Breaking News

30 January, 2012

RUMAH PELUKAN CINTA



            Malam ini sepi, hujan baru reda dari derasnya selepas maghrib. Hanya sayup-sayup suara parau sisa air hujan yang jatuh lambat-lambat menyentuh permukaan daun-daun pisang. Aku menarik selimut untuk menutupi ujung-ujung jari kakiku. Cuaca sejak siang tadi membuatku malas berbenah-benah. Sudah berjam-jam aku betah mengurung diri di kamar. Kamarku ini pula yang menjadi bagian dari ruang-ruang lain dalam bangunan ini. 
            Rumah ini tidak begitu besar, hanya memiliki tiga kamar tidur, sebuah ruang tamu, sebuah ruang makan sekaligus tempat seisi keluarga bertemu dan berdiskusi. Satu kamar mandi yang berdampingan dengan dapur tempat ibu meracik menu makanan pagi, siang dan malam. Kalau dilihat dari sisi depan, ada teras kecil yang hanya bisa menampung dua kursi santai serta satu meja kecil ukuran persegi empat.
            Air hujan hanya menyisakan nada-nada lirih. Melodi yang dimainkannya persis sama dengan nyanyian di hatiku. Ada apa sebenarnya?
Dalam dua minggu lagi kami sekeluarga harus segera meninggalkan rumah ini. Sudah dua puluh lima tahun kami damai di dalamnya. Tak pernah terjadi sengketa apalagi huru-hara. Tapi mengapa disaat semua terasa indah, ada perintah untuk meninggalkannya?
            Untuk mengalihkan kegundahan hati, aku mencoba membuka kenangan manis yang terangkai rapi. Album itu kupandangi lama-lama. Pada lembaran dimana ketika beberapa foto hari ulang tahunku yang ke sepuluh...aku menerawang. Waktu itu ada beberapa sanak famili yang turut hadir. Semua menunjukkan wajah sumringah. Ikut merasakan pertambahan tahun di umurku. Perayaan sederhana itu berlangsung disini, di rumah kami. Rumah ini sudah seperti palace bagi kami. Meskipun bangunannya tidak pantas disebut seperti itu namun aura yang kami rasakan sama. Dari awal berdirinya kata ayah semua sisi dibangun dengan niat yang tulus dan ridho dariNya. Meskipun tertatih-tatih namun semua terasa ringan saja.
Setiap ada sisa dari gaji ayah yang dikumpulkan ibu, kami manfaatkan untuk menambal bagian-bagian tembok yang mulai rapuh. Mengganti warna catnya, dan merubah lantai setahap demi setahap. Dari cuma sekedar lantai semen biasa menjadi ubin keramik. Ibuku begitu handal memilah-milah jumlah uang bulanan ayah. Dari uang itu pula aku dan adikku bisa juga mengecap bangku kuliah. Tidak pernah ada kata keluhan dari bibir mereka untuk membesarkan dan membawa kami menjadi anak yang memang harus tumbuh semestinya.
Banyak...banyak sekali kenangan manis yang terpatri di setiap sudut bangunan ini. Ibarat sebuah buku, masa kanak-kanakku pun tertulis rapi di setiap sudut rumah ini. Bagaimana syahdunya ketika aku diminta ibu menjaga adik selagi ibu menyiapkan hidangan siang. Kulantunkan tembang yang kuhapal dari sekolah taman kanak-kanakku untuknya sampai dia terlelap. Sebagai dua bersaudara, hampir tak pernah ada persaingan diantara kami. Meskipun sesekali ada keluh kesah akan cepat menguap dengan sendirinya tanpa menyisakan rasa apa-apa. Semua bahasa cinta dititiskan ayah dan ibu untuk perekat hati kami.  Disini, di rumah ini segala memori terpatri. Rasanya aku tidak rela bila harus meninggalkannya. Setiap ruang punya warna indah buat kami. Ruang makan adalah tempat kami berbagi asa. Ruang ini pula yang kami jadikan ruang keluarga. Mengerjakan tugas-tugas sekolah, berdiskusi dan segala  yang dirasa perlu untuk dibagi. Hampir saban malam kebiasaan itu tak terlewatkan. Tapi mengapa masih harus ada rahasia?
            ”Rus, tolong mengerti dengan kakak, Handi terus mendesak untuk meminta bagian warisannya, dia mau membuka usaha baru. Simpananku sudah menipis. Siapkanlah tempat tinggal kalian yang baru. Kalau kau butuh bantuan dana, kakak akan bantu tapi tidak banyak. Nanti hasil penjualan rumah ini akan ku bagi sedikit untukmu.”
