Breaking News

25 January, 2012

Sekuntum melati dari tiga lelaki


Ada tiga orang lelaki, yang begitu penting dan sangat berarti bagiku. Ada tiga orang lelaki yang sangat mencintaiku. Ada tiga orang lelaki, yang masing-masing memiliki tempat terbaik di dalam hatiku.
Ada tiga orang lelaki, yang berjuang demi kebahagiaanku.

Lelaki pertama adalah ayahku.
Ayahku yang kukenal, adalah ayah terbaik untukku. Ayahku yang kukenal adalah suami terbaik untuk ibuku. Ayahku yang pendiam, ayahku yang penyayang, ayahku yang hatinya begitu lembut dan halus. Ayahku yang setia, dan sangat mencintai ibuku. Ayahku yang merawat ibuku ketika sakit. Ayahku yang tak pernah kulihat berkeluh kesah meski penyakit ibuku semakin parah. Ayahku yang selalu tertawa riang dan bercanda mesra meski ibuku semakin pucat, semakin kurus dan tak berdaya.
Ayahku yang menangis ketika ibuku meninggal di pangkuannya. Hanya sekali seumur hidupku melihatnya menangis. Hanya sekali seumur hidupku melihatnya meneteskan air mata. Air mata yang membuktikan tentang betapa besar cintanya pada ibuku. Air mata yang membuktikan tentang betapa kuat ikatan di antara mereka.

Saat ibuku masih sehat, setiap pagi mereka akan duduk berdua di beranda rumahku sambil menikmati sepiring kue dan segelas teh hangat untuk sarapan. Saat sore mereka akan kembali duduk berdua di beranda rumahku, mengobrol tentang banyak hal. Kemesraan dan kedekatan mereka tak pernah berubah meski usia semakin tua, meski anak-anaknya semakin besar.

Ayahku tetap mencintai ibuku, ayahku selalu merindukan ibuku. Meski ia menikah lagi sepeninggal ibuku, tetapi cintanya pada ibuku tak berkurang, meski jasad ibuku hanya tinggal tulang belulang.
Aku tahu itu, semua orang tahu itu. Sesaat sebelum meninggal, ia berkata pada nenekku, bahwa ia sudah lelah, ia ingin pulang, ia sudah dijemput. Nenekku tanya, “siapa yang menjemput?” “nung (nama kecil ibuku) sudah datang.” Dan semua orang tahu, itulah sebagian dari tanda yang diperlihatkan bahwa ayahku akan meninggal. Aku yang sedang menantikan kelahiran anak pertamaku tak sempat menemani detik-detik terakhirnya.

Ayahku mencintaiku dengan caranya sendiri. Ia tak mencintai dengan kata-kata, ia tak banyak bicara. Namun tak perlu diragukan, apa pun akan ia lakukan selagi mampu untuk memenuhi keinginanku. Ia yang akan mengantarku ke dokter jika aku sakit, ia yang akan segera mencariku jika aku terlambat pulang ke rumah. Ia yang selalu mengurus segala keperluanku. Ayah, segala kenangan tentangnya terasa begitu indah.

Lelaki kedua adalah adikku, orang yang merawat ayahku saat sakit sampai meninggal. Adikku yang sangat mengagumi ayahku, adikku yang sangat menyayangi ayahku. Adikku yang tak pernah mengeluh meski penyakit ayahku semakin parah, meski ia harus membersihkan dan memandikannya setiap hari, dan mengurus segala keperluannya.

