Breaking News

30 January, 2012

Pernikahan untuk Bapak


“Jadi itu keputusan Bapak?”
“Ya. Jangan ada yang coba-coba menghalangiku”
“Kapan?”
“Secepatnya. Bulan ini juga.”
Tegas dan mantap. Itulah Bapak. Aku tidak berminat untuk berkata-kata lagi. Aku tahu apa yang akan dikatakannya jika aku membantahnya. Ia akan bilang bahwa ia tidak membutuhkan anak yang tidak mau menuruti kemauannya. Selalu begitu. Kami, anak-anaknya memang terbiasa untuk mengikuti apa yang ia inginkan.  Kali inipun akan sama.

** -- **

“Egois!”, suaraku terdengar emosi sekali,” Bapak itu benar-benar egois. Semua kemauannya harus dipenuhi. Ia tidak pernah memperdulikan  kita”
“sudahlah”, suara suamiku mencoba menenangkanku,” coba pikir dari sudut pandangnya. Mungkin memang ini yang beliau butuhkan”
Aku memandang suamiku lekat-lekat. Apakah karena mereka sama-sama pria sehngga ia berkata begitu?
“Jadi begitu?”, aku hampir berteriak, ”kalau aku mati pasti abang akan kawin lagi?”
“sstt…”, suamiku memelukku, ”jangan terbawa emosi. Ini masalah bapak, bukan masalah kita”.
Suamiku benar. Tidak adil rasanya menumpahkan kekesalanku pada suamiku.
“Yah…aku tidak janji tidak akan kawin lagi jika kau mati duluan”, suara suamiku menggoda, “makanya jangan mati duluan. Temani aku sampai tua. Kita bersama melihat anak cucu kita tumbuh. Syaratnya dirimu harus sehat, jangan banyak pikiran seperti ini. Oke?” ia mencium keningku dan memperat pelukannya, “Sekarang istirahat dulu. Aku yakin setelah itu pikiranmu akan lebih jernih”.

** -- **

Keputusan yang bapak ambil benar-benar menghantamku. Baru setahun ibu meninggalkan kami, beliau sudah memutuskan akan menikah lagi.
“Bapak tidak sanggup mengurus adik-adikmu. Kalau pekerjaan rumah masih bisa diatasi. Bapak tidak keberatan menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika bahkan memasak,.Tapi bapak khawatir dengan kesehatan adik-adikmu. Bapak cuma bisa masak makanan siap saji. Setiap hari sosis dan nugget, itu kan tidak sehat”.
Aku diam saja. Aku memang masih memiliki dua adik yang masih menjadi tanggungan Bapak. Satu SMA dan satunya SMP. Ibuku melahirkan lagi saat aku sudah kuliah. Soal membantu pekerjaan rumah, aku dan kakakku sudah menawarkan kepada bapak untuk memiliki pembantu tapi ditolak mentah-mentah “Aku tidak terbiasa ada orang asing di rumah. Lagi pula nanti jadi fitnah, bagaimanapun  pembantu itu bukan muhrim”. Kami tawarkan jasa catering untuk mengurus makannya, tapi itupun ditolaknya “ah, menu catering suka tidak enak”.
Melihatku diam, Bapak meneruskan bicaranya,
“Bapak juga laki-laki normal. Bapak punya kebutuhan. Kamu tidak ingin kan Bapak pergi ke tempat maksiat? Itu dosa”
Hatiku sedikit meradang. Baru setahun ditinggalkan Ibu, Bapak sudah bicara kebutuhan sex. Oh, ibu….apa yang akan terjadi jika ibu sakit berkepanjangan dan tidak bisa memberikan pelayanan seorang istri? Apakah Bapak akan meninggalkan ibu atau  berpoligami karena seperti katanya barusan, ia laki-laki normal yang memiliki kebutuhan. Tuhan…baru saat ini aku bersyukur ibu meninggal cepat sehingga terhindar dari kemungkinan itu.
“Bapak sudah tua. Umur Bapak paling sebentar lagi. Bapak ingin konsentrasi beribadah. Karenanya Bapak ingin ada pendamping yang bisa mengurus Bapak dan adik-adikmu sehingga Bapak tenang dan bisa beribadah”
Kartu mati. Aku tidak punya alasan untuk menolak keinginan Bapak.

