Breaking News

01 February, 2012

tanggung jawab seorang kepala rumah tangga


Assalammualaikum,..

Beberapa bulan yang lalu saya menerima kabar dari sahabat saya, yang mengabarkan suaminya sudah keluar dari bui. Alhamdulillah kata saya, karena selama 2 tahun lebih hati saya terasa remuk redam karena geregetan tidak dapat membantu sahabat saya. Hidup tanpa suami (yang di bui karena kasus narkoba) dengan 2 orang anak yang harus dihidupinya. Naudzubillah.. Saya tidak dapat membayangkan jika hal itu terjadi pada saya dan JUJUR, saya sangat salut terhadap teman saya tersebut, dengan segala keterbatasan situasi dan kondisi, dia bisa melalui hal tersebut tanpa ada kata pasrah dalam menjalaninya.. Saya hanya berpesan padanya, dalam mengambil keputusan tolong ingat anak2, dan suamimu tolong jangan sampai lagi salah pergaulan. Mulailah hidup baru dengan sakinah mawwadah dan warrahmah. Insya Allah pesan saya selalu diingat mereka..

Sebulan yang lalu, saya mampir ke rumah sahabat saya yang lain, kehidupannya cukup lumayan. Sudah mempunyai rumah sendiri, mempunyai kendaraan roda dua dan empat, dan yang saya lihat, mempunyai suaminya mempunyai posisi yang bagus di kantornya. Ketika saya sedang mengobrol dengan sahabat saya itu, salah satu anaknya tiba2 menyela pembicaraan kami, "ma, besok aku harus bawa laptop ke sekolah, gimana laptopku sudah dibenerin belum sama papa, kalo belum gimana nih.." Jawaban sahabatku "iya, nih mama telpon papa ya.." Sesaat kemudian sahabatku menelepon suaminya "pa, laptop gimana sudah dibenerin belum.. loh kok belum sih, benerin dong, kan mau dipake kaka besok disekolahnya. kasihan tuh kalo dia sampai tidak bawa laptop ke sekolahnya besok. Kalau ga bisa dibenerin terpaksa aku beliin yang baru aja untuk si kaka.. ya sudah, pokoknya nanti pulang sudah harus bawa laptop ya, oh iya pah sekalian besok aku mau bayar arisan RW yang besar, yang 1 juta itu loh pah..."

Pagi hari seminggu lalu saya ke pasar untuk berbelanja sayuran, pas sekali di sebelah saya ada sepasang suami istri sedang berbelanja beras, sang istri berkata " pak, beli berasnya yang bagusan ya, yang 350 rb sekarung, yang biasa harga 270 rb sekarung sudah tidak enak dimakannya.." " oh iya, sekalian stock susu si dede ya pak untuk sebulan.." Sang suami tersenyum getir sambil berkata " iya.." Sangat amat getir terdengar di telinga saya, apalagi untuk lelaki itu ketika mendengar perkataan istrinya. Saya menduga senyum getirnya pasti mengandung arti..

Ngomong-ngomong, saya jadi suka teringat permintaan-permintaan anak saya yang baru berusia 4 tahun. Kebetulan lingkungan rumah saya tidak ada warung kecil, jadi saya selalu stock makanan camilan untuknya selama 1 bulan. Tapi jika dia kebetulan lihat iklan, pasti merengek minta dibelikan. Kebetulan lagi, rumah saya dekat dengan salah satu swalayan, jadilah hampir seminggu 2 kali kami ke swalayan untuk sekedar jajan. Kadang jika keuangan saya sudah menipis, saya menjawab rengekan anak saya dengan " sabar ya, mami belum punya uang, nanti kalau mami punya uang pasti mami belikan dech.." Alhamdulillah anak saya (kadang) mengerti. Kadang saya juga suka SMS suami saya di kantor hanya untuk minta dibelikan makanan.. Kalau dipikir, berarti kelakuan saya hampir sama dengan anak saya yang berusia 4 thn..

Alhamdulillah sebagai ibu rumah tangga yang berusaha dari rumah (walau penghasilan tidak terlalu besar), saya tidak pernah merengek minta ini itu terhadap suami saya, karena pasti sebagian besar para bapak yang setiap pagi berangkat ke kantor turut juga membawa keresahan mereka, dari rumah hingga ke kantor. Keresahan tentang uang belanja yang kurang, susu anak yang sudah habis, iuran listrik dan air yang belum dibayar, iuran sekolah anak, dan hal lainnya yang membuat pusing kepala si bapak..
Sebenarnya berat sekali berada dalam sikon ini, karena sebelum berPROFESI sebagai ibu rumah tangga (kerennya FULL TIME MOTHER), saya (Astaghfirullah al'adzim bukan berbangga hati..) berPROFESI sebagai wanita karier yang berpenghasilan lumayan, bisa punya rekening tabungan pribadi yang tidak diutak atik oleh suami, bisa membantu keuangan keluarga, bisa membeli barang pribadi sesuai keinginan (bukan berbangga hati lagi, barang berBRANDED selalu di tangan..). Tapi karena terbiasa tidak meminta, sampai sekarang pun walau tidak berpenghasilan sendiri, Alhamdulillah saya JARANG meminta materi dari suami, alias APAPUN dan BERAPAPUN hasil dari keringat suami saya sendiri, saya terima, yang penting HALAL... Saya tidak mau keberadaan saya sebagai istri yang tidak berPENGHASILAN membebani suami saya.. Insya Allah akan lanjut seperti ini, amin..

