Breaking News

01 February, 2012

Pelabuhanku Masih Tak Berpenghuni





Penantian itu…
Entah sejak kapan perasaan ini hadir dan berkecamuk dalam imajinasiku yang tak karuan. Aku benar-benar seperti tenggelam dari dunia. Hampa dan mati…. Tak baiklah bila aku menyebut diriku telah mati. Bukan ragaku, tapi jiwaku yang terasa mati dan sepi. Hidup ku terasa tak terkendali, bosan, dan lunglai akan iman. Yah, aku mengatakan pada diriku yang bodoh ini. Aku FUTUR. Penyakit yang hadir dalam jiwa. Kala tak ada nutrisi dalam jiwa yang mengantarkanku pada Sang Khalik. Kenapa tidak! Wajar saja. Aku seperti tenggelam bersama butiran indahnya dunia. Aku hilang dari peradaban dakwah.
***
Puisi Cinta
Setelah menjalani masa Praktek Kerja Lapangan yang diadakan oleh Jurusan di Universitas, tempatku belajar. Aku dihadapkan dengan kondisi iman yang buruk. Entah! Padahal aku masih mengikuti serangkaian tarbiyah dalam liqo’atku. Tapi, ternyata itu hanyalah formalitas agar aku tak dirasa hilang oleh teman dan murobbiyahku saat itu. Tapi, ternyata mereka pun telah mengendus kegamanganku. Aku yang pendiam, meski tak terlihat. Lebih senang menyimpan segala masalah ku sendiri. Aku tak ingin orang lain tahu. Sekali pun dia orang tua ku, abangku, atau murobbiyah. Aku memang sulit, untuk hal itu. Yah, terbuka pada orang lain.
Saat itu memang benar-benar aku tak tahu harus apa dan bagaimana. Aku tengah menanti. Menanti hal yang belum aku ketahui. Itu hanyalah rahasia Allah. Yah, aku jatuh cinta! Pada seseorang yang aku tak pernah tahu siapa dirinya, yang membuat aku mencurahkan isi hatiku pada puisi-puisi tentang dia. Karena aku jatuh cinta, maka tak ada yang ingin kusampaikan kecuali keresahan hatiku menantinya hingga terukir dalam kumpulan puisi ku, yang ku buat dengan tawa keharuan yang tak lepas dari syukur. Sehingga aku tak hanya menanti dalam diam, tapi penantianku ku curahkan pada tinta cintaku. Inilah kali pertamanya aku membuat puisi cintaku untuknya.

Ketika ku Menanti…
Padanya...
Ku titipkan bening yang menitik lembut
Menelusup pada celah tak bertepi
Padanya...
Ku titipkan rindu
Pada cinta yang tersimpan rapat dan erat
Tak terbongkar
Hanya aku dan Allah saja
Agar aku lebih tenang
Meskipun aku amatlah gelisah
Dengan perasaan tak nampak
Ku buang kail yang menyangkut dihatiku
Yang tak nampak dan tak teraba
Ku buang saja semua agar aku tak sakit
Hanya ku bisa titipkan pada Nya

