Breaking News

31 January, 2012

Sappy, I Miss U...


Sappy, I Miss U…
                                                   
Aku adalah anak gembala
selalu riang serta gembira
Karena aku rajin bekerja
Tak pernah malas ataupun lengah…
Tralala… lalalala… lala…
Tralala… lalalalalala…
            Lagu anak gembala itu mengalir lucu dari mulut mungil Najwa dan Sadid, anak-anakku. Akupun turut serta menyanyi, menenggelamkan diri dalam keasyikan masa-masa kecil, seakan aku kembali pada waktu dulu. Saat usiaku masih dibilang kanak-kanak. Dimana yang ada dalam pikiran dan jiwa adalah hanya kesenangan, bermain, menyanyi… tak ada kesedihan berlarut ataupun stress dengan segala beban kehidupan. Ahh… bersyukur mempunyai mereka, paling tidak dengan menikmati kebersamaan dengan mereka, rasanya aku akan menjadi awet muda. Atau… minimal perasaanku mengatakan bahwa aku bisa kembali muda. Hehehe… tapi ini kalau lagi hepi… karena ketika uring-uringan yang datang, ya… rasanya tambah akan cepat tua.
            Ngomong- ngomong tentang lagu anak gembala, aku jadi teringat pada kejadian masa kecilku… dengan seekor binatang gembala. Binatang jenis apakah gerangan yang membuatku terkenang hingga sekarang? Ya… dia adalah… Sappy (Binatang kesayangan Raju dalam cerita Upin dan Ipin). Si sapi yang pernah mengukir sebuah legenda bersamaku ini adalah seekor sapi muda. Saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan tinggal di sebuah desa yang sekarang jauh… di mata namun dekat di hati, yaitu di desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara
***
            Kisah ini berawal dari sebuah kesepakatan yang kami buat. Aku bersama tiga orang teman cewekku yaitu Atik. Nila, dan Nung sepakat setelah pulang sekolah nanti akan singgah di rumah Bu Endang, guru kesayangan kami. Aku dan tiga teman cewekku ini memang sangat mengidolakan sosok Bu Endang. Waktu belajar di kelas seakan tak cukup bagi kami untuk bercengkrama dengan beliau, sehingga kadang-kadang kami main ke rumah beliau setelah pulang sekolah. Tentu saja setelah pulang ke rumah dulu dan ijin dengan orang tua.
            Rumah Bu Endang bisa dikatakan jauh. Ya… kalau untuk ukuranku saat ini sih… paling tidak harus naik sepeda motor atau naik minibus. Tapi saat itu aku bersama teman-temanku sering hanya berjalan kaki atau naik sepeda onthel ke sana. Dan bagi kami kayaknya nggak terasa jauh-jauh amat. Mungkin karena sambil bercanda, nyanyi, ketawa-ketiwi, serta sambil menikmati indahnya pemandangan alam di kanan-kiri yang kami lewati. Melewati sawah nan luas membentang… melewati sungai yang gemericik menyenangkan… melalui tanah lapang yang diselimuti hijaunya rerumputan… benar-benar asyik perjalanan ke rumah Bu Guru.
            Hari Jumat ini kami berangkat dengan berjalan kaki. Seperti biasa, sambil ketawa cekikikan kami mulai perjalanan yang sudah kami nanti-nantikan ini. Kebetulan kami adalah empat sekawan yang sudah saling akrab, kemana-mana bareng, bisa dibilang kami adalah kawan yang sehati. Saking sehatinya, hari ini kami memakai baju dengan warna yang sama, yaitu merah. Padahal, kami tidak mengadakan perjanjian tentang warna baju yang dipakai. Sebenarnya tidak semua memakai merah sih… ada satu teman yang pakai baju warna kuning, yaitu Nung. Tapi kan… dominan tetap warna merah. Apalagi ketambahan kuning… jadi meriah deh suasananya.
