Breaking News

27 January, 2012

renungan



TAHUN 2003
Sudah kegiatan sehari-hari saya pulang kerja melebihi jam kerja seharusnya, pekerjaan kantor benar-benar menumpuk dan harus dikejar deadline.. Terpaksa hampir setiap hari pula saya makan malam diluar. Malam ini aku ingin rasanya merasakan makan di warung-warung tenda pinggir jalan, 'down to earth' ceritanya, karena biasanya saya selaku makan FAST FOOD, dengan alasan kebersihan lebih terjaga..

Nah, untuk malam ini, saya kepingin merasakan makanan pinggir jalan, kebetulan di depan komplek kantor saya ada warung tenda 'pecel ayam & lele". Jadilah saya makan disana. Yang makan lumayan banyak, murah meriah lah, dengan harga sembilan ribu rupiah saya sudah bisa makan nasi uduk komplit dengan ayam goreng plus sambal dan lalapnya. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati hidangan tersebut, datanglah seorang bapak dengan istri dan 2 orang anaknya.. Yg menarik adalah kendaraan mereka adalah gerobak dorong.. Sang Bapak  memesan 2 piring nasi dan ayam goreng. Pertamanya sih ga ada yg menarik, tetapi ketika saya selesai makan, ada yg menarik hati saya..

Ternyata, yg menikmati makanan itu hanya kedua anaknya, sedangkan sang ibu dan sang bapak hanya melihat kedua anaknya menikmati makanan ini. Sesekali saya melihat anak-anak ini tertawa senang sekali dan sangat menikmati makanan yang dipesan oleh bapaknya.. Saya perhatikan wajah sang bapak, walau tampak kelelahan tetapi ada senyum bahagia di wajahnya.. Tiba-tiba saya mendengar sang Bapak berkata.. " makan yg puas nak, ini kan hari ulang tahunmu.." salah satu anaknya menjawab dengan polos " iya pak, kan ini hari ulang tahunku, lagipula aku sudah lama nggak makan ayam goreng.. lah, bapak ngga ikut makan.." Dengan lirih sang Bapak menjawab " nda lah nak, ini hari kebesaranmu, jadi kamu yang berhak makan enak, lagipula bapak nda lapar.."

DEG.. dada saya langsung terasa sesak dan tak terasa air mata saya menitik di wajah saat mendengar percakapan sang Bapak dengan anaknya tadi... Seorang bapak, dgn keterbatasannya, sebagai (mungkin) pemulung, memberi ayam goreng murahan di pinggir jalan sebagai hadiah untuk ulang tahun anaknya. Segera sebelum air mata ini tumpah lebih banyak, saya berdiri dan membayar makanan saya. Dengan pelan saya berkata kepada penjaga warung tersebut... "mas, tagihan bapak itu biar saya yang bayar.. dan tolong tambahkan 2 porsi lagi lengkap dengan ayam goreng, tahu dan tempe.." Lalu lekas lekas saya pergi meninggalkan warung tenda itu.

Kisah ini ditulis untuk bahan perenungan kita sebagai umat manusia (muslim), khususnya saya sebagai sebagai ibu rumah tangga, yang kerennya disebut FULL TIME MOTHER, yang sudah berMETAMORFOSIS/ALIH PROFESI, dari seorang wanita karier (yang gila kerja) menjadi ibu rumahan. Yang terbiasa mempunyai pendapatan sendiri dari hasil keringat sendiri menjadi berpendapatan pas-pasan dari hasil bisnis kecil-kecilan. Tapi Alhamdulillah saya bisa melalui proses tersebut, tidak ada (LAGI) rasa cemburu melihat teman-teman wanita yang bisa menjadi wanita kantoran ataupun teman yang kebetulan bisa sukses dengan usahanya. Saya beranggapan SETIAP ORANG SUDAH DIGARISKAN LIMIT REZEKINYA OLEH ALLAH, SETIAP ORANG PASTI ADA REZEKINYA MASING-MASING..
Bahwa Tuhan sudah memberikan nikmat dan rahmat berlimpah untuk saya saat ini, dari nafas kehidupan, kesehatan dan materi (walau tidak berlebihan). Dan satu lagi, jangan pernah mengeluh.. karena masih banyak orang-orang yang ber'materi jauuh dibawah kita.. Ingat, kita biasa makan di Sushi-Tei, Kentucky, Mc Donald, Hoka Hoka Bento, Pizza Hut, dsb. Beli pakaian ber'merk.. Dengan mudahnya dan dengan seringnya.. Tetapi bagi orang-orang disekitar kita, pecel ayam atau makanan lain dipinggir jalan adalah makanan mewah buat mereka, yang dengan susah pula mereka mendapatkannya..

Semoga bermanfaat... Semoga dengan ini kita selalu mensyukuri apa yang ada untuk kita..


wassalamualaikum,



0 komentar:

Post a Comment