Breaking News

27 January, 2012

sekedar share di pagi hari...


pagi-pagi, hujan pula...maka suasana hati yang sednag melo tambah melo....terciptalah tulisan yang juga berbau melo ini...:D

Jika kurindu mereka…..
Hari ini kurasakan lagi rasa rinduku membuncah kepada mereka, ketika kutatap wajah-wajah anak sekolah yang lalu lalang di depan rumahku. Entah mengapa setiap kali melihat anak laki-laki dengan seragam sekolah, perawakan kecil, tinggi, putih dan bersepeda selalu mengingatkanku kepada mereka. Aku sering tersenyum dan tertawa sendiri melihat polah tingkah anak-anak sekolah tersebut. Aku selalu membayangkan bahwa yang di depanku adalah dua orang lelaki yang sangat kucinta dan kusayangi yang kini hanya bisa kudengarkan suaranya saja di ujung telepon.
Seperti pagi ini. Hujan yang turun dari pagi begitu derasnya. Setelah “mengantar” suamiku menunggu jemputan dinasnya aku sengaja duduk di kursi ruang tamu. Pintu rumah sengaja ku buka sekedarnya, hanya untuk membiarkan udara segar hujan dan suara gemericik airnya dapat kudengar dan kurasakan. Lama aku mengamati jalan depan rumahku, menunggu pasukan bersepeda yang selalu melintasi depan rumah. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang. Hawa dingin yang semakin terasa membuatku terpaksa menutup pintu rumah untuk menghindari “aktivitas mual” pagi hariku. Maka, aku pun hanya puas memandangi jalan raya dari balik kaca dalam rumahku. Tak sampai lima menit, salah seorang anggota pasukan bersepeda terlihat. Ia kelihatan begitu terburu-buru karena tak menggunakan mantel atau jaket untuk melindungi tubuhnya dari siraman air hujan. Segera ia memakirkan sepedanya di depan ruko seberang rumahku. Lama ia berdiri disana sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, mungkin berharap bertemu dengan seorang temannya yang juga akan berangkat ke sekolah dan membawa payung sehingga ia dapat menumpang hingga ke sekolah. Namun, yang ditunggu ternyata tak kunjung datang. Akhirnya ia pasrah dan hanya berjongkok di sebelah sepedanya. Aku amati betul setiap gerak geriknya…dari gerak-geriknya aku tahu ia sangat kedinginan.karena pasti hampir seluruh seragam sekolahnya basah oleh hujan.
Melihatnya, spontan ku ambil payung dari belakang rumah, dan perlahan namun pasti ku menghampirinya. Awalnya ia bingung melihatku. Namun, dengan ramah ku berkata bahwa aku akan mengantarnya menuju ke sekolah, dengan catatan sepedanya harus ia tuntun. Ia tersenyum sejenak, lantas berkata bahwa sepedanya akan ditinggal di depan ruko, pada saat istirahat sekolah nanti baru ia akan mengambilnya. Maka berjalanlah kami berdua beriringan. Awalnya kami hanya terdiam, sambil sesekali ku lirik tubuh kurusnya yang tampak sangat kedinginan karena hampir seluruh tubuhnya basah. Ku beranikan diri untuk mengajaknya mengobrol dengan menanyakan dimana rumahnya dan kelas berapa ia saat ini. Ia pun menjawab semua pertanyaanku dengan malu-malu dan sedikit kagok. Aku cukup maklum, karena aku menggunakan bahasa Indonesia, dan ini agak jarang yang melakukannya. Karena hampir seluruh masyarakat disini menggunakan bahasa daerah. Entah karena takut atau malu ia agak menjaga jarak dariku, disamping itu juga melangkahkan kakinya dengan sanggat lebar. Untunggnya payung yang kubawa lumayan besar dan lebar sehingga masih bisa melindungi kami berdua dari terpaan air hujan. Namun, karena jalan yang dilewati banyak yang berlubang dan tergenang air hujan maka mau tak mau pakaian bawahku pun basah hingga ke kaki. Untunglah sekolah letaknya tak jauh, sehingga kami pun segera tiba. Begitu tiba di sekolah ia langsung melompat ke halaman dan membalikkan wajahnya padaku serta memberikan senyumnya yang manis sambil mengucapkan terima kasih. Aku pun membalasnya dengan memberikan senyuman manisku dan berkata sama-sama.
Ku balikkan tubuhnku menuju rumah. Betapa saat ini perasaanku amat bahagia. Aku merasa aku “telah menemukan kembali” keponakan kesayanganku. Walau aku tahu ia bukan siapa-siapaku. Hatiku gembira dan lega, karena aku berharap jika keponakanku di sana dalam kesulitan maka akan ada orang yang bersedia untuk menolong mereka. Setidaknya itulah harapanku. Ku kembali ke rumah dengan hati yang gembira. Walau baju dan rokku basah oleh hujan dan genangan air. Tak terasa air mataku menetes, dan semakin lama semakin deras. Sungguh aku sangat rindu pada mereka. Tapi apa daya aku tak sanggup untuk melakukan apa-apa untuk mengubah keadaan ini. Aku tahu aku dan keluarga harus bisa menerima semua ini karena kekhilafan yang telah dilakukan oleh kakakku terhadap mereka dan ibunda mereka. Sehingga keluarga besar sang bunda pun “menghukum” keluarga kami dengan membatasi segala akses komunikasi kami dengan mereka. Yah bahkan tak jarang aku harus sabar tak dapat “sekedar” mendengar suara mereka selama seminggu karena sedang berada di tempat tante mereka di sana. Tapi tak mengapa yang penting aku masih dapat mendengar suara mereka, walau pun kadang aku merasa bahwa ini tak adil. Aku tak bersalah apa-apa. Aku menyayangi dan mencintai mereka sepenuh hatiku. Aku ikut membesarkan mereka dari mereka baru lahir hingga masuk sekolah dasar. Tapi, mengapa aku juga yang ikut menjadi korban. Namun, mungkin inilah yang dinamakan “paket bersaudara”, jika saudaramu bersalah maka kau pun harus menanggung akibatnya. Insya Allah aku akan menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Sehingga seperti hari ini, aku dapat merasakan rinduku lebih sedikit terobati. Terima kasih Robb atas segala nikmat yang tlah Engkau berikan pada hambaMu ini.