            Nha… ketika melewati tanang lapang yang biasanya digunakan anak-anak untuk latihan sepak bola itu… kami melihat ada beberapa ekor sapi yang sedang digembalakan oleh seorang bapak. Ada tiga ekor sapi yang sudah dewasa serta seekor anak sapi. Kami senang melihat pemandangan tersebut. Apalagi ada anak sapi yang kelihatannya lucu… dan kami jarang melihatnya dari dekat. Wah… inilah kesempatan untuk sedikit berdekatan dengan mereka, sapi-sapi yang manis itu. Maka kami sepakat berjalan dekat-dekat dengan kawanan sapi tersebut. Siapa tahu mereka mau berkenalan dengan anak-anak SD yang centil-centil ini. Hehe…
            Oh sapi… kalian begitu menggemaskan… begitu lucu. Kulit kalian begitu putih… seperti putihnya kapas. Tapi… eit..! ternyata di bagian bawah tubuh sapi ada noda cokelat yang samar di sana-sini. Mungkin karena sapi jarang mandi kali… tapi mereka tetap kelihatan lucu kok. Punuk mereka yang mecungul padat berisi membuatku membayangkan betapa lezaat bila dagingnya dibuat daging lapis… hmm. Sapi… mau nggak ya... kalau kulit putihmu itu kami belai?
            Tapi… kayaknya kami tidak akan membelai-belai sapi-sapi itu. Bagaimanapun… kami masih belum berani terlalu berakrab-akrab dengan mereka. Berjalan dengan mengambil jarak yang agak dekat dengan mereka sudah cukup deh kayaknya. Sambil berjalan kami mengamati gerak-gerik sapi-sapi itu. Melihat cara mereka mengambil rumput dengan mulut, mengunyah dengan gigi-gigi yang besar, lalu menelannya… dan mengulanginya lagi dan lagi. Sapi… kok nggak nglirik kami sih..? Kalian hanya asyik makan saja dari tadi.
            “Ela….! Sapinya!!!” Tiba-tiba aku mendengar teriakan Nila.
            Aku terkejut tapi tidak serta merta menyadari apa yang terjadi.
“Awas… sapinya ngamuk..!” Atik menyahut.
 Sejurus kemudian aku mulai menangkap gejala yang tidak baik itu. Rupanya sapi yang kecil marah dan siap-siap menyerang. Tentu saja jantungku berdegup kencang. Kencaaang… sekali. Ada rasa kaget, tak percaya, takut, bercampur menjadi satu sehingga menghasilkan gerak reflek kakiku, yaitu… lari!!! Begitu juga dengan teman-temanku karena anak sapi nan lucu itu menjadi beringas dan mulai mengejar kami.
Kami berlarian dengan arah berbeda-beda. Tak peduli ke arah mana yang penting lari menjauh dari sapi itu. Semula si sapi mengejar Atik yang berjalan paling depan. Atik lari menghindar, kemudian si sapi memutar ke arah Nila. Dan… ternyata, kok tiba-tiba si sapi mengarahkan kakinya kepadaku. Aku tak sempat berpikir lama menghadapi situasi itu. Tak ada cara lain lagi, lari……!!!.lari……!!!
            Aku berlari mengitari lapangan berumput itu. Si sapi pun mengikuti arah lariku. Aku berlari sekencang mungkin. Yah... mungkin kalau saat itu adalah lomba lari, maka aku pasti keluar sebagai pemenang. Tak ada lagi yang kupikirkan selain lari, karena itu satu-satunya cara. Dan… anehnya sapi itu tidak juga berpaling ke arah lain.
Sambil berlari aku terus berdoa dalam hati

