Breaking News

24 January, 2012

Suatu Pagi Dalam Kehidupanku


Tidak seperti biasanya pagi ini Ibu terlihat lesu saat ketiga buah hatinya dengan riuh rendah berebut meminta dilayani lebih dulu. Si sulung Cwiti Kiti sibuk dengan tas dan perbekalannya, membuat bahunya terlihat miring sebelah karena keberatan beban tas dibandingkan tubuh mungilnya. Dengan sabar sang Ayah mengambil alih beban itu dan menyampirkan tas Si Sulung ke pundaknya. Lain lagi ulah si Hani Banni yang ingin segera naik di motor bagian paling depan. Tanpa celana! Tentu saja Ibu yang sudah siap dengan celana panjang dan jaket segera menurunkan jagoannya dari motor. Tidak seperti biasa, Ibu tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat memakaikan celana dan jaket ke tubuh si Tengah, dan kemudian dibantu Ayah kembali menaikkan Si Tengah ini ke atas motor. Tempatnya sudah baku, bagian paling depan. Lalu si bungsu Lopi –Lopi yang ceriwis dengan kerudungnya yang menurutnya tidak pas, sudah merengek-rengek minta dinaikkan ke atas motor. Hmmm…, Revo yang tidak seberapa besar itu kembali lagi harus menunaikan tugas rutinnya setiap pagi, mengantar si Cwiti Kiti ke sekolah lengkap dengan pasukan pengawalnya. Hani Banni di bagian depan, lalu Lopi-Lopi yang diapit Ayah, dan kemudian Cwiti Kiti di bagian belakang. 

Salam cium tangan dan cipika cipiki dari ketiga buah hatinya pun tak membuat raut sang wajah sang Ibu sumringah. Masih terlihat sendu. Apalagi saat Ayah menyodorkan tangannya dan pipinya pada Ibu. Kalau hari biasa Ibu mencium tangan dan pipi Ayah dengan mesra, kali ini dilakukan Ibu dengan sekedarnya saja. Pun saat membalas lambaian tangan si Cwiti Kiti yang masih teriak-teriak, "I love u, Bun!" dari atas motor yang melaju meninggalkan pagar depan, sang Ibu hanya membalas dengan senyuman setengah hati. Padahal biasanya dia selalu menjawab, "Love you too, honey," pada putri kecilnya itu. Dan si Cwiti Kiti akan protes kembali padanya, "Bunda, aku bukan Honey. Aku Sweety Kitty. Yang Honey itu khan Abang!" lalu Ibu akan mengoreksi panggilan kesayangan untuk tiap-tiap belahan hatinya itu. Tapi kali ini berat bagi bibir Ibu untuk sekedar menjawab ungkapan kasih sayang putrinya. Namun tetap saja matanya memandang lajunya motor yang membawa seluruh belahan jiwanya itu sampai menghilang dari pandangan matanya. 

Sigh…. Si Ibu menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan sekali hembusan. Rutinitas sudah menanti. Saat memasuki pintu belakang, matanya tertumbuk pada remah-remah nasi goreng yang bertaburan di mana-mana. Hmmm, ini pastilah ulah si Hani Banni. Belum lagi tumpukan cucian piring dan perkakas dapur yang kotor. Lalu pandangannya beralih ke mesin cuci. Sama saja. Pakaian kotor pun menunggu jadwalnya, sama halnya dengan kasur yang bantal-bantalnya berserakan di sana sini, lantai yang kotor dan ah…, kepala si Ibu cenut-cenut memikirkan semua hal itu yg harus dikerjakannya. Beruntung dia tidak harus masak lagi setidaknya sampai menjelang sore nanti, karena untuk hal itu sudah selesai dikerjakannya sejak jam 4 pagi sampai menjelang si Cwiti Kiti berangkat sekolah. Hari ini semua perkerjaan rutin yang biasanya dikerjakan dengan iklash dan ringan hati, terasa berat karena mendung tebal yang bergayut di hatinya. Bukannya membereskan semua kekacauan itu, si Ibu malah memilih menyeduh kopi dan duduk di depan komputer. 

Pun di depan komputer si Ibu hanya duduk termangu. Jari-jari yang harusnya mengetik rangkaian hurup yang membentuk kata, seterusnya kalimat, seterusnya paragrap, dan seterusnya… seterusnya…, malah hanya mengetuk-ngetuk meja komputer dengan irama yang tidak beraturan. Sementara pandangan matanya menatap ke dinding kaca di depannya, yang membatasi ruang kerja sekaligus ruang tamu itu dengan taman samping. Dan sampai uap panas dari gelas kopi yang diseduhnya tadi berangsur menipis, si Ibu tidak juga mengetikkan bahkan satu huruf pun!

"Gumbrang!!" 

Akhirnya tersentak juga si Ibu dari lamunan tak bertepinya. Suara riuh itu datangnya dari dapur. Si Ibu bangkit dengan kesal. Kucing tetangga yang tak terurus itu pasti membuat ulah lagi, mencari-cari sisa makanan di atas basin cuci piring. Sampai di dapur, pandangan matanya membuktikan dugaannya. Si kucing hitam tanpa wajah bersalah memandangnya dari atas meja dapur. Tentu saja si hitam rakus ini tidak menemukan apa yang dicarinya. Si Ibu seperti menemukan alasan untuk menumpahkan galau hatinya. Di ambilnya sapu dan dipukul-pukulkannya gagang sapu itu ke lantai (sebab si Ibu walau tidak suka kucing, bukan pula suka menyiksa hewan).

"Hush, hush, pergi sana. Hari ini aku tidak masak ikan, tau! Awas ya kalau ada perkakasku yang pecah lagi kau buat!' 

