Breaking News

01 February, 2012

Oshin di Negri Oshin




Dinding pondok dari alang-alang itu aku raba dengan tangan. Kasar. Kini aku belai-belai dengan ke dua telapak tanganku. Aku ingin meyakinkan diri, bahwa ini bukanlah sekedar mimpi.

Pondok-pondok tradisional yang ada di Gifu, sebuah propinsi di negri matahari terbit ini, dahulu kala, hanya dapat aku lihat sekilas-sekilas di TV. Aku hanya bisa menyaksikannya sepintas, karena tidak mungkin aku duduk manis menikmatinya. Aku akan menoleh sejenak ke arah TV itu ketika menyetrika setumpuk pakaian yang habis kuangakat dari jemuran. Atau ketika aku harus melewati ruang tengah setelah diminta membeli sesuatu oleh orang yang aku panggil ’Ibu.’

”Tuh, Sur. Itu kamu tuh,”kata mas Nanda yang duduk di bangku SMP kepadaku. Dia berkata sambil menunjuk televisi itu dengan dagunya.. Dari sudut bibir dan mata remaja itu berkilat sinar merendahkan. Kakak dan tantenya yang duduk bersebelahan, juga ikut tersenyum dengan cara yang sama. Aku, seperti biasa hanya diam.

Di dalam TV itu sedang ditampilkan seorang perempuan belia. Dia cantik namun berwajah muram. Pakaian khas tradisonal Jepang yang dia kenakan tanpak lusuh. Dialah Oshin. Seorang pembantu rumah tangga di rumah sebuah keluarga ningrat. Drama seri yang mengharu biru dan begitu pulalah jalan nasib yang ada padaku.

Keinginanku yang sangat kuat untuk bersekolah, melemparkan aku ke kota metropolitan : Jakarta. Aku harus kembali berpura-pura gila agar diperbolehkan Bapak dan Mboke untuk pergi meninggalkan kampung halaman. Dulu, ketika aku memaksa mereka agar mengizikan aku melanjutkan sekolah ke SMP juga aku  melakukan hal yang sama. Aku bersikeras ikut dengan abang sepupuku. Abang yang pulang sebentar ke kampung, menjadi satu-satunya harapan bagiku untuk terus bisa sekolah. Di kampungku ini belum ada SMA. Abang bekerja di sebuah bengkel di Jakarta. Aku minta untuk diajaknya serta. Aku tidak peduli akan sekeras apapun hidupku nanti. Aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku : menjadi dokter.

Pada akhirnya, Bapak dan Mboke kembali tidak punya pilihan. Mereka mengantarkan aku yang berangkat dengan truk pagi buta itu, menuju ke tempat yang sangat asing, namun menyulut semangatku. Di belantara kota ini, jalan pertama yang kulakukan adalah denagn menawarkan diri kepada majikan abang sepupuku. ”Tolong beri saya kerja. Tidak usah digaji. Tapi tolong bayar saja uang sekolah saya.” Persis Enong dalam buku Padang Bulan Andrea Hirata itu, namun puji syukur pada Allah, mereka mau menerimaku sebagai pembantu. Majikanku betul-betul hanya membayar uang sekolahku. Untuk ongkos dan keperluan lain, kadang aku minta kepada abang sepupuku yang juga miskin itu. Seringnya, aku berjalan kaki ke sekolah yang berkilo-kilo meter dari rumah. Pergi dan pulang. Aku tahan sengatan matahari ibukota yang terkenal galak. Aku susut keringat dan sesampai di rumah, semua kerja rumah tanggapun telah menungguku.

Selama tiga tahun aku lakoni pekerjaanku. Keluarga majikan bukanlah keluarga yang ramah kepadaku. Sebaik apapun hasil kerjaku, tetap saja ada cacat yang mereka keluhkan. Sering kata-kata menyakitkan yang mereka lontarkan, namun aku tidak punya pilihan selain bertahan.