            “Selamatkan aku ya Allah…” Pintaku pada Allah.
Tapi sapi itu makin dekat saja. Masih terus berlari aku menyesali kenapa tadi pakai baju warna merah. Aduuh… aku berharap ini hanya mimpi. Tapi ini bukan mimpi, ini nyata.
“Ibuukk…! Tolong aku…!” Aku berteriak saking takutnya.
Air mataku mulai mengucur. Aku terus berlari… dan si sapi kecil masih terus mengejar. Kenapa tak ada yang menolong? Aku hampir putus asa… aku pasrah. Dan…
“ Syuut…” Aku terpeleset tanah basah.
“Ahh..!!!” Teriakku keras.
Aku pun jatuh tersungkur. Terbayang sudah sapi itu akan menubrukku… menggilasku… dan aku tercabik-cabik… terluka. Tuhaan… sapi itu…
            “Ayoo… Mbaliko…” Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Seakan-akan itu adalah suara dewa penolongku.
“Waduuh… kasihan Mbaknya. Sudah… nggak pa-pa Mbak. Sapinya saya ambil nih… husss… sana-sana!” Kata suara itu lagi.
Sambil menahan rasa sakit di kakiku, masih dalam keadaan terduduk, aku mencoba mendongakkan kepala. Kulihat seorang bapak menghalau sapi kecil itu dariku. Aku membelalakkan mata. Antara percaya dan tidak. Sekilas aku mengingat wajah itu. Iya,.. wajah bapak yang menggembalakan sapi-sapi itu.
“Oh… benarkah itu?” Tanyaku dalam hati.
            “Alhamdulillah…” Ucapku bersyukur.
 Aku masih terengah- engah. Dadaku naik- turun, nafasku tak beraturan. Aku merasa begitu lelah. Namun…aku patut bersyukur, ternyata ini bukan hari terakhirku di dunia ini.
            Aku masih tidak percaya dengan apa yang kualami. Tapi… yang pasti aku lega. Legaaa sekali karena si Sappy tidak jadi menubrukku.
Tapi hatiku masih dipenuhi tanda tanya, bapak penggembala sapi itu tidak dari tadi menolongku? Kenapa membiarkanku berlarian sekencang dan sejauh itu? Kemana saja gembala sapi itu selama aku menjadi target sasaran si sapi? Dalam hati aku benar-benar merasa tak terima. Tapi… mungkin itu juga bukan salahnya. Mungkin juga saat itu sang gembala juga berlarian mengejar sapinya yang lagi ngamuk mengejarku. Jadi… mungkin saja kami bertiga kejar-kejaran waktu itu. Tapi Alhamdulillah… ternyata aku masih hidup dalam keadaan utuh dan sehat… walaupun saat itu sudah tidak segar bugar. Sedangkan teman-temanku pun tak kalah shoknya dengan kejadian itu. Mereka mendekatiku, lalu membantuku berdiri, masih dengan nafas yang naik turun sepertiku.
***
            Sapi… oh sapi… kau adalah binatang yang tersebar luas di seluruh negri, bahkan hampir di seluruh muka bumi. Hampir semua orang kecuali vegetarian pernah merasakan kelezatan dagingmu yang penuh gizi. Apalagi buat anak-anak, susu dan dagingmu sangat membantu pertumbuhan badan dan otak mereka. Kaldumu sangat gurih bila dibuat sop. Apalagi bila dagingmu dibuat abon… hemmm, anak-anakku pasti akan makan dengan lahap. Ya… sudahlah sapi. Walaupun kamu pernah mengukir sejarah kelam denganku, aku kan tetap memaafkanmu. Karena aku dan semua orang di dunia butuh dirimu. Mungkin saat itu kamu lagi khilaf, belum dewasa, dan dalam keadaan bingung.
            “Mama..! Ya… mama nglamun nih… kok nggak ikut nyanyi?” Suara nyaring Najwa membuyarkan drama menegangkan yang seakan baru diputar kembali di depan mataku.
            “Oh iya… mama tadi lagi ingat sama binatang gembala. Maaf ya…” Sahutku merasa bersalah.
            “Binatang gembala?! Kambing ya?” Tanya Najwa tertarik.
            “Binatang gembala kan macam-macam. Selain kambing apa?” Sekalian aku ajak main tebak-tebakan.
            “Eeh... apa ya? Sapi… kerbau kali juga…” Najwa yang masih duduk di TK B mulai mengingat-ingat.
