Breaking News

24 January, 2012

Sebuah Kisah Sendu


Men temen, kisah ini sudah sendu belum ya? Tolong 'dibantai' rame-rame ,ya. Terima kasih.

Nuning Ambarwati
Aku tidak mengerti kenapa ibuku selalu bersikap kasar kepadaku. Sedikit saja kesalahan yang kulakukan maka aku akan mendapat hukuman. Aku akan dijewer, dipukul, dan bahkan ditendangnya. Ibuku juga seringkali mempermalukanku di depan teman-temanku. Ia seperti tidak rela melihatku bergembira dengan teman-temanku.
“Nuning, pulang! Cuci piring sana!” ia seringkali meneriakkan hal itu ketika aku sedang bermain dengan teman-temanku. Hal ini membuatku menjadi seorang pemalu dan enggan bergaul. Bapakku pun tidak jauh beda dengan ibu, sama-sama kasar terhadapku. Namun, diantara kakak dan adikku hanya aku yang mendapat perlakuan kasar. Dalam sedihku, aku sempat berpikir bahwa aku bukan anak mereka. Mungkin aku anak pungut atau anak yang ditemukan mereka di depan pintu. Aku harap hal ini benar dan suatu saat akan datang ayah dan ibuku yang sebenarnya. Namun, ternyata aku salah. Aku anak kandung mereka.

Suatu hari, sepupuku datang ke rumahku. Ibu dengan senyum teramahnya menyambut anak perempuan seuisaku itu. Ibuku membelai rambutnya dan menanyakan sekolahnya. Di akhir pertemuan, ibuku memberikan uang . Ketika sepupuku pergi aku mendekat ke ibuku. “Nuning mau juga,Bu.”
“Mau apa?”tanya ibu ketus.
“Uang. Seperti yang ibu berikan ke Ana tadi.”
Nih uang!”kata ibuku sambil menjewer telingaku. Betapa sakit hatiku atas perlakukan tidak adil ini. Aku hampir tidak pernah mendapatkan uang saku. Ini kali pertama aku meminta uang namun tetap tidak diberi bahkan telingaku memerah  dijewernya. Kemana senyum ramah ibuku tadi? Kenapa hanya untuk Ana? Sebenarnya aku sudah mempunyai penghasilan sendiri sejak SMP. Sepulang sekolah aku membantu Bu Laksmi berjualan gorengan di kiosnya. Bu Laksmi kewalahan mengurus warungnya maka ia menawariku pekerjaan itu. Dengan senang hati aku menerimanya. Dengan begitu aku tetap bisa memiliki uang saku meskipun orang tuaku tidak memberi. Namun hari itu aku sangat iri dengan Ana yang diperlakukan penuh kasih sayang oleh ibuku. Aku ingin diperlakukan seperti Ana tetapi harapanku kosong. Aku dijewer.


 “Nuning! Halaman kotor, cepat disapu!”perintah bapakku dengan mata mendelik ke arahku yang sedang mengerjakan PR. Aku mendengus kesal. Kenapa bapak tidak menyuruh Kak Murni yang sedari tadi hanya menonton televisi? Kenapa selalu aku, aku,dan aku. Rahmi dan Tono juga tidak sedang mengerjakan apapun kecuali bermain game di handphone mereka. Aku ,kan sedang mengerjakan PR. Namun semua tanya dan kesalku hanya mampu kusimpan di dalam hati. Aku takut tangan bapak akan melayang ke arahku andaikan aku mempertanyakan sikapnya itu.

Kakak dan adik-adikku pun memanfaatkan sikap tidak adil kedua orang tuaku. Mereka seenaknya saja menyuruhku melakukan banyak hal. Kalau aku menolak, mereka akan memanggil bapak atau ibu untuk mengadukan sikapku.
“Bapak, Kak Nuning jahat! Dimintai tolong saja tidak mau,”kata Rahmi sambil terisak. Aku diam di kamarku menunggu reaksi bapak. Tidak disangka, bapak sudah di depan pintu kamarku dan mengetuknya dengan kasar. Aku membukakan pintu dengan takut.
“Iya,Pak?”
“Kenapa Rahmi menangis?! “
“Emm…”
“Dasar tidak becus mengurus adik sendiri,plak!”bapak menampar pipiku. Dengan suara keras ia menyuruhku menuruti kemauan Rahmi, mengerjakan PRnya.

