Breaking News

31 January, 2012

Rasaku Rasanya (Ketika putri mungilku beranjak remaja)


Rasanya baru kemarin aku menimang-nimangnya, mengejar-ngejar  kaki kecilnya yang berlari seperti kijang, berdebar-debar dengan hobinya yang suka naik pohon, atau naik sepeda dengan berbagai gaya.  Putri mungilku, anak sulungku sudah melewati masa kanak-kanaknya.  Anakku sudah menjelang remaja, ya ...menjadi gadis kecil yang mulai tumbuh.

Sekarang dia sudah tak mau lagi tidur dipeluk-peluk, sudah malu cipika-cipiki didepan teman-temanya ketika aku mengantarnya ke sekolah.  Tapi sebenarnya dia tetaplah gadis kecil, yang menginginkan kemanjaan dengan ibunya.  Rasa gengsi dan merasa sudah besar lah yang membuat dia malu untuk bermanja-manja.  Akulah yang harus pintar-pintar menyelami hatinya, saat dia ingin kupeluk, dan saat dimana dia ingin dianggap bukan anak-anak lagi.  Saat kami berdua, adalah saat yang tepat aku menumpahkan sentuhan fisik kepadanya.  Dan aku juga jadi tahu, jangan sekali-kali memeluk atau memperlakukannya seperti anak kecil di depan teman-temannya, bisa runyam urusannya.  Bukannya senyum yang aku dapatkan, malah bibir manyun dan wajah cemberutnya yang dia hadiahkan.  Hemm … benar-benar membutuhkan persediaan sabar yang tidak terbatas. 

Kebiasaannya menulis apa saja di buku harian yang biasanya dengan suka cita  diperlihatkannya padaku, kini sudah mulai malu dan bermain rahasia.  Diarynya sekarang dikunci, membuat aku harus mengintipnya penuh rahasia juga ...hemmmm

Sekarang aku punya saingan dalam mematut-matut busanaku.  Mulai baju, rok, jilbab dan asesoriesnya harus serasi, warna, model dan kepantasan waktu memakainya.  Sekarang kami  mulai saling  berbagi.  Jilbab, bros, peniti menjadi benda-benda milik bersama.  Jilbab kanak-kanaknya yang lucu sudah ditinggalkannya, berganti jilbab bergaya ABG, dengan menyematkan pin besar warna cerah didekat telinga atau di leher. Celana monyet lucunya, berganti dengan rok rimpel feminin, dengan corak-corak yang lembut.  Bahkan baju-baju jadulku yang tak pernah kupakai lagi karena sesak atau modelnya yang terlalu remaja, dengan dipermak  sana-sini menjadi koleksi baju baru bagi dia .  Lumayan juga memanfaatkan sesuatu yang sudah tidak terpakai menjadi bermanfaat kembali dan tentunya menghemat anggaran untuk membeli baju baru . (jadi teringat masa remajaku juga yang banyak nglungsur baju mamaku hehehe ternyata buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya ya … )

Dulu ketika mau bepergian dia mau saja kupilihkan baju apa saja, sekarang memilih baju saja harus bermenit-menit itupun melewati bongkar pasang dan meminta pendapat  berkali-kali
“ aku cook enggak pakai baju ini?”
“ Jilbabnya sudah serasi belum?”
Sambil berjalan muter-muter atau lama mematut didepan kaca.  Membuat si Ayah  lebih lama menunggu, karena sekarang ada dua wanita yang sibuk ini itu sebelum pergi  *-*

Ada lagi yang membuat aku sering salah tingkah, dan menelan  gemas dalam hati, ketika remaja kecilku begitu sensitif perasaannya, dia akan bersungut-sungut atau bahkan menyungsepkan kepalanya diatas bantal jika nasehatku dianggapnya menggurui, jika pertanyaanku yang menyelidik dianggap menuduhnya.  Kalau sudah begini aku akan diam dan mengelusnya lembut.

Masa-masa ini , teman, menjadi orang-orang yang mulai dipercaya selain kedua orang tuannya.  Teman-teman yang dianggap sahabat sudah mulai menjadi tempat  curahan hatinya.  Disini aku menjadi tertantang untuk tetap menjadi bagian dirinya, menempatkan diriku menjadi teman curhatnya dan itu butuh kesabaran dan belajar lebih banyak.

Ada juga yang bikin hati berdebar-debar dan deg-degan ... saat kubaca catatannya, dia mulai mengagumi teman sholih (cowok) yang baik, pinter dan ngganteng. Dan waktu aku sharing ke ustadzah  kelasnya,  beliau malah menenangkanku,
“Wajar bu, anak-anak sudah mulai remaja nanti kalau tidak suka dengan teman sholihnya malah repot, tinggal kita yang harus selalu mendampingi dan mengarahkan perasaan-perasaan itu.”
Ohhhh … lega ....
Malah yang membuat semakin geli, ketika bertemu ibu-ibu disekolah, ternyata gadis-gadis kecil kita sudah mulai mengagumi ustad-ustad muda yang mengajar di sekolah.  Sering mencuri dengar celoteh mereka .
“Sstt … ada Usatd A lewat.”
“Ehh, Ustad B cakep dan baik ya ….”  Sahut yang lainnya.
Oalahhhh …  ternyata memang mereka sudah bukan balita lagi. :)

Selain banyak hal-hal yang bikin geleng-geleng kepala dan deg-degan, beberapa hal justru membuatku terharu dan bahkan malu pada remaja kecilku. 

Bagaimana tidak terharu sekaligus malu, ketika sebelum tidur dia sudah memasang alarm dan titip pesan untuk dibangunkan sholat malam, padahal aku sendiri kadang malas-malasan meskipun dering bel berteriak-teriak membangunkanku.  Bahkan, puasa Senin-Kamis pun dia sangat semangat melakukannya meskipun tidak rutin dan itu juga karena sudah janjian dengan teman-teman satu kelasnya.  Sungguh tantanganku bertambah lagi, semakin menyempurnakan ibadahku.

Bahkan kalau aku terlalu banyak gumam-guman sendiri (bahasa halusnya ngomel-ngomel *-*)  dia dengan santai berkata, “Ibu kok kurang bersyukur sih. Harusnya Ibu banyak bersyukur punya anak aku sama adek”
Nhah lo,  kena deh.
Aku cuma bisa bengong, sambil menahan senyum.  “ehh … iya maaf, Ibu bersyukur kok punya anak-anak sholihah yang pinter.”   

Kini aku sedang menikmati proses menemani anakku menjadi remaja.  Dulu ketika anak masih bayi seringkali kita tidak sabar menunggunya cepat besar. Belum jalan,  pingin cepat dia jalan, belum sekolah pingin cepet masuk sekolah begitu seterusnya.  Kita jadi lupa untuk menikmati proses tumbuh kembangnya yang menakjubkan. Ternyata menikmati proses tumbuh kembang mereka sambil terus belajar mencari ilmunya, adalah saat-saat yang paling membahagiakan. Agar tidak kehilangan  masa-masa indah bersama mereka, amanah terbesar dalam hidupku.
Semoga Allah menjadikan mereka anak-anak sholih dan sholihah, yang akan ikut mewarnai dunia ini dengan kebaikan.   

Bundadea 14112010
(kutulis saat putri sulungku berusia 11 tahun)



0 komentar:

Post a Comment