Breaking News

24 January, 2012

RAHASIA IBU

By Diena Ulfaty

Aku masih ingat dengan jelas ketika aku berada di samping pintu ruang tengah dengan perasaan tak menentu. Aku memandang lorong sempit melalui kaca pintu itu dan berkata pada diriku sendiri bahwa dua tahun mendatang ketika aku kembali ke rumah ini, aku yakin salah satu dari keluargaku akan ada yang meninggal. Waktu itu yang kupikirkan adalah Nenek yang tinggal serumah dengan kami. Usianya sudah enampuluh lima tahun. Sehingga ketika aku memutuskan untuk melanjutkan riset superkonduktor di ITB, aku bersalaman dengan nenekku lama sekali, seolah-olah tidak akan bertemu dengannya lagi. Tetapi apa yang kupikirkan tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Musibah mengetuk pintu ketika aku sedang sibuk presentasi di hadapan Prof. Tjia May On untuk memperebutkan beasiswa riset di sebuah Universitas di Belanda. Ayahku memintaku pulang karena Ibu sedang sakit keras.

Aku pulang dan melupakan cita-citaku untuk menuntut ilmu di luar negeri. Beberapa application form yang baru saja aku terima dari Sheffield, Inggris, aku simpan saja di dalam kardus setelah datanya kuisi lengkap dan tinggal menunggu rekomendasi dari Profesor Tjia. Bagiku, kebahagiaan Ibuku jauh lebih penting daripada yang lain. Allah tidak akan menanyaiku tentang gelar apa yang kuperoleh tetapi Dia akan memperhitungkan seberapa besar baktiku kepada Ibuku. Tetapi sesampainya di rumah aku menemukan Ibuku dalam keadaan baik-baik saja, tidak seperti bayanganku semula. Ibuku masih bisa tersenyum, berjalan-jalan meski ada yang berubah dengan caranya berjalan, tetapi jika aku memerhatikan kondisinya secara umum, dia tidak seperti orang yang sedang sakit keras.

Di pagi hari ketika cahaya matahari menerobos jendela ruang tamu dan aku membaca di atas karpet merah yang berdebu, aku bertanya pada ayahku tentang penyakit Ibu. Tetapi Ayah menyuruhku menanyakan hal itu kepada Ibu. Setelah melipat surat kabarnya, Ayah meninggalkanku sendirian bersama Ibu yang terus memperlihatkan senyumnya sambil menatap taman kecil di depan rumah yang bunganya sedang bermekaran.

“Ibu sakit apa Bu? Kelihatannya kok sehat.”

Ibu menoleh ke arahku lalu tersenyum dan berkata, “Tekanan darah tinggi.”

“Tekanan darah tinggi? Apa Ibu yakin hanya itu penyakitnya?”

Ibuku menjawabnya dengan senyuman.

“Ayah memintaku pulang ke rumah padahal aku sedang sibuk di Bandung. Sebenarnya ada apa? Aku yakin Ayah tidak akan menelponku hanya karena Ibu terkena tekanan darah tinggi. Sekarang, aku sudah di sini, dan sebenarnya masih ada kesempatan bagiku untuk kembali ke sana jika Ibu tidak memerlukanku.”

“Aku ingin kau kerja di sini. Tidak usah jauh-jauh di Bandung. Mengajar saja bersama Ibu, sekolahan sedang membuka lowongan guru kau bisa mendaftar di sana.”

Akhirnya karena permohonan Ibu aku bersedia mengajar Fisika kelas 1 dan 2 SMP sesuai bidangku, dan Ibu mengajar Matematika kelas 3. Setiap pagi, kami berangkat bersama, menyusuri jalan setapak sepanjang 400 meter sambil bercerita tentang pengalamanku ikut proyek penelitian. Tetapi ketika aku menyebut-nyebut beasiswa dari Belanda, dan presentasiku yang terputus, Ibu memotongnya dengan, “Ah tidak usah jauh-jauh ke Belanda. Aku tidak pernah merasa tenang jika kau berada di negeri orang.” Lalu kami bercerita tentang hal lain. Ibu suka jika aku bercerita tentang sahabat-sahabatku di laboratorium dan cita-citaku di masa yang akan datang. Tidak apa-apa aku tidak menjadi seorang ilmuwan, yang penting aku bisa menikmati hidup dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Ibuku senang melihatku tetap ceria meski cita-citaku baru saja kukandaskan. Aku tertawa karena masih bisa bahagia dengan keputusanku yang melenceng, dan Ibuku tertawa karena merasa senang bisa selalu berbagi cerita bersamaku setiap hari.