Teruntuk kedua keponakan kesayanganku yang nun jauh di sana, ate sayang kalian melebihi apa yang kalian tahu dan rasakan. Maafkan karena ate tak lagi selalu ada untuk menemani hari-hari kalian. Tapi Insya Allah ate yakin, suatu saat Allah SWT akan mempertemukan kita kembali di saat yang lebih baik dari saat ini. Tetaplah menjadi anak yang sholeh dan patuh pada mama di sana. Ate selalu sayang kalian. Luv u both…..


Emak Narsis- OOPS

OOPS

Mas Hanung memapahku perlahan.
“Sakit, yang?”, tanyanya lembut.
Aku meringis sambil mencoba tersenyum. Mungkin seharusnya aku tadi mengikuti anjuran mas Hanung untuk tidak pergi menemui klien sore ini karena kehamilanku yang memasuki minggu ke 36. Tapi aku tetap bersikukuh untuk berangkat juga.

 “Bukan masalah besarnya uang atau proyek mas….”, aku berusaha menjelaskan agar mas Hanung tidak menganggapku ngoyo, memaksakan diri.
“Tapi lebih karena bu Titik ini dulu akrab sekali dengan almarhum ayahku. Padahal anjuran Nabi, kita kan harus menyambung tali silaturahim dengan sahabat dan teman-teman orangtua kita, apalagi yang sudah tiada”, panjang lebar aku bicara, mas Hanung cuma tersenyum saja. Kami menunggu tiga tahun untuk kelahiran anak pertama kami nanti dan mas Hanung menunjukkan kasih sayangnya yang besar kepadaku dan calon bayi kami.

Sejak aku menikah dan meninggalkan kota kelahiranku untuk tinggal bersama suami, otomatis aku harus menempuh jarak 25km untuk bekerja. Biasanya satu jam menuju perusahaan eksporter furniture tempat aku menjalankan aktifitas sebagai marketing. Karena lama-lama terasa lelah dan keadaan payah ini diperkirakan termasuk yang mengganggu kondisi fisikku sehingga belum hamil juga, aku akhirnya resign.

Berbekal bismillah aku membuka usaha konsultan arsitek. Alhamdulillah, beberapa klien menggunakan jasaku. Bahkan seorang developer memintaku untuk sekaligus mengaplikasikan desain yang kubuat di perumahannya. Jadilah aku dadakan meminta suamiku dan seorang teman yang sudah berpengalaman menjadi pemborong bangunan, untuk menambah satu divisi di kantor baruku. Tuhan sungguh membukakan jalan dan memudahkan urusan hambaNya yang bertawakal.
Kegembiraan akan kehamilanku bertambah dengan rejeki mulai berjalannya proyek ini. Semakin sibuk saja aku kerja sehingga mual-mual di bulan pertama kehamilan segera tergantikan. Dengan perut semakin membuncit aku membagi waktuku untuk urusan rumah, desain dan pengawasan proyek.