** -- **

Aku duduk di samping makam ibu. Di banding makam yang lain, makam ibu tampak bersih dan terawat.
“Bapak setiap hari datang ke sini, neng”, penjaga makam itu berkata, “Kasihan… Tampaknya Bapak kehilangan sekali ditinggal ibu. Cinta sekali ya neng”
Aku melengos.
Penjaga makam lalu pamit  untuk membersihkan makam yang lain. “terima kasih ya, mang” kataku.
Aku memandangi makam ibu. Setiap teringat kematian ibu, aku selalu menyesali diriku. Kenapa aku tidak memaksa ibu untuk lebih dini berobat? Aku juga menyesal tidak memiliki banyak uang untuk bisa membawa Ibu berobat ke tempat yang lebih baik. Ke Singapura misalnya. Tapi kalau sudah begitu aku lekas-lekas beristighfar. Ustadz yang memakamkan Ibu mengatakan bahwa hidup mati dan jodoh itu di tangan Tuhan. Kalau Ibu harus meninggal setahun yang lalu, itu karena kontrak hidupnya  sudah habis. Apapun yang kulakukan tidak akan bisa mencegahnya.
Satu setengah tahun yang lalu, aku ingat ibu berkata di telepon bahwa ada benjolan di payudaranya. Suaranya agak sedikit gusar. “Tenang Bu, jangan panik dulu”, kataku menenangkannya, ”siapa tahu hanya pembesaran kelenjar”. Setelah itu ibu tidak berkata apa-apa lagi. Saat kuajak untuk memeriksakan diri ke dokter ibu menolak, ”sudah tidak apa-apa, sudah kempes kok”. Aku mencoba memaksanya namun ibu selalu menolak dan mengatakan sudah tidak apa-apa. Aku tidak memaksanya lagi. Aku pikir memang hanya pembengkakan kelenjar, seperti yang dialami temanku. Temanku panic saat ada benjolan di payudaranya tapi saat memeriksakan diri ke dokter ternyata hanya pembengkakan kelenjar yang tidak berbahaya. Aku tidak tahu bahwa setelah pembicaraan kami di telepon itu diam-diam ibu mencari informasi sendiri  di internet mengenai kanker di payudara. Dari informasi yang ia dapat, ibu mengambil kesimpulan bahwa ia mengidap kanker yang sudah parah. Tapi ia tidak pernah mengatakannya, tidak pernah mengeluh. Dan aku tidak pernah tahu penderitaanya.
Saat menghabiskan waktu tahun baru bersama, kebetulan ada acara ramalan di sebuah televise yang mengatakan bahwa dalam tahun ini akan banyak bencana.
Secara bercanda aku berkata,” wah, jadi ngeri ya. Dimana-mana bencana. Kita harus kemana?”. Ibu menatapku sambil tersenyum, ”di sini saja. Untuk ibu sih, itu jadi peringatan bahwa kita harus siap untuk mati.  Karenanya kita harus banyak membekali diri untuk di akhirat”. Aku merinding. Topik kematian bukan topik yang aku sukai. “Ibu ingin, jika suatu saat ibu sudah waktunya meninggal, ibu ingin meninggal dengan cepat. Ibu tidak mau sakit berkepanjangan. Ibu tidak ingin menyusahkan kalian”. Aku memeluknya, “tapi aku mau ibu panjang umur. Nenek saja bisa sampai menjadi uyut. Ibu juga harus bisa sampai anakku besar, menikah, punya anak…”. Ibu hanya tersenyum.
Setahun yang lalu…
“Ibu sakit”, bapak mengabariku. Aku bergegas ke rumah ibu. Di sana  sudah ada kakak dan adik-adikku. Ibu terbaring sambil tersenyum lemah,”Tadi malam ibu merasa sakit sekali. Rasanya sudah waktunya ibu memberitahu kalian. Ibu terkena kanker payudara dan sudah ganas”. Aku terbelalak kaget. Rasanya seperti ada petir yang menyambar. “Ibu tahu dari mana?”. “Ibu sudah mencari informasi di internet dan buku-buku. Ibu cocokkan ciri-cirinya. Dan memang sudah ganas, mungkin sudah stadium akhir”. Aku mencoba untuk tenang, “Jangan mengambil kesimpulan sendiri. Kita periksakan diri dulu ke dokter ya bu”. Ibu menggeleng, ”tidak perlu, ibu sudah tahu.” Bapak di sebelahku menangis, ”ayo bu, kita periksakan dulu. Kalau tokh memang kanker, itu harus diobati. Kita tidak boleh menyerah”. Kami membujuknya. Akhirnya ibu mau.
Dari hasil pemeriksaan, ibu memang terkena kanker. Dan sudah stadium 3B. Dokter menyarankan untuk dilakukan biopsi dan kemoterapi. Ibu asalnya menolak dengan alasan ibu tidak akan mampu melewati proses tersebut karena usia ibu yang sudah tua.
“Ibu, kita harus berusaha” aku masih ingat suaraku yang mengatakan itu. ”Kita tidak boleh hanya menunggu kematian. Kita tidak tahu sampai kapan usia kita”. Akhirnya ibu mau. Kelak aku tahu alasannya, ibu tidak ingin menyakiti anak-anaknya dengan menolak kasih sayang yang kami berikan. Ibu juga tidak ingin anak-anaknya disalahkan tidak membawanya ke dokter oleh orang-orang jika ia meninggal. Ah, ibu….selalu kepentingan kami yang menjadi pertimbanganmu.  Dan ternyata ibu memang tidak kuat. Seminggu, hanya seminggu, setelah proses kemotrapi yang pertama, ibu langsung menghadap Sang Pencipta. Tanpa keluhan dan dengan begitu cepat. Sesuai dengan yang beliau  inginkan.

