Breaking News

30 January, 2012

SELAMAT MENEMPUH UASBN, PUTRIKU...


Ini coretan saya kemarin, mengiringi putri sulung yg UASBN. Jika ada masukan, terima kasih :)


Malam tadi, malam yang kuciptakan serileks mungkin, karena hari ini sampai 3 hari ke depan, kakak Hurin akan menghadapi UASBN, ujian nasional untuk anak kelas 6. Upaya mendampinginya belajar kemarin2, kurasa cukuplah. Tapi tidak perlu belajar malam ini, ngobrol-ngobrol ringan saja dan tidur agak awal. Juga tentu mengingatkan untuk berdoa pada Nya.

“Bu, kalau nilai UASBN-ku 26 lebih, atau ke-3 pelajarannya nilainya 8 lebih, aku mau bernadzar puasa, boleh?” Tanya kak Hurin, kemarin petang.
“Oh, Subhanallah, tentu saja boleh. Nadzar puasa berapa hari?”
“Satu hari aja sih. Tapi salah satu target itu tercapai, aku tetap puasa”
“Maksudnya, kak?”
“Iya, tadi kan mau nadzar kalau UASBN nya 26 ke atas., atau nilainya diatas 8 semua. Jadi, kalau kurang dari 26 tapi nilainya di atas 8 semua, juga tetap puasa” katanya menjelaskan.

Tiba-tiba, rasa haru menyergap hatiku. Subhanallah, gadis kecilku sudah berpikir dewasa sekarang, bahkan saat tanda2 baligh secara biologis belum terjadi pada dirinya.

Lalu, malam harinya, menjelang tidur.
“Bu, manfaat sholat tahajud itu sebenarnya apa sih?” tanyanya lagi
“Ooh, banyak kak. Itu sunnah yg utama. Lagi kan malam hari sepi, jadi kita enak berdoanya” jawabku.
“Aku pingin sholat tahajud bu, biar UASBN-ku sukses”

Kembali aku disergap haru biru. Subhanallah, Engkau lah yang menggerakkan hatinya, ya Rabb…
“Oya,? Bagus itu. Kalau gitu, HPnya dipasang alarm jam 3-an, biar bisa bangun”
“Tapi…. kan aku suka susah bangun bu, biar sudah pasang alarm. Gimana dong? Lagian kamarku di atas, mau wudhu dan sholat mesti ke bawah” ujarnya, tampak ragu.
“Emm, gini aja. Sementara kakak pindah di bawah. Kamar depan kan kosong. Biar ayah atau ibu bisa memastikan kakak benar2 bangun untuk tahajud. Gimana?”
“Iya deh..”


Dan malam tadi, ternyata tak cuma kak Hurin yang ikut bertahajud, tapi juga adiknya Adnin, yang dasarnya mudah sekali terbangun jika ada suara berisik, pun ikut sholat tahajud. Adnin bahkan ikut sholat subuh ke masjid bersama ayahnya. Alhamdulillah.

Jadi ingat masa kecil sendiri. Seusia Adnin waktu itu, klas 3 SD, sudah menjadi rutinitas ikut ibu sholat subuh di masjid dekat rumah. Suatu hari, aku bangun geragapan, kesiangan. Menyadari subuh telah lama lewat, aku menghampiri ibu. Lalu beliau menjelaskan, pagi itu aku sengaja tak dibangunkan karena ibu melihat kemaren aku sangat kelelahan dan tidur larut malam, tak tega. Tapi, mendengar penjelasan ibu, bukannya aku memahami, malah tetap menangis, kecewa, karena tak bisa ikut jamaah sholat subuh seperi biasa. Maafkan aku ibu… menuntut hal yang tak pada tempatnya :(

Rabbi, semoga rutinitas ibadah yang seperti ini pun bisa kubudayakan di keluarga kecilku, kini.

Dan, pagi tadi, usai sholat subuh, aku sempatkan tilawah beberapa halaman. Tak lama kemudian, kulihat, Adnin menenteng Qur’an-nya ke kamar. Sambil diseling minum susu coklat kesukaannya, ternyata dia ikut tilawah juga.
Aku tersenyum melihatnya. Kembali terharu.

Lalu, saat aku mengangkat dede Hibban yang mulai terbangun, kak Hurin mendekatiku, bertanya, “Bu, al Ma'tsurat dimana?”
“Oh, kakak mau baca? Ada di tas ibu tuh. Sini2 kita ma’tsuratan bareng aja”
“Ibu sudah hafal? ” tanyanya
“insya Allah” jawabku sambil tersenyum.
“Aku baru setengah hafal, Jadi harus sambil lihat” kata kakak.

Sejurus kemudian, berdengunglah suara ibu dan anak ini mengucap kalimah demi kalimah dzikir alma’tsurat. Syahdu terasa di hatiku. Terus terang, baru kali ini aku matsuratan berdia dengan putriku ini, justru di pagi menjelang dia akan berangkat ujian.

Baru setengah jalan berma'tsurat jama'i, Adnin yang baru selesai tilawahnya, masuk ke kamarku, dan kuajak ikut bergabung sekalian membaca al-matsurat sebisanya. Bagi Adnin, ini memang agak asing, tapi semoga lama2 terbiasa.


Pagi ini, terasa penuh jiwaku ini dengan rasa haru. Keajaiban pagi hari yang begitu indah telah kurasakan, mengalahkan hidangan selezat apa pun yang telah tersedia di meja makan. Terbukanya pintu hati seorang anak, 'hidangan' nikmat apa lagi selain hal itu?

Melihat niat dan kemauan dari dua gadis kecilku , dengan inisiatif sendiri, melakukan selama ini yang mungkin mereka lihat pada orang tuanya. Tanpa paksaan, bahkan tanpa ajakan. Murni inisatif sendiri.

Rabbi, ampuni aku jika aku belum bisa menjadi contoh yang paripurna bagi mereka ....

Betapa anak-anak membutuhkan banyak contah keseharian, yang kemudian hal itu akan masuk dalam jiwa mereka, menjadi azzam yang kuat, bahkan tanpa mereka sadari.


Hingga momen UASBN seperti ini bukan menjadi momen yang tegang menakutkan, tapi menjadi momen syahdu penuh ibadah, pasrah pada ketentuan-Nya, setelah ikhtiar basyariah coba dikejar pada beberapa waktu sebelumnya.

Duhai putriku
Pergilah dengan tenang ke sekolah
Hadapi soal2 di depanmu dengan ketelitian
dan penuh kejujuran
setelah upaya tak kenal jemu
dan doa panjang tiap waktu

Kini saatnya ayah ibu pasrah
akan taqdir-Nya untukmu
apapun itu
Insya Allah, Dia tak akan mengecewakan hambaNya
yang telah giat berusaha

Selamat ujian anakku, doaku menyertaimu

#pamulang, 10 Mei 2011



0 komentar:

Post a Comment