Breaking News

31 January, 2012

Surat untuk Bapak

 
Untuk bapakku tersayang,
Pak, apa kabarnya hari ini? Semoga hari ini bapak semakin baik. Akhir-akhir ini perasaanku terasa pilu. Akhir-akhir ini air mata ini sering mengalir mengingat bapak yang dulu sehat, ceria dan sering tertawa bersama anak-anakku kini terbaring lemah. Akhir-akhir ini sepertinya awan hitam selalu menggelayut diatas kepalaku.  Aku sedih  bapak terbaring lemah tak berdaya. Tubuh bapak, kurus tinggal kulit membalut tulang. Kemana otot yang dulu begitu perkasa memberi energi untuk  langkah bapak bekerja? Kemana lemak tubuh yang dulu melindungi tubuh dari kedinginan? Semuanya hilang digerogoti penyakit kanker yang ganas.
Dulu, bapak adalah seorang yang penyabar, murah senyum, ramah dan supel terhadap siapa saja. Mungkin itulah yang membuat masyarakat mempercayai bapak untuk menjadi Ketua RT untuk yang kesekian kalinya. Bapak amanah terhadap pekerjaan, mungkin itulah yang membuat masyarakat percaya pada bapak untuk mengelola koperasi dan menjalankan proyek PNPM pemerintah.
Dulu, jika bapak mendapatkan rejeki bapak pasti akan membawanya kerumah lalu aku, ibu dan adik-adik akan menyongsong bapak dan meminta bungkusan yang dibawa bapak. Dulu setiap bapak menerima gaji bapak akan membelikan kami makanan yang paling mahal. Ya, gepuk yang hanya bisa dibeli sebulan sekali setelah bapak gajian. Kami senang, kami gembira dengan perhatian bapak.
Dulu ketika aku SMA aku kesulitan belajar, bapak yang tidak bisa mengajariku mengajakku kerumah saudaraku yang jaraknya lumayan jauh, ditempuh dengan angkot. Malam-malam dengan setia bapak menemaniku belajar pada para sepupuku yang sudah kuliah. Dulu ketika aku harus operasi dirumah sakit, bapak dengan setia menemaniku. Dulu, begitu banyak yang sudah bapak lakukan untukku, tapi bapak tidak pernah meminta balas jasa.
 Bapak, aku sayang sama bapak, aku kagum sama bapak, bapak adalah sosok yang tidak pernah marah padaku, bapak begitu baik padaku. Bapak adalah sosok idolaku.
Dulu, bapak selalu bercanda, membuat aku, adikku, dan saudaraku yang lain tertawa-tawa ketika mendengar guyonan bapak. Tapi kini canda itu tidak ada, tawa itu tidak ada, senyum itu seakan hilang ditelan rasa sakit yang bapak rasakan.  Kini yang terlihat hanya senyum getir menahan sakit, wajah lelah karena kondisi yang lemah.
Pak,
Kami rindu tawamu, kami rindu senyummu, kami rindu candamu…
Bapak yang sabar,
Ketika sehat bapak dengan setia mengantarkan anakku pulang kerumah walaupun jarak rumahku dan rumah bapak cukup jauh.  Ketika sehat, bapak senang bercanda dengan anak-anakku. Dengan setia bapak menemani mamah yang ingin pergi membeli kebutuhannya.
Ingatkah bapak ketika razif dikhitan, dengan setia bapak menginap untuk mendampingi cucumu dikhitan? Razif pasti akan ingat kebaikan Abahnya.  
Tapi kini, bapak hanya terbaring lemah di kamar. Sesekali bapak meringis kesakitan. Sudah hampir 10 bulan bapak menjalani terapi untuk kesembuhan bapak. Semuanya bapak jalani dengan semangat untuk sembuh. Bapak yakin dengan ikhtiar dan doa yang sudah bapak lakukan. Bapak tidak ingin menyusahkan kami anak-anakmu. Bapak ikhlas saja ketika kami membawamu berobat. Yang penting bapak berusaha untuk sembuh, begitu katamu.
Bapak yang baik,
Aku dan adik-adik berharap bapak kuat menjalani ujian ini. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah untuk bapak. Allah ingin melihat sejauh mana bapak bisa bersabar menghadapi ujian ini. Bukankah anak sekolah pun menghadapi ujian jika akan naik kelas? Begitu pula setiap manusia yang dipilih Allah. Mereka pasti akan diuji. Jika orang lain diuji dengan anak-anaknya mungkin bapak diuji dengan kondisi fisik bapak.  InsyaAllah setiap rasa sakit yang dirasakan akan menjadi kifarat bagi dosa dan kesalahan kita, dengan catatan kita sabar dan ikhlas dalam menghadapinya.
Bapak yang disayang Allah,
Ingatlah selalu jika fisik hanya berperan sebanyak 10% saja terhadap kesehatan kita. Sedangkan sisanya adalah spiritual, emosi, dan mental kita. Selalu sapalah Allah disetiap waktu sholat. Sebutlah namanya disetiap saat. Hanya Dia yang bisa kita harapkan saat ini. Hanya Dia yang Maha menyembuhkan. Kanker bukan sesuatu yang sulit disembuhkan bagi Allah. Mintalah pada-Nya, berharaplah pada-Nya.
Bapak yang sholeh,
Syafakillah, semoga Allah memberikan kesempatan pada Bapak untuk menikmati kesehatan yang sungguh sangat nikmat dirasakan.  Semoga Allah memberikan umur barakah untuk Bapak. Amiin.
We love u, pak!  

0 komentar:

Post a Comment