Perlakukan kasar orang tuaku menjadikanku sedikit tidak percaya diri dan terlalu sensitif. Aku mudah sekali menangis, merasa iba, dan kasihan. Beruntung aku mempunyai teman yang baik, Wati. Ia mengajakku bergabung di sebuah komunitas pelajar. Bergabung di sebuah komunitas tersebut menambah banyak wawasanku . Mereka menumbuhkan kepercayaan diriku dan memotivasiku. Semakin luasnya pergaulanku dengan dunia luar membuatku ingin bebas dari segala sikap kasar dan tekanan orang tuaku. Akhirnya setelah lulus SMA aku membuat pilihan untuk merantau ke kota yang sangat jauh dari rumah orang tuaku. Aku tidak memikirkan bagaimana kalau nanti tidak akan menuai hasil di rantau. Saat itu aku hanya ingin merdeka, ingin lepas, dan bebas melakukan apa yang kusuka tanpa harus merasa takut kepada orang tuaku. Wati
menasehatiku,”Potensimu banyak sekali. Sayang, kamu tertekan. Kamu harus menghindari keluargamu jika ingin sukses.” Hal ini menambah keyakinanku. Aku yakin bisa berhasil. Awalnya orang tuaku tidak mengizinkanku namun, kawan-kawanku memberi pengertian kepada mereka.
Dengan memberikan wanti-wanti yang tidak lazim mereka melepaskanku.
“Awas kalau nanti macam-macam! Jangan sampai bikin malu keluarga!”

Akhirnya aku bisa dengan bebas mengolah potensiku. Tidak mudah memang untuk bertahan hidup dan memujudkan cita-citaku di tengah kota besar yang penuh persaingan ini. Namun, tekanan di kota besar jauh lebih ringan daripada tekanan dari orang tua dan saudara-saudaraku sendiri. Jadi, tidak ada alasan untuk gagal di kota besar ini. Euforia kebebasanku dari orang tuaku tergambar jelas manakala aku dengan senang hati melakukan apa saja termasuk menjadi tukang sapu jalanan. Ya, aku melakukan pekerjaan itu untuk bertahan hidup. Apapun akan aku lakukan, asalkan aku bebas dan merdeka dari orang tuaku.