Sampai sore yang mendung gelap itu membawa semangatku mengalahkan segalanya. Bu Titik sampai bengong menatapku.
“Aduh. Kalau tahu mbak Dian begini, saya saja yang datang ke kantor”, ujarnya.
“Tidak apa-apa, bu. Saya senang bisa silaturahim ke sini”, kami berpelukan. Bu Titik mengenang kembali kisah-kisah lama saat dulu berhaji dengan almarhum ayah. Momen –momen seperti inilah yang sebenarnya ingin kudapatkan, lebih dari sekedar proyek yang bisa kita dapatkan dari siapa saja dan kapan saja. Tetapi ada moment of the truth yang sungguh nilainya tak dapat ditukar dengan apapun.
Kepayahan sore itu akhirnya tak bisa disembunyikan. Aku terkapar setelah maghrib, persis setelah pulang dari rumah bu Titik. Padahal kami Cuma membahas mengenai konsep perumahan yang akan didesain. Mungkin rasa excited yang berkenaan dengan almarhum ayah yang lebih menguras emosiku dan akhirnya energiku.
Bakda Isya’, aku semakin kesakitan dan  meringis terus. Ibu mertua dan kakak iparku yang was – was melihatku langsung menyuruh mas Hanung untuk mengantarkanku ke rumah bersalin. Mas Hanung malah asyik nonton TV.
“Belum apa-apa itu. Kalian percaya aku ya. Aku sudah pernah mengantar mbak Nila melahirkan. Ketiga anaknya aku yang menunggui kelahiran mereka. Mbak Beti juga. Sudah pernah menemani tujuh ..eh..delapan persalinan.”, memang mas Hanung paman yang jempol. Semua keponakan, ia yang menunggui kelahiran mereka.
“Ayolah, Hanung. Kasihan istrimu.”, bujuk ibu mertua.
Akhirnya mas Hanung mengantarkanku segera ke RB. Dan benar saja, aku ternyata harus menunggu 24 jam lagi sampai akhirnya melahirkan dengan selamat. Alhamdulillah. Inilah perjuangan hidup dan mati. Benar-benar merasakan bahwa emak memang hebat dan pemberani. Bertawakal dan berpasrah diri. Tuhanku, jikalah nyawa ini taruhannya, hamba rela, hamba titip anak hamba. Berilah dia keselamatan dan kehidupan yang baik.

Kami menyambut gembira kelahirannya dan segera berakikah untuknya. Meski dia cucu pertama di keluarga ibuku, tetapi aku dan mas Hanung sepakat untuk mendidiknya agar tidak menjadi anak manja. Setelah hanya istirahat beberapa waktu, akupun kembali beraktifitas di kantor seperti semula dengan bayi di gendonganku. Pagi-pagi sekali setelah memandikan dan mengajaknya jalan-jalan, langsung berkutat di depan computer untuk menyelesaikan PR desain klien. Meeting pagi dan sore dengan suami, pimpro dan kepala tukang.
Bahkan bayi mungilku ikut juga mengawasi proyek di lapangan.
“Hallo bos kecil”, begitu sapa para tukang kalau kami datang.
Dan ‘bos kecil’ tahu benar bagaimana bersikap. Dia lebih sering tenang dan tidak banyak menangis meski diajak berpanas-panas ria dan berkeliling di tempat-tempat yang seringkali kurang nyaman.
Kalau ada presentasi desain yang mengharuskan aku datang ke tempat klien, mas Hanung mengantarku. Biasanya hanya didrop di pintu rumah atau kantor klien maupun tempat rendezvous lain, kemudian dijemput setelah selesai.
Alhamdulillah, anakku tidak banyak rewel. Mungkin menyadari kalau sudah menjadi tugas ibunya untuk melayani orang-orang. Semakin didekap sepertinya bayi memang semakin tenang. Aku juga bertekad untuk memberikan ASI eksklusif untuk anakku serta memberi dekapan pelukanku yang terhangat untuknya.
Nhah! Ada yang lucu tentang ini.
Pagi itu mas Hanung mengantarku ke rumah klien. Karena agak rewel, aku menyusui bayiku di dalam mobil sebelum turun.
“Nanti telpon saja kalau sudah selesai, dinda”, kata kangmasku mesra.
“Iya, mas”, sambil tersenyum aku menutup pintu mobil dan membiarkannya berlalu.
Masuk ke rumah klien, aku dipersilakan duduk di ruang tamu oleh penjaga rumah. Tidak menunggu lama, klienku datang dan tidak seperti biasanya aku menangkap ada yang aneh dengan pandangan matanya. Untunglah aku segera mengkoreksi diriku. Oops. Aku lupa mengancingkan bajuku. Olala…..Maaf ya pak…..

biodata:
Dian Nafi
Penikmat Hujan.Pecinta Purnama. Kontributor 20 Antologi.Penulis Kencantren dan Mayasmara. Punya banyak impian dan harapan juga ketakutan. Kadang paradoks dan terus dalam pencarian.



0 komentar:

Post a Comment