Breaking News

30 January, 2012

Perempuan Tangguh Itu Ibuku



            Ingatanku tak kan pernah hilang atas apa yang sudah dilakukannya untuk keluarga.  Hampir tiap hari bangun pagi-pagi sekali, dikala yang lain masih terlelap dalam buaian mimpi,dia sibuk mempersiapkan adonan-adonan kue yang akan di titipkannya ke warung.  Sungguh aku tak pernah dengar keluh kesahnya walaupun kala itu aku masih amat kecil untuk mengerti susahnya hidup ini. 
            Dia perempuan sederhana yang tak mengenyam pendidikan tinggi, menikah di usia belasan tahun hanya bersuamikan seorang prajurit. Tapi tekad dan semangatnya, tak ingin semua anaknya terlantar, semua harus merasakan bangku kuliah.  Suaminya  selalu menyuntikkan semangat, untuk bisa mendidik anak-anaknya di rumah dengan baik.  Keinginan Sang suami bukan suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan, ingin menjadikan anak-anaknya sarjana.  Karena dia rasakan sendiri bagaimana pahitnya hidup sebagai bawahan yang hanya mengenyam pendidikan rendah.  Suaminya punya mimpi besar, berharap anak-anaknya kelak tidak seperti dirinya, yang hanya pegawai golongan I.
            Di awal pernikahannya, begitu banyak ujian yang mendera, hampir-hampir ikatan pernikahannya terputus.  Betapa tidak, di usianya yang masih belia harus menanggung beban hidup yang berat.  Gaji suaminya yang tidak seberapa itu kerap kali harus dibagi dengan adik-adik suami yang menumpang di rumah kontrakan mungilnya, maklum suaminya banyak saudara dan dari keluarga sederhana pula.  Waktu itu dua anak sudah lahir, kadang makan hanya sekali sehari. emosinya masih amat labil, jika tak sanggup atasi himpitan beban, pulanglah ia ke rumah Sang Ibu.  Untunglah suaminya mengerti, cepat-cepat diselesaikan masalah yang ada.
            Waktu terus bergulir, pernikahannya terjaga, hanya karena cinta dan sayangnya pada buah hati yang telah lahir ke dunia, membuat dia semakin tabah menjalani hidup, membuat dia semakin tangguh... Seiring waktu, semakin matang pemikirannya.   
            Di tahun ke 7 pernikahannya, Allah menitipkan padanya tiga buah hati yang semua berkelamin laki-laki.  Kini semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, dia sadar kalau hanya mengandalkan rejeki dari Allah lewat suami saja tidak mungkin mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.  Mulailah dia merintis usaha yang bisa ditekuninya sambil mengurus tiga buah hatinya.  Berguru pada mertua yang jago masak, belanja kebutuhan sandang kemudian di tawarkan pada tetangga, sampai kredit barang elektronik dan meubel sekalipun ditekuninya.  Dia, perempuan jujur hingga tidak sulit membangun relasi.  Usahanya bisa dibilang lumayan, bisa membuat anak-anaknya kenyang dan sedikit menabung.  Himpitan ekonomi bukan jadi topik utama keluarga ini sekarang, karena yakin Allah pasti membantu jika mau berusaha. 
            Ada yang kurang ternyata, keriangan keluarga ini tanpa hadirnya seorang gadis kecil.
Dia menyanggupi untuk hamil, tentunya anak yang keempat.  Berharap sekarang Allah mengaruniakan anak perempuan.  Hamillah ibu tadi, bulan demi bulan penuh kepayahan karena sambil mengurus satu anak kecil dan dua balita.  Lagi-lagi tak ada keluh kesah darinya.  Dia jalani ini semua dengan ikhlas apa adanya.   Tiba saatnya melahirkan, Alhamdulillah Allah mengabulkan permintaan suami istri ini dengan memberikan seorang putri.  Ahh lengkap rasanya keluarga ini, ada gadis kecil hadir di tengah-tengah mereka.
