Breaking News

31 January, 2012

Sang Kelinci


Sang Kelinci
Penulis: Ira Artilia

              “Makanya, besok jangan kesiangan lagi!” kata Teteh kepada Adik.  Saat itu ibu baru selesai bercerita tentang Si Kelinci yang mencari-cari makanan. Teteh kasihan pada Si Kelinci. Adik dengan matanya yang bulat menatap lekat ibunya. Sepertinya menyesal karena tadi pagi rewel sehingga terlambat pergi ke Hoikuen1(penitipan anak prasekolah di Jepang). Ibu jadi terlambat juga ke lab untuk memberi makan kelinci.
              “Ya sudah. Sekarang cepat tidur, biar besok tidak susah dibangunkan.” Ibu menutup cerita Si Kelinci malam itu.
              Cerita Si Kelinci bermula tiga tahun yang lalu sejak ibu melanjutkan sekolah lagi. Awalnya, Mas-Si Sulung bertanya mengapa akhir-akhir ini ibu sering pulang terlambat. Teteh dan Adik yang berada dekat Mas menatap ibu seolah-olah ikut mengiyakan pertanyaan Mas.
              Ibu menarik nafas menahan rasa tidak tega sambil memandang ketiga anaknya. Perlahan, dengan penuh kasih Ibu berusaha menjelaskan.
              “Ibu ini dokter. Ibu harus menolong orang. Kasihan, di rumah sakit tempat ibu belajar banyak orang yang tulangnya patah karena kecelakaan atau penyakit. Ibu pulang terlambat karena ibu sedang belajar mencari bahan dan obat yang bisa dipakai untuk mengobati dan mengganti tulang yang rusak itu. Sebelum digunakan di manusia, obat itu harus dicoba ke kelinci. Nah, sekarang ibu sedang merawat kelinci-kelinci yang tulangnya patah.” Ibu berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.  
              “Oooh… begitu ya.” Mata Teteh-anak kedua ibu berbinar. Senyumnya pun mengembang. Sekarang ia memahami apa yang sedang dikerjakan ibunya. Ia kelihatan ikut senang, karena ia menyukai kelinci. Mas merespon dengan anggukan pasti. Sepertinya dia juga faham dan setuju. Hanya Adik-Si Bungsu yang baru berusia satu tahun yang diam, kelihatan belum faham. 
              Malam berikutnya ibu melanjutkan cerita Sang Kelinci. Ibu berfantasi dengan kelinci-kelinci percobaannya. Ibu menyelipkan nasehat-nasehat dalam ceritanya.
              “Kalau sedang bermain, hati-hati ya. Gunakan alat-alat permainan sesuai dengan aturannya. Jangan lengah atau terlalu cepat menaiki tangga perosotan. Tidak usah berebut, harus antri. Kiki kelinci kakinya memang panjang jadi pandai sekali melompat. Tapi waktu naik tangga perosotan, Kiki menyerobot antrian dan tergesa-gesa naik tangga. Apa jadinya? Kaki Kiki tergelincir saat menaiki tangga itu. Dan…., Kiki jatuh! Bruuuukkk! Kreeekkk! Satu kakinya ada yang patah dan berdarah….”
              “Iiiihhh, kasihan ya. Pasti sakiiiitttt…”Ketiga pasang mata bening anak-anak berubah ngeri dan iba saat ibu menceritakan bagaimana kaki Si Kecil patah.
              “Sekarang kaki Kiki yang patah itu harus ibu rawat setiap hari agar bisa bermain lagi.” Ibu melanjutkan ceritanya.
Sebenarnya tentu bukan patah karena kurang hati-hati saat bermain di taman, seperti dalam cerita ibu. Kenyataannya, ibu sengaja melubangi tulang kaki kelinci dan memasukkan bahan pengganti tulang di dalamnya. Kemudian ibu menutupnya kembali, merawat lukanya, memberi makan dan membersihkan kadangnya. Setelah beberapa waktu, perkembangan luka dan keadaan bahan pengganti tulang itu diteliti di laboratorium. Itulah kegiatan ibu setiap hari sebagai pelajar peneliti di laboratorium Biomaterial Kyushu University.
Bukan karena tidak suka dan cinta kepada anak-anaknya sehingga ibu meninggalkan mereka untuk melanjutkan sekolah di program doktoral itu. Kalau diberi pilihan, bau kotoran anak-anak tercintanya lebih ibu sukai daripada bau kotoran dan air seni kelinci. Dua lembar maskerpun tidak cukup menyamarkan baunya. Teman lab ibu bahkan mengoleskan parfum atau balsam di maskernya karena tidak tahan dengan bau kotoran kelinci-kelinci itu.
Anak-anakku, ibu melakukan ini bukan sekedar tanggung jawab ibu sebagai dokter. Semua yang ibu lakukan adalah pesan ibu untuk kalian di masa depan. Ibu ingin kalian tumbuh dalam kenangan bersama ibu. Seperti ibu kalian ini, yang bertumbuh dari kenangan bersama Mamah-nenek kalian yang penyayang, tidak mudah menyerah dan pekerja keras bagi keluarga. Ibu masih ingat, waktu kecil ibu sudah terbiasa membantu Mamah membuat es yoghurt yang dibungkus dalam plastik kecil. Ibu kecil sudah bisa mengaduk adonan dan mengikat beratus-ratus plastik es yang berisi yoghurt berbagai rasa. Begitu sampai bertahun-tahun, samapai ibu besar.
Di SMP dan SMA ibu juga sudah terbiasa membawa dagangan es yoghurt ke sekolah untuk dititip di kantin sekolah. Sedangkan Mamah berkeliling menitipkan es yoghurt di warung dan toko-toko. Usaha Mamah semakin berkembang bahkan sampai ke luar kota.
Beberapa bulan lalu, Mamah mengabarkan bahunya sakit dan tidak bisa diangkat tinggi ke atas. Langsung yang terbayang kenangan tahun-tahun silam yang mungkin memberi andil untuk sakitnya. Mamah yang membawa hampir seribu buah es yoghurt dalam karung-karung besar, menunggu bis luar kota yang akan mengantarnya ke toko-toko di luar kota sana. Tangan ringkih Mamah yang setengah baya, berperawakan kecil itu memaksakan diri mengangkat karung-karung berat. Bersaing dengan penumpang bis yang berjejal.
Mungkin Mamah tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri lama. Sendirian, dan Mamah tidak pernah mengeluh atau menceritakan apa yang dilakukannya. Tapi mata anak-anaknya menangkap kenangan itu dan pasti tidak akan melupakannya. Kenangan yang membekas bersama perjuangan seorang ibu yang penyayang dan pekerja keras bagi keluarga. Penghasilan dari es yoghurt itu bisa membantu membiayai keempat anak-anaknya sampai perguruan tinggi. Mamah berkontribusi memberi bekal warisan yang sangat berharga bagi ibu sampai sekarang ini. Itu adalah kenangan yang Mamah ciptakan untuk kami anak-anaknya
Ibu sekarang sedang mendesain kenangan yang kalian perlukan untuk perjuangan kalian di masa depan. Ibu sangat mencintai kalian. Kalian akan hidup di masa depan yang lebih keras perjuangannya, lebih berat persaingannya, lebih banyak usahanya. Ibu tidak ingin mewariskan kelemahan yang tercipta dari keterbatasan diri.
Seperti sekarang, hanya kita berempat di negeri Sakura. Ayah sementara harus jauh dari kita, bekerja jauh di tanah air.  Sementara ini kita bertahan di sini sampai program doktoral ibu selesai. Tapi tanggung jawab yang paling utama dan penting adalah sebagai ibu kalian.
Disini kalian belajar merantau, jauh dari sanak keluarga. Belajar mandiri karena tidak ada pembantu. Belajar bergaul dengan teman lain negara, lain latar belakang budaya dan agama. Mengenal bahwa bumi Allah itu luas. Berkesempatan mengecap pendidikan di Jepang walaupun hanya tingkat sekolah dasar. Mudah-mudahan itu menjadi kenangan indah bersama ibu sebagai bekal yang berharga di masa depan.
Semoga cerita Sang Kelinci-penghantar tidur, juga mengantarkan kalian menjadi anak-anak yang baik, shaleh yang bersahabat dengan alam sekaligus memahami apa yang sedang Ibu lakukan. Kalian adalah sahabat ibu. ***