            ”Astaghfirullah, mengapa mendadak begini kak, aku kira aku dan keluarga akan bisa hidup sampai semua anak-anak menikah nanti. Lagipula aku tak punya simpanan,            apalagi tempat tinggal lain selain rumah ini. Mana cukup simpananku, dari gaji   pegawai negeri apalah yang  bisa tersisa kak.” Diselingi derasnya hujan sore tadi, perbincangan itu masih meninggalkan gema di telingaku. Dari balik dinding kamar yang hanya terbuat dari plywood berukuran 10 mm, semua percakapan itu terdengar jelas. Kalimat panjang berisi pengharapan serta rasa iba dari mulut ayahanda tercinta membuat sekujur badanku sempat limbung. Mengapa kami harus keluar dari sini? Bukankah rumah ini milik ayah? Kalau selama ini kami cuma menumpang, mengapa ayah tidak pernah berbagi cerita yang sebenarnya? Apakah Ibu juga sudah lama tahu tentang ini? Beberapa pertanyaan bermunculan di kepalaku. Keputusan untuk segera keluar dari tempat yang penuh kenangan ini begitu mendadak. Ayah ternyata tidak siap, begitu juga dengan Ibu.           
            Adikku masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Sejak ketahuan mengidap lemah jantung beberapa tahun yang lalu, kondisinya harus tetap terjaga dengan baik. Kami sudah berkomitmen untuk tidak melibatkannya dalam masalah yang tak pantas untuk dia dengar. Meskipun ini berat bagi kami tapi kenyataan dan kekuatan tetap membuat kami tegar dan tak pernah menyesali. Sisa operasi jantung beberapa hari yang lalu masih menguras fisik dan tenaganya. Kekhawatiranku pasti sama dengan kedua orangtuaku. Adikku jangan sampai tahu vonis yang dibuat oleh tante tadi sore. Untungnya obrolan tadi berlangsung disebelah kamarku. Adikku mudah-mudahan tidak mendengarnya.
                                                                      --- 
            ”Ah, sudah subuh.” Aku terlelap dalam kegalauan semalaman ini. Album kenangan masih dipelukanku. Tidak ada alasan untuk alpa ke kantor. Kusiapkan blazer coklatku, ini seragam yang biasa kupakai di setiap Senin. Biasanya sebelum malam terlelap, aku sudah merangkai semua yang akan kukenakan esoknya. Malam ini begitu gundah, sehingga membawaku tak kuasa melakukan apapun. Handle pintu kamar kutarik tanpa semangat. Selangkah aku keluar dari istana kecilku, kudengar bisik-bisik dari ruang tamu.
            ”Uang dari mana, kalau kita akhirnya harus mengontrak Yah?”
            ”Kalau Ibu tidak keberatan coba pelan-pelan tanya Ria, siapa tahu dia punya tabungan      lebih. Nanti janji kak Har untuk memberikan sedikit uang dari penjualan rumah ini     kita kumpulkan untuk kontrakan.”
            ”Ibu kasihan sama anak-anak, mereka kan tidak pernah tahu kalau rumah ini sebenarnya bukan punya kita lagi Yah, aku menyesal mengapa kita tidak    berterusterang saja kalau sertifikat rumah ini sudah kita gadaikan sama kak Har.” Bisik-bisik itu ternyata membuka satu rahasia tentang status rumah ini. Kecewa..itu hal pertama yang menjalar di ulu hatiku. Sudah berapa kali makan malam  yang kami lewatkan bersama? Mengapa cerita ini tak juga sampai di telingaku? Usiaku bukan anak-anak lagi untuk mendengar sebuah kenyataan seperti itu. Sejak kapan rumah ini tergadai? Mengapa tante Har  tega menjadikan hutang itu sebagai cambuk untuk mengusir kami? Rumah ini begitu banyak memori...dari seratus..mungkin sembilan pulu sembilan yang menyisakan keindahan. Oh..tunggu dulu, hutang apa ayah dan ibu, sampai jumlahnya setara dengan harga rumah ini? Teng!..teng!..teng!. Dentang jam dinding model lama di ruang makan menyentak khayalanku. Dari tadi aku berdiri menguping bisik-bisik ayah dan ibu. Batok kepalaku semakin terasa berat sementara waktu subuh sudah hampir habis. Mungkin setelah sholat hatiku akan sedikit tenang, InsyaAllah. Teng!..teng!..teng!. Tanda waktu itu kembali mengingatkanku untuk segera bersiap ke kantor.