***
Resah dan resah
Ketika dilema ini hadir bersama hari-hariku. Aku merasa bahwa aku adalah manusia yang paling merana, seolah hanya akulah yang mempunyai masalah sedunia. Aku hanya sebagian wanita yang mungkin tengah menanti seseorang untuk menjadi teman seperjuangan. Sebagai peneduh kala suka dan duka melanda. Jikalau itu semua terjadi, aku ada yang menemani. Saat itu kegalauan merajalela. Tak menentu! Begitu tepat pada sasarannya, yaitu hati ku. Setelah semua ku lalui dengan hati yang tak menentu. Kala pagi datang pun aku tak dapat menikmati indahnya hari yang Dia anugerahkan pada ku. Terlintas dibenakku. Dahulu, saat cinta pada seseorang hadir di hati ku. Sebisa mungkin aku menetralisir perasaan itu. Aku mencintainya dalam keheningan ku. Aku tepis hingga tak ada yang tahu kecuali aku dan Dia Maha Pemilik Hati saja. Aku bisa melupakan perasaan itu, saat aku dengan sengaja menyibukkan dengan aktivitas dakwah dikampus, masyarakat, dan kuliah ku. Tapi…mengapa? Mengapa saat ini tidak bisa aku hilangkan. Mengapa perasaan ini terus besar bagai luka yang membesar dan parah? Pertanyan itu teruslah memenuhi ruang di otakku. Isak tangis pun selalu, kala aku menghadap Nya disaat salat. Astagfirullah….
***
Ritme perjalanan
Aku terus saja meminta padanya. Satu hal yang saat itu aku segera ambil keputusan. Menikah! Tapi, itukah solusinya? Entahlah! Aku masih saja berdiam diri. Terpaku dalam sepi. Bukan, meski ramai ku bersama dengan keluarga, tapi aku tetap merasa sepi sendiri. Hingga akhirnya aku putuskan untuk mengasingkan diri. Aku tak tahu, setidaknya aku bisa mencari ketenangan saat itu. Agar aku bisa mendapatkan solusinya, agar aku lebih berfikir….
Actually, saat aku mengirimkan pesan pada teman ku melalui sms, kalau aku hendak berkunjung dan menginap di kostnya ternyata, dia hendak pulang kampung. Yah, saat itu aku langsung membalas pesannya dengan girang aku berkata,”aku ikut yah, mba? Dia pun menjawab,”wah, dengan senang hati boleh sekali.”
Subhanallah…. Inikah takdir Nya. Ia sudah mengizinkan aku untuk merenung. Meski harus ke suatu tempat. Aku jadi teringat dengan kisah Nabi Muhammad dan sahabat yang mengasingkan diri ketika para kafir datang hendak membunuh Nabi SAW. Aku bukanlah melarikan diri dari masalah. Tapi, hanya saja aku terlalu lemah dan ingin berusaha pergi dari hingar bingar kegalauan yang serta merta terus menerawang dalam imajinasi yang tak pasti. Konyol, bila lari dari masalah! batinku saat itu. Mungkin…ketika aku pergi, aku menemukan hal baru yang bisa ku ambil dari kehidupan orang lain saat itu. Subhanallah…
Hemm…. Udara pedesaan sungguh menyegarkan dan jauh sekali dari kendaraan yang penuh sesak dan bau asap bus angkutan dan truk.
Aku dipertemukan dengan sepasang suami istri. Dia adik kandung dari temanku ini. Ternyata dia telah di dahului adiknya yang menikah di umur 17 tahun. Bagi ku ia seorang wanita kecil yang…terlihat dewasa. Subhanallah…ilmu itu akhirnya aku dapatkan. Entah apa maksud Nya yang pasti ini ibrohnya. Yang lebih menakjubkan lagi. Di umur pernikahannya yang baru saja setahun lebih mereka telah dikaruniakan dua anak, semuanya laki-laki. Aku betul-betul terkesima. Dia dan suaminya sangat jauh perbedaan usiannya. Tapi, mereka bisa saling cinta dan damai dalam rumah tangganya. Saat itu aku berfikir, menikah diusia dini pun tak ada masalah bagi mereka. Semoga ini adalah ibroh Nya. Amiin….
Setelah aku pulang. Meski hari-hari ku masih hampa. Tak tahu harus melakukan apa. Mereka masih tetap berpose diangan-anganku, pikiran yang terkadang ingin segera ku tunaikan.
“Aku niat ingin menikah tahun ini!”ujarku siang itu.
“Yakin tah mba?”tanya adik tingkatku saat itu.
“InsyaAllah. Semoga Allah mendengarkan doaku.”jawabku tegas.
“Yah,semoga saja kau diberi kemudahan, mba.”
Sebenarnya aku pun masih ragu. Apakah kata-kata ku tadi bisa ku buktikan? Tapi, wallahu a’lam bishowab. Itu hanya urusan Allah saja dan aku hanya berusaha, bagaimana caranya agar Allah merasa kalau aku sudah pantas untuk menikah. Heh…rasanya norak sekali bicara seperti ini. Toh, lagi-lagi semuanya adalah kehendak Nya. Tapi, tak apalah. Aku harus optimis. Hingga akhirnya aku belajar apa yang sebelumnya tidak terlalu aku pelajari. Yah, semua tentang ilmu pernikahan, kesehatan, psikologi keluarga dan anak, belajar masak…yang pastinya semua tentang rumah tangga deh, aku pelajari. Dari internet ataupun baca buku. Berbagi tausiyah dan share tentang pernikahan yang aku anggap itu jadi ilmu realitynya melalui internet dan langsung pada murobbiyah ku saat itu. Satu tanggapan yang aku sangat ingat (bukan berarti yang lain tidak ingat), ketika aku bertanya tentang pernikahan pada murobbiyah ku meski dia pun belum menikah.