Aku tidak selalu berjalan beriringan dengan Ibu karena Ibuku berjalan teramat pelan. Dengan sepatu haknya yang kian menipis, dia menyusuri jalan setapak dengan nafas terengah-engah, sambil memegangi dadanya, dan sesekali berhenti untuk beristirahat. Lalu dia berjalan lagi dengan langkah yang semakin pelan dan kaku, sementara aku menunggunya di sebuah tempat sambil memerhatikannya dari kejauhan. Ketika aku meraih tangan Ibuku dan menuntunnya, dia berkata, “Jangan perlakukan aku seperti orang sakit. Aku baik-baik saja. Berjalanlah dulu jika kau lelah menungguku.”

Kira-kira dua bulan kemudian, ketika Ibu sudah tidak sanggup lagi berjalan jauh, kami pergi ke tempat mengajar dengan naik becak. Ibuku tidak ingin merepotkan Ayah yang memiliki jam terbang tinggi. Ibu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.

Jilbab Ibu semakin lebar, dan Ibu menjadi sangat lemah. Rekan-rekan Ibu di kantor mulai curiga mengenai penyakit Ibu. Tidak mungkin seseorang yang mengidap tekanan darah tinggi berjalan dengan cara seperti itu, berbicara seperti orang yang kehilangan suara, telapak tangan yang selalu nampak pucat, dan badan yang kian kurus. Tetapi Ibu masih berusaha menyembunyikan penyakitnya. Ketika aku memberitahu Ibu bahwa aku akan pulang telat karena harus pergi ke tukang jahit, Ibu memaksa ikut denganku. Sepulang mengajar, Ibu berjalan tertatih-tatih menyusuri trotoar untuk menemaniku pergi ke tukang jahit. Saat dia duduk di ruang tunggu dan aku diukur oleh si penjahit, aku melihat badan Ibuku menggigil. Aku sangat cemas dan bertanya, “Apa yang terjadi? Ibu sakit apa? Seharusnya Ibu beristirahat di rumah. Jangan mengkhawatrikan aku, aku baik-baik saja.”

Ibuku hanya tersenyum, tidak mengatakan apa-apa.

Tapi kian hari keadaan ibuku kian lemah. Banyak hal yang aneh terjadi. Ibuku terbiasa membawa kapas dan betadine saat hendak ke kamar mandi, dan perlu waktu berjam-jam saat berada di tempat itu. Aku juga sering melihat Ibu mengaduk-aduk cairan berwarna hitam yang baunya mirip dedaunan busuk, lalu meminumnya. Dia bilang kalau itu jamu supaya staminanya kuat. Aku curiga dengan berbagai kebiasaan Ibu yang aneh, dan menduga kalau Ibu terkena kanker. Aku menemukan hasil klipingan Ibu di kamarnya, semuanya membahas tentang kanker, dan bungkus jamu yang berceceran di atas lemari obat semakin memperjelas indikasi ke arah itu. Ayahku menjadi lebih sering ke Surabaya membeli jamu yang diminum Ibu.

Ibu terbaring di kamarnya saat aku sedang duduk di sampingnya sambil bercerita tentang nilai Fisika murid-muridku yang terus meningkat. Tetapi Ibu mengalihkan pembicaraan kami. Dia bilang kalau ingin melihatku menikah. Dia menyayangkan sikapku yang keras kepala dan menolak setiap pria yang ingin melamarku. “Kalau kau semakin dewasa, mencari pasangan akan menjadi sangat sulit bagimu. Kau akan mempertimbangkan banyak hal, dan semakin kau mengenal dirimu, kau akan semakin takut mengambil keputusan itu. Padahal aku sangat ingin melihatmu menikah.”

Ibu berbicara seolah-olah akan pergi sebentar lagi. Dia berbicara seperti orang yang divonis mati. “Semoga aku bisa melihatmu menikah,” katanya.

Aku tidak mengerti sikap Ibu, padahal aku selalu mendoakannya di setiap sujudku agar Allah menyembuhkan sakitnya. Tetapi Ibu seolah memiliki pemikiran lain, baginya keberhasilan itu sangat tipis. Kesembuhan terasa jauh. Setiap keluar dari kamarnya Ibu seringkali berkata, “Aku tidak tahu apakah penyakitku akan sembuh. Aku selalu berdoa agar kau menemukan lelaki yang sesuai kriteriamu.”
Ibuku mengalami pendarahan hebat sampai tidak sanggup lagi mengajar. Ayah meminta Ibu untuk memberitahukan penyakitnya kepada kepala sekolah. Ibu menyetujuinya. Ibu memintaku menggantikan posisinya mengajar Matematika. Atas kebaikan kepala sekolah yang memahami masalah kami, aku bisa menggantikan posisi Ibu mengajar Matematika sehingga jam mengajarku bertambah banyak. Aku hampir saja kewalahan karena capek, tapi aku tidak mau menyerah demi Ibu.

