Breaking News

30 January, 2012

Tak Selamanya Malam


Hatiku berdebar membaca artikel dari sebuah situs. Disebutkan bahwa seorang anak yang lahir dari hubungan di luar nikah, akan dinasabkan kepada ibunya dan keluarga ibunya. Kucoba menghubungkan segala peristiwa yang terjadi padaku selama ini. Seluruh orang di keluarga besarku tak pernah mengaku siapa nama ayah kandungku. Tak ada yang mau memberi tahu dari mana asal lelaki yang paling bertanggung jawab akan hadirku di dunia fana ini.

Dua bulan lagi, tujuh belas tahun usiaku. Ya, bahkan sampai sebesar ini. Informasi itu begitu rapat tertutupi. Aku curiga. Hatiku dipenuhi prasangka.

Jangan-jangan Ibu sudah berbuat khilaf saat muda, hingga melakukan hubungan di luar batas agama, lalu hadirlah aku dalam rahimnya.
Ah, benarkah? Tidak! Bagaimana mungkin perempuan seshalihah Ibu melakukan hal itu. Tidakkah kerudung panjang dan sholatnya yang terjaga membentengi beliau dari semua praduga itu?
Hei! Ibumu juga manusia. Dia tak lepas dari khilaf dan dosa! Perang terus berkecamuk dalam batinku.

Maka untuk menepis segala buruk sangka, diam-diam aku menyelinap ke kamar Ibu. Kebetulan beliau sedang ada urusan di luar rumah. Aku leluasa membuka semua lemari yang memang tak pernah dikuncinya. Dengan cermat kucari dokumen yang kuinginkan. Aku harus menemukan akta kelahiranku sendiri. Dari sana fakta itu akan terkuak. Debaran jantungku kian terasa manakala selembar kertas bertuliskan Akta Kelahiran kutemukan.

“Astaghfirullah!” aku menjerit tertahan. Air mataku meleleh tiba-tiba. Dalam kertas itu dituliskan bahwa aku adalah anak seorang Ibu bernama Habibah. Sama sekali tak kutemukan nama lelaki di kertas berwarna gading itu.

Kumasukkan dokumen kembali ke asalnya. Setengah berlari aku kembali ke kamar. Tangisku meledak. Kuratapi nasib buruk yang menjelma kian nyata. Ingin rasanya aku bangun dan mendapati semua hanyalah mimpi akibat kekhawatiranku yang berlebih. Sayangnya aku benar-benar tidak sedang bermimpi. Aku terus menangis. Bermenit… berjam kemudian, hingga penat membelenggu, dan aku tertidur.

“Sayang, bangun! Kita sholat malam yuk, Nak!” suara lembut yang sama, setiap kali jam bergerak ke angka tiga.
Aku yang langsung tersadar bangkit tiba-tiba, menjauh darinya.
“Buat apa?” hardikku. Ibu mundur beberapa langkah, terkejut. Aku tak peduli dengan pucat wajahnya.
“Untuk apa, Bu? Putri sudah tahu faktanya. Ibu tak perlu menutupi semuanya!” teriakku diselingi tangis meledak.

Ibu mencoba mendekat, memelukku sebagaimana biasa, mencoba membenamkan kepalaku dalam dadanya. Aku berontak, berlari ke sudut kamar sementara Ibu terdiam ditempatnya.

“Mengapa Ibu begitu pandai menutupi semuanya? Kalau saja Ibu mau berterus terang dan mengatakan semuanya baik-baik, tak mungkin Putri sesakit ini, Bu!”
Ibu tetap diam, seperti biasa ketika masalah ini kutanyakan.

“Ibu sudah menghancurkan hidup Putri. Mengapa Ibu tidak menggugurkan Putri ketika masih dalam kandungan? Keputusan Ibu mempertahankan Putri hingga lahir ke dunia adalah keputusan yang naïf! Salah besar! Tahukah Ibu, betapa sakitnya hati Putri, Bu?” aku berteriak-teriak. Ibu tak bergeming.
“Oohhh! Sudah pasti Ibu tidak akan pernah merasakannya, karena Ibu lahir dari pernikahan yang sah!” lanjutku sinis.

Terus kumaki perempuan paruh baya itu.
Aku tak peduli air matanya yang menganak sungai.
Aku tak memberinya kesempatan untuk berbicara.
Aku tak mau ia membela diri karena itu sama sekali tak bisa mengubah takdirku.

“Sekarang apa yang harus Putri lakukan, Bu? Tak ada! Hidup Putri tak lagi bermakna. Tak ada masa depan buat Putri! Lebih baik Putri pergi dari sini. Biar Putri terlunta atau mati sekalian!” suaraku semakin meninggi.