Dan sejarahpun seperti terulang. Setahun setelahnya, adikku sakit, persis setelah ia resmi menyandang gelar sebagai suami. Sungguh Allah tak pernah tidur. Ada banyak jenis kebaikan yang akan langsung diperlihatkan balasannya ketika manusia masih hidup. Adikku contohnya. Perempuan yang baru beberapa hari resmi menjadi istrinya, tak pernah meninggalkannya, merawatnya dengan penuh kasih, dan selalu menghiburnya. Persis seperti ayahku memperlakukan ibuku, seperti adikku memperlakukan ayahku.
Tidak ada rasa jijik sedikitpun, meski harus membersihkannya seperti bayi. Tak terlihat raut penyesalan, meski harus menyeka darah yang terus menerus mengalir. Adikku meninggal dalam kebahagiaan, karena telah menunaikan cintanya pada ayah kami dan menemukan cintanya yang sejati.

Jangan ditanya bagaimana sayangnya ia padaku. Ia yang akan datang pertama kali jika aku sakit. Ia yang menemaniku ketika aku dirawat di klinik sekolah karena typhus. Ia yang akan siap menjemputku ketika aku pulang kampung, yang siap mengantar dan menemani kemanapun aku ingin pergi. Ia yang selalu berusaha menyenangkan orang-orang terdekatnya. Ia yang tak pernah memiliki satu pun barang berharga karena lebih mementingkan orang-orang yang ia sayangi. Ia adalah adik terbaik yang pernah dimiliki seorang kakak sepertiku. Segala kenangan tentangnya terdengar begitu haru.

Itulah mengapa, saat aku jatuh sakit, menjadi saat-saat yang paling melankolik. Aku nyaris selalu menangis ketika sakit. Meski hanya sekedar muntah-muntah karena masuk angin. Trauma berat menyaksikan keluargaku yang semuanya meninggal karena sakit, membuatku sering emosional dikala sakit.
Aku menangis karena teringat pada ibuku, ayahku, dan adikku. Aku menangis karena aku begitu merindukan kehadiran mereka. Rindu yang tak mungkin terpenuhi, rindu yang membuatku selalu merasa sepi, rindu yang membuat hatiku terasa nyeri.
Kenangan tentang mereka, berkelabat seperti putaran film di hadapanku. Saat-saat bahagia, saat-saat yang penuh kehangatan, aku rindu saat-saat itu. Bahkan aku rindu omelan ibuku, rindu bentakan ayahku, rindu pertengkaran dengan adikku.

Tetapi aku tak menyesal, karena disisiku ada lelaki ketiga, yaitu suamiku. Ia yang akan merawatku ketika sakit, seperti hari-hari belakangan ini. Ia yang akan memasak untukku, menyediakan obat, dan menjaga anak-anakku. Ia yang akan mengurus segala keperluanku. Hanya dia, ya hanya dia. Memang hanya dialah satu-satunya, karena tidak ada lagi keluarga yang akan merawatku, jika bukan dia.

Teringat sosok ibu tiriku yang tak mau merawat ayahku ketika sakitnya semakin parah, kepada suamiku aku bertanya, “Jika aku sakit dan sakitku semakin parah, apakah kau akan meninggalkanku?”
Dan dia balik bertanya, “Kenapa harus meninggalkanmu?”
“Sebab aku tak akan bisa mengurusmu, jika aku sakit.”
“Aku yang akan mengurusmu, jika kamu sakit.” Ah, jawaban yang terdengar sangat merdu di telingaku.
“Betulkah? Tidak akan seperti dia kan?”
“Tentu saja!”
Terima kasih Tuhanku…. Telah memberiku suami sebaik dirinya.

Kini, dua lelaki yang kusayangi telah pergi. Namun Ia memberiku pengganti dua lelaki lain yang akan selalu kucintai sampai mati. Mereka adalah Bumi & Langit, anak-anakku. Maka, di sisiku kini ada tiga lelaki yang akan kucintai dan mencintaikui. Cinta tulus seputih bunga melati, yang harum semerbak berseri di mahligai sanubari. Semoga Allah merahmati dan memberkahi keluarga kecil ini….

*mengenang 2 tahun kepergian ayahku (juni 2009) dan setahun kepergian adikku (juli 2010).

0 komentar:

Post a Comment