Breaking News

30 January, 2012

Ternyata membuat cerita sendu itu nggak mudah. Mohon masukannya ya ibu-ibu cantik... :))


AKU ANAK ISTRI KEDUA

            Aku tidak pernah memilih untuk dilahirkan dari rahim siapa. Bersalahkah aku, bila ternyata ibuku hanya seorang istri kedua? Kenyataannya, sungguh berat kurasakan hidup sebagai anak dari seorang perempuan yang memilih menjadi istri kedua Bapakku. Indah dan manisnya masa kanak-kanak hanya sedikit yang bisa kuingat. Selebihnya adalah kerja keras, kehidupan yang sulit, dan banyak air mata.
           
            Aku memanggil Emak untuk ibu yang melahirkanku. Usia kami hanya berbeda 16 tahun. Ya, Emak masih seorang remaja kecil ketika bertemu dengan Bapak, yang telah menikah dan mempunyai satu orang anak di usianya yang 20 tahun. Tapi, karena cinta Emak kepada Bapak, maka ia menerima saja ajakan  menikah di usia belia dengan seseorang yang sudah beristri dan mempunyai anak. Kecaman dari keluarga besar dan teman-teman Emak tidak membuat langkah kaki Emak mundur kebelakang. Suara-suara sumbang yang mengatakan bahwa Emak hanya menginginkan harta Bapak saja, hanya membuat Emak semakin teguh dengan pendiriannya. Apalagi setelah aku lahir, aku seperti hadiah terindah untuk Emak di tengah beratnya hidup menerima kecaman dan sindiran dari orang-orang di sekelilingnya. Tapi, kebahagiaan hidup bersama Emak hanya kurasakan selama tujuh tahun. Bapak kemudian menceraikan Emak, dan mengambilku untuk dibesarkannya bersama istri pertamanya.
           
            Masih kuingat hari ketika aku harus meninggalkan Emak. Air mata Emak terus mengalir tiada henti, sambil terus memelukku.

            ”Ujang, harus jadi anak baik. Nurut sama Bapak dan Ibu di sana. Sekolah yang rajin ya sayang, supaya kamu jadi anak pintar. Bapak akan terus menyekolahkan kamu sampai besar.” Aku hanya menangis terisak-isak. Aku tidak mau berpisah dengan Emak. Teringat kalau aku sering merengek minta sekolah kepada Emak akhir-akhir ini.

            ”Aku tidak mau sekolah, Mak... Aku mau tinggal dengan Emak saja!”

            ”Sstt..., anak pintar harus sekolah! Emak ingin kamu sekolah yang tinggi supaya jadi orang. Emak akan selalu mendoakan kamu, Jang. Kalau kamu kangen Emak, sesekali boleh kamu main ke sini...” Emak terus membesarkan hatiku. Akhirnya, aku pun pergi bersama Bapak meninggalkan Emak yang masih menangis dan terus melambaikan tangannya.

            Setelah itu, hidup mulai kurasa berat untuk anak seusiaku. Aku harus tinggal dengan keluarga baruku. Dengan Ibu, dan satu orang kakak lelaki, serta tiga orang adik perempuan yang masih kecil-kecil. Ibu menyuruhku tidur di kamar yang sama dengan Kang Asep. Bedanya, Kang Asep tidur di atas kasur, sedangkan aku tidur di ubin beralas tikar. Malam pertama di sana, aku tidak bisa tidur. Aku kedinginan, dan lantai itu terasa begitu keras dan dingin. Diam-diam aku menangis ingat Emak. Tapi, bila ingat besok adalah hari pertama aku sekolah, semangatku tumbuh lagi. Maka, aku mencoba untuk memejamkan mataku dan berharap pagi segera datang.

            Sebuah hentakan keras di bahuku membangunkanku. Masih mengantuk, kulihat Ibu berdiri di hadapanku sambil membawa panci.

            ”Ujang, lekas bangun. Bantu Ibu di dapur. Tapi pelan-pelan, nanti Asep dan adik-adiknya bangun...” Dengan sedikit gontai karena mengantuk, aku bangun lalu mengikuti langkah Ibu menuju dapur. Sempat kulirik Kang Asep yang masih tampak nyenyak tidur di kasur bergumul dengan selimut. Jam empat subuh, udara terasa begitu dingin di daerah pegunungan ini. Ibu menyuruhku menyalakan kayu bakar di tungku. Agak susah payah kulakukan pekerjaan yang baru pertama kalinya kukerjakan itu. Ibu terdengar mengomel pelan, sambil terus mengajariku menyalakan kayu bakar.

