Breaking News

30 January, 2012

SELOP




Dewi K (deka)

Kalo ibu harus dateng ke wisudamu pakai selop, lebih baik ibu tak usah dateng. Takut keserimpet. Kalo kamu malu ibu dateng pakai sandal teplek, biar uwa mu saja yang ngewakilin ibu ya……

Rasanya jantungku berdetak keras, hatiku sakit oleh rasa menyesal. Kalimat dibagian surat ibu itu sederhana tetapi dibalik itu aku tahu jika aku telah menyakiti hati ibu. Air mata menetes di pipiku, aku membaca istigfar. Aku telah menyakiti ibu yang sangat berjasa dalam hidupku. Yang telah mengorbankan jiwa raganya untukku. Maafkan aku ibu…, Ya Allah, ampuni aku...yang telah menyakiti hatinya. Setelah menghapus air mataku, bergegas kurapikan tas, aku harus pulang, aku harus sungkem pada ibu.

Di kereta, kenanganku tentang ibu berkejaran. Dibalik aroma tubuhnya yang selalu masam karena setiap hari bergumul dengan sayuran, ibu adalah sosok yang ceria. Selalu penuh senyum dengan cerita yang selalu seru. Aku ingat, semua ceritanya selalu membuat kami terpingkal padahal semua itu hanya cerita sederhana yang dialaminya di pasar tempat ibu berjualan. Kadang soal salah kembalian, salah memberi sayuran yang diminta pelanggan, tomat yang bonyok karena kedudukan atau sisa-sisa sayur layu yang tak laku. Semua itu jadi cerita seru ibu pada kami sehari-hari.

Ya, ibuku hanya pedagang sayur yang membuka lapak sederhana di pasar di desa tempat kami tinggal. Tetapi semangatnya begitu besar. “ Kamu harus jadi sarjana, ibu mau dateng ke wisuda mu nanti ya. Bangga sekali ibu melihat mu pakai..apa tuh namanya…oya,toga…kayak anak Pak Lurah..Pak Camat…semua jadi sarjana, supaya kamu biar anak tukang sayur..jadi sarjana.”  Aku tersenyum, “ Ya bu, aku janji akan membuat ibu bangga, nanti fhoto wisudaku di pajang ya bu.” Ibu tertawa. “Pasti, di ruang tamu, ibu pajang yang gede ya.” Serunya penuh semangat dengan mata melotot lucu.

Ibu sendirian membesarkan aku dan kedua adikku karena ayahku pergi bekerja ke kota dan tak pernah mengabari hingga aku dewasa. Kami tak pernah tahu kemana ayah pergi. Aku ingat, dulu ayahku bekerja di kantor kecamatan ketika aku SD. Setelah itu, ia pamit mau mencari pekerjaan yang lebih baik, itu terjadi setelah ada beberapa pemuda yang datang ke desa kami. Sepertinya, ayah tergoda mendapat penghasilan yang lebih besar. Ibu berusaha menyembunyikan kesedihannya. Namun, aku tahu dari sorot matanya ia menyimpan kesedihan. Setiap aku tanya kapan ayah pulang jawabnya selalu, “ Doakan  saja bapakmu sehat dan kembali pada kita suatu saat.” Hingga, aku tak berani lagi bertanya dan kami tak pernah membahasnya. Aku tahu ibu selalu berdoa untuk ayah…demikianpun aku, disetiap habis shalatku. Semoga kita suatu saat dapat berkumpul seperti dulu.

Aku meremas tanganku, kembali mengusap air mata yang terus menetes sepanjang perjalanan. Bagaimana mungkin keringat ibu setiap hari harus kutukar hanya oleh sepasang selop. Bagaimana mungkin kebahagiaan ibu lebih penting dari itu. Aku ingat, setiap hari ibu bangun dini hari. Setelah membereskan dagangan dengan bakul, mengendong sayuran. Dengan gerobak sewaan, ia menuju pasar. Jika libur sekolah,aku ikut membantu ibu berjualan di pasar. Dapat kubayangkan betapa berat hari-hari yang ibu jalani setiap hari. Namun, tak pernah sekalipun dari bibirnya keluar keluhan. Di pasar dengan sigap, ia melayani pembeli hingga petang dan kembali setelah sedikit sayuran yang tersisa.