Selepas SMA aku beruntung mendapat kesempatan mencicipi Pendidikan Guru Iqro’. Cita-citaku untuk menjadi dokter hanya dapat aku simpan rapat-rapat dalam sanubari. Satu tahun setelah pendidikan itu, aku telah menjadi guru les Iqro’. Keluargaku, dengan berbagai pertimbangan akhirnya memutuskan ikut pindah ke ibukota. Jadilah aku sebagai satu-satunya orang yang berpenghasilan dan kakak tertua dengan 3 orang adik, menjadi tulang punggung keluarga. Gaji mengajar les Iqro’ tentulah tidak dapat memenuhi biaya kehidupan kami enam kepala. Uang Rp.200.000 itu hanya bisa bertahan 1 minggu dalam genggamanku.

Suatu sore, sepulang dari mengajar, seperti biasa abang penjual pecel lele di trotoar itu selalu menarik perhatianku. Dia sibuk sekali melayani pembeli seorang diri. Dengan perut melilit menahan lapar, kali ini aku beranikan diri untuk menyapanya.
 ”Sibuk ya Mas?”
”Eeh, iya, Mbak.
”Mau saya bantu?
”Eeh, Mbak mau?
”Mau. Sini biar saya cuci piringnya.” Sigap aku mengambil alih cucian si Mas. Aku sinsingkan sedikit lengan jubah dan mengangkat kerudung untuk menghindari cipratan air basuh. Selesai itu tanpa canggung aku mulai melayani pembeli. Pekerjaan berdagang seperti ini sudah menjadi darah dagingku. Dengan berjualan singkong, sayur, atau apa saja di dusun dulu, aku dapat menyelesaikan SMPku. Si Mas pecel lele terlihat senang sekali. Menjelang larut malam itu, semua dagangannya tandas. Aku ditawarinya makan malam dan dibungkuskannya beraneka lauk yang di jualnya. Alhamdulillah. Paling tidak, besok hari aku tidak lagi harus memikirkan,”akan makan apa keluargaku hari ini.” Kelelahan, aku tertidur di atas bus kota. Si kernet membangunkan aku, karena pak supir sudah mau membawa busnya ke kandang.

Begitulah seterusnya. Aku bekerja setiap malam di warung pecel lele si Mas. Kembali tidak di gaji, tapi kali ini aku bisa mengenyangkan keluargaku dengan makanan bergizi.

Retak tangan menjemputku ke arah nasip yang berbeda. Hampir setengah tahun menjalani kehidupan yang demikian, datang sebuah tawaran kepadaku untuk mengajar Iqro’ di Jepang. Jepang! Oh, di manakah itu? Gegas aku terima tawaran yang seperti dijatuhkan sebuah tangan baik dari langit. Membayangkan yen itu saja sudah membuat aku berbunga. Akan aku kais rezkiMu untuk melenyapkan KEMISKINAN ini ya Rabb. Mudahkanlah...

Begitulah, aku tinggal di rumah seorang konsulat. Aku mengajar anak-anak si Bapak dan dari mulut ke mulut, ilmuku ini mendapat peminat. Kini aku mengajar di beberapa keluarga sekaligus. Layaknya mata uang asing yang dibanding dengan rupiah, tentulah secara hitung-hitungan uangku menjadi banyak. Aku kirimkan semua jerih payahku itu kepada Mboke. Aku minta Bapak dan Mboke untuk menyekolahkan adik-adikku. Mencukupi kebutuhan hidup dan sekolah mereka. Aku cukupkan uang yang tersisa dikantongku hanya untuk kebutuhan transportasiku saja.

Kini, semua menjadi kenangan. Adik-adikku, sebagaimana aku, telah berkeluarga. Aku tetap menetap di Jepang karena kewarganegaraan suamiku. Selama di sini, aku sempatkan diri pergi ke Gifu, tempat di mana pondok-pondok di dalam drama Oshin yang aku tonton sekilas-sekilas dulu, berada. Aku ingin mengatakan kepada dunia. Inilah AKU,  Suryani. Si Oshin itu, kini di negri Oshin!!

Maka sesungguhnya besama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS : As-Syarh : ayat 5-6)

(CINTA : this is 4 u!)

0 komentar:

Post a Comment