“Pernikahan itu agung…. Kita tidak perlu takut untuk menikah. Karena itu adalah ibadah yang pahalanya sangat luar biasa Allah berikan bagi keduanya…. ”
“Subhanallah…aku langsung bersyukur. Ketika aku sudah punya niat untuk menyegerakan menikah, tapi….”
Aku masih ingat sekali dengan pertanyaan yang selalu membuat ku ragu untuk menikah. Semua pertanyaan masih bermain dimemori ku. Pertanyaan yang membutuhkan kesiapan untuk menjawabnya;
“Hina sekali ketika menikah kau jadikan solusi untuk menghilangkan aktivitas bekerja.”
“Apakah yang ada di otak mu hanya menikah? Sedangkan diluar sana masalah ummat banyak sekali.”
“Seharusnya kau harus lebih bisa menjaga hati dulu, baru kau menikah.”
“Apakah kau sudah merasa siap untuk menikah, sedangkan keuanganmu pun tidak memadai.”
“Sudahlah…cari saja lelaki yang biasa. Yang sesuai dengan kriteriamu. Kaya, tampan, yang penting kau bisa menikah. Masalah soleh atau tidak. Ah...gampang! Itu bisa dipelajari setelah menikah…. Mau nikah tahun ini kan?”
Astagfirullah….
Lagi-lagi aku merasa ragu. Hah…. Aku bersimpuh diatas mihrabNya dan meminta sepenuh hati dan sesungguhnya aku ingin menyegerakan untuk menikah, sebagai tempat dimana aku bisa mengabdi pada seseorang yang telah ia takdirkan untuk ku, gadis lemah.
Subhanallah walhamdulillah walaa ilaahaillallah…. Syukurku pada Ilahi Rabbi…. Ia yang sebagai penggenggam jiwa ini, sebagai tempat curahan isi para hamba yang beriman. Semoga Ia adalah tempat dimana pun sebagai sandaran hidup kita. Allah yang Maha pembolak balik hati hambaNya, yang kuasaNya tak pernah kita duga sebagai wujud kasih sayangNya pada ciptaanNya. Hingga kan ku nanti dia, dengan segala kesiapan akan kesabaran ku dan keimananku. Aku akan menyegerakan untuk menikah, dan akulah pelamin hidupnya. Kan ku nanti dikau….
***
Ada yang hadir dipelabuhanku
Dan…. Hingga akhirnya Allah telah mengabulkan seluruh doa ku dan aku t’lah berusaha membuat diriku untuk pantas menikah di usia dini meski dengan segala kekuranganku. Segala dilema t’lah terjawab sudah hingga aku mencoba kembali menata hatiku dan sangat mantap di usiaku yang genap 22 tahun (seperti dalam impian ku loh!) aku telah menyempurnakan sebagian agama ku dengan menikah. Meskipun orang tuaku termasuk Mama ku ragu kalau putri satu-satunya akan pergi dibawa kekasih hidupnya. Belum lagi kuliahku yang tinggal semester akhir. Alhamdulillah…. Ternyata inilah seseorang yang akan menemaniku bersama ribuan ombak dunia yang terkadang menenggelamkan kita pada dunia fana. Aku seh! agak tergelitik. Selepas pernikahan teman dekatku sewaktu SMA yang bernama Rini, ia mengenalkan aku dengan sepupunya yang kini aku dan dia telah bersatu menjadi sepasang merpati yang kan selalu bersama insyaAllah kecuali kematian, bahkan dia ingin kematian kami pun kelak akan bersama, insyaAllah….dan aku bilang pada temanku “kita bakal jadi saudara neh, ian…???
Proses demi proses aku jalani, suka duka pun aku terima dan terus bersabar, meskipun terkadang ada perih karena hambatan dari pihak keluargaku. Papa ku yang sebenarnya menerima tapi tidak yang lainnya. Segala kesalah pahaman yang pernah tertoreh pun jadi masalah yang membuat kami harus lebih bersabar dan banyak bersyukur juga berdo’a. dan tak lupa saat aku meminta dikala malamNya. “Ya allah jikalau ia yang Kau pilihkan untukku, baik untuk masa depanku. Maka satukanlah kami. Tapi, jikalau dia bukan yang Kau pilihkan untukku dan tidak baik untuk masa depanku, maka jauhkanlah ia dari hatiku….”
Hingga saat itu pun indah
Barakallahulaka wabaraka’alaika wajama’a bainakuma fiikhoiir….
Alahamdulillah saat yang dinantipun hadir. Dengan segala debar menjalani hari-hari dalam penantian. Kikis semua dilemma, sedih, resah, dan semua kegalauan yang pernah hingga dihati dan pikiranku. Hingga saat yang indah itu pun hadir tepat pada waktunya. Dan syukur pun tak luput dari bibirku. Terima kasih Ya Allah atas pernikahan ini….
Senandung dari grup Nasyid Seismic pun tak bosan ku putar dari handphone ku.
Dan ingin ku katakana pada dunia….
“Kini pelabuhanku telah berpenghuni dan kami akan berlayar bersama dengan biduk, lalu kami akan mengubah biduk kami dengan perahu dan seterusnya, hingga kamipun bersiap untuk merancang masa depan bersama, melewati ombak yang besar dan batu yang terjal….”










Biografi Penulis:
Hoshi Yuugata, adalah nama pena dari Dian Kartika Sari. Saat ini Hoshi yang lahir pada tanggal 15 Juni 1987 tinggal bersama kasihnya(red.suami) dibandar jaya Lampung Tengah. Aktif di Forum Lingkar Pena Wilayah Lampung, sebagai anggota sejak 2006. Penulis pernah kuliah di FE Universitas Lampung jurusan Ekonomi Koperasi 2005. Bila ingin silaturahim silahkan mampir di blog, www.lailanahwa.multiply.com atau bisa juga kirimkan email ke hoshiyuugata14@yahoo.com.

0 komentar:

Post a Comment