Breaking News

30 January, 2012

Ote-Ote Buatan Ibuku


Ibuku adalah perempuan yang hebat, dia bekerja banting tulang membantu ayah untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Ibu berjualan di kantin sekolah sedang ayahku bekerja sebagai tukang kebun di sekolah. 
Sejak ayah meninggal, ibuku yang menggantikan ayah menjadi tulang punggung keluarga. Hampir setiap pagi jam 03.00 ibuku sudah mulai membuat berbagai macam kue, padahal udara di desa dingin sekali. Sebagai anak yang paling besar aku berusaha untuk membantu ibu.
“Ani, ayo bangun, “Bisik ibu
“Aduh bu, aku masih ngantuk,”Aku mengeluh
“Ibu kesiangan, tolong bantu ibu nak, “Ibu berkata pelan sekali takut adikku terbangun.
Tidak biasa ibu membangunkan aku sepagi ini, memang aku selalu membantu ibuku setelah aku sholat shubuh, tapi hari ini ibu kesiangan terpaksa aku harus ikut bangun jam 04 pagi. “Kasihan ibu,  “ gumanku. 
Aku langsung bangun dan segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan sholat subuh setelah itu aku bergabung sama ibu membuat kue.  Aku memang anak pertama dari  4 bersaudara, ketiga adikku masih  kecil.
“Kamu bantu ibu goreng Ote-ote ya, “ ibuku menyerahkan bahan yang mau digoreng
Aku sudah terbiasa membantu menggoreng ote-ote, dengan cepat aku menyelesaikan tugasku.  “Sudah selesai, apa lagi bu? “aku menanyakan apa yang bisa aku bantu
“Krupuk ini saja kamu goreng dulu, habis itu tahu isi” kata ibu sambil menyiapkan apa saja yang mau aku goreng. Setelah semua selesai, aku langsung mandi untuk bersiap ke sekolah sebelum berangkat aku membantu ibu untuk menata dagangannya di kantin sekolah.
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,”kataku senang sambil menyiapkan perlengkapan sekolah
Temanku sudah menunggu dari tadi, lalu kami bersepeda menuju ke sekolah, padahal jarak rumah ke sekolah hampir 6 km.  Aku hampir tidak pernah mendapatkan uang saku, aku sangat mengerti keadaan ekonomi keluargaku, untuk mengganjal perutku, aku biasa membawa bekal nasi sama ote-ote dan 1 botol air putih.
Aku nggak pernah berkecil hati walaupun hampir semua temanku setiap istirahat selalu ke kantin, sedang aku setiap hari makan nasi sama ote-ote.  Tapi aku tetap bersyukur dalam keadaan yang serba kecukupan keluargaku masih bisa menyekolahkan aku sampai SMA.
Waktu istirahat tiba, setelah semua temanku pergi ke kantin, aku membuka bekalku.  Tanpa aku sadari, ada sepasang mata yang mengawasi aku dari tadi.
“Makan apa kamu?” Kata Eti sinis sambil melihat apa yang aku makan, “Hah, hari gini bawa bekal ke sekolah, ikannya ote-ote lagi”, Eti menghinaku, eti terus berteriak memanggil teman-temanku. Saat itu aku merasa dipermalukan.
“Aku hanya tertunduk, aku terdiam. Ya Allah tolong aku.” Bisikku lirih
Kemudian datanglah Santi, ketua kelasku. Dia melihat apa yang terjadi padaku, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. “Kamu lagi makan ote-ote ya”,  beli dimana, kok kelihatanya enak? Eti tersenyum kecut melihat Santi yang tertarik pada ote-ote yang aku makan. Lalu aku memberikan pada Santi 1 potong ote-ote.
Santi mencicipi ote-ote buatan ibuku “Ehm, enak banget ya! Katanya
Tak kusangka, santi yang anak orang kaya, ternyata punya sifat yang menyenangkan “Kalo boleh tahu, kamu beli dimana? tanya Santi penasaran  "Boleh nitip nggak?" Lanjutnya
Santi tertarik dengan ote-ote buatan ibuku, aku bangga ternyata hasil karya ibuku diminati juga sama temanku. “Ote-ote buatan ibuku San, kamu mau pesan berapa?” tanyaku
Menurut Santi, keluarganya adalah pecinta Ote-ote, karena hampir setiap hari keluarganya beli ote-ote untuk camilan.  Dia punya rencana mau pesan ote-ote buatan ibuku setiap hari 10 potong.
Ternyata tidak semua orang menghinaku, terbukti masih ada teman yang baik sama aku. Bahkan tak jarang mereka pesan. Sekarang aku jadi punya kegiatan tambahan yaitu membuat ote-ote sekaligus menjual kepada teman-temanku, lumayan banget bisa menambah penghasilan ibuku.
“Ani, bisa bawakan ote-ote untuk ibu besok, “ kata bu Ida guru matematika
“Bisa bu, berapa banyak?” tanyaku sopan
