Breaking News

01 February, 2012

Salut untuk Sheila

 
By Mia Falida  
Kisah ini berawal karena aku curhat kepada teman kecilku, Sheila, tentang prilaku suami yang selalu mau di SMS setiap aku pergi dan pulang dari rumah. Dan ternyata dia punya kasus suaminya “ lebih lebay” tapi dia lebih tangguh dan bisa menyabarkan diri lebih baik daripada diriku. 

Sheila yang terpaksa bekerja, karena pendapatan dari suami tidak mencukupi. Dituntut menjadikan keluarga prioritas utama dan jangan lupa SMS laporan tiap pagi dan sore serta proposal izin minimal 3 hari sebelumnya. Curhatan temen dan sudah izin di share, semoga bisa diambil hikmah kesabarannya. Sorry kalo tulisan masih acak-adul,..he..he
___________
Salut untuk Sheila
Oleh : Mia Falida

Sheila (bukan mana sebenarnya) adalah nama teman kecilku waktu SD. Sempat tidak terhubungi 10 tahunan, beruntunglah ada Facebook, jaringan komunikasi terjalin kembali. Awalnya karena dia menawari Asuransi pada keluarga besarku dan akhirnya ku tahu dia sudah sukses sebagai agen baru. Dalam waktu 6 bulan, dia sudah bisa memastikan dirinya mendapatkan reward trip ke luar negri. What’s Wonderful!. Menurut aku dan dia ini adalah suatu berkah, tapi kurasa tidak untuk suaminya.
Suaminya, mas Pri adalah suami yang over posesif, tipe suami yang sangat khawatir istrinya tidak menghargai dia, karena penghasilannya sebagai pegawai koperasi yang gajinya belum cukup menghidupi keluarga kecil mereka. Dengan jatah rutin per bulan hanya 1juta per bulan dari Mas Pri, Sheila merasa berat untuk mengelola keuangan keluarga dengan dua anak yang sudah bersekolah TK dan SD tersebut.  Ya ampyuun,.1 juta?  ya bukan tidak mensyukuri rezeki, tapi nominal terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup 1 bulan dengan 2 anak.
Akhirnya dengan izin suaminya, mas Pri, Sheila mulai bergelut kembali di bidang asuransi yang dulu sempat digelutinya ketika belum menikah. Tapi bedanya kalo dulu dia adalah seorang pegawai tetap, saat ini pilihannya sebagai agen, karena pertimbangan tugas keluarga mesti menjadi prioritas utama.  Karir Sheila maju pesat, karena konsumennya banyak dan juga kenalannya di relationship bank terkemuka banyak, menjadikan Sheila selalu number one on track dan memastikan dia mendapatkan reward ke Swiss tahun ini. Padahal baru 6 bulan dia bergabung, tapi reward sudah pasti di tangan. Suatu berkah luar biasa kan, tapi rasanya tidak untuk mas Pri.
Sheila merasakan berkah, karena dengan bekerja di agency tersebut, bisa mengatur bekerja hanya 3x seminggu dan income tambahan yang didapat sungguh luar biasa. Tapi kurasa tidak untuk Mas Pri, semakin “lebay”, terlebih jika Sheila lupa SMS izin. Meski Pagi sebelum berangkat suaminya sudah mengetahui sang Istri, Sheila akan bepergian, tetap harus SMS jika mau jalan, minimal 5 menit sebelumnya. Jangan 30 menit sebelum atau sesudahnya. Jika 30 menit sebelum pergi  tetap disuruh SMS lagi dan jika SMS 30 menit sesudah, dia akan mengamuk berarti sudah pergi tanpa izin. Waduuh repoot sekali ya.
Ayat-Ayat Allah dan hadis selalu mampir di Facebook dan SMSnya, jika Sheila lupa izin via SMS. Padahal, maaf Sheila juga sudah sangat capek mengurus kebutuhan dua hatinya, meski dibantu mbok Mien, keperluan anak-anak dan suami, dia semua yang menyiapkan. Jika saja kebutuhan tidak tinggi, pilihannya lebih baik dirumah saja mengurus anak dan mengelola keuangan dari suami saja.
Seperti dua hari yang lalu, saat dia lupa SMS detail kemana tujuannya pergi, Mas Pri marah luar biasa. Itu karena Sheila, paginya hanya izin untuk ke klien saja, di pikir Mas Pri kliennya Cuma Bu Ria saja yang dekat komplek rumah, ketika dia tahu Sheila juga ke Klien Bu Ratih di Pasar baru, Jakarta. Masuklah SMS pedas judes ke Hape Sheila, “Kamu membohongi aku, izin satu arah tapi pelaksanaan dua arah. Sudah S1 tapi kayak anak SD saja. Usahamu tidak akan berkah kalau begitu “ dilanjutkan dengan status nasihat sindiran tertulis di wall Mas Pri  kepada Istrinya:
“Ibnu Jarir dan al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi SAW bersabda : Sebaik-baik wanita adalah yang menawan hati-mu bila engkau pandang, taat manakala engkau perintah, dan menjaga hartamu (keluarga) serta memelihara kehormatan dirinya ketika engkau tidak ada di rumah”
“Ya Allah, sabarkanlah hati hamba”, begitu gumam Sheila setiap disindir suaminya.
Jangankan bagi dia, bagi aku saja, nasihat tersebut terkesan terlalu arogan dan salah penempatan. Mas Pri seolah pura-pura tidak tahu, alasan utama istrinya kembali bekerja.
Sheila Cuma bisa mengurut dada dan berdoa, “Ya Allah bukakan hati Mas Pri , kenapa dia terlalu angkuh dan arogan untuk menerima bantuan dan mengakui makhluk lemah lembut ini menolong kalian. Janganlah kesalahan kecil diperbesarkan seolah tidak ada manfaat sedikitpun dari diri hamba. Sayapun ingin menjadi seperti Istri-Istri Nabi, tapi  maaf saya bukan Khadijah, istri Nabi Muhammad.  Saya hanya wanita akhir zaman yang berusaha beribadah dan membantu suami dan keluarga dengan baik dan diridhoi Allah” .
Aku terhenyak mendengar ceritanya, yang dia meski dia ceritakan dengan diselingi senyuman, tak menutupi kekecewaannya kepada penilaian suaminya.Amien, saya jadi bersyukur, suamiku tidak seperti Mas Pri  yang ternyata “ super lebay”.
“Mi,  Itu bukti mereka perhatian kepada istri dan tanggung jawab kepada Kita. Khawatir kita ada masalah dijalan mereka jadi tahu”, begitu nasehatnya dan “ kita sebagai Istri  memang harus menurut kepada kepala keluarga, karena prioritas utama adalah keluarga”. “ Mintalah pada Allah, semoga dibukakan hati  para suami, agar  juga bisa percaya kepada Istri sebagaiman kita percaya kepada mereka”, nasehatnya lebih lanjut.  Wow salut kepada Sheila sebagai  pribadi lemah lembut namun tangguh dan sangat sabar.
Untuk Sheila, meski SMS izin bukan hanya berisi izin keluar, namun juga harus berisi detail kunjungan dan tempatnya, tapi dia tetap melakukannya. Sedangkan aku, untuk minta izin keluar saja, seringkali lupa telpon / SMS suami.  
Aku salut kepada Sheila, karena ia tahu ini bagian dari ibadahnya. Ya meskipun kita bukan Khadijah, semoga kita bisa belajar lebih baik lagi. Amien.