** -- **

Ibu adalah seorang yang sangat sabar. Seingatku ia tidak pernah mengeluh. Kadang aku heran dengan kesabarannya, bagaimana bisa ia mendampingi bapak yang begitu keras, yang setiap kata-katanya adalah perintah? Berbanding terbalik dengan ibu, bapak adalah seorang yang temperamental. Salah sedikit atau ada hal yang tidak  sesuai dengan keinginannya bisa membuatnya naik darah. Pekerjaannya sebagai komandan di ketentaraan membuatnya terbiasa dipatuhi oleh bawahannya. Ibu dengan setia melayani dan mengahdapi semua sikap Bapak dengan kesabaran. Ia juga selalu menjadikan dirinya tameng setiap anak-anaknya berbuat hal yang tidak disukai bapak sehingga kami terhindar dari kemarahan bapak. Tapi aku tahu dibalik diam dan sabarnya, ibu akan berusaha untuk meluruskan Bapak. Ibu mencari waktu yang tepat untuk mengoreksi sikap bapak tanpa merusak ego bapak yang tinggi. Sehingga semakin lama bapak semakin sabar. Bahkan semenjak aku menikah rasanya tak pernah aku mendengar Bapak marah-marah lagi. Ibu pernah berkata, ”ibu sudah tenang, Bapak kalian sekarang sudah sabar”. Aku tidak tahu bahwa mungkin itu suatu pertanda. Aku memang tidak peka. Sama tidak pekanya karena aku tidak menyadari bahwa setahun terakhir kondisi ibu memang lemah. Ibu sering terlihat cape. Tapi ibu tidak pernah mengeluh dan selalu menyembunyikan rasa sakit yang dialaminya dengan senyumannya  pada kami.

** -- **

Adik-adikku terdiam lama saat kami berkumpul untuk membicarakan masalah perkawinan Bapak. Mereka tampak pasrah.
“Sebenarnya aku tidak mau Bapak menikah lagi, tapi aku juga tidak mau melihat Bapak stress. Setelah ibu meninggal, Bapak jadi sering marah-marah lagi. Sedikit-sedikit aku dimarahi.  Kalau tidak disetujui, pasti akan marah-marah terus”. Kata adikku.
“Iya, jadi enggak tenang di rumah.” Adikku yang satu lagi menimpali.
Kakakku memandangku. Aku tahu emosinya juga bergejolak. Tapi kami sama-sama tahu bahwa kami tidak mungkin mencegah keinginan Bapak tersebut.