4 komentar:

Yunda Hamasah said...

Aku baca tulisan in sampai nyesak, air matapun mengalir...

TFS ya...

Indari Mastuti said...

mbak Yunda gabung ya di IIDN https://www.facebook.com/groups/ibuibudoyannulis/

ζž—δΈœ said...

20160607lindong
cheap jordans
nike air max
ugg boots
ralph lauren outlet
louis vuitton bags
supra shoes
michael kors outlet
michael kors outlet clearance
cheap mlb jerseys
nike store
ray bans
ferragamo shoes
christian louboutin outlet
ray ban outlet
cheap nhl jerseys
ray ban sunglasses
hermes uk
under armour outlet
jordan pas cher
michael kors outlet online
oakley sunglasses
discount nike shoes
adidas nmd
holliste sale
michael kors outlet online
louboutin uk
under armour shoes
adidas gazelle
cheap oakley sunglasses
under armour outlet
adidas trainers
cheap oakley sunglasses

Fangyaya said...

michael kors purses
christian louboutin outlet
burberry handbags
coach outlet online
fitflop clearance
jordan 3s
michael kors
michael kors outlet
air jordan 8
replica rolex watches
adidas outlet store
michael kors outlet clearance
retro 11
cheap true religion jeans
cheap true religion
nike air max uk
replica rolex watches
christian louboutin shoes
supra footwear
louis vuitton bags
designer handbags
polo ralph lauren
cheap basketball shoes
adidas originals
coach outlet store online
coach outlet
cheap jordan shoes
oakley vault
jordan retro 4
coach factory outlet online
louis vuitton outlet
air jordan shoes
ed hardy outlet
gucci handbags
adidas yeezy
kobe shoes
discount jordans
cheap jordans
oakley sunglasses
coach factory outlet online
20168.8chenjinyan

Post a Comment