Breaking News

25 January, 2012

SUNDEL BOLONG GANTENG


Siang menjelang Ashar kemarin, setelah seharian mengikuti pelatihan menulis bersama ibu2 IIDN korwil Tangerang yang smart, begitu sampai di rumah aku langsung merebahkan diri di kamar. Ternyata kamar kami sedang full house, eh full room ding. Anak-anak ngeriung  semua di situ, untel-untelan seperti gado-gado. Adnin tampak sudah lelap, Hurin masih sibuk dengan lappy di meja kerja, si Ayah tampak sedang pura-pura terlelap.

Begitu pintu kamar terbuka, Ayah langsung meletakkan telunjuk di mulutnya. Itu artinya dia minta aku supaya tenang tidak bersuara, karena dia sedang ngelonin dek Hibban. Tapi Hibban (2 tahun), begitu melihat aku membuka pintu kamar, matanya langsung terbelalak riang dan tersenyum manis. Weelha… percuma juga tuh Ayah pura-pura merem, lha wong yang dikelonin matanya masih bulat sempurna begitu.

Karena memang benar-benar lelah, aku ikut bergabung saja di tempat tidur. Jadi satu bed untuk berempat dengan urutan Hibban-Ayah-Aku-Adnin (untungnya gak jebol bed-nya, hihihi. Sengaja kutulis begini karena biasanya ada yang komen soal ini. Hufht). Mengikuti jejak Ayah, aku pura-pura merem, maksudnya supaya Hibban ikut merem.

Tapi dasar Hibban mungkin sudah gak ngantuk, dia malah mengajakku main cilukba dengan bersembunyi di balik badan ayahnya. Aku cuma menanggapi dengan senyum, tapi lalu berbalik menghadap ke Adnin, dengan maksud supaya Hibban diam dan tertidur.

Ternyata, dia malah menemukan ide baru, bermain ‘halang rintang’, berganti-gantian melompat ke antara ayah dan aku, berlanjut ke antara aku dan Adnin, balik lagi antara ayah dan aku, begitu seterusnya. Tak jarang loncatannya tidak pas benar dan mengenai tubuh kami. Huaa, sakit juga ternyata.

Lama-lama, mungkin ayahnya juga merasa sakit, lalu dia membangkitkan kecemburuan Hibban dengan memelukku, ”Ah, ngelonin ibu aja aah” . Efektif, karena  Hibban langsung nimbrung lagi antara aku dan ayahnya.

Segera tubuhku berbalik, memunggungi Hibban. Tubuh mas Anto juga berbalik memunggungi Hibban, dengan harapan jika dicuekin lama-lama Hibban akan tertidur. Lama tak ada suara, kupikir Hibban sudah mulai tenang. Tapi ternyata dia malah mendapatkan ’permainan’ baru lagi, memain-mainkan jarinya di kaos oblong ayah yang kebetulan ada sedikit bolong di punggung. Kuperkirakan, pasti Ayah kegelian, tapi ditahan saja karena takut Hibban jadi bersemangat main lagi.

Agak lama sepi tak ada suara, lama-lama kudengar suara, ”Breeett... breeett... breeett”. Waktu kutengok ke belakang, ... Astaga! Hibban rupanya mulai merobek kaos oblong ayah, berawal dari tempat yang bolong tadi. Dasar kaosnya juga sudah mulai kumal mungkin, gampang saja dirobek anak sekecil Hibban. Aku senyum-senyum sendiri, tapi tak berkomentar.

Rupanya, tak tahan menahan geli, ayahnya memutuskan untuk bangun. Kebetulan azan Ashar berkumandang. Begitu dia berdiri, aku tak tahan untuk tidak tertawa terbahak melihat si Ayah memakai kaos compang-camping, dengan sebagian besar punggungnya terbuka lebar. Melihat bentuk baju Ayah yang sudah tak keruan (tuh lihat saja di fotonya), kesannya seperti si Ayah baru saja mendapat perlakuan KDRT terkejam. Padahal pelakunya cuma anak batita :D

Hihihi, siang-siang kok ada sundel bolong nih, tapi sundel bolongnya ganteng euy :D

# Pamulang, 27 Juni 2011

kaos oblong yang bolong, hasil kreativitas dede Hibban :d










0 komentar:

Post a Comment