                                                                   ---
            Aku bukan pegawai tetap, cuma honorer. Sudah tiga tahun statusku tidak pernah berubah. Dari zaman baheula mungkin untuk menjadi pegawai negeri sama susahnya. Untungnya di kantor dinas kesehatan ini aku masih tetap diperlukan meskipun cuma sekedar bantu-bantu administrasi saja. Pernah juga aku kecewa. Setamat dari kuliah dan menggondol gelar sarjana sudah berapa surat lamaran kerja yang kukirimkan ke berbagai perusahaan. Hasilnya...nihil. Nilai-nilaiku bagus, indeks prestasi kumulatif diatas tiga. Ada beberapa yang memanggilku sampai pada tahap wawancara..lagi-lagi keputusannya tak ada.
Untunglah aku punya keluarga yang terus mendorong semangatku. Mereka melebur rasa sesal, kecewa, luka dan putus asa yang hampir melumatku. Jika kubandingkan dengan kondisi adikku aku masih jauh beruntung. Untuk menyelesaikan bangku universitas saja dia begitu terengah-engah. Penyakit lemah jantung yang diderita selalu membatasinya. Satu semester kemarin, adalah ujian berat baginya. Adikku cuti sementara, karena harus menjalani perawatan terhadap jantungnya. Untunglah Tuhan menyelamtkan nyawanya lewat tangan beberapa dokter ahli di bagian itu. Ups!! Ada udara panas seketika menyambar lamunanku.
Mengapa aku begitu naif. Mungkinkah uang dari hasil gadai rumah itu digunakan ayah dan ibu untuk biaya operasi. Kuremas-remas rambutku, sadar akan jawaban atas kebingungan di balik semua ini, meskipun fakta ini masih samar.
            Ayahku yang cuma pegawai negeri, status sama yang sudah lama kuidam-idamkan..tiga tahun tak menunjukkan nyata. Gajinya juga tentu saja tidak seberapa. Ibuku, benar-benar wanita rumah tangga tulen, tapi benar-benar mencintai seluruh anggota keluarga. Tak ada rupiah yang bisa dihasilkannya. Aku harus bicara pada orangtuaku, ya di rumah..,tapi harus mulai darimana. Apa aku harus berpura-pura diam sementara mereka menyimpan siksaan dari gencarnya dorongan batas waktu yang terus berjalan. Tidak sampai dua pekan lagi kami harus segera mengemas semua barang untuk hijrah ke rumah lain, dimana..belum ada.
            ”Ada telepon dari rumah mbak Ria.” Pikiranku tentang rumah terputus.
            ”Kalau bisa pulang segera, adikmu Ria....” Aku tak lagi mendengar suara di seberang sana. Aku tak bisa berfikir banyak. Aku harus segera sampai di rumah.
                                                                 ---
            Melihat bendera kuning menuju jalan ke rumahku, kakiku serasa tak bisa digerakkan lagi. Adikku!!...aku memaksakan langkah menuju kamarnya. Ya Allah..mengapa semua ini begitu bersamaan menimpa kami? Aku harus kuat menerima semua cobaan ini. Tujuh tahun, hanya sesingkat itu adikku bisa bertahan. Aku pikir operasi itu telah menyelematkannya, ternyata Allah punya kehendak lain...Innalillahiwainnailaihiroziun. Malaikat-Nya telah menjemput adikku. Wajah tampannya tersenyum, tenang sekali. Mungkinkah dia sebenarnya mengetahui semua rahasia ini? Aku, ayah dan ibu terus beristighfar memohon kekuatan dariNya. Semoga kami sanggup menghadapi kenyataan ini. Di rumah ini satu lagi tertulis kenangan yang mungkin tak akan bisa kami buang. Adikku menghembuskan nafasnya di salah satu kamar dalam rumah ini.
                                                                ---
            Sudah malam yang kesepuluh adikku berpulang. Namun kesakitan yang kurasakan belum juga usai. Kemarin aku menemukan buku catatan hariannya. Benar saja, dia sudah lebih dulu mengetahui rahasia itu ketimbang aku..adikku yang malang. Takkan kubiarkan ayah dan ibu ikut membacanya. Sudah cukup luka yang mereka derita. 
                                                               ---
             Salamku tak terjawab, ada dimana ibu. Ternyata dia duduk membisu di sudut ruang makan. Tatapannya jauh dan kosong. Sejak kepergian adikku ke pangkuan Rabbnya, baru sekali ini aku memergoki ibu melamun. Tak pernah kulihat ibu selara ini, aduh...perih kembali menyayat-nyayat di aliran darahku. Kuintip kamar adikku, biasanya dia tertidur lelap disitu. Pengaruh obat memaksanya harus banyak memejamkan mata. Tapi sepuluh hari lalu matanya terkatup untuk selamanya. Dia sudah tidak ada di pembaringan itu.
Ayah,...ya ayah, aku belum menemukannya. Biasanya pada jam-jam seperti ini dia sudah pulang dari kantor.
             ”Baru pulang?” Aku tersentak, ibu tak lagi melamun, dia menyapaku. Tapi mata itu          masih sendu dan lembab.
