Breaking News

30 January, 2012

tentang ayah boleh gak?



            Memiliki seorang ibu tentu sangat didambakan oleh semua orang, segala keperluan pribadi di bantu oleh ibu, mau curhat ada ibu, mau menangis dipeluk sama ibu, mau tidur pun dikeloni oleh ibu. Kadang aku begitu iri melihat teman-temannku yang dipeluk lalu di rangkul oleh ibu mereka ketika ditimpa masalah dalam kehidupan mereka. Ada pula yang menjadikan ibu mereka sebagai teman bercanda, bergurau bahkan saling bergelut.
            Ibu, begitu kurindukan sosoknya. Seseorang yang bisa menjadikan aku sebagai seorang perempuan sejati. Seseorang yang bisa menjadi tempat ku berkeluh kesah. Namun ibuku meninggalkanku saat aku masih membutuhkannya. Umur 9 tahun saat itu ibuku meninggal akibat sakit kangker otak yang di deritanya. Praktis segala tanggungjawab seorang ibu dibebankan kepada ayahku. Aku dan adikku yang saat itu baru berumur 7 tahun harus menerima kenyataan bahwa kami sudah tak memiliki ibu.
            Kami  dibesarkan oleh ayah seorang diri. Ia tak mau melepaskan kami ketika nenek dan kakek meminta kami tinggal bersama mereka. Ayah hanya ingin membesarkan kami sendiri dengan tangannya. Ia mengajari kami untuk bertahan hidup ditengah keterbatasan ekonomi. Bekerja sebagai buruh serabutan membuatnya kerap meninggalkan kami berdua di rumah. Namun yang kutahu saat itu kami tak pernah kekurangan makanan. Setiap pagi ayah membangunkan kami untuk mandi, lalu memakaikan pakaian dan mengantarkan kami sekolah. Sepulang sekolah di meja makan sudah ada makan siang. Lalu saat malam sehabis solat maghrib ia mengajak kami untuk makan bersama.
            Aku tak pernah tau jam berapa ayah bangun pagi lalu mempersiapkan segala keperluan kami, yang ku tahu ayah terlihat menikmati kesendiriannya membesarkan kami. Aku pernah mendengar tawaran dari keluarga ibuku agar ayah menikah lagi karena merasa kami masih kecil dan membutuhkan ibu. Namun entah mengapa ayah tak pernah mau menikah. Dari segi usia, ayah masih muda. Saat ditinggal oleh ibu ia berusia 33 tahun.
            Belakangan aku baru tahu bahwa ayah begitu menyayangi kami, dan tak rela anak-anaknya dibesarkan oleh orang yang tidak menyayangi kami. Ia khawatir seorang ibu tiri akan menyakiti kami.
            Sebagai seorang ayah sekaligus ibu bagi kami, ia mengerjakan segala urusan dapur hingga urusan sekolah kami. Ayah mencuci baju-baju kami, memasak, mencuci piring, menyapu lantai hingga membereskan tempat tidur. Lantaran tinggal di desa, kehidupan kami sama seperti warga desa umumnya. Aku masih menikmati segala keterbatasan hidup di desa. Tidak ada MCK, tempat tinggal seadanya, dll. Namun ayah tak pernah ku dengar mengeluh menjalaninya.
            Saat aku beranjak remaja, aku mulai merasa risih dengan kebiasaan di desaku. Sebagai anak gadis, aku risih ketika harus mandi  di tempat umum, harus membuang hajat di sungai dll. Namun aku tak berani meminta lebih dari ayah, karena uang yang ia dapatkan setiap hari hanya cukup untuk makan saja tidak untuk melengkapi fasilitas lainnya.
            Namun itulah ayahku, sebagai seorang single parent, yang tentu dengan kekuatan dan keinginannya teramat kuat untuk membesarkan kami tanpa bantuan siapapun, di tengah perjalanan aku pun menemukan sendiri bagaimana kehidupan dan pribadi seorang perempuan. Aku berusaha mencari sendiri pengetahuan tentang wanita. Saat aku mengalami siklus menstruasi aku tak tahu   harus bertanya pada siapa, bagaimana caranya menghadapinya, dan lain-lain. Aku hanya bertanya dengan teman-temanku, ketika aku merasakan perubahan di tubuhku sebagian darinya ada yang perlu perhatian khusus, aku pun belajar sendiri. Tak ada yang mengajariku bagaimana harus memakaikan-bra- dll.
            Sungguh ditengah kekuatan superpower yang dimiliki ayah, aku merasakan kesendirian. Tak tau harus cerita sama siapa. Dan ternyata hal ituberdampak pada kepribadianku, aku menjadi pribadi yang tertutup dan sulit mengungkapkan apa yang menjadi isi hatiku.
            Kini sudah 20 tahun ayah menjalani kesendiriannya tanpa di dampingi oleh ibu, ada sesak yang demikian menggumpal di dadaku saat aku juga harus meninggalkannya untuk tinggal bersama suamiku di kota yang cukup jauh dari rumahnya. Kini ayah bukan hanya harus sedih ditinggal oleh ibu, iapun harus menghadapi masa tuanya dalam kesendiriannya saat aku dan adikku harus menjalani kehidupan rumah tangga kamimasing-masing.
            Maafkan aku ayah… Rabbi jaga ayahku baik-baik. AYAH!!!   


0 komentar:

Post a Comment