            ”Kalau mau tinggal di sini, nggak boleh manja! Sekolah itu perlu banyak uang. Mulai besok, setiap jam empat subuh, kamu harus bangun, nyalakan kayu bakar dan mulai rebus air. Bantu Ibu buat sarapan untuk Bapak dan yang lainnya. Ngerti?” Aku mengangguk sambil terus mengipas-kipas kayu bakar agar nyala apinya semakin besar. Mataku mulai terasa perih oleh asap kayu bakar, tapi aku tidak mau menangis.

            Ketika adzan Subuh terdengar, kulihat Bapak sudah siap untuk berangkat ke masjid. Kupandangi wajah Bapak sambil berdoa sungguh-sungguh, agar Bapak melihatku dan mengajakku pergi bersama ke masjid. Lalu, aku tahu Allah mendengar doaku, ketika Bapak menatapku yang sedang menimba air, lalu berkata,

            ”Ujang, ayo ikut Bapak ke masjid...” lembut sekali suara Bapak, tapi membuatku langsung beranjak menghampirinya dengan gembira.

            ”Jangan lama-lama Pak! Ujang masih harus membantu Ibu mencuci piring sebelum berangkat sekolah!” Aku tahu banyak lagi yang harus aku kerjakan sepulang dari masjid, tapi setidaknya aku bisa sejenak duduk berdua bersama Bapak, walau itu hanya di waktu salat subuh dan tanpa suara.

            Pulang dari masjid, tidak ada lagi waktu luang yang tersisa untukku. Aku terus bekerja di dapur membantu Ibu dan mencuci peralatan masak yang kotor. Sementara kulihat Kang Asep sudah bangun dan bersiap untuk mandi kemudian sarapan. Perutku mulai terasa melilit menahan lapar, apalagi kulihat Kang Asep begitu nikmatnya melahap ikan mas goreng yang masih garing dengan nasi hangat yang masih mengepul. Tapi, aku tahan saja perih perutku dan bergegas menyelesaikan pekerjaanku. Ketika kulihat Kang Asep sudah siap, aku takut dia akan meninggalkanku ke sekolah.

            ”Ibu, boleh aku mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah sekarang?” Tanyaku pada Ibu, ketika Ibu masuk ke dapur sambil membawa piring-piring dan gelas kotor dari ruang makan.

            ”Selesaikan dulu cucian piringnya, nanti baru mandi.” Tanganku mulai terasa keriput dan mati rasa karena terkena air cucian yang dingin. Tapi, aku teringat Emak yang menangis ketika melepasku pergi, dan kemudian kurasakan semangatku kembali berkobar. Maka, kuselesaikan dengan cepat semua pekerjaan cuci piring di pagi itu, dan langsung bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah. Tidak sempat lagi aku sarapan, karena Kang Asep sudah marah-marah memanggilku, karena dia tidak mau datang terlambat ke sekolah. Sebelum berangkat, tanpa kuduga Bapak sempat menyelipkan sepotong singkong rebus di tanganku, karena tahu perutku belum diisi apa-apa sejak tadi. Aku menatap Bapak penuh terima kasih, mencium tangannya, lalu memulai perjalanan sejauh tiga kilometer menuju sekolahku bersama Kang Asep dan teman-temannya, dengan berjalan kaki.

            Rutinitas itu terus kujalani setiap hari, karena besarnya keinginanku untuk sekolah. Pulang sekolah pun aku harus membantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci piring, mengangkat jemuran, hingga mengasuh adik perempuanku bila Ibu sedang mengerjakan pekerjaan lainnya. Selain itu, aku juga harus mencuci baju-bajuku sendiri. Tidak ada waktu bermain untukku. Karenanya, saat sekolah adalah saat yang paling kunanti, karena hanya di waktu itu aku bisa bermain dengan teman-temanku. Dan bila malam tiba, seluruh tubuhku terasa sakit sekali. Tulang-tulangku terasa remuk dan ngilu. Tapi, aku hanya bisa menangis diam-diam, dan menghibur diriku sendiri bahwa besok aku akan bisa pergi ke sekolah lagi.

            Aku ingat, pernah karena letih yang sangat, aku tertidur di kelas. Ketika terbangun, kudapati kelas telah kosong. Tinggal guruku yang setia menungguku di kelas. Aku merasa malu sekali. Tapi, guruku itu begitu baik. Beliau tidak banyak bertanya, dan hanya menyuruhku lekas pulang.

            Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Berbeda dengan kakak dan adik-adikku yang rata-rata hanya menamatkan sekolahnya hingga SD, tahun ini aku akan lulus dari STM tempat aku belajar selama tiga tahun terakhir ini. Ingin sekali kulanjutkan pendidikannku hingga perguruan tinggi, tapi aku malu untuk lebih lama menyusahkan Bapak dan Ibu. Hingga tiba-tiba saja, Ajat sahabatku di STM menawarkan sesuatu kepadaku.

            ”Jang, mau ikut ujian masuk perguruan tinggi?”

            ”Nggak lah, Jat... Aku nggak punya biayanya”

            ”Sayang, Jang. Kamu itu kan pintar. Di coba saja, siapa tahu berhasil...” Sesungguhnya aku ingin sekali ikut ujian itu, tapi Bapak dan Ibu sudah mengisyaratkan agar aku bisa langsung bekerja membantu Kang Asep berdagang di pasar selepas lulus dari STM. Tidak disangka, dua hari berikutnya Ajat menyerahkan selembar formulir kepadaku.

            ”Apa ini, Jat?” Tanyaku tidak mengerti. Ajat hanya nyengir dan membiarkanku membaca sendiri formulir itu. Sebuah formulir ujian masuk perguruan tinggi!

            ”Ayo kita coba, Jang!” kata Ajat menyemangatiku. Rasanya, tidak cukup beribu ucapan terima kasih untuk sahabatku itu.

           Hari itu, sepulang sekolah, aku langsung pergi ke tempat penjualan buku bekas. Dengan mengambil uang tabunganku, aku membeli sebuah buku bekas kumpulan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sejak itu, tidak ada lagi yang kukerjakan selain berlatih dan terus berlatih soal-soal itu. Hingga akhirnya, waktu pengumuman menunjukkan aku diterima di Fakultas Teknik Mesin Universitas Indonesia, di Salemba Jakarta Pusat.

            Rasanya, ingin sekali aku menangis. Aku ingat Emak yang menginginkan aku bisa terus sekolah supaya jadi orang. Aku juga ingat sahabatku Ajat yang sudah membelikanku formulir pendaftaran itu. Walau akhirnya kami harus berpisah, tapi aku merasakan syukur yang luar biasa. Aku, anak kampung bisa masuk dan sekolah di universitas negeri ternama di negeri ini. Mungkin aku satu-satunya anak kampungku yang bisa masuk UI pada saat itu, dan aku berharap akan ada lagi yang bisa terus sekolah tinggi di masa yang akan datang.

            Yang juga mebuatku terharu adalah Bapak begitu gembira dengan kelulusanku, hingga rela menjual salah satu sawahnya untuk awal biaya hidup dan pendidikanku di Jakarta. Karena tidak ingin selalu merepotkan Bapak, maka aku pun mulai mencari pekerjaan sewaktu masih di tingkat tiga. Alhamdulillah, aku kemudian diterima bekerja di sebuah perusahaan asing yang menjual alat-alat berat, seperti traktor, beserta suku cadangnya. Dari perusahaan inilah, aku sering disekolahkan ke luar negeri. Ke Singapura, Malaysia, Australia, Inggris, hingga Amerika. Sungguh, tidak pernah berani aku memikirkannya sebelumnya. Tapi, itulah kuasa Ilahi. Dan, aku yakin ada doa Emak yang ikut andil dalam membentuk jalan hidupku seperti ini.
           
            Kini, di usia senjaku, sebuah cobaan datang mengujiku seperti sejarah yang berulang. Suatu hari, aku mendapati menantu perempuanku datang menangis sambil menggendong anaknya, mengadukan bahwa suaminya, anakku, telah menikah lagi.

            Perih kupejamkan mataku. Maka, sambil menggendong cucuku, aku biarkan menantuku menumpahkan segala kesedihan dan rasa sakit hatinya. Aku berdoa, semoga waktu bisa mengobati luka hatinya. Yang terjadi kemudian adalah, aku bertekad dalam hati, walau bagaimana pun kondisinya, aku tidak boleh membeda-bedakan cucu-cucuku kelak. Apakah dia anak dari menantu yang pertama, atau yang kedua. Dan akan kuajarkan anak dan menantuku untuk belajar berlaku sama, karena aku merasakan sendiri bahwa tidak ada seorang anak pun yang bisa memilih ingin dilahirkan dari rahim siapa. Dan aku yakin, begitu juga dengan cucu-cucuku.
*****
*Based on a true story










0 komentar:

Post a Comment