            ”Ya bu, boleh Ria bicara?”
            ”Nanti saja, tunggu Ayah dulu, tadi Tante Har memanggilnya.”
Ayahku rupanya sudah pulang sejam yang lalu. Rumah tante Har tidak begitu jauh dari rumah kami. Hanya berjarak beberapa rumah dari sini. Detak nadiku semakin tak beraturan, rasanya tidak sabar menunggu berita dari ayah. Irama ini juga yang mungkin kembali menindih bathin ibu sehingga tak bisa mengendalikan perasaan gundahnya. Sehingga salamku tadipun terabaikan. Demi meredam galau, aku tunaikan kewajiban Asharku. Panjang doa yang kupanjatkan kepadaNya.
             ”Ya Allah, bantulah kami keluar dari kesulitan ini. Begitu banyak nikmat yang sudah         Engkau berikan, kami tak sanggup mengabaikan itu, kami tak berani melupakan rasa syukur atas segala keindahan yang telah Kau limpahkan. Namun, kepada siapa kami bermohon jika kesulitan datang menerpa. Adikku telah Kau panggil, tempatkanlah   dia disisiMu yang paling mulia. Ampuni kami jika kami terluka oleh kepergiannya. Mungkin kesulitan dan kesedihan ini tak sebanding dengan semua  yang sudah kami  nikmati selama ini. Wangi-wangi yang sudah kami hirup dari rumah ini, hendaknya    tetaplah harum, seharum pusara adikku tercinta.. Berikanlah kami jalan keluar yang  sekiranya sanggup untuk kami pikul..Ya Allah dengarlah doa dan pintaku...amin.”
Mukenaku lembab ditetesi air mata, aku yakin Allah sedang menatapku. Aku pasrahkan kepada-Nya, apa yang memang semestinya kami hadapi. Jika adikku harus kembali kepangkuanNya, aku ikhlas. Satu pengharapan lagi menari-nari di sukmaku. Jika semua gelombang nostalgia sudah sedemikian sarat berjejal disini. Akankah rumah ini bisa kembali ke tangan kami?
             ”Maafkan Ayah dan Ibu, selama ini tidak pernah memberitahukanmu. Sertifikat rumah ini sudah ayah gadaikan sejak adikmu di vonis lemah jantung. Uang ayah tidak cukup untuk bulak-balik membiayai perawatannya. Cuma tante Har yang bisa membantu.”
            Kuperhatikan wajah ayah, kerutan itu semakin nyata terukir disana. Warna merah luka itu membayang dari balik kulit wajahnya yang sudah semakin letih. Kulirik ibu, mata itu tak bisa lagi bersandiwara seperti selama ini , begitu banyak menyimpan beban. Ketenangan selama bertahun-tahun ini ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Mereka hanya menyembunyikannya dari kami, anak-anaknya. Hanya demi satu alasan, agar kami tetap bisa hidup dengan tenang dan punya kenangan indah selama tinggal di rumah ini. Kini satu buah hatinya telah pindah ke alam baqa. Sekali lagi kutatap mata ayah dan ibu. Sama sepertiku, kami begitu ingin mempertahankan semua kenangan di rumah ini. Hutang ayah dan ibu bukan cuma itu. Biaya kuliahku dan si bungsu juga menjadi urutan kesekian dari hutang mereka terhadap tante Har. Air mata sudah kutumpahkan di sajadah. Aku tak lagi bisa menangis. Akankah ada berkah, sehingga rumah ini tetap menjadi tempat tinggal kami?
            ”Tapi ayah sedikit lega, abang sepupumu Handi tak lagi mengharapkan warisan dari Mamanya. Seminggu lagi dia akan berangkat ke Jepang bersama istri dan anaknya. Dia dipanggil kembali oleh perusahannya untuk ditempatkan disana.” Subhanallah...baru beberapa saat kulihat tak ada lagi sinar di mata ibu, tapi kali ini binar kembali muncul.
            ”Ya Allah, semakin cinta aku padaMu...karena tiap kali aku bersimpuh, Engkau tak           pernah berpaling.... meskipun kami masih terluka oleh kepergiannya, namun aku  yakin..Kau punya janji indah dibalik semua ini, jangan pernah tinggalkan kami Ya  Allah..amin.”
            Jangan pernah putus asa ayah, ibu..kita akan sama-sama berjuang untuk melunasi semua hutang itu. Asal kita bisa hidup bersama kembali di rumah ini. Rumah yang penuh dengan  pelukan, cinta dan kasih sayang.

Urbana, 11 Januari 2008
____________________Memunguti tulisan lama












0 komentar:

Post a Comment