Breaking News

31 January, 2012

Penggalan Novelku "PESAN TERAKHIR"


Share penggalan novelku yang lagi kugarap. Minta masukannya dooong. Baru dapat 85 halaman.

Gemetar tangan Naila memegang koran yang memuat headline berita tentang dirinya itu. Tapi, apa hubungan antara dirinya dengan narapidana yang tewas ditembak karena upaya bunuh diri itu? 
“Benarkah aku anaknya? Bagaimana mungkin laki-laki yang sama sekali tak pernah kukenal, tak pernah kudengar namanya itu tiba-tiba diberitakan sebagai bapak kandungku?” Dan puluhan pertanyaan lain bertubi-tubi memenuhi rongga kepala Naila. Membuat tengkorak kepalanya serasa dipukul-pukul.
“Ya Tuhaaaaan!! Belum cukupkah cobaan yang kau timpakan pada hamba-Mu ini?”
Naila memegangi kepalanya yang mendadak kembali terasa sangat sakit. Dan kembali ia mendengar suara-suara ejekan, teriakan-teriakan menyakitkan itu memenuhi kepalanya. Menusuk-nusuk gendang telinganya. Naila berteriak-teriak histeris.
“Diam..... hohoho Diaaaaaaaaaaaaam!!! Kalian siapa?”
Tangisnya memenuhi lorong ruang isolasi di rumah sakit itu. Saat itu, tak ada satu orang pun perawat yang menjaganya karena setelah dua hari tersadar setelah koma selama sepuluh hari dan mulai bisa diajak komunikasi, dokter menilai kondisi Naila sudah stabil. Tak ada yang tahu bagaimana selembar koran yang memuat berita usaha bunuh dirinya itu bisa sampai di dalam kamarnya.
Dua orang perawat laki-laki dan seorang perawat perempuan berlari-lari tergesa saat mendengar teriakan Naila. Begitu sampai di kamar Naila, mereka melihat tangan pasien Naila telah berlumuran darah. Naila telah melepas selang infusnya, ia juga melepas perban bekas luka di pergelangan tangannya yang ia buat saat mencoba bunuh diri dua belas hari yang lalu.
“Katakan pada mereka! Suruh diam! Atau aku akan membunuh kalian satu persatu!”
Naila histeris. Dia menangis, dia menjerit. Dan dia sama sekali tidak peduli pada darah yang masih menetes di pergelangan tangannya.
“Mbak Naila.... sadar ya Mbak. Mbak berbaring lagi, ya!”bujuk perawat perempuan itu. “Tak ada siapa-siapa di sini!”
Hua... huaaaa. Naila meraung. Tangisnya memecah kesepian senja di rumah sakit. Kadang tangis itu terasa sangat menyayat.
“Apa salahku? Aku tidak pernah meminta dilahirkan ke dunia ini bila hanya untuk dibuang dan dihinakan?”
“Win, kita kasih penenang. Tadi advis dokter bambang kan gitu,” bisik Santo, salah satu perawat, pada perawat perempuan, Wiwin.
Wiwin dan temannya mengangguk. Dengan cekatan Wiwin mengambil segala peralatan yang dibutuhkan. Setelah siap dengan kode acungan jempol, kedua perawat laki-laki itu mendekati Naila dengan cepat, memegang kedua tangan dan kakinya lalu dengan paksa membaringkan tubuh Naila yang mulai lemas itu di atas ranjangnya.
“Lepaskan aku! Lepaskan!”
Tanpa menghiraukan teriakan Naila yang terus meronta-ronta, Wiwin menyuntikkan penenang melalui selang infus yang sudah terpasang kembali.
Pelan-pelan tenaga Naila yang sudah terkuras banyak karena teriakan dan tangisannya serta tetesan darahnya yang masih terus mengalir, membuat perempuan bermata belo tanpa cahaya itu semakin melemah.
“Tuhan... Kalau saja aku boleh memilih sebelum saat penciptaan, tentu akan kupilih  sperma laki-laki mana dan di rahim perempuan mana aku ingin dilahirkan. Agar aku tak jadi bahan olokan! Tuhan... katakan, pada perempuan yang mana aku boleh memanggil ibu? Huuuu... ,” suaranya semakin melemah, melemah, dan akhirnya perempuan muda berkulit langsat itu tertidur.
“Kasihan,” bisik Santo.
Wiwin mengangguk.
“Dia pasti mengalami cobaan hidup yang sangat berat. Sayang ya... perempuan secantik ini harus mengalami nasib yang malang,” balas Agung, perawat laki-laki yang sejak tadi hanya diam.
“Naksir?”goda Santo.
“Kalau dia mau, siapa yang bisa nolak? Yang seperti ini, mana sanggup aku mendapatkannya,” balas Agung sambil cengengesan.
“Dasar!”timpal Wiwin setengah kesal. Bagaimana tidak, selama dua tahun bekerja di ruangan yang sama dengan Agung, diam-diam ia telah jatuh hati pada pemuda itu. Sayang Agung tak mempedulikannya.
“Sudah ah! Beresin dulu ruangan ini,” ajak Santo menetralisisr suasana.
Agung menatap Santo seakan hendak mengucapkan terima kasih atas perhatian temannya itu yang menyelamatkannya dari perdebatannya dengan Wiwin. Sudah lama ia tahu Wiwin menyukainya, tapi ia tak bisa membalasnya. Bukan karena Wiwin kurang cantik, tapi sikap Wiwin yang seringkali judhes dan galak membuatnya memilih mundur.
Agung memasukkan buah-buahan dan kue yang berserakan di lantai setelah dibuang oleh Naila tadi. Beberapa lembar koran juga ia singkirkan. Wiwin dengan sigap menyapu lantai ruangan itu. 








0 komentar:

Post a Comment