Aku bergegas mengambil koper. Berjalan cepat menuju lemari, membukanya, memasukkan baju-baju tanpa menata. Pikiranku semakin kalut.

Tiba-tiba Ibu berlari mendekat. Memelukku cepat dan erat. Aku tak bisa melepasnya. Bajuku basah oleh banjir airmatanya.

“Putri, maafkan Ibu, Nak. Dengarkan dulu penjelasan Ibu. Setelah itu, Putri boleh memutuskan, untuk pergi atau tetap tinggal di sini,” serunya menghiba.

Aku, sekeras apapun hatiku, tak tega menolak keinginannya. Harap yang mungkin akan menjadi permintaan terakhirnya, sebelum perpisahan kami kemudian.

Kutinggalkan koper yang terbuka. Aku kembali menjauh, lalu duduk di kursi dekat jendela.

“Putri, Ibu tidak pernah berzina, Nak! Sungguh. Allah saksinya.”
“Lalu, Ibu mau bilang bahwa Putri hadir begitu saja?" kalimat sinisku masih terus membahana.

“Bukan, Sayang. Ijinkan Ibu cerita. Tolong dengarkan baik-baik,” pintanya.
Aku menurut.

“Putri ingat kan cerita masa muda Ibu? Ketika menjalani pendidikan guru agama dan tinggal di asrama?" suara itu sedikit tenang, meski tetap ada getar didalamnya. Getaran yang kueja sebagai rasa sakit yang teramat sangat.

“Malam itu, semua kawan Ibu menghadiri pengajian bulanan di aula asrama. Ibu tetap tinggal di kamar karena sedang tidak enak badan. Hampir pukul sebelas. Tiba-tiba seorang pelajar putra menyelinap ke kamar Ibu. Lelaki itu memaksa Ibu menyerahkan semua uang dan perhiasan, Nak. Naasnya, dia juga merenggut mahkota Ibu. Maafkan jika Ibu tidak kuasa menolaknya. Tubuh Ibu terlampau lemah, Ibu sedang sakit,” Ibu tertunduk, tergugu pilu.

Aku tak lagi bisa berkata-kata. Api dalam hatiku mulai padam.

“Lalu Ibu hamil. Ibu hancur. Semua impian Ibu musnah. Masa depan tak lagi Ibu miliki. Ibu membenci kelemahan diri Ibu sendiri. Ibu marah pada keadaan. Tapi kehadiranmu memberikan kekuatan baru bagi Ibu. Semua terjadi atas kehendakNya, Ibu yakin itu. Maka tak ada yang bisa Ibu lakukan selain ikhlas menjalani ketetapanNya. Tiga bulan kemudian, lelaki itu kembali datang menawarkan pernikahan, tapi Ibu menolaknya. Ibu memutuskan untuk menjagamu seorang diri, Nak. Ibu tak mau dosa ini terus menerus membayangi keturunan Ibu. Meski berat, Ibu harus siap menanggung semuanya,” lanjutnya.

Ibu mendekatiku kembali. Kali ini aku tak lagi menjauhinya.
“Putri, mengandungmu adalah anugerah. Setiap malam Ibu bermunajat, agar Allah selalu menjagamu. Menjauhkanmu dari kerasnya dunia. Memperlakukanmu dengan lemah lembut. Ibu yakin, Allah mendengar doa Ibu. Percayalah, Sayang, Dia tak akan membiarkanmu tersakiti akibat luka lama yang Ibu alami,” Ibu meraih tanganku, menggenggamnya, menularkan keyakinan kepadaku.

Kupeluk tubuh ringkih itu. Kufahami, betapa besar deritanya selama ini. Kini Allah, Sang Maha Pemurah telah mengangkat bebannya, meski ia harus kembali terluka oleh kata-kata kasarku tadi.

“Maafkan Putri, Bu. Sekarang Putri yakin, dengan restu dan doa Ibu, semua akan baik-baik saja. Kita hadapi semua berdua, ya Bu,” ujarku mantap.

***
Kupandangi foto pengantin yang terpajang di meja. Ada Ibu, keluarga besar suamiku dan kami berdua di sana. Kupalingkan wajah kearah lelaki yang kini pulas di pembaringan. Kuusap kepalanya perlahan. Syukur menyeruak dalam hati.

Allah Maha Pemurah. Dia buktikan bahwa kekhawatiran kami tak beralasan. Dia hadirkan mas Haidar dan keluarganya, membuka hati mereka agar mau menerima kami apa adanya. Berkahilah pernikahanku ini ya Allah. Aku akan selalu mensyukurinya, meski dalam prosesnya, aku harus berwalikan seorang hakim.














0 komentar:

Post a Comment