Setelah melalui kesusahan hidup yang tidak sebentar, aku pun memetik kesuksesan. Aku, Nuning Ambarwati menjadi seorang manajer pemasaran di sebuah perusahaan besar. Suatu kali aku berada di titik jenuh. Aku tidak ingin melakukan apapun kecuali menayangkan ulang rekaman masa kecilku. Tergambar jelas bagaimana ayah memukulku, sketsa ibu ketika mencubitku menari-nari di depan mataku. Hatiku gerimis. Air mataku tumpah ruah tanpa mampu kumembendungnya sama sekali. Dadaku sesak bukan main mengingat kembali ketidakadilan yang sudah tidak kualami dalam sepuluh tahun terakhir. Tiba-tiba aku mendengar pintu diketuk. Aku membuka pintu setelah mencuci bersih mukaku. Mataku terbelalak melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahku.
“Ning…”
“Mbak Murni?! Ya ampun,Mbak!” aku menghambur ke arah Kak Murni. Kami bertangis-tangisan. Setelah semuanya kembali normal, Mbak Murni mengajakku pulang ke rumah. Ia sengaja mencariku ke kota ini. Profilku pernah dimuat di sebuah tabloid wanita jad Mbak Murni meminta bantuan tabloid tersebut untuk mencari alamatku. Refleks hatiku menolak ajakan Mbak Murni. Pulang? Ah, sama saja membangkitkan luka lama.
“Nuning masih sibuk,Mbak.”
“Ning…keluarga kita kacau. Aku, Rahmi, dan Tono tidak bisa diandalkan. Sejak kepergianmu, rumah mulai kacau. Tidak ada yang menyapu, mencuci baju, dan lain-lain. Kami bertiga saling lempar tugas. Adu mulut pun menjadi keseharian. Ibu dan bapak saling menyalahkan. Aku menikah dengan pemuda pengangguran yang akhirnya kutinggalkan begitu saja. Rahmi lebih senang mengganggur daripada bekerja menjadi pelayan toko,gengsi katanya. Tono, keluar masuk pusat rehabilitasi karena nakal dan hampir menggunakan obat-obatan terlarang.”
Aku khusyuk menyimak cerita Mbak Murni.
“Keluarga kita menderita,Ning. Untuk makan saja susah.”
Hatiku miris. Aku menikmati segala kenyamanan hidup kota besar namun keluargaku nun jauh di sana menderita. Betapa teganya diriku! Aku menyalahkan diriku sendiri. Namun, Hei! Ini bukan salahku! Kenapa mereka memerlakukanku begitu kejam dan tidak adil saat itu?! Coba saja kalau berlaku adil, tidak akan seperti ini akhirnya! Hatiku berkecamuk. Mbak Murni terus membujukku untuk pulang sejenak. Aku menyerah. Dengan pesawat terbang, aku dan Mbak Murni pulang saat itu juga.

Aku melangkah hati-hati menuju pintu rumah yang telah kutinggalkan selama 10 tahun itu. Rumah di mana aku dilahirkan dan menjalani penderitaan lahir batin. Rumah yang dahulu cukup rapi kini lebih mirip rumah tidak berpenghuni. Kotor dan berantakkan. Seorang perempuan berambut putih tertatih tatih menghampiriku.Ibuku.
“Nun…”
Aku terdiam, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun seperti yang sering terjadi 10 tahun lalu. Wanita itu menitikkan air mata. Seorang lelaki tua,kurus muncul dari sebuah ruangan. Bapakku.  “Ning…”kata bapak. Lagi-lagi aku terdiam. Mbak Murni meraih tanganku agar masuk ke dalam rumah. Aku didudukannya di sebuah kursi. Aku ingat aku pernah dipukul habis-habisan oleh bapak di kursi ini hanya karena memetik mangga di kebun. Reflek aku berdiri menjauh dari kursi yang kini tampak kusam itu.

Ibuku menghampiriku. Ia memelukku penuh kerinduan namun aku tidak merasakan apapun kecuali keanehan. Aku merasa aneh karena ibuku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.”Nuning, maafkan ibu dan bapak.”Lagi-lagi aku terdiam. Mbak Murni menegurku agar berbicara. Aku tergagap menyadari bahwa aku bukan Nuning yang dulu. Rupanya kenangan pahit rumah ini menghipnotisku hingga membuatku seperti  berada di masa silam. Aku memandangi tubuh ringkih ibu dan bapak. Dengan ekspresi kaku aku mendekati mereka. Aku memeluk mereka. Perasaanku hambar. Tidak kurasai nikmatnya bertemu dengan orang yang sebenarnya sangat kucintai hingga nama mereka tidak pernah terlewat dalam untaian doaku. Karena betapapun aku telah memaafkan, mengasihani, dan menyayangi mereka, namun kedekatan jiwaku dengan mereka tidak serta merta muncul setelah perlakuan kejam mereka terhadapku selama belasan tahun. Apalagi kini kutahu dari pengakuan mereka bahwa aku diperlakukan tidak adil karena sebuah alasan yang tidak masuk akal. Ya, karena wajahku yang tidak secantik Mbak Murni dan Rahmi. Aku berkulit hitam dan jelek serta bibirku sedikit sumbing. Mendengar alasan itu memang membuatku miris. Namun satu hal, aku akan memuliakan orang tuaku di sisa usia mereka..



0 komentar:

Post a Comment