Semangat itu tak pernah padam hingga aku lulus SMA. Sesuai dengan cita-cita ibu, aku kuliah di kota. Dengan binar dimatanya yang menyala ia mengantarku ke kota kerumah uwa ku. Kakak ibu yang tinggal di kota ini mengijinkan aku menumpang di rumahnya. Uwa sangat baik, ia memperlakukanku seperti anaknya tetapi ibu selalu mengirimi aku uang selama kuliah untuk berbagai keperluan. Sesekali di sela liburan kuliah, aku menengok ibu. Pertanyannya selalu, “ Kapan kamu lulus, ibu tak sabar kepengen lihat kamu di wisuda.”  Ibu memang tak paham soal waktu perkuliahan ketika kubilang,”Sabar bu, masih 50 SKS lagi.” Ia mendelik, “ Apa  SKS itu? Sudah tak usah dijelaskan tambah bingung.” Tawa kami berderai.
Akhirnya aku lulus. Dengan bahagia kabar ini kusampaikan pada ibu. Kami berpelukan, ibu menangis tersedu. Wajahnya berubah saat aku memberikan bungkusan yang berisi kebaya, kain dan selop. Semua itu kubeli di kota untuk ibu pakai saat aku wisuda. Sengaja, sebelum pulang kemarin aku berkeliling untuk membeli semua ini. Aku pikir ibu akan senang. Disaat istimewa tentu harus mengenakan pakaian yang istimewa juga.

“Kalo kain dan kebaya ibu mau pakai, tetapi selop ini ibu tidak mau.” Katanya sambil mengamati selop yang dipegangnya. Selop hitam bermute itu tampak serasi dengan kebaya merah cabe pilihanku.” Lho, kenapa tidak mau, bu? Kan, bagus…ini cocok sama kebayanya.” Tanyaku bingung. “Ibu gak pernah pakai kayak gini, ribet. Nanti keserimpet, ibu jatuh.” Tambahnya “ Kalo tidak mau pakai ini, lalu ibu mau pakai apa?”
Ibu mengeluarkan sandal teplek hitam yang kusam.” Ini aja, kemarin ibu beli di pasar. Sama warna hitam,Enak dipakainya empuk. Kaki ibu sakit pakai selop tinggi begitu.” Jelas ibu. “ Jelek begitu sandalnya,malu bu…”  Ibu terdiam dan meninggalkanku.

Perdebatan itu tidak selesai hingga aku kembali ke kota untuk mengurus ijazah dan lainnya. Aku sudah melupakan itu hingga kuterima surat ibu. Rupanya kata-kataku melukai hatinya. Tak sabar aku ingin segera tiba dan memeluk ibu, memohon maaf dan berkata. Terserah ibu mau pakai apa saja, yang penting ibu datang saat wisuda. Kami bisa berfhoto dan dipajang di rumah seperti impian ibu.

Dengan setengah berlari aku membuka pintu, air mata berderai di pipiku, aku berteriak…,”Ibu……………….”  Namun, aku tercekat. Ibu sedang melenggak-lengok dengan selop hitam pemberianku. Wajahnya cerah dan dengan tersenyum ia berkata.”Ibu jadi pakai selop ini aja ya ke wisudamu. Dari kemarin ibu latihan pakai selop, ternyata bisa. Nih,lihat.udah nyaman ha…ha..ha.” tawanya lebar. “Tapi ibu kirim surat tidak mau datang” kataku heran.” Iya, tadinya begitu,tetapi setelah ibu pikir masa ibu tidak datang.kan ibu mau melihat kamu di wisuda.” Jelasnya lagi. “ Ibu boleh pakai apa saja bu, mau pakai sandal teplek juga tidak apa-apa, asal ibu datang.” Isakku
Ibu memelukku erat dan aku tak ingin melepaskannya lagi.

(berdasarkan cerita seorang teman)

0 komentar:

Post a Comment