Breaking News

31 January, 2012

"Reportase Kejar Tayang: Silaturahmi Indscript Creative


"Investigasi" acara Silaturahmi Indscript Creative, 14 Mei 2011

Mertua saya bilang: silaturahmi tiu memperpanjang usia dan menambah rezeki. Maka sejak beliau meluncurkan pernyataan tersebut, saya selalu senang dan berusaha menyempatkan hadir dalam acara apapun yang berjudul "silaturahmi". Salah satunya adalah acara yang digelar pagi ini oleh Indscript Creative di Museum Geologi, jl. Diponegoro Bandung, tempat yang dipakai untuk kedua kalinya sebagai ajang kopdar sebagian anggota grup Ibu-ibu Doyan Nulis, ruangan edukasi di lantai dua gedung yang berisi berbagai binatang langka (yang bergelar "anumerta", heu).
Bagaimana silaturahmi bisa dibilang tak mengundang rezeki kalau dalam pertemuan tersebut kita bukan hanya mendapat makanan yang lezat? Lebih penting dari acara makan bersama adalah mendapat banyak ilmu dan motivasi untuk menulis, membuat karya nyata dari ide-ide yang seringkali berseliweran di benak kita.
Bagi saya, ilmu adalah rezeki yang jauh lebih mahal daripada emas yang sekarang sudah mencapai harga 400 ribuan per gramnya, hehe. Jelas mahal dong, 'kan orang memperoleh ilmu itu dari pengalaman panjang, bukan hanya dari bangku sekolah belaka. Dan tidak setiap orang berkesempatan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat itu secara gratisan.
Demikianlah, maka acara silaturahmi pagi tadi dibuka oleh "gegedug"  Indscript Creative, siapa lagi kalau bukan ibu Indari Mastuti (dengan busananya yang berwarna hijau terang dari kepala sampai kaki :P), seperti biasa, ibu yang satu ini selalu memotivasi untuk menulis, dan kemudian mengantarkan penulis produktif, Nia Haryanto, untuk berbicara di depan hadirin.
Bagi saya, inilah puncak acara, karena penjelasan teh Nia yang singkat dengan suara yang kadang muncul kadang hilang memang sungguh bermanfaat (hadeuh, harus punya telinga selebar telinga gajah karena suara teh Nia harus bersaing dengan suara riuh rendah pengunjung museum di luar ruangan :D).
Dengan uraiannya yang ringkas dan padat, teh Nia menerangkan trik-trik untuk menulis cepat, termasuk cara memotivasi diri dengan lembaran uang berwarna merah (seratus ribuan 'kan? hehe) di dalam pikiran kita untuk membeli barang-barang impian para ibu-ibu. Dengan cara demikian, diharapkan agar semangat para ibu jadi menggebu untuk berkarya karena ada keuntungan yang akan diperoleh dari kegiatan menulis tersebut.
Selain itu, disarankan untuk membuat outline sedetil mungkin. Dari uraian ini, kesimpulan saya sih sederhana, kalau mau menulis buku dan menuangkan ide, buatlah pemetaan ala Tony Buzan, yang lebih dikenal sebagai mind mapping. Dengan pemetaan tersebut, penulisan akan mengalir tanpa kehilangan arah untuk melanjutkan tulisan sampai selesai.
Kurang lebih begitulah penjelasan "teteh produktif" ini.
Usai penjelasan teh Nia, giliran teh Gia (lebih dikenal sebagai "lady rain": Lygia Pecanduhujan, ahhaha) bicara dan menambahkan beberapa tips untuk menulis dan mengirimkan naskah antologi, diikuti uraian teh Dian tentang bisnis cantik Oriflame.
Saya masih sempat ikut acara foto bareng, tapi tak bisa mengikuti acara santap siang. Meskipun demikian, saya tahu kok bahwa salah satu menunya adalah semur jengkol (dapat bocoran dari panitia, wkwkwkwk).
Jadi benar tuh ucapan mertua saya, silaturahmi itu menambah rezeki, terbukti. Dalam kesempatan ini adalah rezeki ilmu. Tapi benarkah silaturahmi juga memperpanjang usia? Ouwgh, ya jelas dong, gimana gak nambah usia kalau gaul dengan para ibu yang penuh senyum dan meriah seperti ibu-ibu yang hadir pagi tadi?

Salam hangat teh Iin, jabat erat, punten tadi tidak sempat pamitan. Ditunggu acara-acara "crunchy" lainnya....







0 komentar:

Post a Comment