            Dua tahun berselang, Si sulung kini berusia sepuluh tahun, anak ke dua delapan tahun, ke tiga lima tahun dan gadis kecil berusia dua tahun.  Tak disangka, Allah kembali mengamanahinya untuk mmpunyai anak lagi. “Subhanallah”, dia bergumam kala itu... Tentunya Allah menganggap dia dan suami mampu jalani semua dengan karunia lima orang anak, tentunya untuk memenuhi sandang, pangan,papan anak-anak mereka. 
Sembilan bulan sudah...
Waktunya melahirkan. “Perempuan!”. “Selamat, Bu!” ujar dokter yang membantu persalinannya.  “Terima kasih, Dok!” “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau amanahkan rejeki yang tak ternilai buat hamba, semoga hamba bisa mendidik mereka hingga selamat dunia dan akhirat!” ujar perempuan itu lirih. Suaminya mengaminkannya.
Lima tahun kemudian...
            Si Bungsu yang tidak lain adalah Aku menginjak usia lima tahun, saat itu.  Tentunya kakakku yang sulung beranjak remaja, demikian yang ke dua, tiga dan empat.  Semakin besar anak-anak, semakin banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.  Bapak tak dipungkiri sibuk banting tulang cari tambahan, dengan kerja ekstra mengawal bis anak-anak sekolah, tentunya seijin atasannya, karena sekolah tersebut berada di bawah naungan instansi tempat bapak bekerja.
            Yang Aku tahu saat itu, Ibuku berjualan kue dengan cara menitipkannya ke warung-warung sekitar rumah kami, kakak-kakakku yang mengantarkannya. Kue-kue ibuku antara lain risoles, dadar gulung, martabak telur dan bala-bala.  Receh demi receh  hasil keringat ibu, dia kumpulkan.  Berharap dengan recehan itu, kelak bisa menghantarkan anak-anaknya sekolah tinggi, tidak seperti dirinya dan suaminya.
Dua tahun berikutnya
            Alhamdulillah,  Kakak sulungku masuk salah satu perguruan tinggi negeri ternama di kota kami melalui jalur SIPENMARU.  Rasa syukur tak terhingga,  ibuku berhasil menghantarkan anak pertamanya menempuh pendidikan tinggi, dengan segala keterbatasan yang ada.
            Ibu terus berjuang membantu bapak... Untaian doa disetiap sujudnya, di sepertiga malamnya tak lepas mengiringi perjalanan hidup keluarga kami.
Kakak-kakakku semua sarjana, Alhamdulillah... Semua berkat rahmat Allah dan perjuangan tanpa lelah kedua orang tuaku.
Hingga akhirnya aku, Si Bungsu jadi sarjana di tahun 2001 dari universitas negeri di kota tempat tinggal kami.  “Gak kuat Bapak dan Ibu kalau kamu ga masuk negeri, Ri!” kata-kata itu yang jadi motivasi aku untuk belajar tekun dan tidak mengecewakan.  Wajah ibu dan bapakku berseri kala itu.  Terlintas rasa puas dan bahagia mereka berhasil mendidik aku dan keempat kakakku.
            Bapak dan ibu bisa bernafas lega sekarang, melihat semua putra-putrinya sukses secara pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang cukup membanggakan mereka.  Mimpi besar Bapak, terwujud! Tak lepas dari  dukungan tangan ikhlasnya ibuku.
            Tujuh tahun lalu, Bapak dipangil untuk menghadap-Nya.  Rasanya begitu cepat aku bersamanya, belum sempat aku balas semua jasa dan mimpi besarnya.  Hanya untaian doa yang bisa ku panjatkan, Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihii wa’ fuanhu ,semoga Allah menukar semua cucuran keringatmu untuk kami anak-anakmu dengan Syurga-Nya. Amiin Ya Rabb.
            Ibu orang tuaku yang ada kini. Di usianya yang senja, ingin rasanya ku bahagaiakanmu.  Apa yang membuatmu bahagia akan aku lakukan, karena bahagiamu adalah bahagiaku, dukamu adalah dukaku. Semoga kelak Allah pertemukan keluarga kita di Syurga-Nya.  Amiin.  Peluk cium dari anakmu... Terimakasih atas segalanya.
 Alhamdulillah yaa Allah, Engkau anugrahkan padaku orang tua yang shaleh dan shalehah.  Hingga dapat mengantarkanku sukses di dunia dan mudah-mudahan di akhirat kelak.








0 komentar:

Post a Comment