Breaking News

25 January, 2012

Seandainya Kutahu....


Tulisan perdana saya di IIDN. Mengambil makna besar dalam sebuah perjalanan hidup.
Saran dan kritiknya ya, ibu-ibu hebat .... :)



Hari ini 1 Agustus 2011, tak terasa dua tahun berlalu semenjak engkau ditakdirkan untuk hadir di muka bumi.
Melengkapi kebahagiaan kami sebagai seorang ayah dan ibu, melengkapi kebahagiaan tiga orang kakakmu.
Engkau kulahirkan dengan susah payah. Jiwa raga kupertaruhkan demi kelahiranmu.
Dengan kemurahan Sang Pencipta, hari Sabtu pukul 22.05 engkau terlahir sebagai bayi perempuan sehat dengan berat badan 3,2 kilogram dan panjang 49 sentimeter.
Alhamdulillah, terpenuhi keinginan putri sulungku untuk memiliki adik perempuan.
Dan engkaupun kami beri nama YASMIN.
Hmm, Yasmin .... Melati nan sederhana namun memiliki harum semerbak penyejuk hati.


Ah, nak....
Jika kuingat 23 bulan yang lalu, engkau yang baru genap berusia sebulan begitu membuat kami merasa sangat cemas.
Bagaimana tidak?
Tak seperti bayi sehat pada umumnya, engkau tidak tumbuh sebagaimana mestinya.
Tidak seperti ketiga kakakmu yang mereka tumbuh tanpa perlu membuat kami merasa khawatir.
Empat bulan pertama setelah kelahiran, biasanya bayi yang sehat akan mengalami kenaikan berat badan paling tidak antara satu hingga satu setengah kilogram tiap bulannya.
Begitu pula yang ummi rasakan ketika mengurus ketiga kakakmu.
Tapi itu tidak terjadi padamu, nak.


Pada tanggal 1 September 2009, tepat usiamu satu bulan. Ummi dan abi membawamu ke BKIA untuk menimbang dibulan pertama semenjak kelahiranmu. Betapa ummi dan abi dikejutkan dengan hasil timbanganmu. Engkau tidak mengalami kenaikan berat badan sama sekali! Tidak sedikitpun!
Kulihat jarum timbangan tidak bergerak sedikitpun, tetap menunjuk diangka 3,2.
Kulihat ibu bidan pun merasa sangat keheranan. Aku merasa cemas.
Ada apa denganmu, nak?


Spontan tentu saja yang pertama kali ibu bidan tanyakan adalah tentang hasil produksi ASI-ku.
Akupun menjawab bahwa aku merasa hasil produksi ASI-ku cukup, lebih malah. Sering aku harus membuang hasil ASI-ku karena membuatku sampai merasa panas dingin.
Ya Allah, ada apa dengan bayiku?


Demi menenangkanku, ibu bidan tersenyum dan menyarankanku untuk berkonsultasi dengan dokter umum.
Diikuti rasa cemas yang sangat, aku menuruti sarannya. Akupun mendatangi ruangan tempat dokter umum bertugas hari itu.
Kepadaku, tentu saja dokter menanyakan hal ihwal produksi ASI-ku, dan akupun menjelaskan seperti yang aku katakan pada ibu bidan di BKIA tadi.
Karena dokter mendengar penjelasanku tentang ASI yang aku rasa mencukupi, menurut beliau mungkin kenaikan itu tidak pada berat tubuhmu, tetapi mungkin pada tinggi badanmu.
Ya, memang tinggi badanmu bertambah satu sentimeter. Tidak terlalu signifikan, tetapi itu cukup untuk menghiburku.
Lalu dokter pun memberi masukan padaku supaya aku memperbanyak mengkonsumsi makanan dan minuman pendukung bertambahnya produksi ASI.
Akupun dirujuk untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.
Pertanyaan maupun saran dari dokter spesialis tersebut, tidak jauh berbeda seperti apa yang aku dapat dari dokter umum.


Selama pengalamanku memiliki bayi, tidak pernah aku terlalu dipusingkan dengan asupan giziku. Kurasa apa yang aku konsumsi sudah mencukupi untuk kebutuhan giziku dan bayiku.
Tapi untukmu, apa pun kulakukan.
Daun katuk? Pengalamanku menyusui ketiga  bayiku sebelumnya, tidak pernah aku sampai harus mengkonsumsinya. Tak ada masalah, ASI-ku tetap lancar serta berlimpah. Tapi untukmu, kali ini ummi membutuhkannya.
Bubur kacang hijau? Setiap hari aku membuatnya dan mengkonsumsinya. Bukan menggunakan santan, tetapi aku gunakan susu supaya bertambah nilai gizinya.
Susu? Huek!! Mendengar kata itu saja sudah bisa membuatku rasanya ingin muntah.
Walaupun harus dengan susah payah melawan rasa mualku, tapi untukmu ummi rela berkorban.
Kucari informasi pada teman-teman yang berpengalaman tentang susu terbaik bagi ibu menyusui.
Walaupun harus sambil menutup hidung sewaktu meminumnya, ummi tetap menelannya demi untukmu.


