Breaking News

30 January, 2012

Saat Bapak Ditipu


Di usianya yang sudah menginjak angka enam puluh tahun, bapak masih tetap setia dengan pekerjaannya. Supir angkutan barang. Bukan pekerjaan yang ringan memang. Tapi tak ada pilihan lain bagi bapak. Hanya menyupirlah keahlian yang dimilikinya.
Saat saya memintanya untuk berhenti bekerja dan menikmati masa tua, beliau selalu saja menjawab,
“Terus dari mana kita dapat uang buat biaya sekolah adik-adikmu?”
“Saya coba bantu, Pak,” jawab saya mencoba meyakinkan.
“Nggak. Bapak masih kuat kerja. Nggak ada orang laki yang nggak kerja.”
Begitulah. Menurut bapak, bekerja adalah harga dirinya sebagai laki-laki, juga sebagai kepala keluarga. Maka selama ia masih mampu, ia akan terus melakukannya.
Terkadang, memang ada rasa kesal melihat bapak yang begitu keras kepala. Tapi tentu saja, ada segunung rasa bangga untuknya. Di saat begitu banyak orang yang dengan mudahnya menengadahkan tangan untuk mendapatkan uang, bapak terus bekerja di usianya yang tak lagi muda. Demi keluarga, demi harga dirinya.
Dan setelah perjuangan sekuat tenaga itu, bukan sesuatu yang aneh bila bapak masih belum bisa memberi nafkah dengan teratur pada kami. Bukan karena bapak malas. Tapi karena pekerjaannya yang tak memberi penghasilan yang menentu.
Bisa jadi hari ini bapak mendapat tarikan dari orang yang mengangkut barang. Bisa jadi, baru dua hari berikutnya bapak mendapat tarikan kembali. Bahkan pernah, selama satu minggu bapak tidak mendapatkan satu pun tarikan.
Maka ini akan menjadi sebuah PR besar bagi mamak untuk bisa mengatur semuanya dengan baik. Agar semua kebutuhan bisa tertutupi. Termasuk, agar kami bisa tetap makan meski bapak tidak mendapat tarikan.

Anak yang menangis,
Hari itu, bapak pulang dengan wajah yang begitu letih. Tapi ada seulas senyum di bibirnya. Dan bagai suatu rutinitas, pertanyaan itu akan selalu keluar dari bibir kami setiap kali bapak pulang.
“Hari ini narik, Pak?”
Bapak menggeleng.
Ah, ternyata bapak tidak mendapat tarikan hari ini. Lalu apa yang membuatnya tersenyum?
Kemudian, mengalirlah cerita itu.
Saat di perjalanan menuju rumah, bapak melihat dua orang anak kecil yang menangis sambil membawa daun singkong di dekat stasiun Cawang. Karena kasihan, bapak menghentikan mobil pick up-nya dan turun.
Bapak menanyakan, kenapa mereka menangis. Dan jawaban dari kedua anak itu begitu menyedihkan. Mereka bercerita kalau ingin mengunjungi rumah neneknya. Mereka sengaja memetik daun singkong dari kebun untuk oleh-oleh, karena hanya itu yang mereka punya. Tapi saat mereka sampai ke alamat yang dituju, si nenek sudah tidak tinggal di situ.
Kedua anak itu menangis, karena mereka tidak memiliki ongkos untuk pulang. Uang yang mereka miliki sudah habis untuk ongkos pergi tadi. Mereka merasa takut dan ingin pulang ke rumah mereka di daerah Citayam.
Mendengar itu, bapak merasa tidak tega. Ia mengeluarkan satu-satunya uang yang berada di dompetnya. Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah. Bukan jumlah yang besar memang. Tapi saat itu tinggal satu-satunya uang yang dimiliki, maka jumlah itu terasa besar.
“Kasihan,” kata bapak. “Anak sekecil itu, disuruh pergi sampai jauh. Cuma berdua lagi. Bapak ngebayangin, gimana kalau anak Bapak yang ngalamin kayak gitu. Mau pulang tapi nggak punya duit.”
Akhirnya, bapak memberikan uang itu. Membujuk mereka agar tidak menangis lagi, dan segera pulang. Bapak sampai memberi petunjuk agar mereka naik kereta saja, supaya ongkosnya tidak terlalu besar.
Kedua anak itu menawari bapak daun singkong yang mereka bawa, sebagai imbalan karena telah ditolong. Tapi bapak menolak. Bapak menyuruh mereka membawa kembali daun singkong itu.
“Lumayan kan, daun singkong itu bisa dia bikin sayur. Kalau kita mah, masih bisa beli di pasar,” ucap bapak menutup ceritanya. Bibir bapak masih tersenyum. Mungkin senyuman bahagia karena telah menolong dua orang anak yang membutuhkan pertolongan.

Ternyata,
Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu. Bahkan, kami telah hampir melupakannya. Sampai ketika, bapak kembali bercerita kepada kami. Cerita yang cukup mengejutkan bagi saya dan adik-adik.
“Tadi bapak ketemu dua anak yang waktu itu nangis di dekat stasiun Cawang,” tutur bapak membuka cerita.
“Oh ya, terus gimana?”
“Dia lagi nangis di dekat stasiun Kalibata sambil membawa daun singkong lagi.”
Saya dan adik-adik saling berpandangan. JADI, BAPAK DITIPU?
“Jahat banget, sih. Menipu orang kok, pakai cara kayak gitu,” ucap saya dengan kesal.
“Kecil-kecil udah jadi penipu, gimana kalau udah besar?” kali ini salah seorang adik yang mengatakannya dengan nada yang tak kalah kesal dengan saya.
“Biarlah,” ucap bapak. Membuat saya dan adik-adik terdiam. “Bapak sampai kepikiran, takut mereka nyasar. Tadinya, Bapak menyesal karena nggak mengantarkan mereka sampai di rumahnya. Tapi sekarang, Bapak udah tahu kalau mereka nggak nyasar. Alhamdulillah kalau mereka bisa pulang dengan selamat.”
Saya dan adik-adik kembali berpandangan. Menatap bapak yang berjalan menuju dapur. Jalan yang sudah membungkuk dan tak setegak dulu lagi.
Saya tersenyum melihatnya. Melihat seorang pria yang masih mau bekerja di usianya yang tua. Juga tersenyum karena rasa bangga yang muncul di hati. Ya, saya bangga memiliki bapak seperti beliau. Terima kasih bapak, telah mengajarkan kami untuk berusaha ikhlas.
=0=








0 komentar:

Post a Comment