dia juga sambil berdiri joget-joget. Ketika kami mengajak seorang tantenya ikut, beliau nyeletuk, "...kayak orang gila kita yaak.."

Suatu hari, kami menonton acara American Idol season terakhir. Seperti biasa, kami terkagum-kagum dengan bagusnya suara para penyanyi itu. Acara selesai, si Ayah mendapat ide. "..Ayo bun, kita nyanyi..." pintanya sambil mengambil gitar listriknya. Tentu saja aku tidak menolak. Biarpun suaraku hanya laku di lingkungan rumah seukuran 65 meter persegi ini (di luar rumah langsung jatuh pamor), tapi lumayanlah daripada sepi (kualitas suara nggak penting.. yang penting semua hepi..). Mulailah akord diulik, lirik di-browse dan di-print. And.. here we go.. "..When a man loves a womaannn..", teriakan serak-serak becekku membelah malam.

Hani yang menyimak aktivitas kami sepanjang malam, tidak mau kalah. Setelah terkagum-kagum dengan tingkat ke-PD-an bundanya yang agak kebablasan, dia pun ingin beraksi. Larilah dia ke kamarnya, dan kembali dalam beberapa detik, telah menenteng pianikanya. Duduklah ia dengan manis di sudut ruang, mulai bersiap menekan tuts-tuts pianikanya demi mengiringi 'band kecil' kami.
Tepat saat lagu When A Man Loves A Woman memasuki chorus, suara pianika pun menyerobot riang dengan nada, "sol sol la sol mi.. do do re do la.. sol do re mi do re mi re.." alias lagi-lagi lagu Satu Nusa Satu Bangsa.

Walau kami berjuang menahan tawa, but show must go on, right? Jadi kami teruskan kolaborasi 'ajaib' itu sampai selesai. Pertunjukan selesai, semua pun bertepuk tangan.

Hani bukan 'anak ajaib' yang canggih bermain piano klasik, dia tidak pernah les musik. Dia bukan anak bersuara semerdu penyanyi-penyanyi cilik di kontes-kontes bakat. Dia bahkan sangat pemalu di atas panggung. Dia hanya suka bernyanyi, suka mendengar dan memainkan musik, sejauh yang ia bisa. Beri dia not angka lagu anak-anak sederhana, maka dia akan berjuang seharian untuk menghapal nada-nada itu dengan pianikanya.

Yang mengagumkan darinya adalah, dia membawa keriangan musik itu ke dalam dirinya. Keriangan yang terpancar dari matanya yang berbinar-binar saat berhasil menghapal sebaris nada. Keriangan yang ia bawa dalam kepribadiannya sehari-hari. Keriangan yang ia tularkan pada orang-orang di sekitarnya.

Saat rumah sepi, saat gundah gulana melanda, tiba-tiba ia datang membawa pianika dan catatan lagunya, kemudian dipamerkannya padaku sebuah lagu. Saat di tengah jalan tersengat panas, tiba-tiba ia bersenandung riang, suaranya bagai gerimis di musim kemarau. Saat hari diterpa badai yang menghancurkan hati, tiba-tiba ia datang dengan senyumnya. Mengajakku bermain, ia menyenandungkan nada, dan aku menebak judul lagunya. Dia bagai seberkas cahaya lilin di gelap gulita.

Seakan Sang Maha Pengasih mengirimkan dia untukku demi sebuah misi. Suaranya adalah musik terindah bagi telingaku, obat termanjur bagi kesedihanku. Kehadirannya menjadi kebahagiaanku, dan cahaya bagi jalanku menuju-Nya. Dan misiku adalah, menjaga agar nada-nada itu tetap mengalun, cahaya itu tetap menyala, dan tidak akan pernah meredup, selama Sang Maha Pemilik Waktu mengizinkan.

1 komentar:

Kak Zepe Lagu2anak.blogspot.com said...

Wahhh…. Blognya keren
Salam kenal ya…
Saya juga punya sebuah blog yang banyak membahas lagu2 anak..
Ada juga 80an lagu anak karya saya sendiri
Mohon kunjung balik ya…
Kak Zepe
http://lagu2anak.blogspot.com

Post a Comment