Kembali ke topik, Sebagian bapak yang tangguh dan tidak ingin keresahannya diketahui anak istri pasti akan membuat ketenangan terhadap keluarganya, walaupun hal tersebut membuat degub jantungnya berdetak kencang dan berusaha mencari cara untuk menanggulangi keresahan tersebut.. tapi, ada pula para bapak yang tidak kuat iman, yang lemah dan tak kuasa menahan beban tersebut. Baginya hidup adalah neraka, hidup adalah penjara dan hidup adalah tuntutan hutang yang harus dipenuhi.. Penyelesaian MAUT lah yang dipilihnya, banyak bapak yang memilih menjerat lehernya dengan tali gantungan, banyak pula bapak yang rela melumuri tangannya dengan darah (menyilet nadinya sendiri), mengorbankan harta berharganya (yaitu keluarganya) hanya untuk keputus-asaan dan keegoisannya..

Namun ada pula para bapak yang rela melumuri tangannya dengan darah orang lain hanya untuk mendapatkan materi yang bukan haknya. Yang pada akhirnya perbuatan tersebut harus dibayar dengan berakhir di bui. Hal tersebut juga bisa menimbulkan dampak negatif bagi orang terdekatnya, yaitu sang anak dan istri yang tiada kunjung mendapat nafkah lahir bathin dari sang bapak.. Parahnya, ada pula anak istri yang menunggu dengan setia kepulangan sang bapak yang ternyata tidak kunjung datang, sementara entah dimana si bapak sedang meregang nyawa karena tidak kuat menahan sakit terhadap pukulan demi pukulan dari massa yang menyebutnya COPEEETTTT..

Ada pula para bapak yang dengan terpaksa menggadaikan keimanan dan kejujurannya dengan melakukan kecurangan kecurangan di kantornya. Istri dan anaknya tidak tahu bahwa makanan yang merekamakan berasal dari hasil rezeki yang tidak halal. Tapi, apakah benar rezeki tersebut tidak halal, padahal digunakan untuk menghidupi sang istri dimana dia sudah berjanji pada Tuhan untuk menjaga dan memeliharanya sampai maut memisahkan..? Digunakan pula untuk sang anak yang merupakan TITIPAN TUHAN, dimana harus dipelihara dengan baik juga..? Dalam hal ini saya (dan mungkin orang lain) tidak dapat menghakimi sang bapak yang memilih jalan ini, walau sebenarnya ini merupakan jalan yang MEMANG tidak baik dan tidak diridhoi oleh Allah SWT, tapi sekali lagi, ANAK MERUPAKAN TITIPAN TUHAN.... Insya Allah Gusti Allah memberikan jalan yang lurus bagi mereka dalam mencari rezeki yang halal, amin..

SUBHANALLAH.. diantara sekian banyak para bapak, saya salut dan kagum dengan bapak kandung saya yang tetap sabar dan gigih mencari rezeki untuk keluarga sampai akhir hayatnya.. Insya Allah, dengan dirimu pak, yang masih dalam keadaan suci dalam berwudhu dan kegigihan dalam mencari rezeki yang halal untuk kami, Allah memberikan JIHAD di jalan islam atas diirimu.. Amin ya Rab.. Allah maha melihat dan merasakan..

Rindu akan jawaban dirimu pak " iya, nanti bapak belikan.." kala kami anak-anakmu merengek minta dibelikan barang. Dirimu tetap sabar membawa keresahannya ke dalam rumah, tidak pernah menunjukkannya ke depan keluarga hingga membawanya kembali pergi keluar rumah, berharap ada rezeki lebih dari Allah SWT.. Sosok inilah yang kudapat pula dari suamiku, seorang suami yang (insya Allah) akan terus menyelesaikan segala keresahannya tanpa harus memberikan keresahan baru terhadap keluarganya. Karena para bapak ini masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Dan saya sebagai seorang anak, (masih) merasa menyesal dan bersalah karena belum membahagiakan bapak saya semasa hidupnya, dan akan terus mendoakan orang tua saya agar selalu hidup (dunia akhirat) dengan dilimpahi rahmat dan keberkahan oleh Allah SWT.

Dan sebagai seorang istri dan ibu, saya merasa masih belum sempurna dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu dari anak2 saya, padahal perjuangan suami saya yang pasti begitu terasa berat dan getir di luar rumah sana. Saya hanya bisa berdoa pada Allah agar suami saya terus diberikan keimanan dan kesetiaan untuk mencari rezeki halal agar saya dan anak2 saya bisa terus mendapat rezeki halal dari sang pencari rezeki.. Berdoa pula agar para bapak di luar sana yang juga mendapatkan kemudahannya dalam mencari rezeki halal bagi keluarganya tanpa harus mengotori tangannya dengan hal yang dilarang agama.. amin.. amin.. amin..

Wassalamualaikum,..


0 komentar:

Post a Comment