Kini aku sendirian berangkat mengajar, dan abang becak langganan kami selalu bertanya kemana Ibu dan mengapa tidak pernah terlihat lagi. Aku diam saja jika ditanya seperti itu karena aku tidak tahu harus menjawab apa. Setiap hari, sepulang mengajar, aku menemukan Ibuku duduk di ruang tamu menatap taman kecil di depan rumah kami. Dia duduk di situ berjam-jam tanpa melakukan apapun, karena kini dia tidak lagi sanggup berfikir dan melakukan hal-hal ringan. Aku takut dia akan bosan hidup. Sehingga sepulang mengajar aku selalu bercerita tentang murid-muridnya yang kini menjadi murid-muridku, sahabat-sahabatnya yang kini menjadi pengganti Ibuku jika aku menemukan masalah di kantor. Ibu selalu tersenyum saat mendengarnya, dan sedikit sekali berkomentar karena baginya berbicara itu melelahkan.

Suatu hari, sepulang mengajar, aku bertanya kepada Ibuku, “Apa Ibu punya sesuatu yang disukai? Apa yang membuat Ibu senang?”

Ibuku menggeleng lemah dan berkata, “Aku tidak tahu.”

Pada hari yang lain saat aku menemukan Ibuku duduk di tempat yang sama, aku tersenyum riang karena melihatnya bahagia. Dia tersenyum berseri-seri dan aku mulai bercerita seperti biasa. Ibuku tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mendengarku bicara lalu tersenyum dengan senyum yang lebih banyak dari kemarin. Aku sudah melupakan pertanyaanku tentang kesenangan Ibu, tetapi ternyata Ibuku memikirkannya semalaman. Dia membuatku terkejut saat aku sedang duduk santai di depan pintu kamarnya dan mendengarnya berkata, “Aku tahu apa yang membuatku senang.” Ibu berhenti sejenak, matanya berbinar-binar seperti orang yang baru saja menemukan harta karun. Lalu dia melanjutkan, “Aku senang mendengar ceritamu. Setiap hari, hanya kau yang kutunggu saat aku duduk di kursi itu sambil menatap ke arah teras. Apakah kau tahu, kurasa hanya kau yang membuatku senang.”
Kata-kata itu masih terngiang dengan jelas di telingaku saat ini. Mengatakannya lagi membuatku merasakan kehadiran Ibu dan kenangannya di masa lalu. Ibu membuka rahasia tentang penyakitnya kepadaku tetapi aku tidak terkejut. Aku sudah menduganya. Ibu tidak ingin melihatku bersedih, karena jika aku bersedih, dia pasti tidak akan menemukan kesenangan saat melihatku bercerita dengan antusias sepulang mengajar. Jika aku bersedih, maka kebahagiaannya seketika akan terenggut.

Ibuku menderita kanker, dan ketika dibawa ke rumah sakit kondisinya sangat mengenaskan. Dia tidak lagi bisa duduk karena kehabisan darah. Sebelum koma Ibu berkata kepada adikku yang waktu itu mendapat giliran jaga, “Aku hanya ingin dijaga Diena. Mana dia sekarang? Katakan padanya aku ingin pepaya, dia pasti akan membawakannya untukku.” Ibu tidak pernah bangun lagi setelah itu. Dia tidak pernah tahu kalau aku datang sesuai permintaannya, menggenggam tangannya sambil membacakan doa, dan berbisik di telinganya, “Ibu aku di sini.” Dia juga tidak pernah tahu dengan siapa aku menikah, dan berapa cucunya. Dia tidak pernah tahu ceritaku saat mengarungi bahtera rumah tangga. Dia tidak pernah melihatku tersenyum bahagia karena telah menemukan pria yang sesuai kriteriaku.

Dan kini kursi itu telah kosong sejak empat tahun yang lalu, tidak ada Ibu yang menungguku bercerita dengan cerita yang berbeda – tentang putrinya yang kini telah menikah dan dikaruniai dua anak yang lucu-lucu. Aku rindu bercerita dengannya seperti dulu. Di kursi itu, sambil menatap bunga mawar yang bermekaran di depan rumah.

Aku mencintai Ibuku. Meski dia lemah, dengan rambut yang kian menipis karena kemoterapi, dan hanya bisa menjadi pendengar setia. Aku akan mencintainya selamanya, sebab aku tidak pernah kehilangan cintanya sampai dia terkubur di liang lahat.

* based on true story

0 komentar:

Post a Comment