Dua bulan berlalu....
Pada tanggal 2 Oktober 2009 waktunya abi dan ummi membawamu kembali ke BKIA untuk menimbang berat badanmu. Kami berharap semoga bulan ini engkau akan lebih baik.
Dengan perasaan was-was engkaupun ditimbang.
Masya Allah! Berat badanmu malah berkurang satu ons menjadi hanya 3,1 kilogram!
Ya Allah Ya Rabbi, apa yang terjadi pada dirimu, nak?


Tentu saja ibu bidan kembali terkejut.
Aku segera dimintanya untuk kembali ke dokter umum.
Melihat kenyataan itu, dokter memerintahkan kami untuk segera membawamu kembali ke dokter spesialis anak.
Segera kami bawa bayi mungil itu menuju kesana.


Sambil menggendongmu, kegalauan melanda ummi.
Melihat tubuhmu yang tetap mungil, menambah pilu rasa hati ummi.
Memang selama dua bulan ini, aku bingung melihat dirimu yang tak terlihat tanda-tanda bertambah gemuk.
Tak bisa kubohongi, rasa iri menyelimuti hatiku ketika melihat bayi yang terlihat gemuk dan sehat.
Engkau adalah anak keempat ummi, nak. Ini bukan pertama kali ummi memiliki bayi. Dan kakak-kakakmu selalu tumbuh sehat dan gemuk.
Ibu mertua yang selalu setia mendampingi dan mengurusku setiap kali aku melahirkan pun ikut cemas.
Tak berbeda dengan  sanak keluargaku yang lain,  merasakan kekhawatiran yang mendalam.
Terlebih lagi abi dan ketiga saudaramu. Mereka semua mencemaskanmu.


Setelah engkau diperiksa oleh dokter spesialis anak, beliau mengatakan bahwa engkau mengalami dehidrasi dan harus segera diinfus untuk mendapat pertolongan pertama.
Ya Allah, berilah kekuatan padaku dan pada bayi mungilku.
Setelah dua kali dengan susah payah dua orang perawat berusaha memasukkan jarum  ke tangan mungilmu, diiringi tangismu dan tangis ummi, akhirnya terpasang juga jarum infus itu.
Kesedihan yang mendalam menyelimuti hati ummi.
Ummi takut kehilanganmu, sayang.
Di tengah malam hari pertama, engkau menangis. Ummi merasa bingung.
Aku susui dirimu, namun engkau tetap menangis.
Ah, kenapa lagi dirimu, nak?
Segera perawat yang berjaga datang dengan membawa segelas susu dan meminumkannya kepadamu dengan menggunakan gelas sloki.
Masya Allah! Ternyata engkau haus, nak.


Di hari ke tiga engkau dirawat, ummi  mengalami demam tinggi.
Melihat kondisiku, akhirnya dokter spesialis anak membolehkanmu pulang dengan catatan ummi harus bisa memberimu susu tambahan dalam satu hari minimal 500 cc.


Masya Allah, seandainya ummi tahu....
Ternyata, engkau membutuhkan susu tambahan, nak.
Maafkan ummi, sayang.
Bukannya ummi tidak mau memberi. Tapi kemanakah larinya ASI yang ummi berikan padamu?
Ummi telah berusaha semaksimal yang ummi bisa.
Ya Allah, inikah sebagian ujian yang engkau berikan kepada hamba-Mu yang lemah ini?
Selain ASI yang diberikan, kulakukan saran dokter dan berusaha bisa memberimu susu tambahan paling sedikit 500 cc setiap hari.
Kucatat setiap cc  susu yang kuberikan padamu.
Alhamdulillah, dengan seizin-Nya, dibulan ke tiga ketika ummi menimbangmu engkau naik pesat langsung bertambah 2,2 kilogram menjadi 5,3 kilogram.
Dan terus bertambah baik setiap bulannya.


Dan kini....  Hari ini,1 Ramadhan 1432 H, tepat usiamu dua tahun.
Engkau tumbuh sehat dan pesat tanpa kurang suatu apapun.
Siapapun yang melihatmu, akan merasa gemas dengan tingkah lakumu yang lucu.
Baik orang-orang yang mengenalmu, maupun orang-orang yang tak mengenalmu.
Tak segan mereka menghampirimu, mengajakmu bercanda ataupun menciummu.
Tak semua orang tahu bahwa engkau pernah mengalami masa-masa sulit.


Bayi mungilku, kini tumbuh sehat dengan senyum ceria yang selalu menghiasi wajahnya.
Menambah kebahagiaan kami orang tuamu, ketiga saudaramu dan sanak saudaramu.
Alhamdulillah ya Allah, kusyukuri nikmat-Mu.
Insya Allah semua akan memberikan hikmah besar buatku dan keluargaku.
Yasmin....
Buah hatiku, putih dan harum secantik bunga melati.





Bontang, 1 Agustus 2011
Di bulan yang penuh berkah, 1 Ramadhan 1432 H
Semoga Allah selalu merahmati kita semua....












0 komentar:

Post a Comment