Keluar juga logat Medan si Ibu walau sudah hampir 8 tahun dia tinggal di Bogor. Jurus andalannya itu(selain gaya bahasa hiperbolanya; itu menurut Ayah) selalu dia keluarkan kalau si Hitam sudah datang. Entah sudah berapa ekor ikan berhasil dilahapnya dalam kurun waktu 1 bulan ini. Belum lagi hampir setengah lusin gelas kotor yang dimasukkan dalam baskom di atas meja cuci piring yang pecah karena ulah si Hitam. 

Eh sudah begitupun si Hitam sepertinya menantang. Walau sudah turun dari meja cuci piring, tetapi dia tetap bertahan di dapur. Hmmm, Si Ibu masih punya senjata andalan lainnya, segayung air! Kali ini ancaman itu terbukti ampuh. Si Hitam terbirit-birit kabur memanjat tembok belakang begitu melihat gayung. Soalnya ini bukan yang pertama, dan kiranya si Hitam sudah hafal tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan si Ibu pada dirinya.

Si Ibu menarik nafas dan menghembuskannya dengan sekali hentakan. Eh dia tercekat, dan berfikir. Agaknya, pagi ini dia sudah dua kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya keras-keras. Yang pertama penyebabnya adalah suaminya, yang kedua karena si Kucing Hitam pencuri ikan! (Padahal Si Hitam itu sering dikasih makan lho sama Si Ibu…). Ingatan yang lain menyeruak masuk ke benaknya. Kopi yang sudah hampir dingin!

Kembali lagi ke meja kerja dengan komputer yang masih menyala di depannya. Tentu saja sebelumnya Si Ibu menutup pintu dapur, tidak memberikan kesempatan gratis lagi buat Si Hitam mengobrak-abrik dapur tanpa sepengetahuannya. Kali ini tangan Si Ibu sudah memgang gelas kopi yg tdk lagi panas, dan langsung meneguknya dengan sekali tegukan. Begitulah cara Si Ibu minum kopi kalau pikirannya lagi ruwet. Dan yang pasti ini orisinal caranya pribadi, bukan cara orang Medan.

Bosan dengan komputer yang menyala tanpa aktivitas, si Ibu mulai membuka program VLC Player. Untunglah ada You Tube, jadi dia bisa down load lagu-lagu jadul yang dulu dia sukai. Kali ini pilihannya adalah "I Need to Know-nya Marc Anthony. Kalau lagi moody Si Ibu memang tidak akan memilih lagu-lagu yang mellow, justru sebaliknya. Pilihannya ini membuat semangatnya naik kembali. Musiknya yang asyik membuatnya serasa ingin bergoyang. Kalau saja ada si Lopi-Lopi, pastilah sudah diajaknya dansa yo dansa. Kalau di dalam rumah, dan dengan anak sendiri, enggak apa-apa khan menghibur hati dengan menari. 

Lagi asyik membayangkan menari dengan Lopi-Lopi, tiba-tiba, "Gubraaakkk!!"

"Ya Allah, apalagi nih," keluh si Ibu kesal sembari beranjak ke dapur. Tidak ada yang aneh dengan suasana dapur. Masih berantakan seperti semula saat ditinggalkan. Tetapi suara kucing yang menggeram sahut menyahut begitu jelas. Datangnya dari kamar mandi. Begitu pintu kamar mandi di buka, pemandangan tak elok langsung menyergap matanya. Salah satu bagian atap plafon sudah terlihat menjuntai di langit-langit kamar mandi. Runtuhan dan serpihan kayu bertebaran di lantai kamar mandi, selain mengotori lantai, juga menimbulkan bau debu yang memenuhi udara. Terasa pengap. Belum lagi suara 2 ekor kucing pejantan yang lagi saling mengancam. Kali ini emosi si Ibu sampai ke puncaknya. Kembali gagang sapu jadi andalannya. Kalau sudah marah besar, Si Ibu justru tidak mengeluarkan suara. Mulutnya terkunci rapat. Hanya tangannya yang sibuk menghentak-hentak gagang sapu itu ke dinding kamar mandi. Dua kucing pejantan itu pun akhirnya terbirit-birit kabur sebelum kena sabetan gagang sapu!

Kali yang ketiga si Ibu menarik nafas panjang dan mengeluarkanya dengan sekali hentakan. Matanya menatap keseantero ruangan. Rumah mungil yang luasnya hanya 60m2 itu terasa sangat sumpek dan kotor. Piring dan perkakas dapur yang memenuhi basin, baju-baju yang menumpuk di mesin cuci, lantai kotor dan kamar-kamar yang berantakan. Mata si ibu beralih ke jam dinding di ruang keluarga. Astaghfirullah!! Tak terasa hampir satu jam berlalu sejak keberangkatan ayah dan anak-anaknya ke sekolah si Cwiti Kiti. Dalam hitungan menit, Ayah, Hani Bani, dan Lopi-Lopi akan segera tiba kembali di rumah. Dan Si Ibu belum ada melakukan tugas rutinnya. Walau Ayah tidak pernah marah kalau moody Si Ibu lagi kumat, tetapi Ibu selalu tahu diri dengan tanggung jawabnya. Ada perasaaan bersalah mengalir di hati si Ibu karena telah melalaikan waktu untuk hal yang sia-sia. Teringat si Ibu akan surat al-Ashr. Berulang-ulang Istighfar, Si Ibu menguatkan tekad. Target ditetapkan, semua beres dalam 2 jam. Seperti yang selalu biasa dilakukannya. Walau tanpa pembantu, everything under control. Begitu semboyan si Ibu sejak pembantu terakhirnya berhenti dengan tidak hormat 2 bulan yang lalu.














0 komentar:

Post a Comment