Breaking News

26 January, 2012

Si Pecandu Dagang



“Ga capek tuh, sudah lah ngantor dari pagi sampe sore, malah dagang lagi..” komentar temenku waktu ngeliat aku bongkar bagasi ngambil tas sekolah yang tinggal 22 pcs lagi untuk ku jual lagi.
“ngga kok, aku menikmatinya” jawabku sekenanya.

Sore ini ada dua temenku yang janji  datang ke rumah,  mau beli tas sekolah buat anak-anaknya.
Satu lagi temenku datang waktu aku lagi ngangkut tas dari bagasi.. “wah, dagangannya dibawa-bawa terus ya? Dibawa kemana aja?”

“iya, ini dagangan ikut kalau aku pergi ke kantor, pengajian, bahkan pulang kampong sekalipun, ya dimana ada komunitas yang sekiranya bisa dijadikan pembeli “ :D

Aku mengambil momen tahun ajaran baru untuk menjual tas sekolah karakter anak muslim. Setelah sebelumnya survey, tas serupa belum dijual di kota kecilku ini.

Untuk dua temenku tadi, mereka masing-masing membeli 3pcs tas untuk anak-anaknya. Alhamdulillah hari ini laku 6pcs.

Harga yang ku jual persis dengan harga retail yang dijual di pabriknya sono. Aku cuma mengambil untung di margin diskonnya saja. Dan untuk mereka yang ngambil tas lebih dari 2pcs masi ku diskon 10% lagi.

Untuk mereka yang mau jadi resellerku, aku memberikan diskon 20% dari harga retail. Aku pake sistem konsinyasi. Jadi reseller ga butuh modal untuk menjual barang daganganku.

Ini baru satu macam barang dagang yang baru saja aku geluti, memasuki tahun ajaran baru ini.
Lainnya? Ada gamis, baju muslim anak, ini biasanya aku ngambil momen jelang ramadhan dan lebaran. Selebihnya aku menjual pakaian anak dan peralatan tempur untuk ibu menyusui yang bekerja dan pengen anaknya lulus asi eksklusif.
Untuk yang terakhir, aku menjual barang by order saja.

Melihatku sukses asi eksklusip untuk anak kedua kemarin, temen kantorku pun satu dua mulai mengikuti, dan mereka mesen peralatan tempurnya itu di aku. Belum lagi temen cowokku yang juga mau istrinya memberikan asi eksklusif untuk anaknya. Mereka ini juga order barang di aku. Dan kemudian berentet ke temen ngajiku, temen seangkatanku, tetangga, dan seterusnya.
Alhamdulillah, aku menggeluti bidang yang aku mencintainya.

Aku begitu bersemangat berbicara tentang “ASI”, dan mencoba mengambil peluang bisnis terhadap kecintaanku ini.
Sekarang , tidak jarang aku mendapat telepon dari temen-temenku yang menanyakan perihal “ASI” ini, seperti..”asi perah yg sudah dihangatkan terus tapi habis diminum bayi mesti dibuang ya?, atau masi bisa diminumkan lagi? Jangka waktunya berapa jam?”
Atau “mati lampu niyh, gimana nasib asi perahku di kulkas ya, kalau mencair gimana?” dan pertanyaan seputar “ASI” lainnya.

Jujur aku seneng banget meladeni pertanyaan serupa itu. Dan tentunya senang dengan keinginan temen-temen yang tetap ingin memberikan asi  eksklusif untuk anaknya. Semakin banyak yang tau ilmunya, semakin banyak juga anak-anak yang mendapatkan haknya. Alhamdulillah,.

Sekarang, dagang ini seperti candu bagiku. Mengingat awal mula aku berani dagang dengan modal 2 juta-an saja. Oh, bukan.. bukan aku yang berani, tapi suamiku yg menceburku ke dunia bisnis kecil-kecilan ini. Dia yang awalnya order barang, dan aku dimintanya untuk memasarkan.

Aku gugup, ga berani nawarin dagangan ke temen, kalau ga ada yang mau gimana, atau gimana sih caranya mulai nawarin dagangan, ah.. aku ga punya ilmunya. Ga mau ah, malu.
.
Suami sih ga maksa kalau aku ga mau, cuma akunya yang risih, masa iya orderan senilai dua jutaan itu numpuk di rumah. Kasian duitnya dong, mandeg.
Akhirnya, bismillah.. medio september 2008 itu aku mulai berdagang, ya.. jualan.
Pasarku itu cuma temen kantor, beberapa temen seangkatan, temen ngaji, tetangga, sama keluarga besarku sendiri.

Dan, hasilnya..? Alhamdulillah… sampai sekarang aku jadi candu sama yang namanya “jualan” :D
Aku jadi ingat di acara perpisahan Play Grup-nya anakku yang dihadiri anak-anak beserta orangtuanya. Pagi sebelum berangkat, semua barang dagangan aku masukin ke bagasi mobil. Ada T-shirt anak, baju muslim, celana anak, jumper, legging bayi, sepatu bayi, clodi, dan setengah lusin gamis.

Ketika agenda acara perpisahan selesai, dan waktunya nyantai, mulailah aku beraksi.. beranjak menuju bagasi mengambil barang dagangan. “Ga usah aja lah mi, momennya ga pas” celetuk suamiku.
“ga pas gmn? Gapapa ah,.. tadi udah bisik-bisik sama mamanya Ipah, katanya dia mau liat celana untuk anak-anaknya”

Makin kesini, malah akunya yang makin ke-PD-an :D

Dan tarrrrrrraaaaa…. “ibuibu yang mau cuci mata.., ini ada pakaian anak-anak, siapa tau ada yang berminat..” ujarku bersemangat sambil membuka “lapak”.

Alhamdulillah hari itu terjual  2pcs T-shirt, 2pcs celana jeans, dan 2 setelan pakaian muslim.
Ah iya, aku hampir lupa ngasi tau rahasia supaya dagangannya laris manis.

Rahasia ini melebihi kekuatan dukun manapun dengan jimat “penglaris”nya.
Mengikuti penulis buku yg merangkum rahasia ini.. maka aku juga menirunya, dengan menamai rahasia ini dengan “tiga koin keberuntungan”
Yaitu, “sedekah, dhuha dan tahajud”

Aku sudah membuktikannya. Berhasil, bahkan lebih cepat dari yang ku prediksikan. Subhanallah,..
Untuk lengkapnya ibuibu bisa langsung membaca buku-bukunya Ippho Santosa. Ga ngiklan loh, aku ga dibayar kok untuk merekomendasikan buku yang satu ini.

Buku itu aku dapat dari suami, dihadiahkannya untukku. Untuk urusan dagang ini aku mendapat dukungan penuh dari suami, ga jarang sebagian daganganku juga ikut dibawa ke kantornya dia, untuk ditawarkan ke temen-temennya.

Bagaimana ibuibu, tertarik kah untuk ikut berjualan…? Yuuuuk….


Lhokseumawe, 07 Juli 2011