** -- **

“Aku tidak mengerti”, kataku pada suamiku, ”kurang apa kita mengurus Bapak? Setelah ibu pergi, seminggu sekali aku selalu menyisihkan waktu untuk mengunjunginya di sela pekerjaan dan mengurus anak-anak kita. Aku dan kakak juga berupaya untuk menyisihkan uang agar bapak tidak kerepotan soal biaya karena selama ini yang mengatur keuangan kan ibu. Pastinya bapak akan repot mengatur uang pensiun untuk mencukupi kebutuhan”.
“Rasanya aku dan kakak juga berupaya untuk sebisa mungkin mengirimi makanan,” aku melanjutkan, ”kenapa Bapak harus memutuskan menikah lagi? Kenapa tidak fokus saja mengurus adik-adik? Rasanya banyak juga yang ditinggal istri dan tidak menikah lagi. Kalau merasa berat dengan adik-adik, aku sanggup kok merawat mereka”.
Suamiku tersenyum.
“Aku tidak ingin kamu merasa sombong”.
“Sombong kenapa?”, tanyaku heran.
“Kamu merasa sudah cukup merawat Bapak. Dengan cintamu, dengan apa yang kamu lakukan pada bapak, kamu merasa sudah memenuhi kebutuhan bapak. Tapi apakah yang kamu lakukan pada bapak itu memang betul-betul apa yang bapak butuhkan? Mungkin bukan makanan yang kamu kirimkan yang Bapak butuhkan, bukan uangmu. Tapi seseorang yang bisa menemaninya di rumah, bisa berbagi pendapat tentang apa yang terjadi dalam perkembangan adik-adikmu. Aku tidak ingin kamu bersikap pamrih dalam menyayangi bapak. Dengan segala yang kamu berikan, jangan sampai kamu merasa berhak menentukan hidup bapak, menentukan apa yang bapak butuhkan atau tidak”.
Aku tersentak.
“Bukannya aku menyetujui bapak menikah lagi. Kamu pasti tahu perasaanku pada Ibu, Aku sangat menyayangi Ibu dan sangat merasa kehilangannya”. Itu memang benar. Ibu sangat memperhatikan suamiku, sering memanjakannya dengan masakan dan sambal kesukaannya, hal yang jarang dilakukan istrinya sendiri.
“Tapi biarlah semua kenangan tentang ibu ada dalam hati kita. Tugas kita adalah menjalankan semua nilai-nilai dan ajarannya. Kita juga jaga apa yang beliau tinggalkan. Aku yakin ibu pasti ingin bapak dan anak-anaknya bahagia. Kita jaga bapak, kita jaga adik-adik kita. Hanya itu yang bisa kita lakukan”.
Aku mengangguk lemah. Betul juga, jangan-jangan aku memang merasa sombong bahwa aku bisa mengurus segalanya. Mengurus bapak, mengurus adik-adik. Padahal mereka juga memiliki kebutuhan yang tidak bisa kupenuhi secara utuh. Aku tokh tidak bisa selalu berada bersama mereka. Aku punya tanggung jawab keluarga yang aku juga harus jaga.

** -- **

“Bagi bapak, ibu adalah yang terbaik untuk bapak. Tidak ada yang akan bisa menggantikannya. Jika bapak bisa memilih mati, bapak akan pilih mati segera untuk bisa bertemu ibu. Tapi bapak juga sudah berjanji untuk merawat adik-adikmu. Hanya ternyata bapak lemah, tidak sanggup. Bapak butuh yang mendampingi untuk membesarkan mereka. Apalagi mereka remaja. Bapak takut tidak bisa mengarahkan mereka”. Sedu sedan Bapak menjelaskan bahwa alasan yang selama ini dikemukakan hanya untuk memaksa kami menyetujui rencananya menikah lagi. Bapak yang selama ini selalu tampil percaya diri dan tampak berkuasa, saat ini seperti anak kecil yang tak berdaya. Tiba-tiba aku merasa kasihan. Aku merasakan betapa beratnya hari-hari yang dijalani bapak. Setiap hari sendirian, menunggu adik-adik pulang sekolah sambil membereskan semua kebutuhan mereka. Saat ada persoalan, tidak ada teman untuk berbagi pendapat. Kapasitasku sebagai seorang anak tidak memungkinkan Bapak menyampaikan semua apa yang ia rasakan. Sementara aku yang dengan sombongnya merasa sudah mengurus bapak, pada kenyataannya hanya bisa datang seminggu sekali, itupun dengan membawa anak-anak yang masih banyak membutuhkan perhatianku. Bapak  tidak sampai hati menambah bebanku dengan menceritakan persoalannya.

** -- **
Di sinilah aku, menyaksikan ijab kabul Bapakku dengan istrinya yang baru. Jika dibandingkan dengan ibu, istrinya yang baru kalah jauh. Istrinya ini lebih tua dari ibu, sudah banyak keriputnya, dan agak ndeso.
“Bapak mencari yang benar-benar mau mengurus bapak dan adik-adikmu”, begitulah kata Bapak. Aku mengangguk. Mudah-mudahan pilihan Bapak tidak salah. Aku merasakan kerinduan yang teramat sangat pada Ibu sehingga tanpa sadar air mataku menetes. Aku menatap ke depan dan aku merasakan kehadiran ibu di tempat itu. Seolah Ibu tersenyum sabar untuk menguatkanku. Aku menghela nafas. dan berbisik dalam hatiku….Aku janji Bu, aku akan menjaga apa yang kau tinggalkan.


















0 komentar:

Post a Comment