“Kebetulan di rumah ada acara arisan, ibu pesan 30 potong, sama pisang gorengnya 30 potong, nanti antarkan ke rumah ya,” Bu Ida menambahkan
“Ya, Bu “Kataku
Aku mengantarkan Pesanan Kue ke rumah Ibu Ida, dengan ramah Ibu Ida menyambutku. “Masuk dulu Ani, ada yang mau ibu bicarakan,” Bu Ida mempersilahkan
Aku memasuki rumahnya dengan kagum, “bagus sekali rumah Bu Ida”, Pikirku.  Bu Ida sudah mengenal keluargaku, dan dia juga tahu kalau aku selalu berprestasi di kelas.  Bu Ida ingin aku menjadi Guru les untuk anak-anaknya
Aku mendapatkan gaji dari Bu Ida, tapi aku ingin memberikan kejutan buat ibu.  Aku sengaja menyimpan uang itu di bawah kasur, karena ibu tidak mengetahui kalau aku kerja sambilan sebagai guru les. 
Suatu ketika, karena tergesa-gesa, aku lupa tidak merapikan tempat tidurku.  Setelah pulang sekolah aku lihat ibuku merapikan tempat tidurku.  Uang yang sengaja aku sembunyikan ternyata ketahuan juga, Ibu terkejut begitu melihat uang di bawah kasur.
“Ani, darimana kamu mendapatkan uang ini? “Ibu dengan tegas bertanya “Jangan karena keluarga kita miskin, kamu bisa melakukan hal yang melanggar norma agama” Ibu menambahkan.
“Tapi bu, “Aku terbata-bata
“Katakan nak, darimana kamu mendapatkan uang ini?” Ibu mulai curiga
“Tapi, ibu nggak marah kalau aku mengatakannya” Aku takut menyinggung perasaan ibu
“Katakan nak, ibu nggak mau kamu mempermalukan keluarga kita” Ibu nampak gelisah, “Maafkan aku bu, “ Aku menangis
“Kenapa nak, ayo katakan,” Ibu semakin khawatir melihatku menangis
“Tidak ada kegiatan ekstra bu, tidak ada kerja kelompok, sebenarnya setiap sore aku menjadi Guru les anak ibu Ida”,  “Maafkan aku telah membohongi Ibu, “aku makin terisak
Sebenarnya aku tidak tega membohongimu bu, tapi aku hanya ingin membantumu, kalau aku jujur, belum tentu ibu mengizinkan aku bekerja.  Ibu menangis terharu, dia memelukku erat, “Maafin ibu, nak ibu sudah curiga padamu. Kami saling berpelukan.
Ibu bersedia menerima uang dariku sebagai tambahan modal, sekarang ibu mulai menjajakan ote-ote buatannya ke warung-warung, bahkan para penjaja kue banyak yang mulai memesan ote-ote buatan ibu. 
Meski dikenal sebagai penjual ote-ote, tapi itu tidak menghalangi niatku untuk menjadi siswa berprestasi, Aku selalu belajar di sela-sela kegiatanku membantu ibu dan menjadi guru les anak Ibu Ida, semua aku lakukan semata-mata hanya ingin membahagiakan keluargaku.
Suatu ketika para wali murid dikumpulkan untuk Pembagian Raport dan Ijazah, Ibuku juga hadir, aku deg-degan menunggu hasil kelulusan.  "aku takut mengecewakanmu ibu,"kataku dalam hati.
Tibalah saatnya Kepala Sekolah memberikan sambutan, dan beliau mengumumkan para siswa yang berprestasi dan akan mendapatkan Beasiswa masuk ke Perguruan Tinggi.
Jantungku makin berdegup kencang "Ya, Allah bisakah aku menjadi salah satu diantara mereka?" hatiku semakin tak menentu
"Ani Rosalina" Kata Kepala sekolah disertai sorak sorai pada guru dan teman-temanku
Ibuku menangis terharu, akupun tak bisa menahan air mataku saat Kepala sekolah mempersilahkan aku naik ke panggung untuk memberikan sambutan.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih pada Allah SWT, pada kedua orang tua saya atas do’anya, juga pada Bapak ibu guru yang telah mengajarkan banyak hal kepada saya, dan yang terakhir kalinya untuk teman-teman atas dukungannya, terima kasih “Ucapku terharu
Aku hampir tidak bisa berkata-kata saat Kepala sekolah dan para guru memberi ucapan selamat padaku.  Ibuku memelukku sambil membisikkan, "Lanjutkan perjuanganmu Nak, Capailah cita-citamu Tunjukkan pada dunia meskipun kamu anak penjual ote-ote, tapi kamu bisa berhasil meraih apa yang kamu inginkan.
"Ibu, terima kasih atas do'amu", kataku sambil menangis terharu, bahagia bercampur menjadi satu.
Kini aku telah berhasil meraih gelar S1, dan sedang mengembangkan bisnis Restoran yang berhasil didirikan atas usaha ibuku, memproduksi Ote-ote.  Kalau dulu, aku dan ibu yang membuat ote-ote, kini kami telah memiliki 10 orang karyawan yang membantu mengelola Restoran.

Kisah ini diambil dari masa kecil saya, tapi sudah diedit agar alur ceritanya menarik. Trim's atas masukannya




0 komentar:

Post a Comment