            “Pinter… Mama tadi lagi ingat sama Sappy” Aku mencoba memperjelas hewan yang kumaksud.
 Sementara adiknya lompat-lompat sambil teriak-teriak.
“O… hewan sapi seperti punya Raju ya? Najwa juga pengen tuh ketemu sapi. Mama pernah ketemu sapi?” Tanya Najwa penasaran.
Aku seakan diingatkan bahwa anak-anakku jarang sekali melihat langsung dengan berbagai jenis binatang. Termasuk sapi ini. Paling-paling yang sering mereka lihat langsung adalah kucing, ayam milik tetangga, serta burung milik tetangga juga. Pernah sih ketemu sapi atau kambing di pinggir jalan ketika bepergian. Tapi nggak bisa puas karena melihatnya hanya sekilas saja. Mungkin mereka perlu dibawa wisata ke kebun binatang. Atau… kalau pulang kampung nanti kan bisa kupertemukan mereka dengan sapi, kambing, kerbau… ide cemerlang juga sih. Kok dadaku jadi berdegup begini ketika ada rencana mau ketemu sapi lagi?
          “Oke…nanti kalau kita pulang ke rumah Mbah, Mama janji akan ajak Najwa sama Adek maen-maen sama sapi.” Janjiku menghibur mereka.
           “Tapi… nggak boleh pake baju merah lho…” Aku memberi syarat.
           “Emang kenapa kalau pake baju merah Ma?” Najwa jadi tambah penasaran.
            “Karena… sapi itu… sering marah kalau lihat baju warna merah. Jadi… takutnya nanti mereka bisa mengejar Najwa ama Sadiid… Mhoooo!” Kataku sambil mengangkat kedua telapak tangan di depan dada. Sementara hidungku mengembang dan mengempis, sambil siap-siap mengejar mereka. Kugesek-gesekkan kaki kananku ke lantai seperti banteng yang mau ngamuk di film-film kartun. Lalu kugeleng-gelengkan kepalaku. Aku berlagak seperti seekor sapi yang mau mengejar mereka.
Najwa berpura-pura takut. Atau memang dia jadi takut beneran dengan aktingku?
            “Haaa… ada sapi ngamuuk. Lari… ayo Dek, lari…..!!!” Teriak Najwa sambil berlari. Sadid pun mengikuti tingkah kakaknya. Aku, si Sappy, langsung mengejar mereka mengelilingi rumah. Kami bertiga berkejaran sambil cekikikan. Serasa kembali ke masa kecilku lagi.
            Lucu sekali tingkah mereka. Mereka sangat butuh kasih sayang dan kenyamanan Mungkin itu juga yang dibutuhkan seekor anak sapi. Mungkin, saat itu ia marah karena merasa kurang nyaman dengan kedatangan kami. Apalagi dengan warna baju kami yang menurut banyak orang membuat sapi menjadi resah karena merasa ada musuh datang. Mungkin anak sapi itu merasa terancam dengan adanya orang asing yang mendekatinya. Apalagi dengan baju warna merah. Sehingga akhirnya ia merasa harus melawan kami. Dan untuk mengendalikan emosinya, ia hanya butuh rasa nyaman itu. Ia butuh kasih sayang dan perlindungan. Dan itulah yang bisa diberikan oleh bapak penggembala sapi yang dengan lembut menyentuh dan menghalaunya dariku ketika sapi itu tak juaberhenti mengejarku. Karena dalam kesehariannya pak gembala itulah yang selalu menemaninya, mengurus segala keperluannya, dan memberi kenyamanan untuknya.
          “Mamaaa… ayo kejar lagi. Masa sapinya kecapean?” Pinta Najwa kesenangan.
           “Mhooo…” Sahutku.
            Walaupun sebenarnya aku cukup ngos-ngosan, aku mulai mengejar mereka lagi. Dalam hati aku tertawa. Kalau dulu aku yang dikejar sama sapi, sekarang aku yang jadi sapi. Aku bisa balas dendam . Tapi, balas dendam dalam arti lain. Balas dendam dalam nuansa kasih sayang… Karena nggak mungkin lah aku balas dendam dengan cara mengejar balik seekor anak sapi. Kan jadinya malah kutuk marani sunduk (mencari masalah). Hehehe…
            “Ayo Maaa….!”

            “Mhoo…..”




Based on true story







0 komentar:

Post a Comment