Breaking News

31 January, 2012

Suamiku, Izinkan Aku... Silaturahim


*catatan sang baby writer ^_*

          Suamiku, terlalu banyak anganku membuncah akhir-akhir ini. Ingin sekali rasanya aku memuntahkannya satu persatu. Semua rasa yang telah aku pendam sekian tahun pernikahan kita.

          Jujur aku sering bertanya-tanya dalam hati, sejak awal pernikahan kita. Kenapa kau tak pernah mau aku ajak berkunjung ke teman-temanku, sahabat-sahabatku. Atau sekedar menghadiri undangan mereka, bertatap sebentar saja raut-raut mereka. Setelah itu, ajaklah aku kemana kau mau.

          Suamiku, kau kan sangat tahu pergaulanku seperti apa. Aku tak pernah ngeyel bergaul yang aneh-aneh baik dimasa sendiriku dulu, atau setelah beakhir bujangku.

          Hampir genap 9 tahun aku menemanimu, memupus semua harapan-harapanku bersua sahabat-sahabatku. Katamu, kau enggan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Enggan? Mungkin aku bisa memahami rasa ‘enggan’ mu itu. Kau enggan karena belum banyak perubahan dalam hidupmu. Kau enggan karena telah meninggalkan halaqohmu sekian lama. Aku maklum suamiku, sangat maklum. Mari kita sama-sama memperbaiki kualitas diri kita, hingga kau tak kan lagi enggan dihadapan manusia sama sepertimu. 

          Suamiku, tahu kah kau, bahwa sahabatku adalah jiwaku, selain engkau tentunya. Aku sangat menyayangi mereka, semoga tetap dijalur-Nya. Seringkali ketika rindu menyergap aku hanya bisa membayangkan wajah-wajah mereka dibenak ini. Lega rasanya ketika tetesan bening telah keluar deras membasahi pipi. Itulah rasa yang ku nikmati selama ini, entah kau sadar atau tidak.

          Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati yang ku taburi dengan kasih sayang, ku pupuk dengan penuh rasa terima kasih. Dan dialah naunganku, karena ku menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa memerlukan kedamaian.

          Sahabatku selalu ada saat ku sendiri dulu, mereka menemani setiap jejak langkahku, setiap alir nafasku. Dukaku, senangku. Hampir 9 tahun aku mengabaikan rasa mereka, demi kau suamiku. Aku terus mencoba memahami adamu, rasamu, hingga ke pikiranmu. Semoga kau pun kini memahami rasa dan inginku.

          Suamiku, kini saat yang tepat rasanya untuk ku mengungkapkan isi hati ini. Aku rindu sahabat-sahabatku. Izinkan aku menemui mereka.*

Suamiku tak banyak bicara. Alhamdulillah akhir-akhir ini ia mau menemaniku menemui sahabat-sahabatku satu persatu. Semoga itu menjadi catatan amalmu juga sayang. Menyambungkan tali silaturahim kami. Aamiin Allohuma Aamiin.









0 komentar:

Post a Comment